Bab 2. Terjebak

7 dibaca

A

“Kamu bohong, kan?”

“Aku tidak berbohong, Anilla. Serius!”

Bunyi gemertak gigi Anilla terdengar lirih. Dalam hitungan detik, pagi yang semula dihiasi angan manis mendadak hancur berkeping-keping. Ia merasa bagaikan layangan yang diterbangkan tinggi-tinggi dengan penuh suka cita, lalu diputus talinya begitu saja dan dibiarkan jatuh menghantam tanah.

“Kenapa Mas nggak jujur dari awal?” Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya lolos, membasahi pipi yang memerah. “Kalau Mas jujur, aku nggak akan nerima pernikahan ini!”

Bagas menatap sekilas wajah Anilla yang berubah sendu, sebelum akhirnya melempar pandangan ke arah kolam ikan di depan mereka.

“Aku terpaksa, Ann. Aku minta maaf,” jawab Bagas singkat, tanpa nada penyesalan yang berarti.

Anilla tertunduk kaku. Keheningan merayap, menyisa kemarahan yang membakar dada. Di antara rasa muak dan penasaran yang campur aduk, ia memberanikan diri kembali menatap pria di hadapannya.

“Kenapa terpaksa? Kenapa harus aku yang dijadikan boneka kalian? Kenapa bukan wanita lain?” tanya Anilla. Suaranya bergetar hebat menahan gejolak emosi. Rasanya ia ingin mencakar wajah tampan Bagas saat ini juga.

“Aku tidak tahu, Ann. Istriku yang memilihmu,” balas Bagas seraya melipat kedua tangan di dada. “Maaf, tapi aku memang tidak bisa menutupi kebohongan ini lebih lama lagi.”

“Oh, ya? Bagus sekali skenario kalian!” Anilla menyeringai. “Seorang CEO besar bisa bertekuk lutut di bawah perintah istrinya dan tega menghancurkan hidup gadis lain? Luar biasa... Anda sangat bijaksana, Tuan Bagas!” sidir Anilla. Matanya membulat menatap tajam, napasnya memburu dengan peluh dingin yang mulai membasahi dahi.

Sindiran keras itu tepat mengenai harga diri Bagas. Jiwa laki-lakinya terusik. Ia tidak terima keputusan dan wibawanya direndahkan oleh gadis yang baru semalam ia kuasai.

BRAK!

Bagas memukul meja makan dengan kedua telapak tangannya hingga cangkir di atas meja berdenting keras.

“Jangan sekali-kali mengejek keputusan kami, Anilla Prameswari!” gertak Bagas. “Ingat! Aku sudah menuruti semua permintaan Ambu dan Ayahmu. Jadi, jalani apa yang sudah menjadi kesepakatan!”

Dada Anilla makin sesak. Kilasan peristiwa tiga hari sebelum pernikahan melintas di ingatannya. Demi membuktikan kesungguhan Bagas, orang tuanya sempat meminta jaminan berupa mobil minibus keluaran terbaru—karena di kampung tempat tinggalnya, penghormatan status sosial masih dinilai dari kemewahan materi.

“Kalau tahu bakalan begini, lebih baik aku terima saja pinangan Arif anak juragan beras!” jerit Anilla dalam hati.

Bagas menatapnya licik, meliukkan sudut bibirnya. “Jadi, apa keputusanmu? Tetap bersamaku sampai kamu melahirkan anakku, atau pergi sekarang dengan menanggung malu—karena aku bisa menarik kembali semua barang dan kemewahan yang sudah kuberikan pada keluargamu?”

Anilla membisu. Setiap kata dari Bagas bagai jerat yang mencekik lehernya. Pria ini tahu persis titik lemahnya. Kalau ia nekat kabur, bagaimana nasib Ayah dan Ambu yang harus menanggung rasa malu? Ia tak sanggup membayangkan Ayahnya terkena serangan jantung, atau Ambu yang menjadi bahan gunjingan tiada akhir di kalangan ibu-ibu yang biasa berkumpul di tukang sayur tiap pagi.

Anilla menarik napas panjang, mencoba menguasai dirinya kembali.

“Jadi, apa yang harus aku lakukan sekarang, Mas?” tanyanya lugas. Tak ada lagi nada manja atau binar kagum di matanya. Hanya ada tatapan dingin yang tajam.

Bagas mengusap dagunya, sedikit terkejut dengan perubahan sikap istrinya. “Wah... rupanya kamu cepat beradaptasi ya, Anilla?”

“Nggak usah banyak basa-basi, Mas,” potong Anilla tegas. “Katakan saja apa tugas selanjutnya. Apa aku harus berpura-pura menjadi istri penurut yang terhina di depanmu, atau menjadi istri pembangkang yang bakal mengacaukan hidup kamu dan istri pertamamu?”

“Bicara apa kamu, Anilla Prameswari?!” Bagas membentak, matanya melotot. “Lancang sekali kamu! Aku ini suamimu, ingat itu!”

Nada bariton Bagas yang meninggi sukses menarik perhatian beberapa tamu restoran. Seorang pria asing di meja sebelah bahkan berdehem cukup keras. Bagas terpaksa menurunkan intonasi suaranya.

“Suami? Suami yang cuma sah di atas kertas KUA, ‘kan?” tantang Anilla tanpa gentar sedikit pun. Ia menolak menjadi wanita lemah yang cuma bisa menangis pasrah seperti di novel-novel menderita yang pernah dibacanya. Ia memang terhina, tapi ia menolak untuk terus diinjak.

“Ann, tolong jaga bicaramu! Bukannya gadis asal Bandung selalu dijunjung karena sopan santun, ya?” kilah Bagas.

“Mau dari Bandung ataupun ujung dunia sekali pun, kalau disakiti dan dibohongi, nggak bakal ada yang tinggal diam, Mas!” tegas Anilla. “Dan asal Mas tahu, aku cuma bertahan menjalani sandiwara ini demi orang tuaku. Tolong catat baik-baik dalam otakmu!”

Kruk... kruk... kruk...

Di tengah suasana yang tegang itu, perut Anilla kembali berbunyi nyaring. “Aduh, perut! Kenapa harus bunyi sekarang sih!” rutuk Anilla, mukanya mendadak terasa panas.

Bagas menyunggingkan senyum smirk ke arah Anilla. “Makan dulu. Kalau kamu marah-marah terus, cacing di perutmu makin brutal nanti,” ejeknya santai.

Anilla mendengkus gusar, lantas menyambar sendok dan menyuap makanannya kasar. Hatinya memang remuk, tapi tubuhnya butuh energi untuk bertahan. “Kuat, Anilla. Kamu harus kuat!” bisiknya menguatkan diri.

Di sisi lain, Bagas memperhatikan cara Anilla makan dengan bibir sedikit terangkat. Ada dorongan aneh yang mendadak melintas di benaknya. Ia tidak menyangka gadis lugu yang kemarin terkesan mudah ditaklukkan ini ternyata punya taring dan pendirian keras.

“Boleh juga gadis ini... Aku jadi semakin penasaran. Adisti ternyata tidak salah pilih,” batin Bagas seraya menyuap potongan steak ke mulutnya.

Setelah sarapan, mereka kembali ke kamar suite di lantai atas. Atmosphere di antara mereka berubah drastis—dingin dan tegang. Tak ada lagi sapaan manis dari Anilla. Dengan gerakan cepat dan kasar, gadis itu mengemas pakaiannya kembali ke dalam travel bag.

Melihat respons dingin tersebut, ada sengatan rasa bersalah yang memantik ego Bagas. Ia mendekati Anilla yang sedang berlutut di dekat tempat tidur, lalu duduk di sampingnya.

“Kamu masih marah, Ann?” tanya Bagas.

Anilla menoleh singkat dengan tatapan muak, lalu beranjak berdiri untuk menjauh. Namun sebelum langkahnya terayun, Bagas dengan cepat menarik pergelangan tangannya. Tubuh Anilla terhuyung dan jatuh ke atas kasur empuk, disusul tubuh Bagas yang langsung mengunci di atasnya.

“Lepas, Mas!” pekik Anilla. Matanya membulat menahan amarah seraya mencoba melepaskan kedua tangannya yang ditahan Bagas di atas kepala.

Bagas tersenyum tipis menatap pupil Anilla yang membesar. “Bukannya dari semalam kamu sangat menikmati setiap sentuhanku, Ann?” bisiknya mengintimidasi, memiringkan wajah untuk mendekati bibir Anilla.

Hembusan napas hangat Bagas menerpa kulit wajahnya, namun yang tersisa di dada Anilla hanyalah rasa benci yang membakar. Ia merasa jijik pada pria yang baru saja menodai rasa kepercayaannya.

“Kamu menginginkannya lagi?” suara Bagas terdengar lebih berat dan tersengal.

“Nggak! Aku udah nggak tertarik lagi! Jijik aku, Mas!” tegas Anilla seraya terus memberontak di bawah kungkungan suaminya. “Sekarang nggak ada rasa cinta buat Mas. Cuma ada rasa benci!”

“Oh ya? Semakin kamu berontak, justru kamu mancing gairahku, Ann. Layani aku!” tanpa menunggu persetujuan, Bagas langsung mendaratkan bibirnya, memagut Anilla dengan kasar.

Tidak ada balasan dari Anilla. Bibirnya terkunci rapat. Rasa hormat dan cinta yang sempat tumbuh kini menguap tanpa sisa.

“Kenapa diam saja, Ann? Balas!” perintah Bagas. Bibirnya bergerak turun, menjelajahi leher jenjang istrinya.

Meski tubuhnya dijamah oleh pria tampan berstatus suami sah, Anilla merasa hampa. Bayangan senyum bangga ibunya saat Bagas datang melamar kembali menari-nari di ingatan. Tetangga-tetangga yang dulu memujinya setinggi langit—“Neng Anilla mah beruntung pisan, cantik, yang melamar kaya raya naik mobil bagus”—kini terasa seperti lelucon paling kejam. Kemarin ia merasa menjadi wanita paling beruntung, tetapi sekarang ia sadar dialah wanita paling bodoh.

Setitik air mata lolos menetes di pelipisnya saat Bagas menarik kasar pakaian yang dikenakannya. Seharusnya pagi ini menjadi momen indah pasangan pengantin baru. Namun yang tersisa hanyalah rasa perih dan harga diri yang terkoyak.

“Ann, jangan cuma diam! Apa kamu tidak takut berdosa karena menolak melayani suamimu sendiri, Anilla Prameswari?” gumam Bagas di sela pagutannya.

.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk