Sentuhan itu datang tanpa aba-aba, menghantam kesadaran Alyssa di antara kepulan asap aroma malam dan denting gelas kristal yang mulai memudar. Belum sempat embusan napasnya kembali teratur, sebuah tangan yang kokoh dan hangat tiba-tiba melingkar di pinggangnya. Cengkeraman itu tidak kasar, namun begitu mutlak—menahan tubuh Alyssa yang hampir limbung agar tidak menghantam lantai marmer.
Kain satin hitam yang membalut tubuhnya seolah tidak memberikan perlindungan apa pun dari panas telapak tangan pria itu. Panas tubuh Liam meresap menembus kain tipis tersebut, membakar kulit di sekitar pinggang Alyssa dan mengirimkan sengatan listrik liar yang langsung merambat naik ke sepanjang tulang belakangnya. Jantung Alyssa berdentum liar, memukul dinding dadanya dengan ritme yang teramat cepat.
Ia mendongak, memaksa kedua matanya untuk lepas dari cengkeraman ketakutan korporat dan menatap sosok di hadapannya.
Itu adalah Liam Jasper. Lead Consultant yang namanya selalu menghiasi laporan strategis paling berbahaya di perusahaan, pria yang selama ini hanya ia kenal lewat memo dingin, surel bernada perintah mutlak, dan siluet bayangannya di ujung koridor lantai eksekutif. Malam ini, di sudut remang-remang dekat bar yang tersembunyi dari sorot lampu ballroom, pria itu berdiri terlampau dekat—begitu dekat hingga aroma maskulin bourbon dan kayu cemara darinya mendominasi seluruh oksigen yang tersisa di paru-paru Alyssa.
Liam tidak langsung melepaskannya. Jari-jari panjang pria itu justru mengetat perlahan di lekuk pinggang Alyssa, menikmati getaran halus yang tercipta di balik gaun satin wanita itu.
“Menghindari kerumunan, atau sengaja mencari pelarian, Beatrice?” suara Liam merendah, berat dan bergetar malas, menciptakan ketegangan fisik yang begitu pekat di udara.
Alyssa menegakkan dagunya, meski ia bisa merasakan lututnya sedikit melemah akibat cengkeraman tangan itu. Ia menatap manik mata Liam yang gelap, berusaha menyembunyikan badai yang sedang mengamuk di balik dadanya.
“Aku mencari udara segar, Jasper,” balas Alyssa, suaranya tajam namun kehilangan separuh stabilitasnya. “Dan kehadiranmu jelas tidak membantu persentase oksigen di ruangan ini. Bisa lepaskan tanganmu sekarang?”
Liam justru terkekeh pelan, sebuah suara bariton yang bergetar di dalam dadanya dan beresonansi langsung dengan tubuh Alyssa yang menempel padanya.
“Permintaan yang menarik,” bisik Liam, matanya menelusuri garis rahang Alyssa dengan tatapan lapar yang tidak lagi disembunyikan. “Tapi aku baru saja menangkapmu sebelum jatuh, Beatrice. Setidaknya ucapkan terima kasih dengan benar.”
“Terima kasih, Tuan Konsultan,” ucap Alyssa penuh penekanan, jemarinya secara refleks mencengkeram lengan jas Liam yang terbalut kain wol halus demi menjaga keseimbangan. “Sekarang, bergeserlah. Ruangan ini cukup luas untuk kita berdua berdiri tanpa harus saling menindih.”
“Ruangan ini memang luas,” balas Liam dengan nada provokatif, wajahnya kian mendekat hingga ujung hidung mereka nyaris bersentuhan. “Tapi sudut ini terlalu sempit untuk kita berdua berpura-pura tidak saling memperhatikan sejak jam delapan malam tadi.”
Alyssa menelan ludah susah payah. Tenggorokannya mendadak terasa kering. “Aku tidak sedang memperhatikanmu, Jasper. Aku punya laporan audit yang jauh lebih menarik untuk dipikirkan daripada caramu berdiri di tengah pesta.”
“Benarkah laporan audit?” Liam menaikkan sebelah alisnya, seringai tipis terukir di bibirnya yang terlampau dekat. “Padahal napasmu memendek sejak tanganku menyentuh pinggangmu. Kamu tidak sedang mencari udara, Beatrice. Kamu sedang mencari alasan untuk menyerah pada ketegangan ini.”
“Jangan percaya diri, Tuan Konsultan,” geram Alyssa rendah, mencoba mendorong dada bidang Liam, namun usahanya sia-sia karena tubuh pria itu bagaikan dinding karang yang kokoh. “Aku tidak pernah menyerah pada apa pun, apalagi pada pria yang suka menyergap orang di sudut gelap.”
“Bukan menyergap,” ralat Liam, suaranya kini jatuh tepat di atas bibir Alyssa, begitu dekat hingga hembusan napas hangat pria itu membelai kulit wajahnya. “Aku hanya mengamankan aset penting agar tidak jatuh ke lantai marmer.”
“Aku bukan asetmu, Liam,” desis Alyssa, matanya menyipit tajam.
“Belum,” koreksi Liam tanpa ragu. “Belum jadi milikku.”
Alih-alih melepaskan, Liam justru menarik pinggang Alyssa semakin mendekat. Jarak di antara tubuh mereka lenyap total—tak ada lagi celah udara, tak ada lagi batas profesionalisme kantor.
Mata Liam terpaku menatap bibir Alyssa yang sedikit terbuka, sebelum pria itu perlahan menundukkan wajahnya. Bulu kuduk Alyssa meremang hebat, sekujur tubuhnya menegang menanti saat bibir itu bergerak.
Dan tepat di daun telinga Alyssa, Liam membisikkan sesuatu dengan suara parau yang membakar habis seluruh sisa pertahanan kewarasannya.
BERSAMBUNG ....














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!