──˙✧˖°☕ ༘ ⋆。˚──
Suasana villa kini jauh lebih hidup dibanding dengan pagi tadi ketika Kelly dan Min-woo menikmati sarapannya bersama. Piring-piring bekas mi instan telah dicuci bersih, meski sebagian masih meneteskan air di rak kecil dekat wastafel.
Udara dingin khas pegunungan perlahan bercampur dengan suara langkah kaki dan percakapan yang memenuhi ruang bersama.
Kelly berdiri sambil mengikat rambutnya ke belakang. Hari itu, rencana mereka sudah diputuskan sejak semalam, yakni arung jeram. Dan entah mengapa, dari semua agenda liburan yang ada, kegiatan itulah yang paling ramai dibicarakan sejak awal.
“Jangan ada yang mundur ya!” Suara Sam terdengar dari tangga.
David langsung tertawa. “Siapa juga yang mau mundur?”
Mita muncul dengan tas kecil di punggungnya sambil menghela napas panjang. “Aku cuma takut jatuh ke sungai aja.”
Allysa menepuk bahunya ringan. “Justru itu serunya.”
Kelly hanya tersenyum kecil sambil mendengarkan percakapan mereka yang terasa terlalu cepat untuk pagi yang masih begitu dingin.
Di sudut ruangan, Lee Min-woo sedang merapikan tasnya. Gerakannya tenang dan teliti, tanpa tergesa sedikit pun. Kaus berwarna putih yang dikenakannya kali ini cukup sederhana. Rambutnya masih sedikit berantakan, namun ekspresinya telah kembali pada wajah yang sama seperti biasanya; tenang, siap, dan tidak banyak bicara.
Kelly sempat melirik sekilas sebelum segera mengalihkan pandangan. Terlalu cepat untuk disebut memperhatikan. Namun, terlalu lama untuk disebut tidak melihat.
Sam muncul di sampingnya. “Siap, anak-anak?”
Kelly mengangguk kecil. “Seharusnya sih siap, ya...”
Sam menyeringai. “Jawaban paling jujur dari orang yang belum tahu dia bakal nyebur ke sungai.”
Kelly langsung menoleh. “Aku nggak bilang kalau aku takut.”
“Bukan nggak, tapi belum,” jawab Sam santai.
Kelly mendengus pelan sebelum akhirnya ikut tersenyum kecil.
Beberapa menit kemudian, mereka sudah berada di luar villa. Kedua mobil yang sejak kemarin terparkir rapi di dalam garasi, kini telah berada di luar. Semua perlengkapan dan tas-tas bawaan mereka, sudah dimasukkan ke dalam bagasi.
Suasana mendadak menjadi lebih ramai dibandingkan sebelumnya. Kelly, dengan wajah mantap, sudah berdiri di sisi mobil sembari menunggu Allysa dan Mita.
Beberapa langkah di depannya, Min-woo tengah berbicara pelan dengan Min-jun. Bahasa Korea yang mereka gunakan terdengar begitu alami di telinga Kelly; lebih cepat dan lebih ringan dibanding saat diucapkan di ruang kelas.
Kelly tidak berniat mendengarkan. Namun, karena ia cukup memahami bahasa itu, beberapa potongan kalimat tetap masuk ke dalam pendengarannya tanpa izin.
Tak lama kemudian, Dong-min ikut bergabung. Dengan tawa kecil, ia menepuk bahu Min-woo. “Kalau kamu jatuh duluan di sungai, aku rekam.”
Min-woo melirik sekilas.
“Coba saja.” Nada suaranya tetap datar. Namun justru itu yang membuat Dong-min tertawa semakin keras.
Kelly menunduk sedikit, menahan senyum kecil yang bahkan ia sendiri tidak tahu harus ditujukan kepada siapa.
“Kelly.” Suara Sam memanggil dari belakang. Kelly pun menoleh mengikuti asal suara Sam.
“Duduk sini.” Sam rupanya sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil. Ia berkata sambil menepuk kursi di sebelahnya.
Kelly mengangguk. “Oke”
Ia kemudian berjalan menuju mobil putih di hadapannya. Di saat yang bersamaan, Min-woo juga berbalik untuk kembali masuk ke dalam villa.
Langkah mereka hampir bersamaan. Tanpa disengaja mau pun direncanakan. Namun cukup dekat hingga Kelly menyadarinya lebih dulu. Ia sedikit mengubah arah langkahnya. Min-woo pun tidak berhenti. Mereka hanya saling melewati tanpa sepatah kata pun.
Namun ada satu detik kecil di antara mereka. Satu detik yang terasa berjalan lebih lambat dibanding waktu lainnya.
☕️☕️☕️
Beberapa menit berlalu, mereka semua sudah berada di dalam mobil.
Seperti semula, suasana kembali ramai. Sam mulai bercanda tentang siapa yang akan jatuh terlebih dahulu saat arung jeram nanti. Sedangkan Mita, beberapa kali berusaha menimpali Sam yang terus menggodanya.
Allysa sibuk merekam video untuk story media sosialnya. Sementara Kelly bersandar pelan di kursi dengan sorot mata yang memandang keluar jendela.
Angin pagi berembus lembut di balik kaca mobil. Dan dari pantulan mobil itu, terlihat bayangan mobil lain yang mengikuti di belakang. Mobil tempat Min-woo berada.
Berbeda dengan mobil yang ditumpangi oleh Kelly, suasana mobil tempat Min-woo berada cukup berbanding terbalik. Suasana begitu tenang, tanpa keributan yang bersahut-sahutan.
Setelah menempuh perjalanan selama hampir 2 jam, sayup-sayup terdengar suara deras air. Kelly menoleh ke arah jendela.
Sungai itu membelah hutan dengan arus yang hidup, memantulkan cahaya matahari pagi di sela-sela pepohonan yang menjulang tinggi.
Udara di sana terasa jauh lebih sejuk dibandingkan villa.
Begitu turun dari mobil, aroma tanah basah langsung menyambut mereka. Kelly menarik napas panjang. Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat perlahan. “Indahnya...”
“Selamat datang di bagian yang paling dinantikan, paling seru!” Sam membuka kedua tangannya lebar sambil tertawa.
David langsung menimpali. “Ini menyenangkan atau nyiksa, sih?”
“Jelas keduanya dong!” Jawaban santai Sam membuat semuanya ikut tertawa.
Tak lama, seorang pemandu menghampiri mereka. Ia mengenakan kaus olahraga yang telah dibalut pelampung berwarna oranye, celana pendek quick-dry, serta helm keselamatan yang ia apit di lengan dalam tangan kanannya. Sepasang sepatu sungai tampak masih basah, meninggalkan jejak air di atas lantai.
“Selamat pagi.” Pemandu itu menyapa dengan senyum yang cerah. Jawaban yang begitu ramai dan bersemangat segera menyambar di udara.
“Mari ikut saya,” kata pemandu itu lagi.
Mereka berjalan mengikuti pemandu menuju area briefing yang berada tepat di tepi sungai.
Beberapa perahu karet telah berjajar rapi. Sebagian peserta lain terlihat sibuk mengenakan helm dan pelampung. Suasananya ramai, tetapi tetap terasa menyenangkan.
Di bawah tenda sederhana, pemandu itu mulai memberikan pengarahan. Bagaimana cara memegang dayung, cara menjaga keseimbangan, dan cara mengikuti aba-aba.
“Kalau jatuh ke air, jangan panik.” Instruktur menunjuk ke arah sungai. “Ikuti arus. Jangan melawan. Tim penyelamat akan membantu.”
Kelly mengangguk pelan. Namun tanpa sadar jemarinya mengencangkan tali pelampung yang dikenakannya.
Di sampingnya, Min-woo berdiri dengan ekspresi yang selalu sama, tenang dan fokus. Sedangkan Dong-min justru sibuk menyenggol lengan Min-jun dan Min-woo pelan.
“Kalau aku jatuh duluan...” Belum sempat Dong-min melanjutkan ucapannya. Min-woo sudah memotongnya.
“...jangan ditolong ya.” Min-woo kemudian menoleh ke arah Dong-min.
“Tidak akan,” jawab Min-jun cepat tanpa perubahan ekspresi.
Jawaban datar itu langsung membuat Dong-min tertawa paling keras. “Wah... tega juga.”
Bahkan Sam yang mendengarkan percakapan itu pun ikut menggeleng sambil tertawa kecil. “Aku catat ya.”
Min-woo kemudian kembali menghadap pemandu dengan senyum tipis yang nyaris tak terlihat.
Waktu berjalan begitu cepat. Mereka sudah selesai mendengarkan instruksi dari pemandu dan menunggu di tepi sungai sambil mengenakan perlengkapan masing-masing.
“Delapan orang satu tim,” ujar pemandu sambil tersenyum. “Biar seru.”
David mengangkat sebelah alis. “Kalau tenggelam, tenggelamnya rame-rame dong?”
Belum sempat Sam menimpali ucapan David, sebuah suara pukulan kecil terdengar.
Plak!
Dong-min menepuk bahu David sambil tertawa keras. “Yeah! Itulah saudaraku!”
David langsung menunjuk Dong-min. “Nah, ini! Dia ngerti gue!”
Sam menggeleng pelan. “Dua orang ini kalau digabung...”
“...berisik,” sambung Allysa cepat.
“Tapi menghibur,” timpal Mita sambil terkekeh.
Min-jun hanya mengembuskan napas panjang. “Percayalah, baru lima menit kenal mereka, udah capek.
Semua langsung tertawa. Bahkan Kelly yang sejak tadi cukup tenang memperhatikan sungai di hadapannya pun ikut tersenyum kecil. Sementara Min-woo hanya menggeleng pelan melihat tingkah sepupunya itu. Seolah ia sudah terlalu sering menghadapi situasi semacam ini.
════════ ☕️ ════════
Terima kasih sudah membaca bab ini! 🤍
Aku harap, kalian menikmati novel ini hingga akhir ya.
Jangan lupa baca sambil minum kopi, tak lupa memberi vote dan komentar juga. Supaya author semakin semangat nulis buat kalian ☕️
See you in the next chapter!
— Martha Han
@marutanova ♡
════════ ☕️ ════════════════ ☕️ ════════════════ ☕️ ════════














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!