Bab 3 Pesta dan Tulang Belulang

1 dibaca

A

Dua minggu setelah Yuki Onna dan Hone Onna mengikat tali janji mereka di hutan yang tertutup salju, Tokyo berubah.

Bukan perubahan yang terlihat oleh mata biasa. Bangunan-bangunan masih berdiri di tempatnya. Jalan-jalan masih dipenuhi oleh orang-orang yang berjalan dengan kimono tebal dan geta kayu yang berderak-derak di atas salju. Pasar-pasar masih ramai di pagi hari, pedagang-pedagang masih berteriak-teriak menawarkan dagangan mereka, ibu-ibu rumah tangga masih menawar harga dengan keahlian yang diwarisi dari generasi ke generasi.

Namun ada sesuatu yang berbeda di udara.

Sesuatu yang tidak bisa dilihat namun bisa dirasakan. Seperti tekanan atmosfer yang turun sebelum badai datang, membuat telinga berdengung dan dada terasa sesak meskipun langit masih cerah. Seperti bau hujan yang tercium di udara beberapa jam sebelum awan pertama muncul di cakrawala. Seperti firasat buruk yang mengganjal di perut tanpa alasan yang jelas.

Orang-orang pertama yang menghilang adalah tiga orang pedagang sake dari distrik timur.

Ketiga pria itu dikenal sebagai pria-pria yang suka bersenang-senang. Mereka sering menghabiskan malam-malam mereka di kedai-kedai sake, minum hingga mabuk, tertawa dengan suara keras yang mengganggu tetangga, dan menggoda wanita-wanita yang lewat dengan kata-kata yang membuat para suami mengepalkan tangan mereka di balik pintu. Istri-istri mereka di rumah menunggu dengan wajah-wajah yang sudah terlalu lelah untuk menangis dan terlalu marah untuk memaafkan.

Suatu malam di awal Desember, ketiga pedagang itu pergi ke sebuah kedai sake di pinggiran kota seperti biasa. Mereka minum. Mereka tertawa. Mereka menggoda pelayan-pelayan kedai dengan kata-kata manis yang sudah terlalu sering diucapkan untuk terdengar tulus.

Mereka tidak pernah pulang.

Keesokan paginya, istri-istri mereka melapor kepada pejabat setempat. Pencarian dilakukan di seluruh distrik timur. Setiap kedai sake diperiksa. Setiap rumah penginapan digeledah. Setiap sudut jalanan yang gelap disisir oleh pasukan penjaga kota.

Yang ditemukan hanyalah tiga pasang geta kayu yang tertata rapi di depan sebuah gang sempit di belakang kedai sake terakhir yang dikunjungi para pedagang itu. Geta-geta itu masih dalam kondisi baik, seolah-olah pemiliknya baru saja melepasnya sebelum masuk ke dalam gang.

Namun di dalam gang itu, tidak ada apa-apa.

Hanya salju yang putih dan tidak terganggu. Tanpa jejak kaki. Tanpa tanda-tanda pergulatan. Tanpa apa pun yang menunjukkan bahwa tiga orang pria pernah memasuki gang itu.

Hanya tiga pasang geta di mulut gang yang kosong.

Dan debu. Debu putih kekuningan yang halus, tersebar tipis di permukaan salju di dalam gang, nyaris tidak terlihat kecuali oleh mata yang sangat teliti. Debu yang kalau dicium baunya sedikit seperti kapur. Debu yang kalau dipegang terasa rapuh dan kering di antara jari-jari.

Debu tulang.


Rumor dimulai dari sana.

Bisikan-bisikan yang awalnya hanya beredar di kalangan pedagang di distrik timur perlahan-lahan menyebar ke seluruh Tokyo seperti tinta yang dijatuhkan ke air. Dari pasar ke warung teh, dari warung teh ke rumah-rumah pribadi, dari rumah-rumah pribadi ke istana kekaisaran.

“Tiga orang pedagang menghilang tanpa jejak.”

“Yang tersisa hanya geta mereka. Dan debu.”

“Debu tulang, kata orang-orang.”

“Yokai. Pasti yokai.”

Lalu menghilang lagi empat orang pria dari distrik barat. Kali ini mereka adalah pekerja-pekerja bangunan, pria-pria bertubuh besar dan kuat yang biasa mengangkat balok-balok kayu dan batu-batu berat sepanjang hari. Mereka menghilang dalam satu malam, meninggalkan peralatan-peralatan kerja mereka di lokasi pembangunan, seolah-olah mereka berhenti bekerja di tengah jalan dan berjalan pergi ke kegelapan tanpa alasan.

Lalu dua orang tukang kayu dari distrik selatan.

Lalu seorang penjual kain dari distrik utara.

Lalu lima orang nelayan dari pelabuhan kecil di pinggir kota.

Setiap kali, polanya sama. Pria-pria yang menghilang. Tidak ada jejak. Tidak ada saksi. Hanya debu putih kekuningan yang kadang-kadang ditemukan di tempat-tempat terakhir mereka terlihat. Dan setiap kali, pria-pria yang menghilang memiliki satu kesamaan.

Mereka semua dikenal sebagai pria yang tidak setia. Pria yang memiliki simpanan. Pria yang sering menggoda wanita lain meskipun mereka sudah memiliki istri di rumah. Pria yang memandang wanita sebagai mainan yang bisa diambil dan dibuang sesuka hati.

“Ini hukuman dari dewa,” seorang biksu tua berkhotbah di kuil utama Tokyo. “Dewa-dewa menghukum pria-pria yang tidak setia. Pria-pria yang mengkhianati kepercayaan istri-istri mereka. Bertobatlah, sebelum kalian menjadi yang berikutnya.”

“Bukan dewa,” seorang pria tua yang menjual jimat di sudut pasar membantah dengan suara serak. “Ini Yuki Onna. Aku melihatnya sendiri. Wanita berkulit putih dengan kimono putih, berdiri di ujung jalan di tengah badai salju. Asap-asap putih keluar dari tubuhnya. Matanya biru seperti es. Dia menatapku, lalu menghilang.”

“Dan yang satu lagi,” wanita tua yang menjual teh di warung sebelahnya menambahkan, suaranya bergetar. “Wanita cantik dengan kimono merah. Cantik sekali. Terlalu cantik untuk manusia biasa. Tapi kalau kau melihat bayangannya di air atau di cermin, yang terlihat bukan wanita cantik. Yang terlihat adalah tengkorak.”

“Hone Onna,” pria tua penjual jimat mengangguk-angguk. “Wanita tulang. Dia menyerap energi pria hingga yang tersisa hanya tulang belulang.”

“Dua yokai,” wanita tua itu menyeruput tehnya dengan tangan yang gemetar. “Dua yokai wanita yang mengincar pria-pria tidak baik di Tokyo. Siapa yang bisa melawan mereka?”

Rumor itu menyebar semakin luas. Semakin cepat. Semakin liar. Setiap kali cerita itu berpindah dari satu mulut ke mulut yang lain, detailnya bertambah dan berubah-ubah. Yuki Onna yang awalnya hanya berdiri di ujung jalan kini dikabarkan bisa membekukan orang hidup-hidup dengan satu tiupan napas. Hone Onna yang awalnya hanya terlihat di bayang-bayang kini dikabarkan bisa mengeluarkan puluhan tangan tengkorak dari belakang punggungnya, tangan-tangan yang bisa menjangkau korbannya dari jarak puluhan langkah.

Ketakutan merayap ke seluruh Tokyo seperti es yang membeku di permukaan sungai, perlahan-lahan namun pasti, menutupi segalanya dengan lapisan yang dingin dan mencekam.


Di istana kekaisaran Tokyo, berita tentang dua yokai itu sampai ke telinga pemerintah daerah dalam waktu kurang dari seminggu.

Istana itu terletak di pusat kota, sebuah kompleks bangunan megah yang dikelilingi oleh tembok-tembok batu yang tinggi dan parit-parit yang dalam. Di ruangan pertemuan yang diterangi oleh puluhan lentera minyak, pejabat-pejabat kekaisaran duduk berjajar di atas bantal-bantal sutra, wajah-wajah mereka serius dan cemas.

“Sudah berapa orang yang hilang?” Gubernur Yamamoto Hideaki bertanya. Dia adalah pria berusia lima puluh tahun dengan tubuh yang gemuk dan wajah yang bulat, namun mata-matanya yang kecil dan tajam menunjukkan kecerdasan yang tidak boleh diremehkan.

“Dua puluh tiga orang dalam dua minggu terakhir, Yamamoto-sama,” seorang pejabat muda menjawab sambil membuka gulungan kertas yang berisi catatan-catatan laporan. “Semuanya pria. Tidak ada satu pun korban wanita.”

“Dan tidak ada satupun jasad yang ditemukan?” Yamamoto bertanya lagi.

“Tidak, Yamamoto-sama. Hanya... debu.”

“Debu tulang,” Yamamoto bergumam, jari-jari gemuknya mengetuk-ngetuk meja di depannya. “Ini bukan pembunuhan biasa. Ini yokai.”

“Rakyat sudah mulai panik, Yamamoto-sama,” pejabat lain yang lebih tua menambahkan. “Banyak keluarga yang mengurung pria-pria mereka di rumah. Beberapa pedagang menolak membuka warung mereka setelah matahari terbenam. Pasar malam sudah kosong. Perekonomian mulai terganggu.”

Yamamoto menghela napas panjang. Dia menatap pejabat-pejabatnya satu per satu, menimbang-nimbang opsi yang tersedia.

“Kirim pasukan,” Yamamoto akhirnya memutuskan. “Dua regu prajurit bersenjata lengkap. Perintahkan mereka untuk menyisir seluruh kota, dari pusat hingga pinggiran. Cari dua yokai itu. Hone Onna dan Yuki Onna. Temukan mereka dan musnahkan.”

“Yamamoto-sama,” komandan pasukan yang duduk di sudut ruangan angkat bicara. Namanya Hayashi Noboru, pria berusia empat puluh tahun dengan bekas luka panjang yang melintang di pipi kirinya, kenang-kenangan dari pertempuran yang sudah lama berlalu. “Prajurit-prajurit biasa mungkin tidak cukup untuk melawan yokai. Kita mungkin membutuhkan onmyoji atau biksu yang menguasai mantra-mantra pengusiran.”

“Kalau begitu bawa juga onmyoji,” Yamamoto menjawab dengan nada tidak sabar. “Bawa siapa pun yang kau butuhkan. Aku tidak peduli caranya. Yang kupeduli adalah hasilnya. Dua yokai itu harus dimusnahkan sebelum lebih banyak orang menghilang.”

“Dimengerti, Yamamoto-sama,” Hayashi mengangguk dan bangkit dari duduknya. Dia membungkuk dalam-dalam kepada gubernur, lalu berjalan keluar dari ruangan dengan langkah-langkah yang mantap dan tegas.


Pasukan Hayashi berangkat keesokan harinya.

Dua puluh prajurit yang dipersenjatai dengan pedang, tombak, dan busur. Lima onmyoji dengan jubah-jubah hitam dan jimat-jimat kertas yang tersimpan di kantong-kantong di pinggang mereka. Dan Hayashi sendiri, yang memimpin dari depan dengan pedang katana yang terhunus di tangan kanannya dan mata-mata yang menyapu setiap sudut jalan dengan kewaspadaan seorang prajurit veteran.

Mereka menyisir Tokyo selama tiga hari tiga malam.

Mereka memeriksa setiap gang yang gelap. Setiap bangunan yang kosong. Setiap sudut hutan di pinggiran kota. Setiap kuil yang terbengkalai. Setiap tepi sungai yang sunyi. Mereka bahkan memeriksa sumur-sumur tua dan gua-gua kecil di perbukitan yang mengelilingi kota.

Tidak menemukan apa-apa.

Bukan hanya tidak menemukan dua yokai itu. Mereka bahkan tidak menemukan petunjuk. Tidak ada jejak kaki yang mencurigakan. Tidak ada sisa-sisa energi supernatural yang bisa dideteksi oleh onmyoji-onmyoji mereka. Tidak ada saksi mata yang bisa memberikan informasi yang berguna. Dua yokai itu seolah-olah tidak pernah ada, seolah-olah mereka hanyalah rumor yang dibesar-besarkan oleh ketakutan kolektif penduduk yang terlalu banyak mendengar cerita-cerita rakyat.

Namun orang-orang terus menghilang.

Selama tiga hari pencarian itu berlangsung, empat orang pria lagi menghilang. Semua dengan pola yang sama. Tanpa jejak. Tanpa saksi. Hanya debu.

“Mereka terlalu cerdik untuk kita,” Hayashi melapor kepada Gubernur Yamamoto dengan wajah yang merah oleh campuran kelelahan dan frustrasi. “Mereka bergerak di waktu dan tempat yang berbeda setiap malam. Mereka tidak meninggalkan jejak supernatural yang bisa dilacak. Dan mereka menghilang sebelum pasukan kita sampai di lokasi.”

“Jadi kau gagal,” Yamamoto berkata datar.

Hayashi menelan ludah. “Ya, Yamamoto-sama. Aku gagal.”

Yamamoto menatap Hayashi selama beberapa saat yang terasa sangat panjang. Lalu dia menghela napas dan bersandar di bantal-bantal di belakangnya.

“Teruskan patroli,” Yamamoto memerintahkan. “Tingkatkan jumlah prajurit. Pasang pos-pos jaga di setiap distrik. Dan sebarkan peringatan kepada seluruh penduduk. Pria-pria dilarang keluar rumah sendirian setelah matahari terbenam. Setiap pria harus ditemani oleh setidaknya satu orang lain. Dan setiap wanita yang tidak dikenal harus dilaporkan kepada pasukan penjaga.”

“Dimengerti, Yamamoto-sama.”

Hayashi membungkuk dan keluar dari ruangan dengan langkah-langkah yang lebih berat dari sebelumnya.

Perintah gubernur dilaksanakan. Pos-pos penjagaan didirikan di setiap persimpangan jalan utama. Prajurit-prajurit berpatroli di jalanan dari senja hingga fajar, obor-obor mereka bergoyang-goyang di kegelapan seperti kunang-kunang raksasa yang bergerak teratur. Peringatan disebarkan kepada seluruh penduduk melalui pengumuman-pengumuman yang dibacakan di setiap pasar dan setiap kuil.

Namun hilangnya orang tidak berhenti.

Setiap beberapa hari, seorang pria lagi menghilang. Kadang dari distrik timur. Kadang dari barat. Kadang dari selatan. Kadang dari utara. Tidak ada pola yang bisa diprediksi. Tidak ada lokasi yang bisa diamankan. Dua yokai itu bergerak seperti angin, seperti salju, seperti bayangan, ada di mana-mana namun tidak bisa ditangkap di mana pun.

Pasukan Hayashi semakin frustrasi. Onmyoji-onmyoji mereka semakin bingung. Dan penduduk Tokyo semakin ketakutan.


Rumor itu sampai ke telinga Kosuke pada suatu sore yang dingin dan kelabu di pertengahan Desember.

Dia sedang berdiri di warung ikan Goemon, menunggu Chihiro yang sedang menawar harga dengan intensitas yang bisa membuat jenderal perang terharu, ketika dua orang pria tua yang berdiri di warung sebelah membicarakan sesuatu yang membuat telinganya berdiri.

“Sudah tiga puluh orang lebih,” pria tua pertama berkata, suaranya rendah dan cemas. “Semuanya pria. Semuanya menghilang tanpa jejak. Pasukan gubernur tidak bisa berbuat apa-apa.”

“Yokai,” pria tua kedua mengangguk-angguk dengan keyakinan yang kuat. “Dua yokai wanita. Hone Onna dan Yuki Onna. Mereka mengincar pria-pria yang tidak baik. Pria-pria yang hidung belang. Pria-pria yang tidak setia.”

“Tapi bukan berarti mereka tidak akan menyerang pria baik-baik juga,” pria pertama membantah. “Yokai itu yokai. Mereka tidak membeda-bedakan. Hari ini mereka menyerang pria jahat, besok siapa tahu mereka menyerang siapa saja.”

“Benar juga,” pria kedua mengusap dagunya yang berjanggut tipis. “Istriku sudah melarangku keluar rumah setelah gelap. Dia bilang lebih baik aku di rumah daripada jadi debu tulang di jalanan.”

Kosuke mendengarkan percakapan itu tanpa menggerakkan kepalanya. Tubuhnya yang berdiri membelakangi dua pria tua itu terlihat rileks dan tidak tertarik, namun setiap kata yang keluar dari mulut mereka tercatat dengan jelas di otaknya yang terlatih.

Tiga puluh orang lebih.

Pasukan gubernur gagal.

Hone Onna dan Yuki Onna.

“Kosuke.”

Suara Chihiro membuatnya menoleh. Wanita itu sudah berdiri di sampingnya dengan keranjang belanjaan yang sudah penuh, matanya menatap Kosuke dengan tatapan yang menunjukkan bahwa dia juga mendengar percakapan dua pria tua itu.

“Aku dengar,” Chihiro berkata pelan.

Mereka berjalan pulang dalam keheningan yang berbeda dari keheningan-keheningan mereka yang biasa. Ini bukan keheningan yang nyaman dan hangat. Ini adalah keheningan yang dipenuhi oleh pikiran-pikiran yang berat dan pertanyaan-pertanyaan yang tidak terucapkan.

Salju turun di sekeliling mereka. Lebih lebat dari biasanya. Butiran-butiran putih yang besar dan tebal jatuh dari langit yang kelabu rendah, menutupi segalanya dengan lapisan putih yang tebal dan dingin. Angin bertiup dari utara, membawa dingin yang menusuk tulang meskipun mereka mengenakan kimono yang tebal berlapis-lapis.

Mereka sampai di rumah ketika senja mulai turun. Kosuke menyalakan irori sementara Chihiro membawa belanjaan ke dapur. Rutinitas yang sama. Gerakan-gerakan yang sama. Namun ada ketegangan baru di antara mereka yang tidak ada sebelumnya.

Makan malam berlangsung dalam keheningan yang canggung. Chihiro menyajikan sup miso dengan tahu dan wakame, kali ini rasanya hampir sempurna, hanya sedikit terlalu banyak miso yang membuat kuahnya sedikit lebih pekat dari seharusnya. Kosuke memakannya tanpa berkomentar, menyeruput kuah yang kental dengan gerakan-gerakan mekanis yang menunjukkan bahwa pikirannya tidak berada di meja makan.

“Kau memikirkan mereka,” Chihiro akhirnya berkata setelah mereka berdua meletakkan mangkuk-mangkuk mereka yang sudah kosong.

Kosuke tidak menyangkal. “Tiga puluh orang, Chihiro. Dalam dua minggu.”

“Aku tahu,” Chihiro menjawab.

“Pasukan gubernur tidak bisa menemukan mereka,” Kosuke melanjutkan. “Onmyoji-onmyoji mereka tidak bisa melacak jejak supernatural. Orang-orang terus menghilang setiap beberapa hari.”

“Aku tahu,” Chihiro mengulangi.

“Dan kita di sini,” Kosuke berkata, matanya menatap api di irori yang menari-nari. “Di rumah yang hangat. Memakan sup miso. Sementara di luar sana, orang-orang menjadi tulang belulang.”

Chihiro menatap Kosuke selama beberapa saat yang panjang. Lalu dia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.

“Kaname-sensei menyuruhmu hidup sebagai manusia biasa,” Chihiro berkata. “Dia menyuruhmu meletakkan pedang dan meninggalkan kehidupan itu.”

“Aku tahu apa yang dikatakan Sensei,” Kosuke menjawab, suaranya sedikit lebih tajam dari yang dia maksudkan.

“Lalu apa yang ingin kau lakukan?” Chihiro bertanya.

Kosuke terdiam.

Di dalam kepalanya, dua suara berperang. Suara Kaname yang tenang dan bijaksana, yang menyuruhnya hidup untuk dirinya sendiri, yang menyuruhnya menemukan kebahagiaan, yang menyuruhnya meninggalkan pedang dan darah dan bayangan-bayangan. Dan suara lain, suara yang lebih dalam dan lebih tua, suara yang datang dari tempat di mana tekad bersemayam, suara yang mengatakan bahwa dia memiliki kemampuan untuk menghentikan kematian-kematian ini dan memilih untuk tidak menggunakannya adalah bentuk kekejaman yang berbeda namun tidak kalah buruknya.

“Aku tidak tahu,” Kosuke akhirnya menjawab. Dan itu adalah jawaban yang jujur.

Chihiro menatap Kosuke. Lalu dia bangkit dari duduknya dan berjalan ke dapur untuk mencuci mangkuk-mangkuk. Langkahnya ringan dan tanpa suara, kebiasaan seorang kunoichi yang tidak pernah benar-benar hilang.

Di ambang pintu dapur, Chihiro berhenti.

“Kosuke,” Chihiro berkata tanpa menoleh.

“Ya?”

“Apa pun yang kau putuskan,” Chihiro berkata, suaranya pelan namun mantap. “Aku di sisimu.”

Lalu dia masuk ke dapur, dan suara air yang mengalir dan mangkuk-mangkuk yang beradu pelan mengisi keheningan yang ditinggalkannya.

Kosuke menatap ambang pintu yang kosong selama beberapa saat.

Lalu dia menatap api di irori.

Lalu dia menatap dinding di belakang irori, dinding yang memisahkan ruang utama dari halaman belakang. Halaman belakang yang terdapat gudang kecil. Gudang yang menyimpan katana biru gelap yang diikat rapat dengan tali kulit dan kain.

Kosuke menutup matanya.

“Apa pun yang kau putuskan, aku di sisimu.”

Kata-kata Chihiro bergema di kepalanya.

Dan untuk pertama kalinya sejak mereka pindah ke Tokyo, Kosuke tidak melamun tentang masa lalu. Dia memikirkan masa depan. Masa depan yang mungkin melibatkan pedang dan pertarungan dan darah. Atau masa depan yang mungkin hanya melibatkan sup miso dan salju dan keheningan yang nyaman di rumah kecil di pinggiran kota.

Kosuke belum memilih.

Namun jauh di dalam dirinya, di tempat yang lebih dalam dari pikiran dan lebih tua dari ingatan, sesuatu sudah bergerak. Sesuatu yang menyerupai tekad yang bangun dari tidur panjangnya.

Dan di gudang belakang rumah, dalam kegelapan yang pekat, katana biru gelap itu seolah-olah berdenyut.

Satu kali.

Pelan.

Nyaris tidak terasa.

Seperti detak jantung yang pertama setelah keheningan yang sangat panjang.


Sementara itu, di sebuah rumah mewah di distrik pusat Tokyo, persiapan sedang berlangsung untuk sebuah pesta besar.

Rumah itu milik seorang saudagar kaya bernama Tachibana Ryunosuke, pria berusia empat puluh lima tahun yang dikenal sebagai salah satu orang terkaya di Tokyo. Bisnisnya meliputi perdagangan sutra, rempah-rempah, dan sake, dengan jaringan yang membentang dari Kyoto hingga Edo. Rumahnya yang terletak di jantung kota adalah salah satu bangunan paling megah di Tokyo, dua lantai dengan atap genteng yang melengkung anggun, dikelilingi oleh taman-taman yang luas dengan kolam-kolam ikan koi dan jembatan-jembatan kayu yang melintasi parit-parit buatan.

Tachibana Ryunosuke bukanlah pria yang takut pada rumor.

“Yokai?” Ryunosuke mendengus ketika pelayannya menyampaikan peringatan gubernur. “Omong kosong. Orang-orang terlalu banyak minum sake dan terlalu banyak mendengar cerita nenek-nenek tua. Tidak ada yokai di Tokyo.”

“Tapi, Tachibana-sama,” pelayannya berkata dengan hati-hati. “Tiga puluh orang lebih sudah menghilang. Gubernur sendiri yang mengeluarkan peringatan.”

“Gubernur Yamamoto adalah pria tua yang takut pada bayangannya sendiri,” Ryunosuke mengibaskan tangannya. “Aku tidak takut pada yokai. Aku tidak takut pada apa pun. Dan pesta malam ini akan berlangsung sesuai rencana. Undang semua orang. Setiap pedagang, setiap bangsawan, setiap orang penting di Tokyo. Bawa sake terbaik dari gudangku. Siapkan makanan yang paling mewah. Malam ini, kita akan bersenang-senang.”

Pelayannya membungkuk dan pergi dengan wajah yang cemas.

Undangan untuk pesta Tachibana menyebar ke seluruh Tokyo dalam waktu kurang dari sehari. Dan meskipun ketakutan akan dua yokai masih menghantui pikiran banyak orang, undangan dari Tachibana Ryunosuke bukanlah sesuatu yang bisa ditolak dengan mudah. Dia adalah pria yang berkuasa dan berpengaruh, pria yang bisa membuat atau menghancurkan karier seseorang dengan satu kata. Menolak undangannya berarti menutup pintu untuk peluang-peluang bisnis di masa depan.

Satu per satu, para undangan menerima.

Pedagang-pedagang datang dengan istri-istri mereka. Bangsawan-bangsawan datang dengan selir-selir mereka. Pejabat-pejabat datang dengan pengawal-pengawal mereka. Dan banyak pria datang sendirian, tanpa pasangan, tertarik oleh janji sake gratis dan makanan mewah dan kemungkinan untuk bertemu wanita-wanita cantik di pesta yang terkenal selalu meriah.


Kabar tentang pesta Tachibana sampai ke rumah Kosuke dan Chihiro melalui Goemon, si penjual ikan.

“Pesta besar malam ini di rumah Tachibana,” Goemon berkata ketika Kosuke dan Chihiro datang membeli ikan keesokan paginya. “Seluruh Tokyo diundang. Makanan gratis. Sake gratis. Pertunjukan musik dan tari. Kau dan Chihiro-san harus datang.”

“Kami bukan pedagang atau bangsawan, Goemon-san,” Kosuke menjawab.

“Tidak perlu,” Goemon mengibaskan tangannya yang berbau ikan. “Tachibana mengundang semua orang. Dia ingin membuktikan bahwa Tokyo aman. Bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan. Dia bilang pesta ini adalah jawaban untuk rumor-rumor yokai yang membuat orang-orang ketakutan.”

Kosuke menatap Chihiro. Chihiro menatap Kosuke. Sebuah percakapan tanpa kata-kata berlangsung di antara mereka, percakapan yang hanya bisa terjadi antara dua orang yang sudah terbiasa membaca pikiran satu sama lain.

“Kita datang,” Chihiro berkata akhirnya.

Kosuke mengangkat alisnya. “Kau yakin?”

“Kita perlu tahu lebih banyak tentang apa yang terjadi di Tokyo,” Chihiro menjawab dengan logika seorang mata-mata yang tidak pernah benar-benar meninggalkan profesinya. “Pesta besar seperti ini adalah tempat terbaik untuk mengumpulkan informasi. Semua orang akan ada di sana. Semua orang akan bicara.”

Kosuke menatap Chihiro selama beberapa saat. Lalu dia mengangguk.

“Baiklah. Kita datang.”


Malam itu, mereka berjalan menuju rumah Tachibana di pusat kota.

Salju turun ringan, butiran-butiran kecil yang berkilau di bawah cahaya lentera-lentera yang menggantung di sepanjang jalan menuju rumah Tachibana. Jalan yang biasanya sepi di malam hari kini dipenuhi oleh orang-orang yang berjalan ke arah yang sama, kimono-kimono tebal mereka berwarna-warni, suara-suara tawa dan obrolan mereka mengisi udara malam dengan kehangatan yang kontras dengan dinginnya salju.

Kosuke mengenakan kimono abu-abu gelap yang sederhana namun bersih dan terawat, dengan haori hitam di atasnya. Rambutnya yang hitam diikat rapi ke belakang, memperlihatkan garis-garis tegas wajahnya yang diterangi oleh cahaya lentera. Dia tidak membawa pedang. Katana biru gelapnya masih terbungkus di gudang belakang rumah.

Namun tangannya yang kosong terasa gatal.

Chihiro berjalan di sampingnya, mengenakan kimono biru gelap dengan obi putih yang diikat rapi di pinggangnya. Rambutnya yang pendek dihiasi sebuah tusuk konde perak kecil yang berkilau samar di bawah cahaya lentera. Wajahnya yang biasanya tanpa riasan kini sedikit dipoles, pipinya diberi sedikit warna merah muda dan bibirnya diwarnai dengan pewarna alami yang halus.

Kosuke melirik Chihiro dan terkejut mendapati bahwa wanita yang setiap hari dilihatnya di dapur dengan celemek putih dan rambut berantakan ternyata bisa terlihat sangat cantik ketika dia mau berusaha. Terkejut, dan sesuatu yang lain yang membuat perutnya terasa aneh.

“Jangan menatapku seperti itu,” Chihiro berkata tanpa menoleh, pipinya yang sudah diwarnai merah muda menjadi lebih merah.

“Aku tidak menatapmu,” Kosuke memalingkan wajahnya dengan cepat.

“Kau menatapku,” Chihiro menegaskan. “Aku bisa merasakan tatapanmu. Aku mantan mata-mata, Kosuke. Aku tahu ketika seseorang memperhatikanku.”

“Aku hanya memeriksa apakah kau tidak kedinginan,” Kosuke berkata dengan alasan yang sangat tidak meyakinkan.

“Tentu saja,” Chihiro tersenyum kecil. “Tentu saja kau memeriksa itu.”

Mereka tiba di rumah Tachibana. Gerbang utamanya yang besar terbuka lebar, dihiasi oleh lentera-lentera merah yang menggantung di setiap tiang dan setiap dahan pohon di sepanjang jalan masuk. Musik terdengar dari dalam, suara koto dan shamisen dan taiko yang bercampur menjadi melodi yang meriah dan mengundang. Aroma makanan yang lezat mengapung di udara, bau daging panggang dan ikan bakar dan nasi yang baru dimasak dan sake yang hangat.

Di dalam rumah, pesta sudah berlangsung dengan meriah. Ruangan-ruangan yang luas dipenuhi oleh ratusan orang yang duduk di atas bantal-bantal, makan dan minum dan tertawa dan mengobrol. Geisha-geisha menari di panggung yang didirikan di tengah ruangan utama, kipas-kipas mereka berputar-putar dengan anggun mengikuti irama musik. Pelayan-pelayan berseliweran di antara para tamu, membawa nampan-nampan yang dipenuhi makanan dan sake.

Kosuke dan Chihiro menemukan tempat duduk di sudut ruangan yang cukup jauh dari panggung namun memberikan pandangan yang luas ke seluruh ruangan. Posisi strategis. Kebiasaan lama.

“Banyak orang,” Chihiro berbisik, matanya menyapu ruangan dengan ketelitian profesional. “Ratusan. Mungkin tiga ratus. Dan kebanyakan pria.”

Kosuke mengangguk. Dia juga sudah menghitung. Dari sekitar tiga ratus orang yang hadir, kira-kira dua pertiganya adalah pria. Banyak yang datang sendirian, tanpa pasangan. Beberapa membawa istri atau selir mereka, namun mayoritas adalah pria-pria yang datang sendiri, tertarik oleh janji sake gratis dan hiburan.

“Tempat perburuan yang sempurna,” Kosuke bergumam pelan.

Chihiro menatapnya tajam. “Kau berpikir yokai itu akan datang ke sini?”

“Kalau aku yokai yang memburu pria-pria tidak setia dan bernafsu,” Kosuke menjawab, matanya menyapu ruangan tanpa henti. “Aku akan datang ke tempat di mana pria-pria seperti itu berkumpul dalam jumlah besar. Dan pesta seperti ini adalah tempat yang sempurna.”

Chihiro menelan ludah. Tangannya yang tersembunyi di balik lengan kimononya bergerak, jari-jarinya menyentuh shuriken-shuriken kecil yang dia sembunyikan di saku tersembunyi di dalam obi-nya. Kebiasaan lama yang tidak pernah benar-benar ditinggalkan.

“Kita harus waspada,” Chihiro berkata.

“Ya,” Kosuke menyetujui. “Kita harus waspada.”

Pesta berlanjut. Waktu berlalu. Sake mengalir. Tawa semakin keras. Musik semakin meriah. Dan di atas semua itu, bulan bergerak perlahan-lahan di langit malam, naik semakin tinggi, semakin terang, semakin bulat.

Menuju purnama.


Kosuke merasakan perubahan itu sebelum melihatnya.

Udara di ruangan berubah. Suhu turun beberapa derajat dalam hitungan detik, membuat beberapa tamu menggigil dan menarik kimono mereka lebih rapat. Lilin-lilin yang menerangi ruangan berkedip-kedip, nyala api mereka bergoyang-goyang seolah-olah ditiup oleh angin yang tidak terlihat meskipun semua pintu dan jendela tertutup rapat.

Dan di antara ratusan orang yang ada di ruangan itu, dua wanita yang tadinya tidak ada kini hadir.

Kosuke tidak melihat mereka masuk. Tidak ada yang melihat mereka masuk. Mereka hanya tiba-tiba ada, seolah-olah mereka sudah di sana sejak awal dan semua orang hanya baru menyadari keberadaan mereka.

Wanita pertama berdiri di samping kanan pintu utama. Dia mengenakan kimono merah tua dengan motif bunga-bunga peoni emas, tubuhnya yang sintal dan menggoda bergerak dengan kelembutan yang hipnotis setiap kali dia berputar untuk berbicara dengan pria-pria yang mengelilinginya. Rambutnya yang hitam bergelombang ditata dengan indah, dihiasi tusuk-tusuk konde yang berkilau. Senyumnya lebar dan mengundang, matanya yang cokelat madu menatap setiap pria yang mendekatinya dengan kehangatan yang membuat mereka merasa seolah-olah mereka adalah satu-satunya pria di dunia.

Hone Onna.

Wanita kedua berdiri di samping kiri pintu utama, di dekat taman. Dia mengenakan kimono putih yang sederhana namun mempesona, kainnya yang halus berkilau perak di bawah cahaya lentera. Rambutnya yang hitam lurus menjuntai hingga ke pinggang, membingkai wajahnya yang putih pucat dan sempurna. Matanya yang biru pucat menatap keramaian dengan ekspresi yang datar namun menyimpan kedalaman yang tidak terukur. Dia tidak tersenyum. Dia tidak berbicara. Dia hanya berdiri dan mengamati.

Yuki Onna.

Kosuke mengenali mereka bukan dari wajah atau penampilan mereka, karena dia tidak pernah melihat mereka sebelumnya. Dia mengenali mereka dari aura mereka. Aura yang berbeda dari aura manusia biasa. Aura yang dia rasakan seperti getaran halus di ujung-ujung jari-jarinya, seperti bunyi frekuensi tinggi yang terlalu halus untuk didengar namun cukup kuat untuk membuat bulu-bulu di tengkuknya berdiri.

Aura yokai.

“Chihiro,” Kosuke berbisik, tangannya menyentuh lengan Chihiro di bawah meja.

“Aku melihat mereka,” Chihiro berbisik balik, matanya yang besar sudah terfokus pada dua wanita itu. “Yang kimono merah di kanan. Dan yang kimono putih di kiri.”

“Ya.”

“Kita harus pergi.”

“Belum,” Kosuke menjawab, matanya tetap terfokus pada dua wanita itu. “Kita amati dulu. Kita perlu tahu apa yang mereka rencanakan.”

Mereka mengamati.

Hone Onna bergerak di antara para tamu dengan keluwesan dan pesona yang luar biasa. Setiap pria yang dia dekati langsung tertarik kepadanya seperti besi yang ditarik oleh magnet. Dia menyentuh lengan mereka dengan sentuhan ringan yang membuat mereka bergidik. Dia tertawa dengan tawa yang merdu yang membuat mereka merasa lucu dan penting. Dia menuangkan sake ke cangkir mereka dengan gerakan yang anggun yang membuat mereka merasa dilayani oleh putri raja.

Dan satu per satu, pria-pria itu meninggalkan istri-istri dan pasangan-pasangan mereka untuk mengikuti Hone Onna ke sudut-sudut ruangan yang lebih sepi.

Yuki Onna bergerak dengan cara yang berbeda. Dia tidak mendekati pria-pria. Dia membiarkan mereka mendekatinya. Dia hanya berdiri di dekat taman, cantik dan misterius, dan pria-pria yang melihatnya langsung tertarik oleh kecantikannya yang dingin dan tidak terjangkau. Mereka mendekatinya satu per satu, menawarkan sake, menawarkan percakapan, menawarkan perusahaan.

Dan Yuki Onna mengamati mereka. Mendengarkan mereka. Menilai mereka.

Pria yang datang bersamanya istrinya namun meninggalkan istrinya untuk mendekati Yuki Onna, dia catat.

Pria yang berbohong tentang status perkawinannya, dia catat.

Pria yang memandangnya dengan mata nafsu, dia catat.

Setiap orang yang gagal dalam ujian kejujurannya, Yuki Onna menandai dengan tatapan mata biru pucatnya yang sesaat berkilat lebih terang dari biasanya.

“Mereka bekerja sama,” Chihiro berbisik, matanya bergerak-gerak antara Hone Onna dan Yuki Onna. “Yang merah menggoda. Yang putih menguji. Pria-pria yang gagal di ujian yang putih didorong ke arah yang merah.”

“Jebakan,” Kosuke mengangguk. “Jebakan yang sempurna.”

“Kosuke,” Chihiro menarik lengan kimononya. “Bulan.”

Kosuke mendongak melihat jendela kertas yang tembus cahaya di dinding terdekat. Di balik kertas itu, cahaya keperakan yang terang menyusup masuk, cahaya yang semakin terang dari menit ke menit.

Bulan purnama.

Dan di saat itulah semuanya terjadi.


Bulan purnama muncul dari balik awan terakhir yang menutupinya, bulat dan sempurna dan bersinar begitu terang hingga cahayanya menembus jendela-jendela kertas dan membanjiri ruangan dengan pendar keperakan yang dingin.

Hone Onna berhenti bergerak.

Yuki Onna berhenti bergerak.

Keduanya berdiri di posisi mereka masing-masing, tubuh mereka membeku selama sepersekian detik, seolah-olah waktu berhenti berputar untuk mereka berdua. Lalu, bersamaan, seperti dua boneka yang digerakkan oleh satu tali, mereka mulai berubah.

Kimono merah Hone Onna berkibar meskipun tidak ada angin. Kain yang menutupi punggungnya menggelembung, membesar, seolah-olah ada sesuatu di baliknya yang mencoba keluar. Dan sesuatu itu memang keluar. Satu per satu, tangan-tangan tengkorak menerobos kain kimono dari belakang. Tangan-tangan yang panjang dan kurus, terbuat dari tulang-tulang putih kekuningan yang beruas-ruas, jari-jari mereka yang panjang bergerak-gerak di udara seperti cakar-cakar yang mencari mangsa. Satu tangan. Dua tangan. Lima tangan. Sepuluh tangan. Dua puluh tangan. Tangan-tangan tengkorak itu terus bermunculan, menjulur ke segala arah, mengisi udara di belakang Hone Onna dengan hutan tulang-tulang yang mengerikan dan menari-nari.

Wajah Hone Onna tetap cantik. Senyumnya tetap menawan. Namun matanya yang tadinya cokelat madu kini bersinar dengan cahaya kekuningan yang tidak alami, dan di balik kulit wajahnya yang halus, kalau dilihat dari sudut yang tepat, tulang-tulang tengkoraknya terlihat samar-samar, seperti bayangan yang tersembunyi di bawah permukaan air yang jernih.

Di sisi lain ruangan, Yuki Onna berubah dengan cara yang berbeda.

Kimono putihnya yang tadinya diam dan tenang kini berkibar-kibar dengan kehebatan yang menyerupai badai salju yang terperangkap di dalam kain. Asap-asap putih memancar dari seluruh tubuhnya, lebih tebal dan lebih padat dari sebelumnya, menutupi separuh ruangan dengan kabut dingin yang membuat setiap permukaan yang disentuhnya membeku dalam hitungan detik. Lantai tatami di bawah kakinya berubah menjadi es. Cangkir-cangkir sake di atas meja-meja di dekatnya membeku solid. Dan dari mulutnya yang terbuka, taring-taring putih panjang muncul, berkilau seperti duri-duri es yang tumbuh dari langit-langit gua yang membeku.

Matanya yang biru pucat kini menyala dengan cahaya yang berpijar, dua bola api biru yang memancarkan dingin dan bukan panas, dua titik cahaya di tengah kabut putih yang mengelilinginya.

Teriakan pertama memecah keheningan yang mencekam.

“YOKAIIIII!”

Kekacauan meledak.

Tiga ratus orang yang tadinya makan dan minum dan tertawa kini berlari ke segala arah, menjatuhkan meja-meja, menumpahkan sake, menginjak-injak makanan, saling mendorong dan menabrak dalam kepanikan yang total. Teriakan-teriakan memekakkan telinga memenuhi ruangan, suara-suara pria dan wanita yang berteriak ketakutan, suara anak-anak yang menangis, suara meja dan kursi yang pecah.

Hone Onna bergerak.

Tangan-tangan tengkoraknya melesat ke depan, menjangkau pria-pria yang berlari di dekatnya. Satu tangan menangkap pergelangan tangan seorang pedagang gemuk yang berlari melewatinya. Pedagang itu membeku di tempatnya, matanya terbelalak, mulutnya terbuka dalam teriakan yang tidak bersuara. Kulit di pergelangan tangannya yang digenggam oleh tangan tengkorak mulai mengerut dan pucat, menyusut ke dalam, seolah-olah sesuatu di bawahnya sedang diserap keluar.

Dalam hitungan detik, pedagang gemuk itu berubah. Tubuhnya yang bulat dan besar menjadi kurus dan kering, kulitnya menempel ke tulang, matanya cekung ke dalam tengkoraknya, bibirnya menyusut memperlihatkan gigi-gigi yang menguning. Dan dalam hitungan detik lagi, bahkan kulit dan daging yang tersisa itu menghilang, meleleh seperti lilin yang dipanaskan, meninggalkan hanya tulang belulang yang kering dan rapuh yang runtuh ke lantai dalam tumpukan yang mengenaskan.

Debu.

Tangan-tangan tengkorak Hone Onna menjangkau pria-pria lain. Satu per satu. Dua per dua. Tiga per tiga. Setiap pria yang disentuhnya mengalami nasib yang sama. Energi diserap. Daging menghilang. Tulang belulang runtuh menjadi debu.

Di sisi lain ruangan, Yuki Onna bergerak dengan cara yang berbeda namun sama mengerikannya. Kabut dinginnya menyebar ke seluruh ruangan, membekukan setiap pria yang tidak setia yang sudah dia tandai sebelumnya. Satu tiupan napas dari bibirnya yang dingin mengirimkan gelombang es yang menghantam seorang pria yang tadi meninggalkan istrinya untuk mendekatinya. Pria itu membeku di tempatnya, tubuhnya berubah menjadi patung es yang sempurna, ekspresi ketakutan di wajahnya terperangkap selamanya dalam es yang bening dan keras.

Kosuke melihat semua itu.

Matanya yang terlatih merekam setiap detail dengan kecepatan dan ketelitian yang tidak dimiliki oleh mata-mata biasa. Tangan-tangan tengkorak Hone Onna yang bisa menjangkau korban dari jarak puluhan langkah. Kabut es Yuki Onna yang bisa membekukan manusia dalam hitungan detik. Kecepatan mereka. Kekuatan mereka. Jangkauan mereka.

Ini bukan yokai biasa.

Ini adalah yokai yang jauh lebih kuat dari apa yang dia bayangkan.

“CHIHIRO!” Kosuke berteriak di tengah kekacauan. Tangannya meraih tangan Chihiro dan menggenggamnya erat. “KITA PERGI! SEKARANG!”

Mereka berlari.

Kosuke menarik Chihiro melalui kerumunan orang-orang yang panik, tubuhnya yang besar dan kuat menerobos kerumunan seperti batu yang membelah arus sungai. Tangannya yang menggenggam tangan Chihiro tidak pernah melepas, jari-jarinya yang kuat melingkari pergelangan tangan wanita itu dengan genggaman yang protektif dan tidak tergoyahkan.

Mereka berlari melewati pintu samping yang sudah terbuka lebar, melompati tangga yang membawa mereka turun dari beranda ke halaman. Kaki-kaki mereka menginjak salju yang tebal, meninggalkan jejak-jejak yang dalam sementara mereka berlari menuju gerbang.

Di belakang mereka, teriakan-teriakan masih bergema dari dalam rumah Tachibana. Cahaya-cahaya lentera berkedip-kedip dan padam satu per satu, digantikan oleh pendar biru dingin dari kabut Yuki Onna yang menyebar semakin luas.

Dan di langit, bulan purnama bersinar dengan cahaya yang terasa kejam.


Mereka sudah hampir mencapai gerbang ketika Kosuke merasakan sesuatu di belakangnya.

Perasaan yang sangat familiar. Perasaan yang terakhir kali dia rasakan di halaman belakang rumah Takeda di Shizuoka, beberapa bulan yang lalu, ketika Jorogumo mengejar mereka melalui koridor-koridor yang gelap.

Perasaan diburu.

Kosuke menoleh ke belakang tanpa memperlambat langkahnya.

Dan dia melihat mereka.

Hone Onna dan Yuki Onna. Melayang di udara, beberapa meter di atas tanah. Tubuh-tubuh mereka yang setengah manusia setengah supernatural bergerak dengan kecepatan yang tidak mungkin dicapai oleh kaki-kaki yang berjalan di atas tanah. Hone Onna dengan tangan-tangan tengkoraknya yang menjulur ke segala arah, setiap tangan bergerak-gerak seperti ular yang mencari mangsa. Yuki Onna dengan kabut esnya yang berputar-putar di sekelilingnya, matanya yang biru berpijar menyala di kegelapan malam.

Mereka mengejar Kosuke dan Chihiro.

“MEREKA DI BELAKANG KITA!” Kosuke berteriak.

“AKU TAHU!” Chihiro berteriak balik, kakinya yang terlatih berlari secepat yang dimungkinkan oleh kimono yang membatasi langkahnya.

Mereka berlari menyusuri jalanan bersalju. Kiri kanan mereka, rumah-rumah yang gelap dan tertutup berjajar seperti penjaga-penjaga bisu yang menolak untuk membantu. Salju yang turun semakin lebat mengaburkan pandangan mereka, butiran-butiran putih yang tertiup angin menghantam wajah mereka, membuat mata-mata mereka berair dan perih.

Hone Onna dan Yuki Onna semakin dekat.

Kosuke bisa merasakan dingin yang memancar dari tubuh Yuki Onna di punggungnya, dingin yang bukan berasal dari salju atau angin, dingin yang supernatural dan menusuk hingga ke tulang. Dan dia bisa mendengar suara tulang-tulang yang bergerak-gerak di belakangnya, suara berderak-derak yang ritmis dan mengerikan dari tangan-tangan tengkorak Hone Onna yang mengulur-ulur, mencoba meraihnya.

“LEBIH CEPAT!” Kosuke berteriak.

Mereka berlari lebih cepat. Menembus salju. Menembus kegelapan. Menembus ketakutan. Kaki-kaki mereka yang terlatih bertahun-tahun untuk berlari di medan-medan yang sulit bergerak dengan kecepatan yang melampaui kemampuan manusia biasa, setiap langkah membawa mereka beberapa meter lebih dekat ke rumah mereka, ke keamanan, ke pintu yang bisa ditutup dan dikunci.

Rumah mereka muncul di kejauhan. Bayangan gelap di antara pepohonan yang tertutup salju, dengan beranda depannya yang familiar dan atap sirap kayunya yang menahan beban salju.

Kosuke dan Chihiro menerjang pintu depan.

Mereka masuk ke dalam rumah dan Kosuke langsung memutar tubuhnya, kedua tangannya menangkap pintu geser dan mendorongnya menutup dengan kekuatan yang membuat rangka kayunya berderak. Dia memasang palang kayu di bagian dalam pintu, lalu bergerak ke jendela-jendela, menutup dan mengunci setiap satu yang dia temui.

Napas mereka terengah-engah di dalam rumah yang gelap. Dada mereka naik turun dengan cepat, paru-paru mereka memprotes kekurangan oksigen setelah lari yang memacu nyawa. Keringat bercampur dengan butiran-butiran salju yang menempel di wajah dan rambut mereka, menciptakan tetesan-tetesan dingin yang mengalir di pipi-pipi mereka yang memerah.

“Chihiro,” Kosuke berkata di antara tarikan napas yang berat. “Pergi ke kamar. Berlindung di balik selimut. Jangan keluar sampai aku bilang aman.”

Chihiro menatap Kosuke. Matanya yang besar dan gelap berkilat di kegelapan rumah, dipenuhi oleh campuran ketakutan dan tekad yang saling berperang.

“Apa yang akan kau lakukan?” Chihiro bertanya meskipun dia sudah tahu jawabannya.

Kosuke menatap dinding belakang rumah. Dinding yang memisahkan ruang utama dari halaman belakang. Halaman belakang yang terdapat gudang kecil.

“Apa yang seharusnya sudah kulakukan sejak awal,” Kosuke menjawab.

Kosuke berlari ke halaman belakang. Kakinya menginjak salju yang tebal, langkahnya membawa dia ke depan gudang kecil dalam hitungan detik. Tangannya yang bergetar, bukan oleh ketakutan melainkan oleh adrenalin yang mengalir deras di pembuluh darahnya, meraih kunci gudang dan membukanya.

Di dalam gudang yang gelap, di balik tumpukan kayu bakar dan peralatan pertanian, katana biru gelap terbaring dalam balutan kain minyak dan tali kulit.

Kosuke meraihnya. Tangannya yang terlatih membuka ikatan-ikatan tali dan kain dengan kecepatan yang mengejutkan, jari-jarinya yang sudah lama tidak menyentuh pedang bergerak dengan memori otot yang tidak pernah hilang. Lapisan demi lapisan kain minyak terlepas, memperlihatkan sarung pedang biru gelap yang berkilau di bawah cahaya bulan.

Kosuke menggenggam gagang pedang.

Dan merasakan sesuatu yang sudah lama tidak dia rasakan.

Koneksi.

Koneksi antara tangannya dan pedangnya. Antara niatnya dan bilah baja yang tersimpan di dalam sarung. Antara dirinya yang sekarang dan dirinya yang dulu. Antara manusia biasa yang memotong lobak di dapur dan pemburu yokai yang menembus dada Jorogumo dengan satu tusukan yang fatal.

Koneksi itu tidak pernah putus. Dia hanya tidur. Seperti bara api yang ditutupi abu, menunggu hembusan napas yang tepat untuk menyala kembali.

Kosuke mencabut katana dari sarungnya.

Bunyi logam yang keluar dari sarung bergema di udara malam, tajam dan jernih dan menggema, seperti lonceng yang baru dipukul. Bilah biru gelap yang terungkap berkilau di bawah cahaya bulan purnama, ujungnya yang tajam memotong butiran-butiran salju yang jatuh di dekatnya menjadi dua belahan yang melayang-layang sesaat sebelum mencair.

Pedang itu masih sempurna. Tidak ada karat. Tidak ada noda. Seolah-olah waktu tidak memiliki kuasa atas baja ini.

Kosuke menghela napas panjang. Lalu dia berjalan ke pintu depan rumah.

Chihiro berdiri di ambang pintu kamar tidur, selimut sudah ditarik ke dadanya, namun matanya yang besar menatap Kosuke dengan tatapan yang menyimpan seribu kata yang tidak terucapkan.

“Kembali dengan selamat,” Chihiro berkata. Suaranya pelan namun tegas, tanpa tangisan, tanpa drama, hanya permintaan yang sederhana dan jujur dari wanita yang sudah terlalu sering melihat orang-orang yang disayanginya berjalan menuju bahaya.

Kosuke menatap Chihiro. Wanita yang memasak sup asin untuknya. Wanita yang menawar harga ikan dengan intensitas seorang jenderal. Wanita yang diam-diam menatapnya ketika dia melamun di dekat perapian.

“Aku akan kembali,” Kosuke berkata. “Aku janji.”

Kosuke membuka pintu depan dan melangkah keluar ke malam yang bersalju.

Katana biru gelap terhunus di tangan kanannya.

Mata-matanya yang tajam menyapu kegelapan di depannya.

Dan di kegelapan itu, dua pasang mata menyala.

Satu pasang biru. Satu pasang kekuningan.

Menunggu.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk