⋆༺𓆩✿𓆪༻⋆
Tokyo menyambut musim semi dengan langit yang cerah. Kelopak bunga sakura berjatuhan perlahan, terbawa angin yang berembus lembut di sepanjang jalan menuju Universitas Hoshizora. Suasana kampus dipenuhi mahasiswa dari berbagai negara. Sebagian sibuk mencari ruang kelas, sementara sebagian lainnya menikmati kopi pagi sebelum memulai beraktivitas.
Di tengah keramaian itu, Kelly menghentikan langkahnya. Ia mendongak menatap bangunan Fakultas Arsitektur yang menjulang dengan desain modern berpadu sentuhan tradisional Jepang. Senyum tipis mengembang di wajahnya.
“Akhirnya...” Sudah bertahun-tahun ia memimpikan momen ini.
Sejak kecil, ayahnya sering mengajaknya berkeliling untuk melihat proyek pembangunan. Kelly kecil lebih senang memperhatikan denah rumah daripada bermain di taman. Ia selalu penasaran mengapa sebuah bangunan mampu membuat seseorang merasa nyaman hanya dengan melihatnya.
Mungkin karena itulah, ia jatuh cinta pada arsitektur. Bukan karena nama besar ayahnya, tetapi karena ia benar-benar mencintainya. Kecintaan itulah yang akhirnya membawanya sampai ke tempat ini.
“Selamat datang di Universitas Hoshizora.”
Seorang staf International Office menyambutnya dalam bahasa Inggris.
Proses registrasi berlangsung hampir satu jam. Kelly menerima kartu mahasiswa, jadwal kuliah, denah kampus, hingga berbagai informasi mengenai kehidupan mahasiswa internasional.
Sebelum meninggalkan ruangan, seorang petugas yang bekerja di International Office memanggil mahasiswi Jepang yang sedang membantu di meja administrasi.
“Akiyama-san.”
Tak lama, mahasiswi itu segera menghampiri.
“Tolong dampingi mahasiswa baru ini berkeliling kampus,” petugas itu berbicara dalam bahasa Inggris kepadanya.
Akiyama Yui membungkukkan badan dengan sopan. “Dengan senang hati.”
Ia kemudian menoleh kepada Kelly. “Halo. Namaku Akiyama Yui. Hari ini aku menjadi student assistant untuk mahasiswa internasional.”
Kelly membalas dengan membungkukkan badannya. “Aku Kelly. Senang bertemu denganmu.”
“Senang bertemu denganmu juga.”
Selama hampir tiga puluh menit, Yui menunjukkan berbagai fasilitas kampus. Mereka melewati perpustakaan, laboratorium, gedung fakultas, hingga kompleks asrama mahasiswa. Sikap Yui tetap sopan, namun tidak banyak berbasa-basi. Kelly memahami bahwa ia sedang menjalankan tugas sebagai pendamping mahasiswa internasional, sehingga interaksi mereka tetap terasa profesional.
Hingga akhirnya mereka tiba di sebuah area terbuka yang berada tepat di tengah kompleks universitas. Di sana terdapat sebuah kafe dengan meja-meja kayu yang dinaungi pepohonan rindang.
“Mahasiswa sering berkumpul di sini,” jelas Yui.
“Kalau begitu... kita istirahat sebentar?” tanya Yui kepada Kelly.
“Tentu.”
Mereka kemudian memesan minuman masing-masing dengan kue manis yang tersedia di kafe itu. Nama kafe itu adalah Central Café.
“Satu cappuccino, ya.” Kelly tersenyum ramah kepada petugas kafe yang melayaninya. Sementara itu, Yui memilih segelas matcha latte untuk menemaninya siang ini.
Baru saja Kelly hendak duduk, ponselnya bergetar.
Mama Calling.
Kelly tersenyum kecil melihat nama yang terlihat di layar ponselnya.
“Maaf, aku angkat telepon sebentar.” Kelly menoleh kepada Yui sembari tersenyum.
“Tentu,” sahut Yui.
Ia menjauh dalam beberapa langkah, agar tidak mengganggu Yui.
“Halo, Ma.” sapa Kelly dengan nada yang sangat senang.
“Sudah selesai registrasi hari ini?” tanya Mama dari balik ponsel Kelly.
“Sudah. Kampusnya bagus banget. Nanti aku fotoin ya...”
“Syukurlah,” sahut Mama lagi.
Percakapan berlangsung santai. Sampai akhirnya mama berkata, “Nanti malam Mama mau video call sama Tante Ratih.”
Mendengar hal itu, Kelly mulai curiga. “Untuk apa?” tanya Kelly.
“Tante Ratih punya anak yang kerja di Jepang. Jadi nanti bisa ajak Kelly jalan-jalan di sana,” jawab Mama dengan nada sumringah.
Kelly langsung memejamkan mata. “Ma...”
“Cuma kenalan aja,” tambahnya lagi.
“Mama...”
“Siapa tahu cocok,” sahut Mama dengan cepat.
Kelly seketika mengembuskan napas panjang. “Ma, Kelly datang ke Jepang buat kuliah.”
“Iya... tapi kalau dapat bonus?” tanyanya lagi.
Kelly menahan diri agar tidak tertawa sekaligus kesal.
“Mama...” sahutnya dengan nada kesal.
“Pokoknya nanti malam, ya. Jaga diri ya, sayang.” Sambungan telepon terputus begitu saja.
Kelly memandang layar ponselnya beberapa detik sebelum menggeleng pelan. “Ya ampun...”
Beberapa meter darinya, seorang pria yang sedang membaca jurnal ilmiah perlahan mengangkat pandangannya. Bukan karena isi percakapan Kelly, melainkan karena bahasa yang digunakan perempuan itu terdengar begitu asing di telinganya.
Bukan bahasa Jepang, bukan bahasa Inggris, bukan pula bahasa Korea. Pria itu belum pernah mendengarnya.
Kelly menghela napas sebelum berbalik. Namun tatapannya justru terkunci pada seorang pria yang duduk tak jauh dari tempat ia berdiri. Pria itu pun tidak mengalihkan pandangannya. Lalu, Kelly mengernyit kecil.
Kenapa dia lihat-lihat? pikir Kelly.
Karena sisa rasa kesal setelah percakapan dengan ibunya, ia spontan membuang muka dan kembali ke meja Yui.
Sementara itu, pria tersebut hanya berkedip pelan.
Bahasa apa itu...? pikir pria itu.
Untuk pertama kalinya, ia merasa penasaran pada seseorang yang bahkan belum ia ketahui namanya.














Yui-san. Mari berteman 🤝
Nggak mau 😣😌
hooo, cowok yang ngeliatin ini bukan yui ya
Bukan kak, Yui cewe, dia masih duduk di dalam. Ntar aku perjelas narasinya hehehee. Maacih ❤