Aku sampai di rumah besar milik Kayra dan Brama beberapa menit sebelum pukul 10. Satpam yang menyapaku di pintu depan memberitahu bahwa Gia juga sudah datang. Itu artinya mereka sudah menungguku.
“Akhirnya nyonya besar datang juga,” sapa Kayra yang sedang duduk di sofa memangku mangkuk buah.
Posisi mangkuk yang berada di atas perut Kayra membuatku agak heran. Apa semua perempuan hamil memang selalu menjadikan perutnya sebagai pengganti nampan? Karena aku sering sekali melihat Kayra melakukan hal itu pada perutnya yang sudah terlihat sangat besar. Sahabatku itu mungkin akan melahirkan dalam beberapa minggu mendatang. Semua persiapan untuk kelahiran bayi perempuannya sudah siap, satu-satunya yang belum tuntas dibahas adalah tentang Breakfast in Bed yang mungkin akan kehilangan marketing strategist merangkap admin sosial medianya selama beberapa waktu.
“Udah lama nunggu?”
“Nggak, kok. Gia juga baru datang,” jawabnya. “Mau makan, ngemil atau minum, nggak?”
“Cemilan boleh, lah. Sama air putih yang banyak. Siapa tahu nanti seret pas meeting sama bapak investor.”
Kayra memanggil Pia, salah satu asisten rumah tangga yang lebih berfungsi sebagai asisten pribadinya karena selalu diajak ke mana pun Kayra pergi. Pia kembali menghilang setelah Kayra memesankan camilan dan minuman untukku.
“Laki lo mana? Kita jadi meeting nggak nih?”
“Brama masih ada conference meeting sama kliennya. Paling bentar lagi selesai.”
Aku mengangguk. Brama memang cukup sering bekerja dari rumah, beberapa karyawannya juga kerap terlihat mondar-mandir ke rumah ini. Aku pernah bertemu beberapa dari mereka, bahkan Kayra juga beberapa kali berusaha menjodohkanku dengan karyawan suaminya itu. Sahabatku memang jauh lebih terobsesi tentang pernikahanku dibanding diriku sendiri. Sepertinya dia agak kesepian menjadi satu-satunya orang yang telah menikah di tengah lingkungan pertemanan kami yang rata-rata masih sibuk bekerja.
Brama datang ke ruang TV bersamaan dengan Pia yang tengah menyajikan beragam camilan. Dia duduk di sisi Kayra dan mengecup sisi kening sahabatku itu.
“Sorry, ya, jadi pada nunggu,” ujar Brama.
“Ya udah, langsung aja ya, daripada nanti keburu kamu ada kerjaan lain,” ujar Kayra.
Aku, Gia dan Brama hanya mengangguk setuju.
“Ini laporan pertumbuhan profit Breakfast in Bed tiga bulan terakhir.” Kayra menekan tombol di remotnya dan sebuah halaman berisi bagan berwarna-warni muncul di layar televisinya.
“Ini aku udah liat, kan,” sahut Brama.
“Ih, semua juga udah liat, tapi kan meeting hari ini juga termasuk ngebahas soal uang. Udah, dengerin aku dulu,” omel Kayra. “Pada dasarnya pertumbuhan profit Breakfast in Bed dalam tiga bulan terakhir sangat membahagiakan. Ada pertumbuhan 120% dari kuartal lalu. Begitu juga dengan pertumbuhan sosial media yang sekarang sudah hampir 200.000 pengikut.”
Tampilan layar berubah, sebuah bagan baru muncul diikuti dengan laman sosial media Breakfast in Bed. Gia langsung sibuk mencatat di agendanya. Salah satu tugas Gia dalam meeting ini memang untuk menjadi notulen. Meski Gia hanya pegawai, tapi dia sudah kami percaya untuk mengerjakan banyak hal selain membantuku memasak dan mengantar makanan.
“Bagus!” puji Brama.
“Bagian itu memang bagus, yang nggak bagus adalah jumlah pesanan yang sering harus kita tolak karena kekurangan orang,” sambung Kayra.
“Iya, nih. Kita bener-bener butuh tambahan orang,” akuku.
“Kenapa nggak rekrut koki aja?” usul Brama.
“Kalau rekrut koki sebenarnya masalah dapur selesai, tapi itu nggak memberi solusi soal pengantaran dan penataan makanan,” jawabku.
“Kita butuh koki plus-plus,” sambar Kayra yang tawanya segera meledak.
“Kesannya gimana banget gitu kalau koki plus-plus, Bu,” ucap Gia menyuarakan pikiranku.
“Iya, pokoknya kalian ngerti, lah. Kita butuh koki yang juga mau nganter, jadi bisa sekalian plating makanan.”
“Gimana kalau mempekerjakan supir juga?”
Aku dan Kayra saling menatap. Sepertinya ide Brama itu cukup cemerlang.
“Gajinya gimana?” tanyaku.
“Ya, untuk awalnya kalian cari supir yang digaji harian aja. Jadi supirnya hanya datang dan digaji sesuai adanya pesanan, kalau nanti pesanannya memang sudah lebih banyak dan rutin, kalian gaji bulanan.”
“Emang ada yang mau digaji harian?” Alis Kayra bertaut.
“Sayang, zaman sekarang cari uang itu susah. Banyak orang yang butuh penghasilan harian untuk tambah-tambah. Coba cari dari kalangan mahasiswa, kan lumayan mereka nganterin pesanan kamu pagi-pagi sebelum ngampus, atau supir taksi online juga mungkin mau digaji setengah hari buat tambahan penghasilan mereka.”
“Bener tuh, Pak,” sahut Gia. “Kalau mau cari supir taksi online nanti saya tanyain sama tetangga-tetangga saja, kebeneran ada beberapa yang kerjanya supir taksi online.”
“Boleh juga tuh idenya,” ujarku. “Supir taksi online kan udah pasti punya kendaraan.”
“Berarti setelah meeting ini aku langsung bikin konten untuk buka lowongan driver freelance, nih, ya?”
Aku dan Brama mengangguk setuju. Begitu juga Gia yang langsung sibuk mencatat.
“Lalu apa lagi?”
“Kalau koki ada nggak ya yang mau digaji setengah hari?” Kayra terlihat ragu.
“Mungkin aja, kalau mereka kerjanya di tempat lain juga nggak full time.” Brama berujar sebelum mencomot sepotong kue dadar gulung yang tersaji di meja.
“Bener juga, Kay. Coba deh kita cari beberapa cook helper yang bisa digaji harian. Tapi gue sih maunya tetap ada koki yang full time buat back up kerjaan gue.”
Kayra mengangguk. “Kalau admin sosial media gimana?”
“Itu yang sebenarnya lebih urgent sih karena lo pasti nanti nggak akan bisa handle sosmed waktu baru-baru lahiran.”
Tentu saja aku tidak akan mungkin bisa mengambil alih semua pekerjaan Kayra di bulan-bulan awal setelah dia melahirkan nanti. Bukan karena tidak mau, tapi keharusan berbelanja, memasak, mengantarkan makanan, dan menerima pesanan sudah cukup menyita waktuku. Admin sosial media sepertinya adalah hal yang jauh lebih mendesak mengingat Kayra bisa melahirkan kapan saja di minggu-minggu mendatang.
“Kalau belum perlu yang full time, kan banyak admin sosmed yang suka nawar-nawarin jasa per hari atau per minggu itu, Bu,” usul Gia.
“Oh, iya juga, ya. Kenapa nggak kepikiran pake gituan selama ini?”
“Pikiran lo terlalu advance, sih,” ledekku.
“Berarti semua udah aman?” tanya Brama yang terlihat hendak beranjak dari duduknya.
“Tunggu, satu lagi.” Kayra menahan suaminya. “Kira-kira bisa nggak ya kita punya dapur terpisah dari apartemen Blanca? Kasihan kan dia jadi nggak bisa terima tamu atau kedatengan cowok kalau dapur kita masih di apartemennya.”
Aku mencebik mendengar kalimat terakhir sahabatku itu. Semacam aku sering menerima tamu atau punya antrian cowok-cowok yang mau datang ke apartemenku saja. Boro-boro, deh!
“Bisa. Kamu cari saja lokasinya, nanti aku transfer biaya sewanya.”
Semudah itu Brama memutuskan untuk memberi uang tambahan agar Breakfast in Bed punya dapur sendiri. Pria itu memang selalu menuruti segala kemauan Kayra, apalagi soal bisnis kami yang menurutnya cukup menjanjikan ini. Namun, aku merasa kebutuhan itu belum terlalu mendesak.
“Kayaknya soal dapur nanti aja, deh. Sekarang kita belum dapet koki dan cook helper-nya, loh. Malah akan nambah cost yang masih bisa dihemat. Punya dapur kan bukan hanya perkara sewa tempat, ada biaya lain kayak listrik, air, gas, kebersihan, dan lainnya yang harus kita pikirin matang-matang,” jelasku. “Mungkin kalau kuartal depan omset kita masih tumbuh dengan bagus baru kita pertimbangkan ulang untuk punya dapur.”
“Bener juga yang dibilang Blanca,” sahut Kayra.
“Oke. Aku juga setuju,” sambung Brama.
“Oke! Kalau gitu meeting hari ini udah selesai,” ujar Kayra. “Kamu mau pergi, ya?” sambung Kayra buru-buru saat melihat Brama menarik jasnya yang tersampir di punggung sofa.
“Iya, tadi Papi telepon minta ketemu. Kamu makan siang ditemenin Blanca aja, ya? Gimana, Ca?” Brama menatap ke arahku.
“Dengan senang hati,” jawabku.
“Oke. Aku berangkat dulu. Thanks, Ca, Gi.”
Brama beranjak dari duduknya meninggalkan kami bertiga yang masih lanjut membicarakan redaksi pembukaan lowongan kerja untuk koki, freelance driver, dan part time cook helper. Aku benar-benar berharap agar dapat menemukan orang yang tepat untuk mengisi posisi-posisi tersebut, karena memiliki tambahan beberapa tangan akan sangat membantu agar kami dapat melayani lebih banyak pesanan. Aku hampir frustasi karena sebulan terakhir terlalu sering menolak pesanan sarapan dari para penikmat Breakfast in Bed.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!