Kali ini, indra penciuman laki-laki itu bekerja lebih cepat dibandingkan penglihatannya: aroma rumah sakit. Baru kemudian ia membuka mata, melihat lampu di atas kepala, infus yang tinggal setengah, mama yang sedang tertidur di samping ranjang, juga Si Cacat yang duduk di sofa sambil memeluk lututnya, menggoyang-goyangkan badan ke kiri kanan, menatap Joshua dengan sebuah senyuman yang ... janggal.
Mengapa dia yang terbaring di sini dan bukannya Si Cacat?
Kening laki-laki itu berkerut, antara menahan sakit kepala dan berusaha mengingat apa yang terjadi sebelum dia terbaring di ruangan VIP ini: pot tanaman yang pecah, hujan, tangisan mama, Si Cacat yang pura-pura gantung diri, papa yang meninjunya karena ia memukuli Si Cacat ... hingga Si Cacat yang mulai dimasukkan ke dalam lubang sempit ....
Ingatan Joshua berhenti sampai sana. Sampai ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Jonathan Biru Samudra, kembarannya yang terlahir cacat itu ditimbun di dalam tanah.
Jadi, kenapa Si Cacat itu sekarang bisa ada di sini?
Joshua mengaduh pelan saat berusaha bangkit. Membuat mama yang tadi tertidur tersentak karena merasakan pergerakan, langsung bangkit dari kursi, menatap ke arah Joshua dengan setengah sadar, spontan mengatakan, “Jonathan udah bangun?”
Joshua yang kembali terbaring karena seluruh tubuhnya lemas itu menatap mama heran. Mama tidak pernah salah menyebut Joshua sebagai Jonathan. Tidak ada satu pun orang yang salah menyebut nama mereka. Karena, Biru Samudra bukan kembar identik. Sekilas pun keduanya tampak berbeda. Jonathan mewariskan garis wajah mama, sedangkan Joshua terpaksa menerima kenyataan bahwa wajahnya mirip dengan papa. Terlebih, Jonathan, kakak kembarnya itu terlahir dengan kaki kiri yang tidak sempurna.
Jadi, sebuah kemustahilan, bahkan bagi mama untuk salah menyebut nama keduanya.
Ada jeda sebentar, lalu mama mengerjap cepat seakan baru tersadar, “Oh, Joshua ... Joshua udah sadar? Mama panggilin dokter, ya?”
Mengabaikan mama yang masih sedikit linglung dan sempat salah mengira dirinya sebagai Jonathan, Joshua menahan lengan mama, fokusnya beralih ke bekas memar dengan sisa darah mengering di sudut bibir wanita tersebut. Tidak perlu bertanya pun Joshua sudah tahu siapa pelakunya.
“Kapan, Ma?”
“Hm?”
“Kapan Papa mukul Mama?”
Gelagapan, mama mengusap-usap sudut bibirnya dengan ujung jempol yang sudah dibasahi saliva, sambil berusaha menghilangkan jejak kekerasan yang belum lama ada di sana. “Mama nggak apa-apa. Cuma hal sepele, kok.” Jawaban mama sama sekali tidak menjawab Joshua.
Cuma hal sepele.
Tentu saja. Semua hal sepele adalah alasan papa untuk melayangkan tinjunya. Namun, luka itu jelas belum ada sampai Joshua terbangun tadi. Pasti papa memukuli mama saat dia tak sadarkan diri. Sungguh, Joshua ingin mendebat perkara hal sepele yang dimaksud, tetapi kepalanya terasa sakit sekali.
“Kenapa Joshua bisa di sini?”
Mata mama tiba-tiba menggenang. Wanita itu sudah kembali duduk di kursi samping ranjang dan balik menggenggam tangan Joshua, menciumnya dan menenggelamkan wajah di sana.
“Joshua tiba-tiba pingsan waktu Jonathan dikubur kemarin. Orang-orang bilang katanya Joshua shock. Tapi, Joshua nggak bangun-bangun. Makanya Mama bawa ke rumah sakit. Mama takut ... karena orang-orang bilang anak kembar itu punya ikatan batin yang kuat. Orang-orang bilang Jonathan mau ajak Joshua pergi. Mama mimpi Jonathan mau ajak Joshua pergi ... Mama takut ....”
Joshua sempat merasakan sakit teramat di kepalanya saat berusaha mencerna kalimat mama. Kalimat yang terdengar seperti kebohongan karena begitu Joshua mengalihkan pandang ke arah sofa, Si Cacat itu masih berada di sana dan masih belum berubah posisi: masih duduk di sofa, masih memeluk lutut, dan masih menggoyang-goyangkan tubuhnya. Bedanya kali ini senyum itu terlihat seperti anak kecil yang kesenangan melihat mainan.
Jonathan ... dikubur ... kemarin ....
“Nggak, Ma. Jonathan belum mati.”
Joshua tidak tahu apa yang salah dengan kalimatnya saat mama justru mulai menangis, suara tangisannya yang lirih terdengar semakin keras, dan semakin tak terkendali. Entah kenapa, di saat yang bersamaan Joshua merasa aneh, tiba-tiba ada ruang kosong yang terhampar dan mulai menelan segala hal. Mulai dari suara mama, suara di sekitar, cahaya, benda-benda, bahkan udara ... dan menyisakan Joshua sendirian dalam kesunyian yang gelap.
Perlahan, Joshua merasakan napas yang mulai tersedat-sedat, ditekan dadanya kuat-kuat, sambil berharap ada sedikit udara yang masuk dan menyelamatkannya. Namun, sekeras apa pun Joshua berusaha, dia tetap tidak bisa bernapas. Dadanya semakin terasa panas. Tangannya bergerak sembarangan ke segala arah berusaha meraih apa pun ... mencari sesuatu yang bisa menyelamatkannya ....
“Butuh pertolongan, Jo?”
Dan Joshua justru menemukan sebuah tangan yang terulur. Sangat putih hingga nyaris bercahaya di dalam gelap. Ada hawa dingin yang menguar di sekitarnya dan terasa sangat pekat.
Takut-takut jika itu adalah hari kematiannya, Joshua mendongak, dan justru mendapati Jonathanlah yang ada di hadapan dengan senyum semringah seperti anak kecil yang baru saja mendapat hadiah.
Si Cacat itu jelas belum mati.
Karena dilihat dari mana pun, dilihat selekat apa pun, laki-laki itu, Si Cacat yang sedang berdiri masih dengan tangan terulur dan senyum anehnya itu, tidak tembus pandang seperti arwah, atau roh, atau apalah sebutannya. Si Cacat itu terlihat solid, dengan kedua kaki yang menjejak lantai. Berdiri sempurna seperti orang normal pada umumnya.
Ah, ya ... kakinya.
Berdiri sempurna. Normal dan tidak cacat.
Jadi, Si Cacat itu tidak sedang pura-pura mati?
“Ayo, Jo. Ikut gue. Ternyata mati nggak seburuk itu.”
Joshua tidak sadarkan diri kembali.
Mama sedang keluar, dan jika saja tulang-tulangnya tidak terasa seperti mi instan yang dimasak terlalu matang, Joshua sudah bangkit untuk menghajar Si Cacat yang sedari tadi tidak berhenti berjalan di sekitar ranjang, yang sesekali berjingkrak, sesekali berlarian dengan wajah kesenangan seperti anak kecil yang baru bisa berjalan.
Persetan dengan kembaran yang katanya sudah mati itu. Joshua berjanji akan membuat Si Cacat mati untuk yang kedua kali.
“Liat, Jo. Gue sekarang bisa lari!”
“Bisa nggak sih lo pergi langsung aja ke neraka kalo emang udah mati?” Joshua tahu, membalas ucapan Si Cacat jelas akan membuatnya seperti orang gila. Tapi sungguh, dia sudah muak. Jonathan terlalu berisik untuk diabaikan dan kini dia hampir kehabisan sabar karena saudara kembarnya itu kembali berlarian mengitari ruangan, dan membuat kepalanya semakin sakit.
Sial. Jangan-jangan justru keberadaan Si Cacat yang membuatnya sakit?
“Memang gue yang buat lo sakit. Sayangnya, gue belum bisa pergi karena lo harus--“
“Woy, Biru!”
Joshua dan Jonathan menoleh bersamaan ke arah pintu ruangan yang baru saja terbuka. Teman-temannya yang tidak diundang itu muncul di sana.
“Bisa tumbang juga lo, Ru. Wah, jangan-jangan ilmu lo udah luntur.” Salah satu temannya itu menyeletuk serius meskipun ditutup dengan kekehan, mengambil beberapa jeruk yang ada di atas nakas dengan santai padahal belum ditawari, membagikannya ke teman-teman yang lain seakan milik sendiri, lalu duduk kembali ke ujung ranjang dekat kaki Joshua.
“Sialan, lo!”
Lelucon bahwa Joshua memiliki ‘ilmu kebal’ itu memang sudah lama muncul dan menjadi keyakinan hampir seluruh siswa di sekolah. Karena meskipun Joshua babak beluk, laki-laki itu tetap muncul di sekolah dengan santai, tanpa membolos ke UKS seakan memar dan luka di tubuhnya hanya hiasan tanpa rasa sakit sama sekali.
“Berarti lo kalo tawuran udah nggak bisa di taruh paling depan lagi, Bro. Mati duluan lo nanti.”
“Kampret!”
Joshua merasa sudah lama sejak terakhir kali dia bisa nyaman dan santai seperti ini, tanpa mengingat masalah di rumah dan juga Si Cacat yang untungnya tidak terlihat sama sekali.
“Ini kalian semua ngebolos?” Joshua melirik ke arah jam dinding di atas pintu.
“Terpaksa, soalnya jam kunjung lo pas lagi sekolah. Cewek-cewek ini nggak bisa kalo diajakin jenguk nanti malem.”
“Alah! Padahal lo yang paling seneng pas diajakin bolos.”
“Tapi, kalian tau gue di sini dari mana?” Joshua menyela begitu teringat bahwa dia masih belum sempat memegang ponsel dan mengabari siapa pun sedari kemarin.
“Dari nyokap lo.” Aris, yang duduk menjauh sendiri di sofa yang menjawab. “Nyokap lo ngasih tau cewek lo. Katanya lo sakit.”
“Cewek gue sekarang di mana?”
“Padahal kita udah dari tadi di sini, lo baru keinget cewek lo nggak ada. Nah, itu panjang umur ....”
Semua orang menoleh ke arah pintu kamar yang baru saja terbuka. Eunice, pacar Joshua itu masuk dengan mata memerah dan wajah agak sembab sisa-sisa menangis yang kentara, dan begitu keduanya saling mengunci pandang, tangisnya kembali pecah. Perempuan yang rambutnya diikat tinggi itu menghambur menuju Joshua, seakan hanya ada mereka berdua di sana.
“Kamu sampe dirawat gini, kenapa nggak ngabarin aku, sih. Kenapa suka banget buat aku khawatir.”
Joshua yang merasa bersalah itu mengusap-usap kepala Eunice, meraih tangannya, dan menjelaskan singkat, “Aku nggak sempet pegang hp dari kemaren.”
Meskipun ruangan itu menjadi riuh setelahnya, Joshua dan Eunice tampak tak peduli dan tetap mempertahankan adegan mesra tersebut untuk sementara, hingga kemudian, “I’m so sorry for your loss. Aku ... nggak tahu kalau kamu punya kembaran.”
Mendadak, udara di dalam ruangan itu terasa berbeda. Tatapan Joshua berubah, bahkan matanya yang sedari tadi menatap Eunice sudah memandang ke arah yang lain. Ke arah Si Cacat yang tiba-tiba muncul di belakang teman-temannya. Si Cacat yang selalu menjadi aib bagi Joshua.
“Kalian semua keluar.”














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!