Bab 2 Lentera dan Salju

2 dibaca

A

Dua minggu sebelum rumor tentang dua yokai itu menyebar ke seluruh daratan Tokyo, di sebuah hutan yang terletak jauh dari pemukiman manusia, di lereng gunung yang tertutup salju tebal, dua sosok berdiri berhadapan di bawah cahaya bulan.

Hutan itu gelap dan sunyi. Pohon-pohon pinus yang tinggi menjulang ke langit seperti pilar-pilar raksasa yang menopang langit-langit dunia, cabang-cabangnya yang berat oleh salju menunduk rendah seolah-olah membungkuk kepada dua sosok yang berdiri di antara mereka. Salju yang menutupi tanah berkilau keperakan di bawah cahaya bulan yang menembus celah-celah dedaunan, menciptakan permadani putih yang berpendar-pendar lembut sejauh mata memandang.

Tidak ada suara di hutan itu. Tidak ada burung yang berkicau. Tidak ada binatang yang bergerak. Bahkan angin tampak menahan napasnya, seolah-olah alam sendiri tahu bahwa dua makhluk yang berdiri di hutan ini bukanlah manusia, dan bahwa apa pun yang mereka bicarakan malam ini akan mengubah nasib banyak orang.

Sosok pertama adalah seorang wanita yang tinggi dan ramping, berdiri tegak seperti batang bambu yang tidak tergoyang oleh angin sekeras apa pun. Kimono putih yang dikenakannya terlihat terbuat dari salju itu sendiri, kainnya yang halus dan berkilau bergoyang-goyang pelan meskipun tidak ada angin yang bertiup. Rambutnya yang hitam legam menjuntai lurus hingga ke pinggangnya, setiap helainya terlihat seperti benang sutra yang ditenun oleh kegelapan malam. Kulitnya putih pucat seperti porselen yang baru dibakar, tanpa noda, tanpa cacat, tanpa warna selain putih yang sempurna dan menakutkan.

Dan dari tubuhnya, asap-asap putih mengepul. Bukan asap biasa. Ini adalah kabut yang bergerak-gerak dengan kehendaknya sendiri, meliuk-liuk di sekeliling tubuhnya seperti ular-ular transparan yang melingkari tuan mereka. Kabut itu dingin, sangat dingin, setiap titik uap yang menyentuh dedaunan di dekatnya langsung membeku menjadi kristal-kristal es yang berkilau.

Yuki Onna.

Yokai salju. Roh musim dingin. Wanita es yang telah mengembara di pegunungan-pegunungan Jepang selama ratusan tahun, muncul setiap kali salju pertama turun dan menghilang ketika salju terakhir mencair. Cantik dengan kecantikan yang melampaui kecantikan manusia mana pun, namun juga mengerikan dengan cara yang tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata, seperti keindahan puncak gunung yang tertutup es yang mengundangmu untuk mendekat namun akan membunuhmu kalau kau menyentuhnya.

Sosok kedua adalah wanita yang tidak kalah cantiknya, namun kecantikannya berbeda. Kalau Yuki Onna adalah dingin dan tajam seperti bilah es, maka wanita ini adalah hangat dan memabukkan seperti sake yang baru dipanaskan. Tubuhnya yang sintal dibalut kimono merah tua dengan motif bunga-bunga peoni emas yang berkilau di bawah cahaya bulan. Rambutnya yang hitam bergelombang ditata dengan hiasan-hiasan tusuk konde yang berkilauan. Wajahnya oval dan sempurna, dengan mata-mata besar yang berwarna cokelat madu, hidung yang mungil dan bangir, dan bibir-bibir yang merah penuh yang tersenyum dengan senyum yang bisa membuat pria mana pun lupa cara bernapas.

Namun di balik punggungnya, di tempat yang tidak terlihat oleh mata depan, sesuatu bergerak. Bayangan-bayangan yang gelap dan tidak berbentuk, bergerak-gerak seperti tangan-tangan yang mencoba meraih sesuatu namun belum menemukan sasarannya. Bayangan-bayangan yang, kalau dilihat dengan seksama di bawah cahaya yang cukup terang, akan memperlihatkan bentuk yang mengerikan.

Tulang-tulang. Jari-jari tulang. Tangan-tangan tengkorak yang panjang dan kurus, beruas-ruas, berwarna putih kekuningan, menari-nari di belakang punggungnya seperti tentakel-tentakel gurita yang terbuat dari tulang manusia.

Hone Onna.

Yokai wanita tulang. Penggoda yang mematikan. Wanita cantik yang di balik dagingnya yang menawan tersembunyi rangka tulang yang haus akan energi kehidupan. Setiap pria yang menyentuh tangannya akan merasakan hangat pada awalnya, lalu dingin, lalu kekosongan yang semakin dalam dan semakin gelap, energi kehidupannya diserap habis-habisan hingga yang tersisa hanyalah tulang belulang yang kering dan rapuh.

Dua yokai itu berdiri berhadapan di bawah cahaya bulan.

Salju turun di sekeliling mereka, namun setiap butiran salju yang jatuh di dekat Hone Onna meleleh sebelum menyentuh kulitnya, sementara setiap butiran yang jatuh di dekat Yuki Onna bergabung dengan asap-asap putih yang mengelilingi tubuhnya, menambah densitas kabut dingin yang memancar dari setiap pori-pori kulitnya.

“Sudah lama kita tidak bertemu, Yuki,” Hone Onna berkata, suaranya yang merdu dan rendah bergema di antara pohon-pohon yang membisu. Senyumnya melebar sedikit, memperlihatkan deretan gigi-gigi putih yang rapi dan sempurna.

“Lama sekali,” Yuki Onna menjawab, suaranya yang jernih dan dingin terdengar seperti es yang retak di permukaan danau yang membeku. “Terakhir kita bertemu di Gunung Gassan. Lima puluh tahun yang lalu.”

“Waktu berjalan berbeda untuk kita, bukan?” Hone Onna tertawa kecil, tawanya yang merdu berdering di udara malam seperti lonceng perak. “Lima puluh tahun terasa seperti lima hari.”

Yuki Onna tidak tertawa. Wajahnya yang putih dan sempurna tetap datar dan tanpa ekspresi, seperti topeng yang dipahat dari es. Namun matanya, mata-mata yang berwarna biru pucat seperti langit musim dingin, menyimpan kedalaman yang tidak terukur.

“Aku datang karena ada sesuatu yang ingin kubicarakan,” Yuki Onna berkata.

Hone Onna memiringkan kepalanya sedikit, rambut bergelombangnya jatuh di bahu kanannya dengan gerakan yang terlihat seperti telah direncanakan untuk menghasilkan efek visual yang paling memikat.

“Aku mendengarkan,” Hone Onna berkata.

Yuki Onna terdiam selama beberapa saat. Asap-asap putih di sekeliling tubuhnya bergerak lebih lambat, seolah-olah mengikuti ritme pikiran-pikirannya yang sedang menyusun kata-kata.

“Aku lelah, Hone,” Yuki Onna akhirnya berkata.

“Lelah?” Hone Onna mengangkat alisnya.

“Lelah mengembara sendirian,” Yuki Onna melanjutkan. “Lelah muncul setiap musim dingin dan menghilang setiap musim semi. Lelah menguji laki-laki yang hasilnya selalu sama. Mereka berbohong. Mereka berkhianat. Mereka mengkhianati kepercayaan wanita-wanita yang mencintai mereka.”

Yuki Onna menatap bulan yang menggantung di langit.

“Dan aku lelah mengingat Fujiwara,” Yuki Onna berbisik, suaranya yang biasanya dingin dan tanpa emosi kini menyimpan retakan-retakan kecil, seperti es yang mulai retak di bawah tekanan yang terlalu besar.

Hone Onna menatap Yuki Onna. Senyum menggodanya menghilang, digantikan oleh ekspresi yang lebih serius dan lebih manusiawi dari yang biasa dia tunjukkan.

“Ceritakan tentang Fujiwara,” Hone Onna berkata.


Yuki Onna menutup matanya.

Di balik kelopak matanya yang putih dan halus, kenangan-kenangan mengalir seperti sungai yang membeku dan mencair dan membeku lagi, berulang-ulang tanpa henti selama ratusan tahun.

“Itu terjadi seratus tahun yang lalu,” Yuki Onna memulai, suaranya berubah menjadi bisikan yang pelan dan rapuh, sangat berbeda dari suara es yang retak yang biasa keluar dari mulutnya. “Di sebuah desa kecil di kaki Gunung Fuji. Musim dingin. Salju turun sangat lebat malam itu, lebih lebat dari malam-malam biasanya, seolah-olah langit sedang menangis dengan air mata yang beku.”

Yuki Onna membuka matanya. Mata-mata biru pucatnya menatap kejauhan, menembus pohon-pohon dan salju dan kegelapan, melihat sesuatu yang tidak ada di hutan ini namun sangat nyata di dalam ingatannya.

“Aku sedang berjalan di desa itu,” Yuki Onna melanjutkan. “Dalam wujud manusiaku. Menyamar sebagai wanita biasa. Mengenakan kimono putih yang sederhana. Rambut yang tergerai. Wajah yang pucat namun cantik. Aku menyebut diriku Kanae.”

“Kanae,” Hone Onna mengulang nama itu, merasakan bunyinya di lidahnya. “Nama yang indah.”

“Nama yang palsu,” Yuki Onna mengoreksi dengan senyum pahit yang tipis. “Seperti segalanya tentangku. Palsu. Penyamaran. Topeng di atas topeng.”

Yuki Onna menarik napas panjang. Udara yang masuk ke paru-parunya keluar kembali dalam bentuk kabut putih yang lebih tebal dari biasanya, berputar-putar di depan wajahnya sebelum menyebar dan menghilang.

“Malam itu, aku berjalan menyusuri jalan utama desa,” Yuki Onna melanjutkan. “Tangan kananku membawa sebuah lentera kertas. Cahayanya yang kuning keemasan memantul di permukaan salju, menciptakan lingkaran cahaya kecil yang bergerak-gerak di tanah mengikuti langkahku. Salju turun di sekeliling lentera itu, setiap butiran berkilau sesaat ketika melewati cahayanya sebelum jatuh ke tanah dan bergabung dengan putih yang sudah menumpuk.”

“Aku berjalan tanpa tujuan. Atau mungkin dengan tujuan yang belum aku sadari. Aku hanya berjalan, menikmati kesunyian desa yang sudah tertidur, mendengarkan suara salju yang jatuh, merasakan dingin yang tidak pernah mengganggu tubuhku karena dingin adalah rumahku, dingin adalah darahku, dingin adalah segalanya tentang diriku.”

“Lalu aku melihatnya.”

Suara Yuki Onna berubah. Lebih pelan. Lebih lembut. Lebih rapuh. Seperti serpihan salju yang melayang-layang di udara, indah namun bisa hancur oleh sentuhan yang terlalu kuat.

“Fujiwara.”

“Dia duduk di beranda sebuah rumah kecil di tepi jalan. Sendirian. Di tengah malam. Di bawah salju yang turun lebat. Tanpa jubah tebal. Tanpa sarung tangan. Hanya yukata tidur yang tipis dan secangkir sake di tangannya.”

“Pria itu gila?” Hone Onna bertanya, alisnya terangkat.

“Itulah yang kupikirkan pada awalnya,” Yuki Onna tersenyum kecil, senyum yang pertama kali terlihat tulus dan bukan seperti es yang retak. “Siapa manusia yang duduk di luar rumah di tengah badai salju dengan pakaian setipis itu? Dia pasti gila. Atau mabuk. Atau keduanya.”

“Aku mendekatinya,” Yuki Onna melanjutkan. “Bukan karena aku tertarik padanya. Aku mendekatinya karena aku ingin tahu. Curiosity. Itu kelemahanku. Selalu curiosity.”

“Aku berdiri di depannya dengan lentera di tanganku. Cahaya lentera menerangi wajahnya untuk pertama kalinya. Dan aku melihat...”

Yuki Onna berhenti sejenak. Asap-asap putih di sekeliling tubuhnya berhenti bergerak, seolah-olah waktu membeku bersama dengan kenangan yang sedang diputar ulang di dalam kepalanya.

“Aku melihat wajah yang hangat,” Yuki Onna berkata akhirnya. “Bukan tampan dalam arti yang biasa. Bukan wajah samurai yang gagah atau bangsawan yang rupawan. Wajah biasa. Rahang yang tidak terlalu tegas. Hidung yang sedikit pesek. Mata-mata yang kecil namun berbinar. Tapi ada kehangatan di wajah itu yang tidak pernah kulihat di wajah manusia mana pun sebelumnya.”

“Dia mengangkat kepalanya dan menatapku,” Yuki Onna tersenyum lagi, senyum yang menyimpan kerinduan yang sudah berusia seratus tahun. “Dan kau tahu apa yang dia katakan pertama kali?”

“Apa?” Hone Onna bertanya, tubuhnya condong ke depan sedikit, tangan-tangan tengkorak di belakang punggungnya berhenti bergerak, seolah-olah ikut mendengarkan.

“Dia bilang...” Yuki Onna tertawa kecil, tawanya yang jarang terdengar bergema di hutan yang sunyi seperti lonceng kristal yang berdering sekali sebelum hening kembali. “’Nona, kau bisa tolong pegangi lenteramu sedikit lebih ke kiri? Aku sedang mencoba menghitung berapa butir salju yang jatuh di telapak tanganku, dan cahayamu membuat hitunganku kacau.’”

Hone Onna berkedip. Lalu dia tertawa. Tawa yang keras dan lepas, tawa yang sangat berbeda dari tawa menggoda yang biasa dia keluarkan untuk memikat pria-pria yang menjadi mangsanya. Tawa yang asli. Tawa yang manusiawi.

“Dia menghitung butiran salju?” Hone Onna tertawa sambil memegangi perutnya. “Di tengah badai? Dengan tangan telanjang?”

“Begitulah Fujiwara,” Yuki Onna mengangguk, senyumnya masih bertahan di bibirnya yang pucat. “Aneh. Tidak bisa ditebak. Dan... menghangatkan.”

“Aku memindahkan lenteraku ke kiri,” Yuki Onna melanjutkan. “Dan duduk di sampingnya tanpa diundang. Dia tidak terkejut. Tidak bertanya siapa aku atau dari mana aku datang. Dia hanya bergeser sedikit untuk memberiku tempat duduk, lalu kembali menatap telapak tangannya yang terbuka ke langit.”

“’Berapa yang sudah kau hitung?’ aku bertanya.”

“’Tujuh ratus tiga puluh dua,’ dia menjawab tanpa menoleh. ‘Tapi aku rasa aku melewatkan beberapa di antara hitungan empat ratus dan empat ratus lima belas. Ada angin yang datang dari arah barat dan mengacaukan semua salju yang sudah mendarat di tanganku.’”

“’Kenapa kau menghitung butiran salju?’ aku bertanya lagi.”

“Dan dia menatapku untuk kedua kalinya. Mata-mata kecilnya yang berbinar menatapku dengan keseriusan yang absurd dan menggemaskan secara bersamaan.”

“’Karena tidak ada orang lain yang melakukannya,’ dia menjawab. ‘Semua orang tidur. Semua orang menutup pintu mereka dan bersembunyi dari salju. Tapi salju tetap turun. Jutaan butiran turun setiap malam dan tidak ada satu pun manusia yang memperhatikan. Aku pikir itu tidak adil. Setidaknya harus ada satu orang yang menghitung. Satu orang yang memperhatikan.’”

Yuki Onna terdiam.

Hutan di sekeliling mereka tetap sunyi. Bulan tetap bersinar. Salju tetap turun. Dan dua yokai berdiri di antara semua itu, satu menceritakan kenangan yang sudah berusia seratus tahun, yang lain mendengarkan dengan perhatian yang lebih tulus dari yang pernah dia berikan kepada siapa pun.

“Aku jatuh cinta padanya malam itu,” Yuki Onna berkata, suaranya nyaris tidak terdengar. “Yuki Onna jatuh cinta pada manusia yang menghitung butiran salju. Ironis, bukan?”

“Lalu apa yang terjadi?” Hone Onna bertanya, suaranya lebih pelan dari biasanya.

“Kami bertemu setiap malam setelah itu,” Yuki Onna menjawab. “Selama musim dingin itu, aku datang ke desa itu setiap malam, membawa lentera di tanganku, dan duduk di beranda rumahnya. Kami mengobrol tentang segalanya. Tentang salju dan bintang dan awan dan mengapa langit berwarna biru di siang hari dan hitam di malam hari. Tentang ikan yang berenang di bawah es dan bagaimana mereka tidak mati kedinginan. Tentang mimpi-mimpi yang datang ketika tidur dan mengapa kita tidak bisa memilih mimpi yang kita inginkan.”

“Fujiwara adalah manusia paling aneh yang pernah kutemui,” Yuki Onna tersenyum. “Dia bertanya tentang hal-hal yang tidak pernah ditanyakan oleh manusia lain. Dia melihat keindahan di tempat-tempat yang tidak dilihat oleh mata-mata biasa. Dan dia berbicara kepadaku, bukan kepada topeng yang kupakai. Seolah-olah dia bisa melihat menembus penyamaranku dan berbicara langsung kepada diriku yang sebenarnya.”

“Suatu malam, aku membawa lenteraku dan mengajaknya pergi ke sebuah tempat makan di desa tetangga,” Yuki Onna melanjutkan, matanya meredup. “Aku ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengannya. Aku ingin duduk bersamanya di tempat yang hangat, makan makanan yang panas, melihat wajahnya diterangi cahaya lentera dari dekat.”

Yuki Onna mengepalkan tangannya. Kristal-kristal es kecil terbentuk di permukaan kulit tangannya yang memutih, berderak-derak pelan di bawah tekanan jari-jarinya.

“Kami sampai di tempat makan itu,” Yuki Onna berkata, suaranya yang tadinya lembut kini mulai mengeras, seperti air yang membeku menjadi es. “Tempat yang ramai dan hangat. Banyak orang di dalamnya. Dan di antara orang-orang itu...”

Yuki Onna berhenti. Matanya yang biru pucat berkilat dengan sesuatu yang menyerupai rasa sakit yang sudah sangat tua namun tidak pernah benar-benar sembuh.

“Di antara orang-orang itu, ada seorang wanita,” Yuki Onna melanjutkan. “Wanita cantik yang duduk di pojok ruangan. Wanita yang langsung berdiri ketika melihat Fujiwara. Wanita yang berlari menghampiri Fujiwara dengan mata yang berkaca-kaca dan suara yang bergetar.”

“’Fujiwara! Kemana saja kau? Aku menunggumu sejak sore tadi! Kau bilang mau makan malam bersamaku!’”

Yuki Onna menutup matanya.

“Simpanan,” Yuki Onna berbisik, kata itu keluar dari bibirnya seperti bongkahan es yang jatuh ke danau yang tenang. “Fujiwara memiliki simpanan. Wanita lain. Wanita yang dia janjikan makan malam sementara dia duduk bersamaku di beranda rumahnya menghitung butiran salju.”

Hone Onna tidak berkomentar. Dia hanya menatap Yuki Onna dengan mata-mata yang berubah dari cokelat madu menjadi lebih gelap, lebih dalam, menyimpan pemahaman yang datang dari pengalaman serupa yang sudah dialami ribuan kali selama keberadaannya yang panjang.

“Aku merasakan sesuatu yang pecah di dalam dadaku,” Yuki Onna berkata. “Bukan hati. Yokai tidak memiliki hati manusia. Tapi kami memiliki sesuatu yang mirip. Sesuatu yang bisa terasa sakit. Sesuatu yang bisa pecah.”

“Dan ketika sesuatu itu pecah...”

Yuki Onna membuka matanya. Mata-mata biru pucatnya yang biasanya dingin dan datar kini berkilat dengan kemarahan yang sudah berusia seratus tahun.

“Aku memperlihatkan wujud asliku,” Yuki Onna berkata. “Di tempat makan itu. Di depan Fujiwara. Di depan simpanannya. Di depan semua orang yang ada di sana.”

“Kulit manusiaku mengelupas seperti kertas yang dirobek. Asap-asap putih memancar dari tubuhku. Suhu di ruangan itu turun drastis, makanan dan minuman di atas meja-meja membeku dalam hitungan detik. Taring-taring tumbuh dari gusi-gusiku. Dan mataku... mataku berubah dari cokelat gelap menjadi biru pucat yang berpijar.”

“Fujiwara berteriak,” Yuki Onna melanjutkan. “Semua orang berteriak. Tapi teriakan Fujiwara yang paling keras. Teriakan yang dipenuhi ketakutan. Ketakutan terhadapku. Terhadap Kanae yang selama berminggu-minggu duduk di sampingnya di beranda rumahnya, yang mendengarkan cerita-ceritanya tentang butiran salju dan ikan yang berenang di bawah es.”

“’KAU YOKAI!’ Fujiwara berteriak. ‘KAU BUKAN MANUSIA! KAU MONSTER!’”

“Dia menceritakan semuanya kepada orang-orang di tempat makan itu,” Yuki Onna berkata, suaranya semakin pelan. “Tentang wanita bernama Kanae yang datang setiap malam dengan lentera di tangannya. Tentang bagaimana dia seharusnya tahu bahwa tidak ada wanita normal yang keluar rumah setiap malam di tengah badai salju. Tentang betapa bodohnya dia karena tidak menyadari lebih awal.”

“Dia memaki-makiku,” Yuki Onna berbisik. “Di depan semua orang. Pria yang menghitung butiran salju untukku memaki-makiku dan menyebutku monster.”

Yuki Onna terdiam selama beberapa saat.

“Dan aku meleleh,” Yuki Onna berkata akhirnya. “Tubuhku meleleh di tempat itu. Menjadi genangan air yang dingin di lantai tempat makan. Karena itulah yang terjadi pada Yuki Onna ketika dia merasa dikhianati. Dia meleleh. Seperti salju yang terkena matahari. Lenyap.”

“Tapi kau tidak benar-benar lenyap,” Hone Onna berkata pelan.

“Tidak,” Yuki Onna menggeleng. “Yuki Onna tidak bisa mati dengan cara itu. Aku membentuk diri lagi ketika musim dingin berikutnya tiba. Namun rasa sakit itu... rasa sakit itu tidak meleleh bersama tubuhku. Rasa sakit itu tetap ada. Utuh. Tajam. Bahkan setelah seratus tahun.”

Yuki Onna menatap Hone Onna.

“Sejak saat itu, aku menjadikan diriku ujian,” Yuki Onna berkata. “Ujian bagi setiap laki-laki yang mengaku setia. Aku datang di musim dingin, menyamar sebagai wanita biasa, dan mendekati mereka. Menguji kejujuran mereka. Menguji kesetiaan mereka kepada pasangan mereka.”

“Dan hasilnya?” Hone Onna bertanya meskipun dia sudah tahu jawabannya.

“Kebanyakan gagal,” Yuki Onna menjawab dengan suara yang datar. “Mereka berbohong. Mereka menyimpan rahasia. Mereka memiliki simpanan. Dan kepada mereka yang gagal, aku tidak meleleh. Aku mengganggu mereka. Mengikuti mereka. Menghantui malam-malam mereka dengan dingin yang tidak bisa diredakan oleh api atau selimut mana pun. Sampai mereka mengakui kebohongan mereka, atau sampai kegilaan mengambil alih pikiran mereka.”

Yuki Onna mengangkat tangannya. Kristal-kristal es yang terbentuk di kulitnya pecah dan berjatuhan ke tanah, berkilau sesaat di bawah cahaya bulan sebelum menyatu dengan salju yang sudah menumpuk.

“Tapi yang jujur...” Yuki Onna menambahkan, suaranya sedikit lebih lembut. “Yang benar-benar setia dan jujur kepada pasangan mereka... aku membiarkan mereka. Aku pergi tanpa mengganggu. Karena mereka membuktikan bahwa tidak semua laki-laki seperti Fujiwara.”

Keheningan yang panjang mengikuti cerita Yuki Onna. Salju turun di sekeliling mereka, butiran-butiran putih yang jatuh tanpa suara, menutupi segala sesuatu yang lama dengan lapisan baru yang bersih dan tidak ternoda.


Hone Onna berjalan ke sebuah batang pohon yang tumbang dan duduk di atasnya. Kimono merah tuanya menyapu salju di permukaan batang, melelehkan lapisan tipis di tempat tubuhnya menyentuh. Dia menepuk-nepuk tempat di sampingnya, mengundang Yuki Onna untuk duduk.

Yuki Onna duduk di samping Hone Onna, menjaga jarak sedikit agar aura dinginnya tidak terlalu mengganggu. Meskipun Hone Onna adalah yokai dan tidak merasakan dingin seperti manusia, tetap ada ketidaknyamanan tersendiri ketika dua aura supernatural yang berbeda bersentuhan terlalu dekat.

“Giliranmu,” Yuki Onna berkata. “Ceritakan tentang dirimu, Hone.”

Hone Onna tersenyum. Senyum yang untuk pertama kalinya malam ini tidak mengandung godaan atau manipulasi. Senyum yang hanya menyimpan kesedihan.

“Ceritaku dimulai di Fukushima,” Hone Onna berkata. “Jauh sebelum kau bertemu Fujiwara-mu. Jauh sebelum aku mengerti apa artinya menjadi apa yang aku ini.”

Hone Onna mengangkat tangan kanannya dan menatap jari-jarinya. Jari-jari yang ramping dan cantik, dengan kuku-kuku yang panjang dan terawat, dicat merah gelap. Jari-jari yang terlihat seperti jari-jari wanita bangsawan yang tidak pernah menyentuh pekerjaan kasar seumur hidupnya.

“Aku tidak selalu seperti ini,” Hone Onna berkata. “Aku tidak selalu menjadi pemburu. Dulu, sangat dulu, aku hanya ingin satu hal.”

“Apa?” Yuki Onna bertanya.

“Menjadi manusia,” Hone Onna menjawab. “Manusia yang sesungguhnya. Bukan yokai yang menyamar. Bukan monster yang bersembunyi di balik wajah cantik. Manusia yang bisa merasakan hangat matahari tanpa takut wujud aslinya terungkap. Manusia yang bisa makan makanan yang sebenarnya, bukan hanya energi kehidupan yang dicuri dari orang lain. Manusia yang bisa...”

Hone Onna berhenti. Tangannya yang terangkat perlahan-lahan berubah. Kulit yang menutupi jari-jarinya menjadi transparan selama beberapa detik, memperlihatkan tulang-tulang putih kekuningan di bawahnya, ruas-ruas jari yang beruas-ruas, sendi-sendi yang bergerak-gerak tanpa otot yang menggerakkannya.

Lalu kulit itu kembali solid, dan jari-jarinya kembali terlihat seperti jari-jari wanita cantik biasa.

“Menjadi manusia membutuhkan energi,” Hone Onna melanjutkan. “Banyak energi. Energi yang tidak bisa aku hasilkan sendiri. Tubuhku, tubuh asliku, adalah tulang belulang. Rangka tanpa daging. Tengkorak tanpa wajah. Untuk mempertahankan wujud manusiaku, aku harus terus-menerus menyerap energi dari makhluk hidup lain.”

“Dan manusia adalah sumber energi yang paling kuat,” Yuki Onna menambahkan.

“Pria, tepatnya,” Hone Onna mengoreksi. “Pria yang didorong oleh hawa nafsu. Energi mereka lebih kuat, lebih pekat, lebih mudah diserap. Ketika seorang pria menatapku dengan mata yang dipenuhi nafsu, energi mereka sudah mulai mengalir ke arahku bahkan sebelum aku menyentuh mereka. Dan ketika aku menyentuh mereka...”

Hone Onna mengangkat tangan kanannya. Di belakang punggungnya, tangan-tangan tengkorak mulai bergerak lebih aktif, jari-jari tulang mereka bergerak-gerak di udara seperti mencari-cari sesuatu yang tidak terlihat.

“Ketika aku menyentuh mereka,” Hone Onna mengulangi, suaranya lebih pelan. “Energi mereka mengalir ke dalam diriku seperti air yang dituangkan ke dalam cangkir yang kosong. Mereka merasakan kehangatan pada awalnya, lalu kelelahan, lalu kelemahan, lalu kekosongan. Dan akhirnya...”

“Mereka menjadi tulang,” Yuki Onna menyelesaikan.

“Ya,” Hone Onna mengangguk. “Mereka menjadi seperti aku. Tulang tanpa daging. Rangka tanpa nyawa. Hanya saja, berbeda dariku, mereka tidak bisa hidup kembali.”

Hone Onna menatap tangannya lagi.

“Di Fukushima,” Hone Onna melanjutkan, “aku bergerak dari kota ke kota. Dari desa ke desa. Menyamar sebagai wanita pengembara yang cantik dan misterius. Aku selalu mencari pria-pria yang bisa memberiku energi yang cukup untuk mempertahankan wujud manusiaku.”

“Aku selalu mengajak mereka ke tempat makan,” Hone Onna tersenyum pahit. “Ironis, bukan? Aku yang tidak bisa makan makanan manusia, selalu mengajak mangsaku ke tempat makan. Karena di tempat makan, mereka rileks. Mereka minum sake. Mereka tertawa. Mereka menurunkan pertahanan mereka. Dan ketika pertahanan mereka turun, energi mereka mengalir lebih mudah.”

“Berapa banyak?” Yuki Onna bertanya, nada suaranya tanpa penghakiman, hanya keingintahuan.

“Aku berhenti menghitung setelah angka seratus,” Hone Onna menjawab. “Itu sudah ratusan tahun yang lalu.”

Keheningan sejenak menyelimuti mereka. Hutan tetap sunyi. Bulan bergerak sedikit di langit, bayangan-bayangan pohon bergeser pelan di permukaan salju.

“Tapi ada satu hal yang selalu menggangguku,” Hone Onna berkata. “Satu hal yang tidak pernah bisa aku lupakan meskipun ratusan tahun berlalu.”

“Apa itu?”

“Ekspresi mereka,” Hone Onna menjawab. “Ketika energi mereka mulai terkuras. Ketika kulit mereka mulai mengerut dan pucat. Ketika tulang-tulang mereka mulai terlihat di balik daging yang menyusut. Mereka menatapku dengan mata-mata yang semakin cekung dan semakin gelap, dan di mata-mata itu... aku melihat bukan hanya ketakutan. Aku melihat kekecewaan. Mereka kecewa karena wanita cantik yang mereka inginkan ternyata adalah monster yang menghabisi mereka.”

Hone Onna tertawa kecil. Tawa yang pedih.

“Dan aku kecewa juga,” Hone Onna berkata. “Kecewa karena pria-pria yang mendekatiku selalu didorong oleh hal yang sama. Nafsu. Keinginan fisik. Tidak pernah ada yang mendekatiku karena ingin mengenal diriku. Tidak pernah ada yang bertanya tentang mimpi-mimpiku atau ketakutan-ketakutanku atau kesedihan-kesedihanku. Mereka hanya melihat wajahku, tubuhku, dan senyumku. Dan mereka menginginkan itu. Hanya itu.”

“Kau ingin dicintai,” Yuki Onna berkata, dan kata-kata itu bukan pertanyaan, melainkan pengakuan yang datang dari yokai yang memahami perasaan itu dengan kedalaman yang sama.

“Aku ingin menjadi manusia,” Hone Onna mengoreksi. “Tapi ya. Di antara semua hal yang dimiliki manusia dan tidak dimiliki yokai... cinta adalah yang paling aku inginkan.”

Hone Onna memalingkan wajahnya. Di belakang punggungnya, tangan-tangan tengkorak perlahan-lahan berhenti bergerak, seolah-olah ikut merasakan kesedihan yang memenuhi hati tuan mereka.

“Aku sedih, Yuki,” Hone Onna berbisik. “Aku sudah ada selama ratusan tahun, dan satu-satunya cara aku bisa tetap ada adalah dengan menghancurkan orang lain. Itu bukan hidup. Itu hanya bertahan.”


Mereka duduk berdampingan di batang pohon tumbang selama beberapa saat yang panjang. Dua yokai. Dua wanita yang bukan wanita. Dua makhluk yang terjebak di antara dunia manusia yang tidak menerima mereka dan dunia yokai yang tidak memberikan mereka apa yang mereka butuhkan.

Yuki Onna yang menghancurkan sebulan penuh kehangatan karena pria yang menghitung butiran salju ternyata menyembunyikan simpanan di tempat makan desa tetangga.

Hone Onna yang menghancurkan ratusan pria karena tubuhnya yang terbuat dari tulang membutuhkan energi kehidupan untuk mempertahankan wujud yang membuatnya merasa manusiawi.

“Aku punya ide,” Yuki Onna berkata tiba-tiba, memecah keheningan yang sudah berlangsung cukup lama.

Hone Onna menoleh. “Ide apa?”

Yuki Onna menatap Hone Onna. Mata-mata biru pucatnya yang biasanya dingin dan datar kini menyimpan tekad yang berpijar seperti bintang di balik lapisan es.

“Selama ini, kita bergerak sendiri-sendiri,” Yuki Onna berkata. “Kau di Fukushima, aku di gunung-gunung. Kau memangsa pria yang didorong nafsu, aku menghukum pria yang berkhianat. Kita melakukan hal yang mirip, tapi sendiri-sendiri.”

“Lalu?” Hone Onna bertanya, kepalanya miring sedikit.

“Bagaimana kalau kita bersama?” Yuki Onna berkata. “Bukan hanya sebagai dua yokai yang kebetulan bertemu di hutan. Tapi sebagai dua yokai yang memiliki tujuan yang sama.”

“Tujuan yang sama?”

“Menguji pria-pria manusia,” Yuki Onna berkata. “Bersama-sama. Dengan cara yang lebih terorganisir. Lebih efektif. Kau menguji hawa nafsu mereka. Aku menguji kesetiaan mereka. Yang gagal di ujianmu, kau ambil energinya. Yang gagal di ujianku, aku hukum dengan cara-caraku.”

Hone Onna menatap Yuki Onna selama beberapa saat. Lalu, perlahan-lahan, senyum terbentuk di bibirnya yang merah. Bukan senyum menggoda. Bukan senyum manipulasi. Senyum yang terlihat seperti senyum seseorang yang baru saja menemukan sesuatu yang sudah lama dia cari.

“Tali janji,” Hone Onna berkata. “Kau ingin kita mengikat tali janji.”

“Ya,” Yuki Onna mengangguk. “Tali janji antara dua yokai. Perjanjian yang tidak bisa diingkari. Kita akan menjadi ujian bagi setiap laki-laki yang tidak baik. Yang tidak jujur. Yang tidak setia. Yang memandang wanita hanya sebagai objek nafsu.”

Hone Onna bangkit dari batang pohon tumbang. Kimono merah tuanya berkibar sedikit meskipun tidak ada angin. Di belakang punggungnya, tangan-tangan tengkorak bergerak kembali, bergerak lebih cepat dari sebelumnya, jari-jari tulang mereka menggenggam-genggam udara dengan semangat yang baru.

“Dan di mana kita akan melakukan ini?” Hone Onna bertanya.

Yuki Onna bangkit juga. Asap-asap putih di sekeliling tubuhnya bergerak lebih intens, berputar-putar dengan kecepatan yang meningkat, menciptakan pusaran-pusaran kecil di udara yang membekukan butiran-butiran salju yang melewatinya menjadi kristal-kristal es yang berkilau seperti berlian.

“Tokyo,” Yuki Onna menjawab.

“Tokyo?”

“Kota yang sedang tumbuh,” Yuki Onna menjelaskan. “Banyak orang. Banyak pria. Dan musim dingin di Tokyo sangat cocok untukku. Salju turun setiap hari. Udara dingin setiap malam. Itu wilayahku.”

Hone Onna tersenyum lebar. “Dan banyak tempat makan. Itu wilayahku.”

Yuki Onna mengulurkan tangannya. Tangan yang putih pucat dan dingin seperti es, dengan jari-jari yang panjang dan ramping yang dihiasi kristal-kristal kecil yang berkilau di ujung-ujungnya.

“Tali janji, Hone,” Yuki Onna berkata. “Kau dan aku. Bersama.”

Hone Onna menatap tangan Yuki Onna. Lalu dia mengulurkan tangannya sendiri. Tangan yang hangat dan lembut di permukaan, namun di bawah kulit yang halus itu, tulang-tulang berderak pelan dengan setiap gerakan.

Dua tangan bertemu di udara malam yang dingin.

Tangan es dan tangan tulang.

Dingin bertemu dingin.

Kekosongan bertemu kekosongan.

Dan di titik pertemuan itu, sesuatu yang baru terbentuk. Bukan kehangatan. Bukan kekuatan. Melainkan tekad. Tekad dua yokai yang telah memutuskan untuk tidak lagi sendirian dalam dunia yang tidak pernah menerima mereka.

“Tali janji,” Hone Onna berkata, genggamannya mengerat di tangan Yuki Onna. “Aku dan kau. Bersama.”

Cahaya bulan menerangi dua sosok yang berdiri berpegangan tangan di tengah hutan yang tertutup salju. Bayangan-bayangan mereka terjatuh di permukaan putih, dua bayangan yang terlihat seperti dua wanita biasa yang berdiri berhadapan, tanpa kaki-kaki laba-laba, tanpa tangan-tangan tengkorak, tanpa asap-asap putih yang dingin.

Hanya dua bayangan yang terlihat sangat manusiawi.

Dan sangat kesepian.


“Tokyo, kalau begitu,” Hone Onna berkata setelah mereka melepaskan pegangan tangan. “Kapan kita berangkat?”

“Sekarang,” Yuki Onna menjawab. “Musim dingin sudah dimulai. Salju sudah turun di Tokyo. Ini waktu yang tepat.”

Hone Onna mengangguk. Dia memutar tubuhnya dan mulai berjalan menuju arah selatan, langkahnya ringan dan anggun di atas salju yang tebal, setiap langkahnya meninggalkan jejak yang dalam namun segera menghilang karena salju baru yang menutupinya.

Yuki Onna berjalan di sampingnya. Atau lebih tepatnya, melayang. Kaki-kakinya menyentuh permukaan salju namun tidak meninggalkan jejak, seolah-olah tubuhnya tidak memiliki berat, seolah-olah dia sendiri adalah bagian dari salju yang bergerak.

Mereka bergerak menyusuri hutan yang gelap dan sunyi, dua sosok yang bergerak tanpa suara di antara pohon-pohon yang membeku, meninggalkan hutan itu lebih dingin dan lebih sunyi dari sebelumnya.

Di belakang mereka, di tempat mereka berdiri tadi, dua jejak kaki tertinggal di salju. Satu jejak yang dalam dan jelas, jejak Hone Onna. Dan di sampingnya, permukaan salju yang halus dan tidak terganggu, tempat di mana Yuki Onna berdiri tanpa meninggalkan apa-apa.

Salju terus turun.

Dan perlahan-lahan, bahkan jejak kaki Hone Onna yang dalam itu menghilang, tertutup oleh butiran-butiran putih yang jatuh tanpa henti dari langit yang gelap.

Seolah-olah tidak ada yang pernah terjadi di hutan itu.

Seolah-olah dua yokai itu tidak pernah ada.

Namun mereka ada. Dan mereka sedang menuju Tokyo. Menuju kota yang sedang tidur di bawah selimut salju yang tebal. Menuju pria-pria yang tidak tahu bahwa ujian terbesar dalam hidup mereka sedang berjalan di antara kepingan-kepingan salju yang turun dari langit yang gelap.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk