Ego

1 dibaca

A

Usai insiden malam itu, ia memutuskan melangkah ke tempat di mana ia biasanya mencari pegangan: keluarganya sendiri.

​Di ruang keluarga yang hangat namun terasa mencekam bagi Ariftan, ia duduk berhadapan dengan kedua orang tua dan saudaranya. Tanpa ada yang ditutupi, Ariftan menceritakan semuanya—tentang talak yang ia jatuhkan sebagai gertakan medis, tentang bagaimana Maya mencoba menjelaskan celah hukum hingga salah dipahami oleh Novelia, dan puncak kengerian ketika Novelia memandang keintiman mereka bukan lagi sebagai penyatuan batin, melainkan sekadar syarat administrasi agar siklus program bayi tabung (IVF) tidak dibatalkan oleh pihak rumah sakit.

​”Ibu, Ayah... dia udah kehilangan akal sehatnya,” suara Ariftan bergetar, jemarinya meremas cangkir teh yang sudah mendingin di atas meja. “Nyawanya taruhannya di siklus new cycle ini. Dokter udah bilang tubuhnya nggak akan sanggup kalau dipaksa lagi. Kalau aku nggak hentikan dengan cara ekstrem, dia bakal terus nyiksa badannya sendiri sampai mati.”

​Ariftan menatap keluarganya dengan putus asa, menyuarakan ketakutan terbesarnya. “Dan aku yakin... talak itu kemungkinan besar bakal terjadi lagi. Aku harus mengulanginya kalau dia tetap nekat, meskipun itu berarti merusak pernikahan kami sendiri.”

​Ibunya menghela napas panjang, sorot matanya penuh dengan rasa iba sekaligus kepedihan mendalam. Ayah Ariftan terdiam lama, memijat pelipisnya sebelum akhirnya menawarkan sebuah jalan tengah yang dianggap paling masuk akal demi menyelamatkan kewarasan dan nyawa sang menantu.

​”Ariftan... kalau masalahnya adalah keinginan mereka yang begitu besar untuk menimang anak, kenapa kalian tidak coba mengangkat anak dulu sebagai pemancing?” usul sang Ayah pelan. “Banyak yang bilang, kadang dengan merawat anak asuh, psikis perempuan menjadi lebih tenang, beban mentalnya terangkat, dan siapa tahu tubuhnya siap secara alami. Berikan waktu lebih panjang, Nak. Jangan langsung hancurkan rumah tanggamu.”

​Keluarga besar mengangguk menyetujui. Mereka meminta Ariftan memperpanjang kesabaran, mencoba membujuk Novelia keluar dari terowongan gelap obsesi medis tersebut dengan menawarkan opsi adopsi sebagai jembatan penenang.

​Ariftan terpejam sejenak. Pikiran itu masuk akal. Barangkali, dengan mengalihkan fokus Novelia pada kehadiran seorang anak tanpa harus melalui siksaan jarum suntik dan hormon beracun, istrinya bisa diselamatkan. Dengan berat hati, ia akhirnya mengangguk menyetujui saran keluarganya.

​Malam itu juga, sekembalinya ke rumah megah yang terasa dingin, Ariftan duduk di samping Novelia yang masih sibuk dengan catatan jadwal medisnya. Dengan hati-hati, ia merangkul bahu istrinya, mencoba membuka percakapan dengan nada selembut mungkin.

​”Nov... bagaimana kalau kita ambil waktu istirahat dari semua siklus IVF ini?” ucap Ariftan memulai dengan hati-hati. “Sebagai gantinya... bagaimana kalau kita mengangkat anak dulu? Kita bisa merawat seorang anak, memberikan kasih sayang, dan membuat rumah ini lebih hidup. Siapa tahu dengan begitu, pikiranmu jadi lebih tenang...”

​Kalimat Ariftan menggantung di udara, lenyap ditelan keheningan kamar yang mendadak menegang.

​Novelia yang tadinya menunduk, perlahan mengangkat kepalanya. Matanya yang sayu seketika berubah tajam, menatap Ariftan dengan kilatan penolakan yang mentah dan dingin. Senyum tipis penuh kepedihan tersungging di bibirnya.

​”Mengangkat anak?” bisik Novelia, suaranya terdengar seperti desis angin malam. Ia menggeleng pelan, lalu menarik tubuhnya menjauh dari rangkulan sang suami. “Anak orang lain, Kak? Bukan darah daging kita sendiri?”

​”Novelia, ini bukan soal siapa orang tuanya, ini soal kesehatan kamu—“

​”Nggak!” potong Novelia tajam, suaranya naik satu oktaf, mencerminkan betapa harga dirinya sebagai perempuan menolak mentah-mentah ide tersebut. “Aku nggak mau anak titipan! Aku mau anak dari rahim aku sendiri, Kak! Aku mau anak dari darah daging kamu dan aku!”

​Napas Novelia memburu, air matanya tumpah bukan karena sedih, melainkan karena amarah yang tersulut hebat. Bagi Novelia, menerima anak angkat sama artinya dengan menyerah, mengakui kekalahannya, dan menerima takdir bahwa tubuhnya memang cacat serta tidak berguna sebagai seorang istri.

​Melihat reaksi itu, Ariftan menyadari satu hal dengan sangat menyakitkan: usulan keluarganya gagal total. Novelia telah terperangkap terlalu dalam di labirin obsesinya sendiri, dan tidak ada satu pun jalan keluar yang bisa mereka tempuh tanpa saling menghancurkan.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk