Dasar orang orang-orang tolol.
Joshua mendecih. Menatap lucu ke arah orang-orang berpakaian gelap yang masih terus berdatangan. Menatap heran ke arah mereka yang pura-pura bersimpati pada mama yang masih menangis. Menatap jijik ke arah papa yang pura-pura menenangkan mama.
Setelah air dingin yang melewati tenggorokannya itu sudah cukup mendinginkan perut yang kosong sejak semalam, Joshua melenggang pergi meninggalkan dapur menuju kamarnya di lantai dua. Sambil membodohi semua orang yang mau-maunya dibodohi oleh Si Cacat. Padahal dia melihat dengan jelas tubuh yang terbujur kaku itu berkedip, terus tersenyum seperti orang gila.
Ah, Si Cacat yang menjadi gila.
Bodoh.
Si Cacat itu pastilah haus perhatian sampai harus susah payah pura-pura mati karena gantung diri.
Joshua menggeleng sambil tertawa, menatap pintu kamar Si Cacat yang rusak karena didobraknya atas paksaan mama semalam , dan begitu pintu kamar terbuka, jeritan mama langsung memenuhi udara.
Ah, mama ... mama bukanlah wanita yang cengeng. Saat orang gila itu melampiaskan kemarahannya pada mama saja, wanita itu masih tersenyum. Terus mengatakan bahwa ia baik-baik saja meskipun seluruh tubuhnya sudah penuh luka lebam dan darah yang mengering. Mama tidak pernah menangis atas semua siksaan di neraka ini. Orang gila itu tidak pernah bisa membuat mama menangis. Namun, semalam jeritan itu terdengar memilukan. Tangisnya pecah. Mama memeluk kaki Si Cacat yang menggantung. Memohon pada Joshua yang hanya mengerutkan dahi menatap Si Cacat yang lehernya terlilit sambungan kain gorden dan seprai.
Dan Joshua tahu, dia sudah kalah. Si Cacat itu berhasil membuat mama menangis.
Padahal, seharusnya mama tidak menangis. Mama tidak boleh menangis karena Si Cacat itu kesenangan di peluk mama. Bahkan Si Cacat itu sempat-sempatnya menjulurkan lidah untuk mengejek Joshua dari atas sana. Belum lagi cahaya temaram dari cove lighting plafon yang menyorot tubuhnya yang tergantung hingga memberikan efek dramatis ....
Mungkin seharusnya Joshua benar-benar membunuh Si Cacat malam itu dan--
Plak!
“Kita lagi banyak tamu Joshua. Jangan buat papa marah.”
Sial. Joshua selalu kagum pada kemampuan papa saat melampiaskan amarahnya. Tidak berapi-api. Dingin. Cepat, tepat dan menyakitkan. Sangat efisien. Bahkan di saat ramai seperti sekarang, papa yang entah dari mana, tahu-tahu sudah mengikutinya ke kamar tanpa ia sadari sama sekali.
“Tamu?” Joshua membeo. Pura-pura bodoh melirik ke arah lantai satu. “Tamunya mau ketemu Si Cacat itu, ‘kan? Bukan gue?”
Dan Joshua juga bangga pada dirinya sendiri yang masih saja berani menjawab papa dengan seenaknya meskipun ia tahu akan kembali mendapatkan--
Plak!
--tamparan lanjutan.
“Oh, tamu Papa?”
Plak!!!
Sayangnya, Joshua masih belum memiliki keberanian untuk membalas tamparan--kesekian itu.
“Jangan kayak anak kecil, Joshua. Papa udah pusing gara-gara sodara kamu mati gantung diri. Lebih baik kamu sekarang turun, atau--“
“Atau apa?” Joshua menantang.
“Atau Papa akan buat kamu gantiin posisinya Jonathan.”
Papa mengakhiri perdebatan itu dengan lugas, bahkan cenderung terdengar santai daripada mengancam. Pergi meninggalkan Joshua yang masih berusaha mencerna maksud ucapan papa.
Memangnya selama ini Si Cacat itu punya posisi apa di rumah ini dan tidak ia ketahui?
“Joshua ... ini Mama.”
Sudah puluhan kali Joshua mencoba memejam, berharap waktu terlewat dengan cepat dan semua kembali berjalan normal--meskipun Joshua juga tidak yakin hidup yang dijalaninya cukup normal. Namun, pintu kamarnya itu terus saja diketuk. Mulai dari tante, bibi, papan, sepupu, entah siapanya lagi yang menyuruh Joshua untuk segera keluar. Dan sekarang mama juga ikut-ikutan mengganggunya. Sungguh, Joshua hanya ingin sendiri dan tidur. Joshua muak oleh sandiwara bodoh Si Cacat yang pura-pura mati.
“Joshua ... ini Mama. Buka pintunya, Sayang.”
Joshua menghela napas berat. Menutup kepala dengan bantal, berharap mama juga segera pergi seperti yang lain. Namun, wanita yang melahirkannya itu terdengar semakin memelas, memohon untuk dibukakan pintu. Lalu, sambil menghela napas berat--lagi, akhirnya Joshua menyerah. Melempar bantalnya ke sembarang arah, dan beranjak dengan kesal sambil mengumpati Jonathan dalam hati.
Begitu pintu terbuka, Joshua mematung. Mama langsung memeluknya. Sesaat dia mengerti mengapa Si Cacat itu kesenangan ketika dipeluk mama kemarin.
Rasanya seperti ... Joshua tidak membutuhkan apa pun lagi di dunia ini, bahkan jika kiamat terjadi, Joshua tidak peduli.
Sialnya, tetap saja Joshua tidak berani membalas pelukan mama. Joshua takut, ia tidak bisa melepaskan pelukan itu dan membuat mama terus menempel padanya. Jadi, Joshua diam saja, membiarkan mama mendekapnya.
“Joshua yang kuat ya, anak Mama kuat. Joshua kalo ada masalah cerita ke Mama. Seberat apa pun, Joshua harus kasih tau Mama.”
Joshua tidak tahu bagaimana harus merespons mama. Joshua tidak tahu berat seperti apa yang mama maksud. Lagi pula, seharusnya mama adalah orang yang paling tahu bahwa Joshua sangatlah kuat, buktinya dia masih hidup meskipun sudah dipukuli papa berulang kali.
“Atau, Joshua mau tinggal sama Mama aja? Kita kabur dari sini. Seharusnya ... seharusnya dari dulu Mama ajak Jonathan kabur juga dari sini ... pasti ... pasti ....”
“Ma ....”
Wanita itu menangis lagi, memeluk Joshua semakin erat.
“Anak kembar Mama tinggal satu ... Mama ... Mama ... maafin Mama, Joshua. Maafin Mama ....”
“Mama ngomong apasih? Jonathan nggak mati, Ma. Dia itu cuma pura-pura.”
Joshua tidak mengerti apa yang salah dari ucapannya karena tangis mama semakin menjadi. Seolah seluruh kesedihan, beban dan sakit yang selama ini ditahan mama diluapkan semua. Seolah-olah wanita itu baru saja kehilangan apa yang paling berharga ... padahal Si Cacat itu tidak mati ... padahal Si Cacat itu lebih sering menyusahkan mama ... padahal--
“Jo-Jo-Joshua anak Mama, Joshua nggak boleh kayak gini. Mama tahu ini berat, tapi Joshua harus ikhlasin Jonathan ....”
“Apasih, Ma! Jonathan itu nggak mati! Dia itu nggak mati!”
Joshua muak. Semua orang berlebihan. Si Cacat yang tidak tahu diri dan membodohi semua orang itu perlu diberi pelajaran!
Pelukan mama dilepas secara paksa. Anggota keluarga yang sedang bergunjing di depan kamarnya langsung terdiam. Semua orang yang sedang duduk melingkar di sekitar tubuh Si Cacat yang ditutupi kain itu memekik. Papa yang sedari tadi masih menyambut kehadiran para pelayat bergerak cepat. Namun, masih kalah cepat dari Joshua yang sudah memukuli tubuh Jonathan sekuat tenaga.
“Bangun nggak lo sialan! Bangun, Anjing!”
Bugh!
Pukulan Joshua tiba-tiba terhenti. Tangannya yang masih terkepal itu tertahan di udara. Bukan. Bukan karena pukulan papa pada pipinya barusan. Namun, karena Jonathan yang sedari tadi dipukulinya tiba-tiba berdiri di depan sana. Di antara orang-orang sambil menatapnya dengan sedih.
“Gue memang udah mati, Jo. Kan elo yang bunuh gue.”














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!