Bab 01

Bab 1 Napas yang Tertahan

1 dibaca

A

Udara di dalam ballroom hotel bintang lima itu terasa terlalu padat untuk dihirup, seolah oksigen telah lama habis dan digantikan oleh uap parfum mahal, gelembung sampanye yang menguap, serta ambisi yang mengepul di setiap sudut ruangan. Di bawah gemerlap lampu kristal yang memantulkan kilau kemewahan semu, Alyssa Beatrice berdiri terpaku di sudut ruangan, bagaikan sebuah patung porselen yang siap retak jika tersentuh angin sedikit saja.

Ia mengenakan slip dress satin hitam berpotongan rendah yang memeluk tubuhnya dengan kejam. Kain licin itu jatuh tanpa ampun, mengikuti setiap lekuk pinggangnya dan mempertegas garis pinggulnya yang ramping. Setiap kali ia mengambil napas, kain tipis tersebut bergesekan secara sensitif dengan kulitnya, menciptakan sensasi menggelitik yang hampir menyiksa di tengah debar jantungnya yang berlomba-lomba. Keringat tipis merembes di tengkuknya, membuat helaian rambut hitamnya yang tersanggul longgar terasa melekat basah di kulitnya yang peka.

Ia tahu mata-mata haus kuasa sedang mengawasinya. Terutama satu pasang mata yang sejak tadi menajam dari seberang ruangan.

Marcus Thorne, atasannya sekaligus pria yang memegang kunci mutlak atas promosi jabatan sebagai Direktur Keuangan yang paling diidamkan Alyssa tahun ini, mendekat dengan langkah pelan. Gelas kristal berisi cairan keemasan bergoyang di antara jari-jarinya. Tatapan Marcus menilai Alyssa dari ujung kepala hingga ujung kaki, bukan sebagai manusia, melainkan sebagai aset berharga yang harus membuktikan nilainya di atas kertas neraca keuangan.

“Karier cemerlang butuh pengorbanan, Alyssa,” bisik Marcus, suaranya rendah dan tajam, memotong alunan musik klasik yang mengalun lembut dari sudut ruangan. “Jangan sampai kamu terlihat rapuh di hadapan para pemegang saham. Pasar tidak menyukai kelemahan, dan mereka pasti tidak menyukai wanita yang gemetar di balik gaun mahalnya.”

Alyssa menegakkan punggungnya, memaksa otot-otot di balik gaun satin itu mengeras demi menepis getaran gugup yang merambat di tulangnya. Ia mengangkat dagunya, menatap mata Marcus dengan sorot dingin yang selama ini menjadi pelindung utamanya di dunia korporat yang kejam.

“Saya tidak pernah rapuh, Tuan Thorne,” balas Alyssa, suaranya tenang namun bergetar tipis di ujung kalimat. “Saya hanya sedang menghitung langkah agar tidak salah jatuh di hadapan dewan direksi.”

Marcus tersenyum tipis, sebuah seringai penuh kalkulasi yang membuat perut Alyssa mual. “Pastikan hitunganmu benar, Alyssa. Karena kalau tidak, bukan hanya posisimu yang hilang, tapi juga reputasi yang kamu bangun setengah mati.”

“Saya tidak butuh diingatkan tentang risiko, Tuan. Saya hidup di dalamnya setiap hari,” jawab Alyssa tajam, matanya tidak bergeming sedikit pun dari manik mata atasannya.

Marcus mendengus pelan, meneguk sampanyenya sebelum kembali berucap, “Bagus kalau kamu sadar. Pertahankan sikap keras kepala itu sampai rapat penutupan anggaran minggu depan.”

Tanpa menunggu jawaban, Marcus berbalik dan melebur kembali ke dalam kerumunan para petinggi perusahaan.

Punggung Alyssa bersandar kaku pada dinding pilar marmer yang dingin. Jantungnya bergemuruh hebat, memukul tulang rusuknya dari dalam. Untuk meredam debaran yang mulai menyesakkan dada, ia meraih gelas ketiga sampanye dari nampan pelayan yang lewat, lalu meneguk cairannya yang dingin dan bersoda dalam sekali teguk. Sensasi terbakar meluncur di tenggorokannya, namun itu tidak cukup untuk melunturkan rasa tercekik yang kian mendera.

Ruangan ini terasa seperti sangkar emas. Ia harus keluar.

Dengan gerakan cepat, Alyssa mengangkat gaun panjangnya sedikit dan memutuskan melarikan diri. Ia membelah kerumunan manusia yang berdansa, mencari sudut paling sunyi di dekat area bar belakang yang tersembunyi dari sorot lampu utama.

Namun, tepat saat ia berbalik untuk mencari tempat bernapas, tubuhnya tiba-tiba menghantam sesuatu yang keras dan padat.

Bukan dinding marmer. Melainkan bidang dada seorang pria yang berdiri terlalu dekat di belakangnya—begitu dekat hingga gesekan antara gaun satinnya dan mantel pria itu terasa membakar kulitnya seketika.

Sebelum Alyssa sempat meminta maaf atau menarik diri, sebuah aroma yang sangat khas langsung menghantam indra penciumannya dengan telak: wangi kayu cemara yang pekat bercampur aroma maskulin bourbon yang hangat dan memabukkan.

Dunia di sekitar mereka mendadak senyap. Dan di dalam keheningan itu, napas Alyssa tertahan sempurna di tenggorokannya saat sebuah suara bariton yang rendah dan asing berbisik tepat di samping telinganya.

BERSAMBUNG ....

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk
Bab 1 Napas yang Tertahan · Boardroom Obsession · Author Unfiltered