Bab 1 Musim Dingin di Tokyo

4 dibaca

A

Salju pertama jatuh di Tokyo pada minggu kedua bulan November.

Bukan salju yang lebat dan mengganas seperti badai-badai yang sering melanda daerah pegunungan di utara Jepang. Ini adalah salju yang lembut dan tenang, butiran-butiran putih yang turun dari langit kelabu dengan kelambatan yang nyaris membuat setiap orang yang melihatnya merasa bahwa waktu sedang bergerak lebih pelan dari biasanya. Setiap butiran salju melayang-layang di udara seperti bulu-bulu angsa yang dijatuhkan dari awan-awan yang rendah dan tebal, berputar-putar mengikuti hembusan angin yang tidak terlalu kencang namun cukup dingin untuk membuat tulang-tulang terasa ngilu.

Kota Tokyo di zaman Heian-Kyo bukanlah kota besar yang dipenuhi bangunan-bangunan megah seperti ibu kota Heian-Kyo yang sesungguhnya. Tokyo pada masa itu adalah permukiman yang sedang tumbuh, sebuah kota yang masih muda dan masih mencari bentuknya di antara perbukitan hijau dan dataran-dataran luas yang membentang ke segala arah. Rumah-rumah kayu berjejer di sepanjang jalan-jalan tanah yang kini tertutup lapisan salju putih yang semakin tebal setiap harinya. Atap-atap jerami dan sirap kayu menahan beban salju yang menumpuk, sesekali mengeluarkan bunyi berderak pelan ketika lapisan salju yang terlalu berat meluncur turun dan jatuh ke tanah dengan bunyi lembut yang menyerupai bisikan.

Di pagi-pagi hari, ketika matahari masih bersembunyi di balik awan-awan tebal yang menggantung rendah di langit, penduduk Tokyo keluar dari rumah-rumah mereka dengan langkah-langkah yang hati-hati dan lambat. Kaki-kaki mereka yang beralas geta kayu tebal menginjak salju yang berderak-derak di bawah berat tubuh mereka, meninggalkan jejak-jejak yang segera tertutup oleh salju baru yang tidak pernah berhenti turun. Setiap orang mengenakan kimono tebal yang dilapisi beberapa lapis kain wol dan kapas di dalamnya, tubuh-tubuh mereka membulat oleh ketebalan pakaian yang membuat gerakan mereka menjadi kaku dan lambat seperti boneka-boneka kayu yang berjalan.

Napas-napas mereka mengepul di udara, membentuk awan-awan kecil yang bertahan selama beberapa detik sebelum menghilang, digantikan oleh awan-awan baru yang keluar dari mulut dan hidung mereka dengan setiap hembusan. Pipi-pipi mereka memerah digigit dingin, hidung-hidung mereka merah dan basah, dan mata-mata mereka menyipit melawan butiran-butiran salju yang kadang-kadang tertiup angin langsung ke wajah mereka.

Di antara keramaian pagi yang lambat dan berhati-hati itu, di antara pedagang-pedagang yang membuka warung-warung mereka dan ibu-ibu rumah tangga yang berjalan menuju pasar dengan keranjang-keranjang di tangan mereka, dua orang berjalan berdampingan menyusuri jalan utama Tokyo.

Yang pertama adalah pria berusia dua puluh tujuh tahun dengan tubuh yang tegap dan berotot, meskipun ketebalan kimono cokelat gelap yang dikenakannya menyamarkan bentuk tubuhnya yang terlatih. Rambutnya hitam, diikat ke belakang dengan ikatan yang ketat, memperlihatkan dahinya yang lebar dan bekas luka kecil di alis kirinya. Rahangnya persegi dan tegas, matanya tajam dan fokus, namun ada kelembutan baru di sudut-sudut mata itu yang tidak ada beberapa bulan lalu. Kelembutan yang datang dari kedamaian. Kelembutan yang datang dari kehidupan yang tidak lagi dipenuhi oleh darah dan pertarungan.

Kawamura Kosuke.

Mantan pemburu yokai. Mantan murid Kaname. Mantan pejuang yang pedangnya telah merenggut nyawa siluman laba-laba paling berbahaya di Shizuoka. Kini dia hanyalah seorang pria biasa yang berjalan di bawah salju dengan keranjang belanjaan di tangan kirinya dan wanita yang disayanginya berjalan di sisi kanannya.

Yang kedua adalah wanita berusia dua puluh lima tahun dengan tubuh yang ramping dan lincah, dibalut kimono biru tua yang tebal dengan motif kepingan-kepingan salju berwarna perak yang berkilau samar di bawah cahaya pagi yang redup. Rambutnya hitam pendek, dipotong tepat di bawah telinga, ujung-ujungnya menyentuh kerah kimononya yang tinggi. Wajahnya kecil dan runcing, dengan mata-mata besar dan gelap yang selalu bergerak-gerak mengawasi sekeliling, kebiasaan lama yang tidak pernah benar-benar hilang meskipun dia sudah bukan lagi seorang kunoichi.

Chihiro.

Mantan mata-mata. Mantan pengintai. Mantan bayangan yang bergerak di kegelapan tanpa suara dan tanpa jejak. Kini dia hanyalah seorang wanita biasa yang berjalan di pasar pagi dengan daftar belanjaan di kepalanya dan perasaan hangat di dadanya yang muncul setiap kali bahunya tidak sengaja bersentuhan dengan bahu pria di sampingnya.

“Kosuke,” Chihiro berkata, suaranya sedikit teredam oleh syal tebal yang melingkari leher dan separuh wajah bagian bawahnya. “Kita butuh lobak. Dan tahu. Dan miso.”

Kosuke mengangguk, matanya menyapu deretan-deretan warung yang berjejer di sisi jalan. “Dan ikan. Kau bilang mau membuat sup ikan malam ini.”

“Benar,” Chihiro mengangguk. “Sup ikan dengan lobak dan tahu. Cocok untuk cuaca seperti ini.”

“Apa pun yang kau masak selalu cocok untuk cuaca apa pun,” Kosuke berkata, lalu menambahkan dengan cepat ketika Chihiro meliriknya dengan tatapan curiga. “Itu pujian.”

“Terakhir kali aku membuat nabe, kau bilang kuahnya keasinan,” Chihiro menyipitkan matanya.

Kosuke mengingat malam itu. Kuah nabe yang dibuat Chihiro memang keasinan. Sangat keasinan. Lidahnya terasa seperti disengat lebah selama berjam-jam setelah makan. Namun Kosuke menghabiskan semua isi panci itu tanpa mengeluh, hanya tersenyum sambil menahan mulutnya yang pedih, karena dia melihat betapa antusiasnya Chihiro menyiapkan makan malam itu. Wanita yang biasanya tenang dan terkontrol itu bersenandung kecil di dapur, langkah-langkahnya ringan dan riang, tangannya yang biasa melempar shuriken dengan presisi mematikan bergerak dengan canggung namun penuh semangat di antara panci-panci dan bahan-bahan masakan.

Kosuke tidak bisa merusak kebahagiaan itu dengan keluhan tentang garam.

“Aku tidak bilang keasinan,” Kosuke membela diri dengan wajah yang datar namun telinganya sedikit memerah. “Aku bilang ‘berkarakter kuat’. Itu berbeda.”

Chihiro mendengus. “’Berkarakter kuat’ adalah cara sopan untuk mengatakan keasinan, Kosuke. Aku bukan anak kecil.”

“Kau bukan anak kecil,” Kosuke setuju. “Tapi kau jelas bukan koki istana juga.”

Chihiro membuka mulutnya untuk membalas, lalu menutupnya lagi. Lalu membukanya lagi. Lalu menutupnya lagi. Akhirnya dia hanya meninju lengan Kosuke pelan dengan kepalan tangan kecilnya yang tertutup sarung tangan wol.

“Aku akan membuat sup ikan terbaik yang pernah kau makan malam ini,” Chihiro berkata dengan nada yang lebih menyerupai ancaman daripada janji. “Dan kalau kau berani bilang ‘berkarakter kuat’, aku akan memasukkan seluruh isi toples garam ke dalam mangkukmu.”

Kosuke tersenyum. Senyum yang kecil dan nyaris tidak terlihat, namun senyum yang paling tulus yang pernah muncul di wajahnya.

Mereka sampai di warung ikan milik seorang pria tua bernama Goemon yang selalu berdiri di belakang meja kayunya yang penuh ikan-ikan segar meskipun jari-jarinya yang keriput sudah membiru oleh dingin. Goemon mengenali mereka, pasangan muda yang selalu datang setiap tiga hari sekali untuk membeli ikan.

“Ah, Kosuke-san, Chihiro-san!” Goemon menyapa dengan senyum yang memperlihatkan gigi-gigi depannya yang sudah berkurang separuh. “Pagi yang dingin, ya?”

“Pagi, Goemon-san,” Chihiro menjawab. “Ada ikan yang segar hari ini?”

“Tentu saja ada,” Goemon menunjuk deretan ikan yang tertata rapi di atas meja kayunya, tubuh-tubuh ikan itu berkilau keperakan di bawah cahaya pagi yang redup. “Iwashi yang baru ditangkap subuh tadi. Segar sekali. Matanya masih jernih, lihat.”

Goemon mengangkat seekor ikan iwashi dan menunjukkan matanya yang memang masih jernih dan berkilau kepada Chihiro. Chihiro memeriksa ikan itu dengan mata-mata yang teliti, menekan dagingnya dengan jari untuk menguji kesegarannya, mencium baunya, memeriksa insangnya.

“Berapa harganya empat ekor?” Chihiro bertanya.

“Untuk pelanggan setia seperti kalian, tiga mon saja,” Goemon tersenyum.

“Dua mon,” Chihiro menawar dengan wajah yang datar dan suara yang tidak menerima penolakan.

Goemon menatap Chihiro, lalu menatap Kosuke yang berdiri di belakang Chihiro dengan ekspresi yang jelas-jelas mengatakan ‘jangan libatkan aku dalam urusan ini’.

“Baiklah, baiklah,” Goemon tertawa dan menggeleng-gelengkan kepalanya. “Dua setengah mon. Itu harga terakhir.”

“Deal,” Chihiro mengangguk puas dan mengeluarkan uang dari kantong kecil yang tersembunyi di balik obi-nya.

Mereka berjalan pulang dengan keranjang yang sudah penuh. Empat ekor iwashi segar, sebongkah lobak putih yang besar, dua potong tahu, satu bungkus miso, beberapa batang daun bawang, dan segenggam jahe yang dibungkus kain.

Salju masih turun. Lebih lebat dari tadi. Butiran-butiran putih yang tadinya turun dengan lembut kini jatuh lebih cepat dan lebih banyak, menutupi jejak-jejak kaki mereka di jalan hampir secepat jejak itu dibuat.

“Saljunya semakin lebat,” Chihiro berkata, kepalanya mendongak menatap langit kelabu yang seolah-olah tidak memiliki batas.

“Musim dingin tahun ini datang lebih awal dari biasanya,” Kosuke mengangguk. “Orang-orang di pasar bilang ini musim dingin terdingin dalam sepuluh tahun terakhir.”

“Kita harus menambah persediaan kayu bakar,” Chihiro berkata. “Stok kita hanya cukup untuk dua minggu lagi.”

Kosuke mengangguk. “Aku akan menebang beberapa pohon di hutan belakang rumah besok.”

Mereka berjalan dalam keheningan yang nyaman selama beberapa saat. Langkah-langkah kaki mereka berderak-derak di atas salju, suaranya berirama dan menenangkan. Di sekeliling mereka, kota Tokyo perlahan-lahan terbangun. Pedagang-pedagang membuka warung mereka. Anak-anak berlari-lari di jalanan sambil melempar bola-bola salju satu sama lain, tawa-tawa mereka yang riang memecah keheningan pagi yang bersalju. Beberapa wanita berjalan bersama-sama menuju sumur umum, ember-ember kayu di tangan mereka berayun-ayun mengikuti langkah mereka.

Rumah Kosuke dan Chihiro terletak di pinggiran Tokyo, agak jauh dari pusat pemukiman, di kaki perbukitan yang ditumbuhi pepohonan pinus dan bambu. Jaraknya sekitar dua puluh menit berjalan kaki dari pasar utama, cukup jauh untuk mendapatkan ketenangan namun cukup dekat untuk tetap terhubung dengan kehidupan kota.

Rumah itu sederhana. Sebuah bangunan kayu satu lantai dengan dua kamar tidur, satu ruang utama yang berfungsi sebagai ruang makan dan ruang duduk, satu dapur kecil, dan satu kamar mandi. Atapnya terbuat dari sirap kayu yang rapat, cukup kuat untuk menahan beban salju yang tebal. Dindingnya terbuat dari papan-papan kayu yang disusun rapat dan dilapisi kertas di bagian dalamnya untuk menahan angin. Di depan rumah terdapat beranda kecil yang menghadap ke jalan setapak yang menuju ke kota, dan di belakang rumah terdapat halaman kecil yang berbatasan langsung dengan hutan.

Dan di sudut halaman belakang itu, berdiri sebuah gudang kecil.

Gudang yang tidak pernah dibuka oleh siapa pun selain Kosuke.

Gudang yang menyimpan katana biru gelap yang diikat rapat dengan tali kulit dan kain, terbungkus dalam beberapa lapis kain minyak, tersembunyi di balik tumpukan kayu bakar dan peralatan pertanian yang tidak pernah digunakan.

Pedang pembunuh yokai.

Pedang yang pernah menembus dada Jorogumo dan mengakhiri teror siluman laba-laba di Shizuoka.

Pedang yang seharusnya sudah menjadi peninggalan masa lalu.


Mereka sampai di rumah ketika salju mulai menumpuk setebal pergelangan kaki. Kosuke membuka pintu depan dan menahan pintu itu agar Chihiro bisa masuk lebih dulu dengan keranjang belanjaannya.

Udara di dalam rumah hangat dan nyaman. Sebelum pergi ke pasar tadi pagi, Kosuke sudah menyalakan irori, perapian lantai yang terletak di tengah ruang utama. Api di dalamnya masih menyala, meskipun sudah menyusut menjadi bara-bara merah yang berpendar-pendar lemah. Asapnya yang tipis mengepul ke atas, keluar melalui lubang kecil di atap yang dirancang khusus untuk ventilasi.

Kosuke menambahkan beberapa potong kayu bakar ke dalam irori. Api yang hampir padam kembali hidup, menjilat-jilat kayu baru dengan semangat, mengeluarkan bunyi berderak-derak yang menyenangkan dan menyebarkan kehangatan yang perlahan-lahan mengisi seluruh ruangan.

Chihiro membawa keranjang belanjaan ke dapur dan mulai mengeluarkan ikan-ikan dan sayuran-sayurannya. Tangannya yang terlatih untuk melempar shuriken dengan presisi mematikan kini bergerak dengan kecepatan yang sama namun untuk tujuan yang sangat berbeda. Dia mencuci lobak di bawah air dingin yang mengalir dari kendi besar, mengupas kulitnya dengan pisau dapur yang tajam, memotongnya menjadi potongan-potongan seukuran satu gigitan. Setiap potongan memiliki ukuran yang hampir persis sama, kebiasaan seorang kunoichi yang tidak bisa meninggalkan presisi meskipun bahan yang dipotong bukan lagi target melainkan lobak.

Kosuke duduk di dekat irori, tangannya yang besar dan kasar menghangatkan diri di atas bara api yang berpendar. Matanya menatap api yang menari-nari di antara potongan-potongan kayu, pikirannya melayang ke tempat-tempat yang jauh.

Sudah tiga bulan sejak mereka meninggalkan pondok Kaname di Shizuoka.

Tiga bulan sejak mereka mengucapkan selamat tinggal kepada guru mereka dan memulai perjalanan panjang menuju Tokyo. Perjalanan yang memakan waktu hampir dua minggu, melewati pegunungan-pegunungan yang curam, hutan-hutan yang lebat, sungai-sungai yang deras, dan desa-desa kecil yang tersebar di sepanjang jalan. Mereka berjalan dari fajar hingga senja, beristirahat di penginapan-penginapan murah atau di bawah pohon-pohon besar ketika tidak ada penginapan yang tersedia.

Selama perjalanan itu, mereka jarang berbicara.

Bukan karena mereka tidak memiliki apa-apa untuk dibicarakan. Justru sebaliknya. Mereka memiliki terlalu banyak hal yang ingin dikatakan namun tidak tahu bagaimana cara mengatakannya. Kata-kata yang tersimpan di ujung lidah namun tidak pernah keluar. Perasaan-perasaan yang bergerak di bawah permukaan namun tidak pernah muncul ke atas.

Kosuke memikirkan banyak hal selama perjalanan itu. Tentang Tarou yang terluka parah dan entah sudah sembuh atau belum. Tentang Kaname yang pergi ke Kyoto untuk menemui seorang pemuda dari Arab. Tentang Jorogumo yang menangis menyebut nama anak-anaknya sebelum hancur menjadi cahaya. Dan tentang wanita yang berjalan di sampingnya setiap hari, yang diam-diam menatapnya ketika dia berpikir dia tidak sedang diperhatikan.

Kosuke tahu bahwa Chihiro memperhatikannya.

Dia selalu tahu.

Seorang pemburu yokai terlatih untuk mendeteksi kehadiran dan perhatian. Setiap tatapan, setiap lirikan, setiap gerakan mata yang terlalu lama tertuju pada satu titik, semuanya tercatat di dalam radar instingtif yang sudah tertanam dalam dirinya sejak bertahun-tahun latihan. Dan tatapan Chihiro, meskipun dilakukan dengan keahlian seorang kunoichi yang terbiasa mengamati tanpa terdeteksi, tetap tertangkap oleh Kosuke.

Bukan karena Chihiro kurang terampil dalam menyembunyikan tatapannya.

Melainkan karena Kosuke secara tidak sadar selalu mencari tatapan itu.

Awalnya, Kosuke tidak mengerti perasaannya sendiri. Dia hanya merasa bahwa kehadiran Chihiro membawa ketenangan yang tidak dia temukan di tempat lain. Bahwa suara Chihiro, meskipun jarang terdengar, memiliki efek menenangkan yang melebihi suara apa pun yang pernah dia dengar. Bahwa ketika bahu mereka bersentuhan secara tidak sengaja saat berjalan, ada kehangatan yang menjalar dari titik sentuhan itu ke seluruh tubuhnya, kehangatan yang tidak bisa dihasilkan oleh api perapian atau kimono setebal apa pun.

Lama-kelamaan, Kosuke mengerti.

Dia jatuh cinta.

Perlahan-lahan. Diam-diam. Tanpa dramatis dan tanpa pengumuman. Seperti salju yang menumpuk di atap rumah, satu butiran demi satu butiran, tanpa terasa, tanpa disadari, hingga suatu hari kau mendongak dan menyadari bahwa atap itu sudah tertutup sepenuhnya oleh putih yang tebal dan lembut.

“Kosuke.”

Suara Chihiro membuyarkan lamunannya. Kosuke mengangkat kepalanya dan mendapati Chihiro berdiri di ambang pintu dapur, celemek putih terikat di pinggangnya, pisau dapur di tangan kanannya, dan ekspresi yang campuran antara kesal dan geli di wajahnya.

“Kau melamun lagi,” Chihiro berkata. Bukan pertanyaan. Pernyataan.

“Aku tidak melamun,” Kosuke menjawab, respons otomatis yang sudah menjadi kebiasaan setiap kali Chihiro menuduhnya melamun, yang terjadi setidaknya dua kali sehari.

“Kau menatap api selama sepuluh menit tanpa berkedip,” Chihiro mengangkat alisnya. “Itu definisi melamun.”

“Aku sedang berpikir,” Kosuke membela diri.

“Berpikir dan melamun itu sama saja.”

Kosuke hampir tersenyum. Kata-kata itu mengingatkannya pada seseorang. Pada seorang ronin bertubuh besar bernama Hatsuki yang pernah mengatakan hal yang persis sama kepada tuannya, Genji, di restoran di Shizuoka. Hatsuki yang kini entah bagaimana nasibnya setelah serangan Jorogumo malam itu.

“Aku butuh bantuanmu,” Chihiro berkata, mengalihkan perhatian Kosuke dari kenangan yang tidak menyenangkan. “Ikut ke dapur. Pegang ikan-ikannya sementara aku membersihkan isi perutnya.”

“Kau butuh aku untuk memegang ikan?” Kosuke mengangkat alisnya. “Kau yang dulu bisa menembakkan tiga shuriken secara bersamaan ke tiga target yang berbeda dalam kegelapan, butuh seseorang untuk memegangi ikan?”

Chihiro menatapnya datar. “Ikan itu licin, Kosuke. Shuriken tidak licin. Ada perbedaan mendasar.”

Kosuke bangkit dari duduknya dan mengikuti Chihiro ke dapur. Dapur itu kecil namun tertata rapi, setiap peralatan memiliki tempatnya sendiri, setiap bahan makanan disimpan di wadah-wadah kayu yang berlabel. Ini adalah sentuhan Chihiro. Kebiasaan seorang kunoichi yang terbiasa menyimpan senjata-senjatanya di tempat yang tepat agar bisa diambil kapan saja tanpa perlu mencari, diterapkan pada dapur dengan hasil yang sangat efisien.

Empat ekor iwashi sudah terbaring di atas papan potong kayu, tubuh-tubuh keperakan mereka berkilau di bawah cahaya lentera dapur. Kosuke memegang salah satu ikan dengan kedua tangannya sementara Chihiro menyayat perutnya dengan gerakan yang cepat dan presisi.

“Jangan gerakkan tanganmu,” Chihiro memerintahkan ketika Kosuke sedikit bergeser karena ikan itu menggeliat.

“Ikan ini sudah mati,” Kosuke berkata. “Kenapa masih bergerak?”

“Refleks otot,” Chihiro menjawab tanpa mengangkat matanya dari pekerjaannya. “Belum semua sarafnya berhenti bekerja.”

“Kau tahu banyak tentang saraf ikan,” Kosuke berkomentar.

“Aku tahu banyak tentang banyak hal,” Chihiro menjawab. “Itu keuntungan menjadi mata-mata. Kau belajar sedikit tentang segalanya.”

Mereka bekerja dalam keheningan selama beberapa menit. Chihiro membersihkan ikan-ikan dengan efisiensi yang mengesankan, membuang isi perut dan insang, mencuci setiap ikan di bawah air dingin, lalu menempatkannya di mangkuk besar yang berisi air garam untuk direndam.

Sementara Chihiro mengurus ikan, Kosuke memotong lobak dan tahu sesuai instruksi Chihiro. Potongan-potongannya tidak seseragam potongan Chihiro, beberapa terlalu besar dan beberapa terlalu kecil, namun Chihiro tidak berkomentar. Dia hanya melirik potongan-potongan itu dengan tatapan yang sedikit geli sebelum kembali fokus pada pekerjaannya sendiri.

“Kosuke,” Chihiro berkata setelah beberapa saat.

“Ya?”

“Kau bahagia di sini?”

Pertanyaan itu datang tanpa peringatan, seperti shuriken yang dilempar dari kegelapan. Kosuke berhenti memotong lobak. Pisaunya terhenti di tengah potongan, ujungnya tertancap di papan potong.

Chihiro tidak menatapnya. Matanya terfokus pada ikan di tangannya, namun jari-jarinya yang biasanya mantap dan presisi kini sedikit ragu, sedikit lebih lambat, seolah-olah pertanyaan yang baru saja dia ajukan membutuhkan keberanian yang lebih besar dari keberanian yang dibutuhkan untuk mengintai yokai di kegelapan hutan.

“Apa maksudmu?” Kosuke bertanya.

“Maksudku...” Chihiro berhenti sejenak, menelan ludah. “Kau dulu pemburu yokai. Kau terlatih untuk bertarung. Untuk memburu. Untuk melindungi orang-orang dari makhluk-makhluk berbahaya. Dan sekarang... kau di sini. Di dapur kecil di pinggiran Tokyo. Memotong lobak dan memegangi ikan yang licin.”

Chihiro mengangkat kepalanya dan menatap Kosuke. Mata-mata besarnya yang gelap menyimpan kekhawatiran yang tidak bisa disembunyikan oleh keahlian mata-mata mana pun.

“Apa kau tidak merasa... terkurung?” Chihiro bertanya, suaranya pelan.

Kosuke menatap Chihiro. Menatap mata-mata besarnya yang gelap dan penuh kecemasan. Menatap alisnya yang sedikit berkerut. Menatap bibirnya yang sedikit bergetar oleh keraguan yang dia coba sembunyikan namun gagal.

“Chihiro,” Kosuke berkata, suaranya tenang dan mantap. “Aku memotong lobak yang ukurannya tidak seragam. Aku memegangi ikan yang licin. Aku duduk di dekat perapian dan melamun. Dan setiap pagi, aku bangun dan mendengar suaramu di dapur, bersenandung lagu yang tidak aku kenal sambil memasak sarapan.”

Kosuke meletakkan pisaunya di papan potong.

“Itu bukan terkurung,” Kosuke berkata. “Itu namanya hidup.”

Pipi Chihiro memerah. Bukan merah karena dingin seperti pipi-pipi orang-orang di luar sana. Ini merah yang berbeda. Merah yang hangat dan malu-malu, merah yang menjalar dari tulang pipinya hingga ke ujung-ujung telinganya yang kecil.

“Kau...” Chihiro memalingkan wajahnya, kembali fokus pada ikan di tangannya dengan intensitas yang berlebihan. “Kau tidak perlu bicara seperti itu.”

“Kau yang bertanya,” Kosuke mengangkat bahu dan kembali memotong lobaknya.

Keheningan kembali mengisi dapur. Namun keheningan kali ini berbeda dari keheningan-keheningan sebelumnya. Ini adalah keheningan yang dipenuhi oleh sesuatu yang tidak terucapkan namun dirasakan oleh keduanya. Sesuatu yang hangat dan lembut dan malu-malu, seperti bunga yang baru mulai mekar di tengah musim dingin.

Di luar, salju masih turun. Semakin lebat. Semakin tebal. Menutupi dunia dengan putih yang bersih dan tenang, seolah-olah alam sedang mencoba menghapus semua jejak masa lalu dan memberikan kanvas kosong yang baru untuk cerita-cerita yang belum ditulis.


Makan malam hari itu berlangsung di ruang utama, di dekat irori yang apinya sudah menyala besar dan hangat. Chihiro menyajikan sup ikan iwashi dengan lobak dan tahu dalam mangkuk-mangkuk tanah liat yang besar, uapnya yang mengepul membawa aroma kaldu yang gurih dan mengundang. Di samping mangkuk-mangkuk sup, sepiring nasi putih yang masih panas dan beberapa potong acar mentimun melengkapi meja makan yang sederhana namun mengundang.

Kosuke mengangkat mangkuk supnya dan meniup-niup uap yang mengepul dari permukaannya. Dia menyeruput kuahnya.

Kuah itu...

Kosuke berhenti menyeruput.

Matanya sedikit melebar. Bibirnya terkatup rapat. Otot-otot rahangnya menegang.

Chihiro yang duduk di seberangnya menatapnya dengan mata-mata yang penuh harap dan sedikit cemas.

“Bagaimana?” Chihiro bertanya.

Kosuke menyeruput lagi. Lebih banyak kali ini. Membiarkan kuah itu memenuhi mulutnya, menyentuh setiap sudut lidahnya, mengalir di tenggorokannya.

Asin.

Kuah itu asin.

Tidak seasin nabe kemarin-kemarin. Tapi tetap lebih asin dari standar rasa yang bisa disebut “pas”. Garam yang ditambahkan Chihiro jelas-jelas melebihi takaran yang seharusnya, mungkin satu sendok terlalu banyak, mungkin dua.

Namun Kosuke menatap Chihiro yang duduk di seberangnya, yang menunggu penilaiannya dengan mata-mata besar yang sedikit berkaca-kaca oleh harapan, yang tangannya mencengkeram ujung celemeknya di bawah meja, yang bibirnya yang kecil sedikit terbuka oleh antisipasi.

Dan Kosuke tersenyum.

Senyum yang lebar dan tulus, senyum yang membuat garis-garis tegas di wajahnya melembut, senyum yang mengubah wajah seorang mantan pemburu yokai menjadi wajah seorang pria biasa yang menikmati makan malam buatan orang yang disayanginya.

“Enak,” Kosuke berkata. “Sangat enak.”

Wajah Chihiro berubah. Kecemasannya menghilang seperti salju yang meleleh di bawah sinar matahari, digantikan oleh senyum yang lebar dan berseri-seri, senyum yang membuat matanya menyipit dan pipinya merona dan seluruh wajahnya bersinar dengan kebahagiaan yang sederhana namun tulus.

“Sungguh?” Chihiro bertanya, suaranya sedikit lebih tinggi dari biasanya.

“Sungguh,” Kosuke mengangguk dan menyeruput kuah supnya lagi, kali ini dengan lebih bersemangat, mengabaikan rasa asin yang menggigit lidahnya. “Jauh lebih baik dari nabe kemarin.”

“Aku sudah bilang aku bisa memasak!” Chihiro berseru dengan kemenangan, tangannya menepuk meja dengan semangat yang membuat mangkuk-mangkuk di atasnya bergoncang-goncang kecil. “Kau selalu meragukan kemampuanku, Kosuke. Lihat sekarang! Sup ikan terbaik yang pernah ada!”

Kosuke mengangguk-angguk sambil terus makan. Mulutnya yang perih oleh garam yang berlebihan tersembunyi di balik senyum yang tidak pudar. Di bawah meja, jari-jarinya yang bebas meraih cangkir air dan meneguknya diam-diam di antara suapan-suapan sup.

Mereka makan dalam keceriaan yang hangat. Chihiro bercerita tentang resep-resep baru yang ingin dia coba minggu depan. Kosuke mendengarkan dengan penuh perhatian, mengangguk dan berkomentar di saat-saat yang tepat, sesekali meraih cangkir airnya di bawah meja untuk meredakan rasa asin yang menumpuk di mulutnya.

Di luar, dunia sudah gelap. Malam musim dingin di Tokyo datang lebih awal dari musim-musim lainnya, langit berubah dari kelabu menjadi hitam kelam bahkan sebelum jam makan malam tiba. Salju masih turun, butiran-butirannya berkilau sekilas di bawah cahaya lentera yang menembus jendela kertas sebelum menghilang ke dalam kegelapan.

Setelah makan malam, Kosuke mencuci mangkuk-mangkuk dan piring-piring di dapur sementara Chihiro membersihkan meja dan menyapu lantai. Ini adalah rutinitas mereka. Pembagian tugas yang tidak pernah didiskusikan namun terbentuk secara alami selama tiga bulan hidup bersama.

Kosuke yang menebang kayu, memperbaiki atap, dan mengangkat air dari sumur. Chihiro yang memasak, membersihkan rumah, dan mengatur keuangan. Kosuke yang pergi ke pasar membawa keranjang berat. Chihiro yang menawar harga hingga pedagang-pedagang menyerah. Kosuke yang menyalakan api di perapian setiap pagi. Chihiro yang mematikan api dan menutup ventilasi setiap malam.

Hidup yang sederhana. Hidup yang tenang. Hidup yang seharusnya membosankan bagi dua orang yang pernah menghabiskan bertahun-tahun memburu makhluk-makhluk supernatural di kegelapan hutan.

Namun tidak satu pun dari mereka yang merasa bosan.


Malam itu, setelah semua pekerjaan rumah tangga selesai, Kosuke duduk di beranda depan rumah.

Salju sudah berhenti turun. Langit malam yang biasanya hitam kelam kini terlihat sedikit lebih terang, diterangi oleh pantulan cahaya bulan yang memantul dari permukaan salju yang menutupi segalanya. Dunia terlihat seperti lukisan monokrom yang sangat indah, hanya hitam dan putih, bayangan dan cahaya, keheningan dan ketenangan.

Napas Kosuke mengepul di udara dingin. Tubuhnya yang hanya dibalut yukata tidur dan haori tebal seharusnya menggigil oleh suhu yang sudah jauh di bawah titik beku, namun latihan bertahun-tahun sebagai pemburu yokai telah melatih tubuhnya untuk menahan dingin yang jauh lebih ekstrem dari ini.

Kosuke menatap langit.

Bintang-bintang berhamburan di langit yang sudah bersih dari awan. Jutaan titik-titik cahaya yang berkelip-kelip, masing-masing terasa sangat jauh namun sangat dekat pada saat yang bersamaan. Di antara bintang-bintang itu, bulan sabit yang tipis menggantung di langit barat, cahayanya yang redup namun jernih menerangi permukaan salju di halaman depan rumah dan menciptakan bayangan-bayangan biru yang panjang dan halus.

Pikirannya melayang.

Ke Shizuoka. Ke pondok Kaname yang tersembunyi di balik bukit-bukit bambu. Ke malam-malam yang dihabiskan untuk berlatih pedang di bawah cahaya bulan. Ke pertarungan terakhirnya dengan Jorogumo di halaman belakang rumah Takeda, di bawah hujan yang tidak berhenti.

Jorogumo.

Kosuke masih mengingat air mata yang mengalir dari mata-mata emas Jorogumo yang meredup. Air mata yang jernih dan bening, tidak berbeda dari air mata manusia. Dan suaranya yang lemah dan pecah-pecah yang menyebut nama anak-anaknya satu per satu.

“Kyo. Shigeru. Koji.”

Dendam seorang ibu.

Kosuke menghela napas panjang. Uap napasnya mengepul di udara dan menghilang.

Apakah dia melakukan hal yang benar dengan membunuh Jorogumo? Pertanyaan itu tidak pernah meninggalkannya. Tidak pernah berhenti menghantuinya di malam-malam yang sunyi seperti ini. Jorogumo adalah yokai yang membunuh banyak orang. Itu fakta yang tidak bisa disangkal. Namun Jorogumo juga adalah ibu yang kehilangan anak-anaknya. Itu juga fakta yang tidak bisa disangkal.

Mana yang lebih berat?

Kosuke tidak tahu.

Kaname-sensei mungkin tahu. Pria tua itu selalu memiliki jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan yang terlalu berat untuk dipikul sendirian. Namun Kaname sudah pergi ke Kyoto, mencari seorang pemuda dari Arab bernama Malik, mencari cara agar manusia dan yokai bisa hidup tanpa saling membunuh.

Kosuke berharap gurunya menemukan cara itu.

Suara langkah kaki yang ringan terdengar dari dalam rumah. Pintu geser terbuka perlahan, dan Chihiro muncul di beranda dengan dua cangkir teh hangat di tangannya. Uap dari cangkir-cangkir itu mengepul di udara dingin, membawa aroma teh hijau yang segar dan menenangkan.

“Kau akan sakit kalau duduk di luar dengan pakaian setipis itu,” Chihiro berkata sambil menyodorkan satu cangkir kepada Kosuke.

“Aku tidak kedinginan,” Kosuke menerima cangkir itu dan melingkarkan jari-jarinya di sekelilingnya, merasakan kehangatan keramik yang menyebar ke telapak tangannya.

“Tentu saja kau tidak kedinginan,” Chihiro duduk di samping Kosuke, menjaga jarak yang sopan namun cukup dekat untuk merasakan kehangatan tubuhnya. “Kau itu setengah batu. Tidak merasakan apa-apa.”

“Aku merasakan banyak hal,” Kosuke berkata pelan.

Chihiro melirik Kosuke dari sudut matanya. Pria itu menatap langit dengan ekspresi yang tidak bisa dia baca sepenuhnya. Kosuke memang selalu sulit dibaca. Wajahnya yang tegas dan jarang menunjukkan emosi adalah dinding yang kokoh yang menyembunyikan apa pun yang terjadi di baliknya.

Namun Chihiro sudah belajar untuk membaca celah-celah di dinding itu.

Dan malam ini, celah-celah itu menunjukkan sesuatu yang menyerupai kesedihan. Atau mungkin kerinduan. Atau mungkin keduanya.

“Kau memikirkan Shizuoka?” Chihiro bertanya.

Kosuke tidak menjawab selama beberapa saat. Dia menyeruput tehnya pelan-pelan, membiarkan kehangatan cairan itu mengalir di tenggorokannya dan menyebar ke dadanya.

“Aku memikirkan banyak hal,” Kosuke akhirnya menjawab. “Shizuoka. Kaname-sensei. Tarou.”

“Tarou baik-baik saja,” Chihiro berkata dengan nada yang meyakinkan. “Dia kuat. Dia pasti sudah sembuh sekarang.”

“Aku harap begitu,” Kosuke mengangguk.

Mereka duduk dalam keheningan selama beberapa saat, menyeruput teh mereka masing-masing, menatap dunia yang tertutup salju di depan mereka.

“Chihiro,” Kosuke berkata tiba-tiba.

“Ya?”

“Aku mendengar rumor di pasar tadi pagi.”

Chihiro menegakkan tubuhnya sedikit. Instingnya sebagai mantan mata-mata langsung terjaga.

“Rumor apa?”

“Tentang yokai,” Kosuke berkata, suaranya datar namun matanya sedikit menyipit. “Dua yokai. Seorang wanita cantik yang tangan-tangan tengkorak muncul dari belakang tubuhnya dan menyerap energi pria hingga mereka menjadi tulang belulang. Dan seorang wanita lain yang selalu muncul saat salju turun, menguji kejujuran laki-laki terhadap pasangan mereka.”

Chihiro menelan ludah. “Hone Onna dan Yuki Onna.”

Kosuke menoleh menatap Chihiro. “Kau tahu tentang mereka?”

“Setiap orang yang pernah belajar tentang yokai tahu tentang mereka,” Chihiro menjawab, matanya yang besar sedikit melebar. “Hone Onna, yokai wanita yang memangsa energi pria yang didorong oleh hawa nafsu. Dan Yuki Onna, yokai salju yang menguji kesetiaan dan kejujuran laki-laki. Mereka termasuk yokai yang paling terkenal di seluruh Jepang.”

“Orang-orang di pasar bilang sudah ada beberapa pria yang menghilang,” Kosuke melanjutkan. “Pemerintah kekaisaran sudah mengirim pasukan untuk mencari dua yokai itu, tapi hasilnya selalu nihil. Mereka tidak pernah berhasil menemukan mereka.”

Chihiro menatap Kosuke selama beberapa saat. Matanya yang gelap menyapu wajah pria itu, mencari sesuatu.

“Kau sedang berpikir untuk melakukan sesuatu,” Chihiro berkata. Bukan pertanyaan.

“Tidak,” Kosuke menjawab. Terlalu cepat.

“Kosuke.”

“Aku tidak sedang berpikir untuk melakukan apa pun,” Kosuke mengulangi dengan nada yang lebih tegas. “Aku sudah berjanji kepada Kaname-sensei untuk hidup sebagai manusia biasa. Aku sudah meletakkan pedangku. Aku sudah meninggalkan kehidupan itu.”

“Tapi pedangmu masih ada di gudang,” Chihiro berkata pelan.

Keheningan yang mengikuti kata-kata Chihiro terasa lebih berat dari salju yang menumpuk di atap rumah mereka.

Kosuke tidak menjawab.

Dia memang menyimpan katana biru gelapnya di gudang belakang rumah. Diikat rapat dengan tali kulit dan kain. Dibungkus berlapis-lapis kain minyak. Disembunyikan di balik tumpukan kayu bakar dan peralatan pertanian. Namun pedang itu masih ada di sana. Masih menunggu. Masih siap.

Kosuke bisa saja membuangnya. Melemparkannya ke sungai. Menguburnya di tanah. Mematahkannya menjadi dua. Tapi dia tidak melakukannya. Dan alasan mengapa dia tidak melakukannya adalah sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan, bahkan kepada dirinya sendiri.

“Pedang itu tetap di gudang,” Kosuke berkata akhirnya. “Dan aku tetap di sini. Di sampingmu. Memotong lobak dan memegangi ikan yang licin.”

Chihiro menatap Kosuke. Lalu, perlahan-lahan, senyum kecil muncul di bibirnya.

“Bagus,” Chihiro berkata. “Karena besok aku mau membuat tempura, dan aku butuh seseorang untuk mengupas udang.”

Kosuke mendengus pelan, suara yang paling mendekati tawa yang pernah keluar dari mulutnya.

Mereka duduk berdampingan di beranda itu hingga teh mereka habis dan udara menjadi terlalu dingin bahkan untuk tubuh yang terlatih menahan dingin. Lalu mereka masuk ke dalam rumah, menutup pintu, dan membiarkan kehangatan irori memeluk mereka.

Malam berlanjut. Salju kembali turun. Dan di gudang belakang rumah, di balik tumpukan kayu bakar dan peralatan pertanian yang tidak pernah digunakan, katana biru gelap berbaring dalam kegelapan.

Menunggu.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk