Pintu besi hanggar belakang terbuka, bunyi berderit panjang memotong gemuruh mesin truk di luar. Sisa hawa dingin dari kipas warkop menguap saat langkah kaki Baron mendorong punggung Cakra masuk ke dalam koridor bawah tanah. Bau kabel terbakar dan minyak pelumas rantai bercampur di ruangan.
Nicholas berdiri di dekat jendela kaca besar yang menghadap langsung ke deretan komputer meja, kedua tangannya masuk di saku celana kain abu-abu gelapnya. Titik-titik koordinat wilayah Jakarta menyala dari layar tablet di sampingnya.
“Joni.” Suara Nicholas terdengar pelan. “Anak buah si Haris udah bergerak ke arah kosan si gembrot. Mereka mau ambil source code cadangan sebelum kita sempat bersihin jejak di server pusat.”
Juki yang baru masuk melipat kedua tangannya di depan dada.
Joni melangkah mendekati meja, matanya menatap denah digital di atas tablet. “Berapa orang, Bos?”
“Empat atau lima. Mereka pakai mobil Avanza hitam.” Nicholas memutar tubuhnya lambat, matanya bergerak melewati bahu Joni lalu berhenti tepat di wajah Cakra yang masih berdiri kaku di dekat pintu. “Bawa bocah ini. Si gembrot itu cuma mau buka pintu kalau dia lihat muka baru yang nggak mencurigakan.” Ia menunjuk Cakra dengan dagunya. “Kalau sampai data di laptopnya jatuh ke tangan orang-orang Haris, utang lima ratus juta si Bayu bakal jadi urusan kecil dibanding apa yang bakal gue lakuin ke kalian.”
Baron menepuk pundak Cakra, jemarinya meremas bahu Cakra. “Gerak sekarang.”
Minibus abu-abu milik Joni meluncur membelah jalanan aspal yang berlubang di sepanjang jalur lingkar luar. Di dalam kabin, Jemari Juki meremas erat setir kemudi, matanya menatap lurus ke jalanan. Ia menyalip di antara sela-sela truk tangki.
Tangan Baron masuk ke tas selempang hitam di bangku tengah, ia melirik ke arah jarum spedometer yang menyentuh angka seratus tiga puluh. “Gue masih mau idup Juki.”
“Lo kira gue mau mati?” balas Juki tanpa menoleh.
Cakra melirik ke arah jendela luar. Matanya menyipit, menatap minibus abu-abu gelap dengan kaca film pekat bergerak konstan, menjaga jarak aman dua mobil di belakang mereka.
Ia menoleh ke arah Baron. “Kita... kita jemput doang kan, Bang?”
Baron menghentikan gerakannya yang sedang memeriksa ritsleting tas, lalu menoleh. “Lo bisa berantem nggak?”
Cakra menelan ludah, jakunnya bergerak naik-turun. Ia meremas jemarinya. “Di kampung... dulu sempat belajar silat, Bang. Tapi cuma buat acara kawinan, bukan yang pukul-pukulan beneran.”
“Bagus.” Baron mendengus, lalu menyandarkan punggungnya ke jok kulit. “Target kita mungkin jadi target orang lain hari ini. Yang penting tangan lo bisa mukul, kaki lo bisa nendang kalau ada yang macem-macem.”
Cakra memiringkan kepalanya sedikit, dahinya mengernyit. “Maksudnya, Bang? Kita mau rebutan orang?”
Juki melirik dari kaca spion tengah, matanya menyipit. “Nggak usah banyak tanya. Begitu mobil berhenti, lo turun bareng Baron. Ketuk pintu kamar nomor dua tiga di lantai dua. Jangan pasang muka bego lo itu.”
Minibus Joni berbelok ke gang sempit, berbatasan dengan tembok pembatas rel kereta api. Mereka berhenti di kawasan rumah kos dua lantai.
Baron menggeser pintu samping, lalu keluar dari mobil. Cakra mengikuti di belakang Baron.
Cakra menatap minibus abu-abu gelap berhenti di seberang rel. Ia berbalik, berjalan agak membungkuk di samping tubuh besar Baron, melangkah melewati dua penjaga berkaus ketat.
Ia menoleh ke sudut gang, matanya menatap mobil Avanza hitam terparkir, asap putih halus mengepul dari dalam kap mobil. Dua pria berkaus ketat dengan potongan rambut cepak berdiri di dekat tangga beton, mata mereka bergerak liar menyisir setiap orang yang melintas.
Bruk!
Suara benturan keras dari lantai dua memotong kesunyian gang.
Daun jendela kayu tua terlepas dari engselnya, jatuh berdentum di atas tumpukan tempat sampah plastik di bawah. Dari balik celah jendela yang rusak, seorang pria bertubuh tambun melompat keluar ke atap seng kanopi, memeluk tas laptop abu-abu dengan kedua tangannya.
“Woi! Jangan lari lo!” Teriakan lantang menyusul dari dalam koridor lantai dua. Dua pria lain berpakaian hitam melompat melewati pagar pembatas, mengejar si pria tambun yang merosot jatuh dari atap seng ke atas tumpukan karung pasir di pojok gang.
Baron melesat maju, menerjang salah satu pria berkaus ketat yang berjaga di dekat tangga hingga pria itu menghantam tiang listrik beton. Juki keluar dari pintu kemudi minibus, tangannya meraih sebatang kunci roda besi dari bawah jok. Dua orang berlari menuju ke arahnya dari mobil Avanza hitam.
Di tengah kekacauan suara teriakan, hantaman fisik, dan ringkik gesekan besi kunci roda, si pria tambun bangkit. Ia berlari terpincang memutari sudut tembok, masuk ke dalam gang tikus yang menuju ke arah kompleks pertokoan tua di balik rel kereta.
Baron mencoba mengejar, langkah kakinya tertahan cengkeraman kuat di jaketnya dari salah satu anak buah Haris. “Juk! Kejar si gembrot! Dia bawa laptopnya!”
“Gak bisa! Depan gua ada dua orang!” Juki berteriak, lengannya bergerak menangkis hantaman balok kayu.
Cakra berdiri di tengah gang, Kakinya mundur dua langkah menghindari serpihan kayu yang patah. Matanya bergerak lurus menembus debu tanah yang beterbangan, menatap arah pelarian si programmer gembrot.
“Mana orangnya?!” Baron berteriak di sela-sela napasnya yang memburu, lututnya menekan dada lawan di atas tanah berpasir.
“Kabur ke arah jalan utama!” Juki mengayunkan kunci rodanya ke arah lengan musuh.
Cakra melangkah maju, matanya menatap tas tergeletak di dekat lubang selokan tempat si gembrot tadi jatuh. “Dia nggak kabur ke jalan depan, Bang,” suara Cakra memotong deru angin sore.
Baron menoleh dengan wajah yang dipenuhi peluh, matanya merah. “Lo tahu dari mana, bego?!”
“Kalau dia mau kabur ke jalan depan yang ramai, dia nggak bakal buang tasnya di sini.” Cakra menunjuk ke arah selokan. “Dia pasti belok kanan lewat celah pagar rel kereta. Di sana ada jalan buntu yang cuma bisa dilewatin orang jalan kaki.”
Cakra berlari kencang memutari sela-sela bangunan liar di sepanjang jalur rel.
Di seberang rel, Kirana menurunkan kameranya ke jok samping. Ia melihat Cakra bergerak memisahkan diri dari rombongan Mahardika, masuk ke dalam area pertokoan tua yang sepi. Ia meraih tas kain, menggantungnya di bahu kirinya, lalu membuka pintu kemudi.
Cakra berlari menembus lorong-lorong sempit di antara deretan ruko tua. Suara langkah kaki mengejar dari arah belakang terdengar mendekat.
Ia mempercepat langkahnya, belok tajam ke arah kanan memasuki gang buntu yang dipenuhi jemuran pakaian warga. Ia menoleh ke belakang, dua pria besar berlari mendekat ke arahnya.
Bruk!
Tubuh Cakra menghantam pundak wanita dengan keras. Tas kain di tangan sang wanita terlepas, buah jeruk dan botol air mineral jatuh ke jalan, menggelinding ke genangan air.
“Maaf! Maaf, Mbak! Gak sengaja!” Cakra menoleh ke belakang, menatap dua pria di belakangnya.
“Mas, kalau lari lihat-lihat jalan dong.” Kirana menatap pergelangan tangan Cakra yang memegang di lengannya.
Suara hentakan sepatu bot dari arah sudut gang terdengar semakin dekat. Dua pria bertubuh tegap muncul di ujung lorong, mata mereka menyisir area jemuran dengan pandangan mengancam.
Cakra menarik tubuh Kirana mendekat. Ia melingkarkan lengan kanannya di atas bahu jaket Kirana, tubuh mereka merapat di antara helaian sprei jemuran yang menggantung.
“Sayang, ayo cepet, nanti kita telat ke rumah mama.” Cakra mengeraskan suaranya.
Cakra mendekatkan wajahnya ke arah wajah Kirana. Ia tersenyum kaku, matanya bergerak memantau pergerakan dua pengejar lewat sela-sela kain sprei.
Kirana tidak bergerak, napasnya teratur berembus pelan di dagu Cakra. Aroma sabun cuci dan matahari siang masih menempel di kain yang membatasi mereka dari ujung gang.
Kirana menatap wajah Cakra tanpa berkedip. Cakra menelan ludah. Dua suara langkah kaki terdengar semakin dekat dari tikungan lorong.
“Sayang...” ulang Cakra sedikit lebih keras sambil tersenyum kaku. Sudut bibirnya bergerak naik, matanya melirik ke kiri-kanan.
Dari balik jemuran, bayangan dua pria mulai memanjang di atas lantai semen.
“Kita jadi ke rumah mama kan?” lanjut Cakra.
Kirana memiringkan kepalanya sedikit. “Jadi.”
Cakra berkedip. “Oh.”
Dua pria bertubuh besar muncul di ujung lorong.
Cakra mengangguk cepat. “Nah, tuh kan.”
Kirana menatap mata Cakra, tatapan mata mereka bertemu sesaat. “Apa?”
“Tadi mama bilang jangan telat.”
“Saya tidak kenal mama kamu.”
“Iya sih.”
“Lalu kenapa saya harus ke rumah mama kamu?”
Cakra membuka mulut. Menutupnya lagi. “Karena...”
Suara langkah kaki semakin dekat.
“...karena kalau saya bilang ke rumah bapak nanti kedengarannya lebih serem.”
Mata Kirana bergerak ke arah dua pria yang sedang menyisir gang. “Saya juga tidak kenal bapak kamu.”
“Iya juga ya.” Cakra menggaruk tengkuknya.
Kirana menghela napas pendek. Dua pria itu melirik sekilas ke arah mereka.
Cakra merapat setengah langkah. “Kita baru nikah.”
Kirana menoleh cepat. “Apa?”
“Eh bukan.”
“Baru tunangan?”
“Iya itu.”
“Apa?”
Dua pria berkaus ketat itu berjalan melewati barisan jemuran, melirik sekilas ke arah Cakra dan Kirana. Mereka berlari menyusuri gang, kepala mereka bergerak kiri dan kanan, lalu menghilang di tikungan gang.
“Tangan.” Kirana menatap wajah Cakra yang masih menatap lurus ke arah tikungan gang.
Cakra menoleh, berkedip dua kali. “Hah?”
“Masih di bahu saya.” Kirana melirik jemari Cakra yang masih mencengkeram kain jaket jinsnya.
Cakra menarik cepat tangannya kembali, ia mundur satu langkah, kedua tangannya terangkat di udara. “Eh... maaf, Mbak. Maaf banget. Tadi... tadi ada orang gila ngejar saya dari depan. Sumpah, gak ada maksud macem-macem.”
Kirana membungkuk lambat, memunguti buah jeruk yang berserakan di atas semen satu per satu lalu memasukkannya kembali ke dalam tas kain.
Ia mendongak, Cakra sudah membalikkan tubuhnya, berlari kembali ke arah berlawanan menuju area belakang bangunan pertokoan tua tanpa menoleh.
Kirana berdiri tegak, mengeluarkan perangkat pelacak kecil dari saku jaketnya, lalu menatap titik merah berledip di layar digital bergerak menyusuri gang menuju area pertokoan.
Hawa malam turun di pangkalan truk. Di dalam ruang kerja Nicholas, Baron berdiri menunduk di dekat meja, gurat luka gores baru di pipi kirinya masih mengeluarkan cairan bening. Juki berdiri di sampingnya, menatap lantai, kedua tangannya terkepal di balik saku jaket kulitnya.
“Jadi... kalian berdua, ditambah lima orang, gak bisa bawa satu orang gembrot yang kakinya pincang?” Suara Nicholas rendah, jemarinya mengetuk permukaan meja. “Orang-orang Haris sekarang pasti lagi ketawa di kelapa gading sambil buka-buka isi server kita.”
“Mereka main potong di jalan tikus, Bos.” suara Baron serak. “Kita udah usir empat orang dari mereka, tapi si gembrot itu ilang di sekitar pertokoan tua dekat rel.”
Joni berdiri di sudut ruangan, ia menggeleng, tangannya meraba saku kemeja flanelnya. “Cakra juga ikut ilang?”
Krieeek...
Pintu besi hanggar terbuka pelan dari luar.
Seluruh kepala di dalam ruangan menoleh ke arah pintu. Cakra melangkah masuk lebih dulu, napasnya memburu keluar melalui mulut yang terbuka.
Seorang pria bertubuh tambun berjalan di belakang Cakra, kepalanya menunduk. Kedua tangannya memeluk erat laptop abu-abu, kaki kanannya diseret pelan di atas semen.
“Lo... lo nemu dia di mana?” Baron menatap lurus wajah Cakra.
Punggung tangan Cakra menyeka keringat di keningnya. “Lagi ngumpet di toilet mushola kecil di belakang pasar burung, Bang. Dia mau keluar lewat pintu belakang pertokoan, tapi jalurnya ditutup sama anak buah orang yang pakai Avanza hitam tadi. Jadi dia muter balik masuk ke sana.”
Cakra berjalan dua langkah mendekati meja Nicholas. “Untung tadi saya sempat lihat arah jatuhnya tas dia di gang pertama, jadi saya tahu dia nggak bakal lari ke jalan gede yang banyak polisi.”
Nicholas menghentikan ketukan jarinya di atas meja. Pupil matanya melebar di balik lensa kacamatanya, sudut bibirnya terangkat tipis.
Juki mengendurkan kepalan tangannya. Baron menelan ludah, matanya menatap si programmer tambun yang duduk pasrah di sudut lantai.
Nicholas menyandarkan punggungnya ke kursi mahoninya, melipat kedua tangannya di atas meja lalu menatap Cakra. “Bocah apes yang salah tempat”.
“Jon,” panggil Nicholas tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Cakra. “Kasih dia pakaian bersih dari loker belakang. Mulai besok malam, bawa dia ikut kerja di pangkalan truk.”
Joni menatap Cakra, ia menyeringai kecil di sudut ruangan.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!