Darah Ariftan mendadak terasa membeku di tempat.
Kalimat itu meluncur dari bibir Novelia tanpa beban, bersih dari kehangatan seorang istri yang baru saja berbagi keintiman dengan suaminya. Kalimat itu diucapkan dengan nada kaku, seolah satu-satunya hal yang penting di dunia ini bukanlah keselamatan nyawanya atau keutuhan pernikahan mereka, melainkan angka keberhasilan sel telur, jarum suntik, dan tabel siklus medis di rumah sakit.
Ariftan perlahan melonggarkan dekapannya, menarik diri untuk menatap wajah wanita di bawah temaram lampu tidur.
“Apa... apa yang baru saja kamu bilang, Nov?” Suara Ariftan tercekat, tenggorokannya terasa kering dan sakit.
Novelia menatap balik suaminya, matanya berkilat hampa namun penuh tekad yang menakutkan. “Rumah sakit nggak akan batalin jadwal pick-up kita, kan? Karena kita udah... tadi. Secara hukum kita masih sah, jadi program IVF-nya bisa lanjut terus.”
Mendengar itu, Ariftan merasakan gelombang ngeri yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Ini bukan lagi tentang cinta, bukan lagi tentang keinginan memiliki keturunan. Ini telah berubah menjadi obsesi yang menggerogoti kewarasan istrinya sampai ke akar-akarnya. Novelia rela merendahkan diri, memohon, bahkan memanipulasi keintiman mereka malam ini semata-mata demi mempertahankan sebuah prosedur medis yang sedang membunuh tubuhnya perlahan-lahan.
Ariftan menggeleng pelan, rasa sesak menghantam dadanya begitu hebat hingga ia kesulitan mengambil napas. Tangannya yang tadinya merengkuh hangat kini perlahan terlepas dari tubuh Novelia, seolah ia baru saja menyadari bahwa wanita yang berbaring di sampingnya ini telah tersesat begitu jauh ke tempat yang tidak bisa ia jangkau lagi.
“Kamu... kamu melakukan ini semua cuma buat itu?” bisik Ariftan putus asa, suaranya bergetar hebat. “Bukan karena kamu pengen baikan sama aku? Bukan karena kita masih suami istri?”
Novelia mengerjap, tampak bingung dengan reaksi suaminya, seolah logika yang ia pakai adalah hal paling masuk akal di dunia. “Ya... kan tujuannya emang biar programnya nggak dibatalin, Kak.”
Hati Ariftan hancur berkeping-keping. Ketakutan terbesar yang selama ini ia sembunyikan akhirnya meledak di depan matanya. Cara istrinya memandang hubungan mereka sudah mati; pernikahan itu kini telah direduksi menjadi sekadar alat legalitas bagi sebuah obsesi klinis.
Tanpa sepatah kata pun lagi, Ariftan bangkit dari tempat tidur. Gerakannya patah-patah dan kaku. Ia menyambar pakaiannya di lantai, meninggalkan Novelia yang tertegun kebingungan di atas ranjang, sementara malam di luar kembali menelan mereka dalam keheningan yang jauh lebih mematikan daripada badai mana pun.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!