Bab 1. Kebahagian yang Runtuh

11 dibaca

A

“Siapa sangka, atasan yang terkenal dingin, bisa begitu hangat dan menggoda tadi malam, ya, Mas?” goda Anilla memecah keheningan, sembari merapikan rambut hitam panjangnya yang terurai indah mengalir hingga ke punggung.

Matanya yang bulat jernih mengedip manja pada pria berusia tiga puluh satu tahun yang baru saja resmi menjadi suaminya. Bagas Surya Mahardika.

Bagas hanya menarik tipis sudut bibirnya. Namun, respons seadanya itu sama sekali tidak melunturkan senyum manis di paras anggun Anilla Prameswari. Gadis muda berusia dua puluh empat tahun dengan kulit kuning langsat yang bersih itu sudah terbiasa dengan sikap dingin Bagas.

Bagi Anilla, laki-laki yang dingin bak gunung es justru tipe pria setia. Ia terkekeh pelan dalam hati melihat ekspresi datar suaminya.

“Kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya Bagas seraya menyingkap selimut, lalu berdiri menuju kamar mandi.

Anilla kembali terkesima menatap postur tegap dan punggung berotot Bagas. Postur tubuh Bagas yang tinggi atletis—sekitar 183 cm dengan dada bidang—membuat Anilla selalu merasa mungil di dekatnya.

Desah napas lega yang tertahan sejak tadi akhirnya terlepas. Mengingat kembali betapa rumitnya meluluhkan kerasnya hati ibunya demi memohon restu pernikahan, semua rasa lelah itu sirna. Anilla berhasil membuktikan kalau pilihannya tepat. Sebuah kemenangan kecil yang rasanya begitu manis.

ngatannya melayang ke momen pertama kali mereka bertemu di kantor Mahardhika Corp tempat ia melamar kerja sebagai desainer muda. Saat itu, Anilla mengira pria tampan berahang tegas dengan bayangan kumis tipis itu hanyalah salah satu staf biasa. Dengan polos dan tanpa beban, Anilla meminta pria berwajah datar itu untuk mengantarkannya ke ruang HRD. Bagas menurutinya tanpa banyak bicara. Baru setelah beberapa hari bekerja, Anilla dibuat melotot saat sadar kalau pria dingin bersuara bariton itu adalah sang pemilik perusahaan—alias atasannya sendiri.

Pipi Anilla mendadak memerah bak kepiting rebus. Ia menggigit ujung jarinya, lalu menarik selimut tebal itu hingga menutup seluruh wajahnya. “Ya Allah... nggak nyangka atasan galak itu sekarang jadi suami. Alhamdulillah, jodoh memang misteri Illahi,” gumamnya dari balik selimut yang lembut.

Tak lama, pintu kamar mandi terbuka. Bagas keluar hanya dengan selembar handuk putih yang melilit pinggangnya. Tetesan air masih membasahi rambut ikal tebalnya yang sedikit berantakan.

“Ann, ngapain sembunyi?” tanya Bagas saat netranya yang tajam menangkap gundukan besar di atas tempat tidur king size hotel bintang lima kota Bandung.

Anilla menyibak sedikit selimutnya dan langsung melotot kaget melihat dada telanjang suaminya. Ia cepat-cepat menutup mata dengan tangan kanan. “Tolong dong, Mas! Kalau keluar kamar mandi itu pakai baju lengkap, jangan kayak gitu!” rengek Anilla dengan suara manjanya.

Samar-samar, Anilla merasakan kasur empuk di dekatnya berderit tipis. Bagas mulai mendekat. Sontak, ia makin erat menarik selimut untuk membentengi diri. “Dasar cowok mesum, nggak ada puasnya apa? Tadi subuh sudah, masa sekarang mau lagi?” sungut Anilla dalam hati.

Pletak!

Satu sentilan mendarat di dahi, seketika membuyarkan prasangkanya.

“Mandi dulu. Baru kita turun buat sarapan,” perintah Bagas dengan nada dingin yang biasa ia gunakan saat memimpin rapat eksekutif.

“Kirain Mas mau lagi...” cetus Anilla seraya mencebikkan bibirnya.

“Apa? Kamu pikir aku...” Bagas menggantung kalimat, ia kesal sendiri dengan prasangka gadis yang baru kemarin sah menjadi istri. “Jangan mikir aneh-aneh!” cibir Bagas.

“Mas ... aku, ‘kan, cuma berasumsi!” kilah Anilla, tangannya sibuk melilitkan selimut ke tubuhnya.

Bagas hanya menatapnya datar tanpa berniat membantu.

‘Dasar gunung es masa istrinya nggak digendong ala-ala novel romantis!’ batin Anilla meracau lagi.

Akan tetapi walaupun ada rasa kesal dengan cueknya Bagas, Anilla memakluminya.

Dengan bersusah payah ia menyeret selimut tebal yang berat, melangkah menuju kamar mandi.

“Sudah, Anilla. Jangan berharap gunung es itu mendadak manis. Yang penting sekarang, kamu bahagia, terus nggak perlu pusing lagi cari pinjaman buat pengobatan Ayah,” gumamnya menenangkan rasa kesal.

Di dalam kamar mandi, Anilla menyalakan shower dan mengatur suhu air menjadi hangat. Ia sengaja mengisi bathtub untuk merendam tubuh dan memulihkan otot-ototnya yang terasa pegal.

Begitu air terisi penuh, ia membenamkan tubuhnya ke dalam air hangat yang sudah diberi wewangian aromaterapi. Rileks dan menenangkan. “Uuggh... hangatt!”

Pikirannya kembali bernostalgia pada momen Bagas melamarnya seminggu yang lalu. Hanya butuh waktu singkat bagi seorang Presdir sukses seperti Bagas untuk membuat Anilla menerima pinangan. Bagas sosok yang mapan, dewasa, dan bertanggung jawab. Lagipula, siapa yang sanggup menolak pria segagah Bagas Surya Mahardika?

“Anilla... nikmati saja hidup barumu ini!” Ia bicara pada diri sendiri seraya membasuh bahunya.

Hampir setengah jam berlalu, dan Anilla belum juga keluar. Bagas yang mulai tidak sabar melangkah cepat mendekati pintu kamar mandi, lalu mengetuknya keras.

Tok.. Tok.. Tok..

“Ann, cepat! Aku tidak suka menunggu untuk hal sepele!” teriak Bagas dari luar.

“Iya, Mas! Sebentar lagi selesai!” sahut Anilla agak meninggikan suara.

Tak lama, pintu terbuka. Anilla keluar dengan balutan kimono bath-robe putih. Aroma wangi dan segar seketika merebak menembus indra penciuman Bagas yang masih berdiri kaku di depan pintu. Ada dorongan halus di dadanya untuk menarik wanita muda yang tampak natural itu ke dalam pelukan. Namun, Bagas dengan cepat menepis dorongan itu dan berbalik pergi.

Anilla lagi-lagi hanya bisa tersenyum memaklumi seraya menatap punggung Bagas. “Aku harus bisa melelehkan gunung es ini. Semangat Anilla, kamu pasti bisa!” tekadnya dalam hati.

Ia berjalan menuju tas travel-nya untuk memilih pakaian pagi ini. Anilla sempat mengerling ke arah tempat tidur. Bagas tampak sibuk memegang remote TV, pandangannya terkunci rapat pada layar kaca—sama sekali tidak teralih oleh penampilan Anilla.

Anilla menghembuskan napas panjang. “Sabar, Anilla... sabar.”

Sebagai desainer yang mengerti keindahan visual, ia memilih celana panjang berpotongan loose warna hitam yang dipadukan dengan atasan warna krem bermodel santai khas style Korea. Gaya yang simpel namun tetap memancarkan keanggunan alaminya. Ia melangkah ke ruang ganti dan segera mengenakannya.

Sementara itu, Bagas yang menunggu di luar mendengkus kesal. Ia memejamkan mata rapat-rapat seraya meremas rambut ikalnya sendiri dengan kasar—kebiasaan refleksnya tiap kali berada di bawah tekanan emosi.

“Kenapa aku harus terjebak dengan gadis lugu ini? Kalau bukan karena Adisti yang memohon dan menangis meraung-raung... sungguh, aku tidak akan pernah menginginkan pernikahan ini!” batin Bagas penuh gejolak dan rasa bersalah.

Beberapa menit kemudian, Anilla keluar dari ruang ganti membawa senyuman manis. Ia melangkah menghampiri Bagas yang masih duduk di tepi ranjang.

“Yuk, Mas! Sarapan dulu, perutku sudah jerit-jerit minta diisi nih,” panggil Anilla manja, mencoba mencairkan suasana.

Bagas mendongak, menatap mata jernih dan riasan natural di wajah istrinya. “Cantik,” gumamnya singkat tanpa ekspresi.

Anilla tersenyum lebar, menyelaraskan langkah di samping suaminya yang terlihat makin tampan dan maskulin dalam balutan celana denim krem dan kaus slim-fit biru gelap yang memperlihatkan lekuk dada bidangnya.

Mereka berdua melangkah menuju restoran hotel. Mata Anilla berbinar takjub menatap deretan sajian buffet yang beraneka ragam. Aroma butter yang gurih bertumpuk dengan wewangian rempah masakan lain, sukses menusuk indra penciumannya.

Kruk... kruk...

Perut Anilla bernyanyi tanpa kompromi. Bagas meliriknya, lalu terkekeh tipis melihat wajah manis Anilla yang seketika berubah merah padam karena malu.

“Maaf ya, Mas... perutnya nggak bisa diajak kompromi,” sahut Anilla meringis seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

Setelah mengambil hidangan, Bagas membawanya duduk di salah satu meja outdoor dekat kolam ikan buatan. Gemericik air mancur menghiasi hening di antara mereka.

“Ann, ada hal penting yang harus kubicarakan. Tapi, makanlah dulu,” ucap Bagas datar seraya meletakkan sendoknya.

“Nggak apa-apa, bicara sekarang aja, Mas,” sahut Anilla penasaran.

Bagas menatap Anilla lurus dengan matanya yang dingin, tanpa ragu ataupun kelembutan di dalamnya.

“Maaf sebelumnya. Tapi... tujuan menikahimu karena istriku yang memintanya. Agar kami bisa mendapatkan keturunan.”

PRANG!

Garpu di tangan Anilla terlepas, menghantam piring porselen dengan suara nyaring.

Darah di tubuh Anilla serasa berhenti mengalir. Dunia di sekitarnya mendadak hening seketika. Ia menatap Bagas dengan mata bulatnya yang mulai bergetar tak percaya.

“M-maksud Mas apa? Kamu... menikahiku cuma untuk dijadikan istri kedua? Cuma buat bikin anak?!” suara Anilla bergetar hebat. Dadanya dihantam sesak yang luar biasa.

“Iya. Dan sejak awal... aku tidak pernah mencintaimu, Anilla Prameswari.”

Suara bariton Bagas terdengar tenang dan tegas. Namun bagi Anilla, setiap kata yang keluar dari bibir pria itu menjelma menjadi sembilu tajam yang menguliti hatinya tanpa ampun.

Air mata Anilla menetes tanpa bisa ditahan lagi, membasahi pipi mulusnya. Bibirnya bergetar hebat, dan tubuh ringkihnya menggigil menahan rasa hancur yang menghantamnya seketika.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk