12. The River Doesn't Ask Questions

1 dibaca

A

──˙✧˖°☕ ༘ ⋆。˚──


Arus sungai semakin sulit untuk ditebak. Perahu karet yang mereka tumpangi tidak lagi bergerak dengan stabil, melainkan naik-turun mengikuti gelombang kecil yang datang bertubi-tubi dari berbagai arah.

“Tetap tenang dan jaga keseimbangan!” Suara pemandu terdengar lebih keras daripada sebelumnya, nyaris tenggelam oleh derasnya aliran sungai.

Semua orang di atas perahu kini tidak lagi sekadar mendayung. Mereka berusaha bertahan dari situasi yang cukup menyulitkan. Di bagian depan, Lee Min-woo turut membantu untuk mengarahkan dayung dengan tegas.

“Belok kiri kuat.”

“Kanan.”

Tidak banyak kata-kata yang keluar dari bibirnya. Namun, semua itu sudah cukup bagi mereka semua untuk segera mengikuti instruksi tanpa berpikir panjang.

Berbeda dengan barisan depan, suasana di belakang jauh lebih tidak terkendali.

“INI SERU ATAU AKU BAKAL MENYESAL?!” teriak Mita sambil tertawa panik.

“SERU!” balas Allysa tanpa berhenti merekam menggunakan action cam kecil di tangannya.

David justru tertawa keras hingga ia tidak menyadari bahwa dirinya hampir saja kehilangan pegangan. “AKU BILANG INI MENYIKSA!”

Di sisi tengah, Sam tetap terlihat santai meskipun tangannya terus mendayung. “Kalau jatuh jangan drama, ya.”

“SIAPA YANG DRAMA?!” balas Mita cepat.

Kelly yang duduk di sisi tengah berusaha menjaga ritme dayungnya. Air sudah beberapa kali masuk ke dalam perahu hingga membuat lantainya licin. Tangannya mulai terasa pegal. Namun arus sungai tidak memberi kesempatan untuk berhenti.

Di depan, Min-woo sedikit mengangkat tangan.

“Stabil.” Hanya dengan satu kata dan semua orang seketika menyesuaikan posisi mereka kembali.

Perahu karet yang semula lebih condong ke arah kanan, kini menjadi lebih stabil. Arus yang semula sedikit lebih deras dan dipenuhi bebatuan, kini terasa lebih tenang.

Di belakang Kelly dan Allysa, Min-jun mengikuti instruksi dengan cepat sebelum melirik ke arah Dong-min. “Jangan terlalu ke pinggir.”

Dong-min langsung menyeringai. “Aku tahu, aku tahu.”

Namun tetap saja ia sengaja mendayung sedikit lebih keras daripada yang diperlukan. Min-jun mengembuskan napas panjang. “Kenapa kamu selalu seperti itu ...?”

“Biar lebih hidup,” jawab Dong-min santai.

Tidak menunggu waktu lama, perahu kembali menghantam arus yang jauh lebih kuat, lebih dalam, dan lebih cepat.

“WOAHHH!” Teriakan langsung pecah bersamaan.

Air menyembur tinggi ke segala arah. Seketika, Kelly menutup wajahnya di saat Mita hampir terjatuh ke samping. Untunglah, Sam buru-buru menarik lengannya.

“Pegang!” Seru Sam.

“AKU PEGANG!” Mita sudah setengah tertawa dan setengah panik. “INI GILA!” Seru Mita di tengah rasa paniknya.

Bahkan di tengah kekacauan itu, Allysa masih sempat berkata, “Ini footage terbaik hari ini.”

Mendengar celetukan temannya, Kelly tertawa sembari berusaha mempertahankan keseimbangan.

Di bagian depan, Min-woo sedikit menggeser posisi tubuhnya. Tatapannya fokus pada arus tajam yang membelok di depan.

“SIAP.” Suaranya terdengar lebih rendah dibanding sebelumnya.

Kelly menguatkan pegangannya. Pada detik berikutnya, perahu mereka menghantam gelombang besar. Air segera menerjang dari sisi-sisi perahu karet. Perahu miring tajam. Semua orang refleks condong ke sisi berlawanan.

”PEGANG!”

”JANGAN LEPASKAN!”

Suara mereka bercampur menjadi satu.

Kelly sedikit kehilangan keseimbangan. Namun, sebelum perahu benar-benar goyah, Min-woo menggeser dayungnya dan menahan arah arus. Perahu karet mereka pun kembali terangkat.

Setelah kondisi menjadi lebih stabil, Min-jun mengembuskan napas pendek. Sementara Dong-min justru tertawa terbahak-bahak. “OKAY, ITU HAMPIR SAJA!”

David yang masih terengah-engah segera menimpali kalimat Dong-min. “AKU HIDUP! AKU MASIH HIDUP!”

Sam menoleh ke arah David, kemudian tertawa kecil. “Baru juga setengah jalan.”

Arus sungai perlahan mulai melambat. Percikan air yang sejak tadi menghantam sisi perahu karet kini berganti riak-riak kecil yang mengikuti aliran tenang sungai.

“Kerja bagus, semuanya! Kerja bagus, Min-woo shi!” Suara pemandu terdengar jauh lebih santai. “Kita sudah melewati bagian tersulit.”

Beberapa dari mereka langsung mengembuskan napas lega ketika mendengar ucapan pemandu itu.

“Serius?” David segera menyandarkan tubuhnya ke sisi perahu. “Aku kira masih ada level bos.”

Mereka pun tertawa bersama mendengar celetukan David.

“Tenang,” ujar pemandu sambil tersenyum. “Mulai dari sini kita tinggal menikmati pemandangan.”

Perlahan, perhatian mereka mulai beralih ke pemandangan di sekitar mereka. Tebing-tebing hijau menjulang di kedua sisi sungai seolah menyaring samar cahaya dari langit. Sinar matahari mengintip dari sela-sela dedaunan, memantulkan cahaya lembut di atas permukaan air yang kini jauh lebih tenang.

Beberapa burung melintas rendah di atas sungai. Suasana berubah begitu cepat. Seolah sungai yang tadi tampak liar, kini memilih memperlihatkan sisi paling indahnya.

Kelly ikut menoleh ke kanan dan kiri. Manik matanya menyapu seluruh pemandangan di sekeliling.

Cantik, pikirnya,

Air masih menetes dari ujung rambutnya hingga membasahi bahu. Di barisan depan, Min-woo yang sejak tadi memperhatikan aliran sungai melirik sekilas ke arah belakang. Tatapannya berhenti pada Kelly, lalu bergeser ke kotak perlengkapan kecil yang terikat di bagian depan perahu.

Kotak tahan air itu memang berisi perlengkapan darurat. Kotak P3K, air minum, dan beberapa handuk kecil.

Tanpa banyak bicara, Min-woo membuka kotak abu-abu itu dan mengambil satu buah handuk kecil berwarna putih bersih, sebelum mengulurkannya ke belakang.

Kelly yang menyadari pergerakan dari depan pun menoleh. Ia sedikit menarik kepalanya dengan alis yang bertaut. Tanpa banyak menjelaskan, Min-woo menganggukkan kepalanya dengan gerakan kecil ke arah rambut Kelly. “Masih basah.”

Kelly refleks menyentuh rambutnya sendiri. “Oh ...” Ia menerima handuk itu perlahan. “... makasih.”

Min-woo hanya mengangguk kecil sebelum kembali menghadap ke depan. Seolah tidak ada hal spesial yang baru saja dilakukannya.

Kelly kemudian meraih rambutnya yang basah, berusaha mengeringkan wajah dan rambutnya dengan hati-hati. Sudut bibirnya sedikit tertarik ke atas, melukiskan senyum samar yang bahkan tidak ia sadari.

Angin sungai tak lagi begitu dingin. Di barisan belakang Kelly, Dong-min rupanya memperhatikan semua pergerakan kecil itu. Alisnya sedikit terangkat sebelum sikunya menyenggol pelan lengan Min-jun.

“Lihat,” kata Dong-min.

Min-jun pun mengikuti arah pandang saudaranya itu. “Kenapa?”

“Min-woo,” bisik Dong-min lagi.

Min-jun memperhatikan sekilas sebelum menjawab santai, “Dia memang selalu begitu. Cuma nggak kelihatan aja.”

Dong-min pun mengangguk pelan. “Iya ...”

Tatapannya kembali bergerak secara bergantian antara Min-woo dan Kelly. Sudut bibirnya perlahan terangkat.

“Hm ...” gumamnya pelan. “Tapi ...” Ia tidak melanjutkan kalimatnya.

Hanya senyum tipis yang kemudian mengikuti kalimat itu, seolah baru saja menangkap aroma sesuatu yang bahkan belum disadari oleh kedua orang itu sendiri.



════════ ☕️ ════════

Terima kasih sudah membaca bab ini! 🤍

Aku harap, kalian menikmati novel ini hingga akhir ya.

Jangan lupa baca sambil minum kopi, tak lupa memberi vote dan komentar juga. Supaya author semakin semangat nulis buat kalian ☕️

See you in the next chapter!

— Martha Han
@marutanova ♡

════════ ☕️ ════════════════ ☕️ ════════════════ ☕️ ════════


✦ Note: Action cam adalah kamera digital kecil yang digunakan untuk merekam maupun mengambil gambar ketika sedang beraktivitas di luar ruangan. Biasanya kamera dipergunakan ketika sedang melakukan olah raga ekstrem.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk