Fourth Course

1 dibaca

A
Farinaceous (Inggris) atau Farineaux (Perancis) adalah sajian berbahan dasar tepung yang merupakan beragam menu pasta. Ini adalah satu-satunya kontribusi Italia dalam susunan menu internasional. Pasta memiliki sekurangnya 200 jenis, dibedakan berdasarkan ukuran, bentuk, dan warnanya.


Jika aku tidak salah menghitung, ini adalah kali keenam dalam sebulan aku menyiapkan sarapan ke apartemen ini. Entah karena masakanku yang terlalu enak, atau pasangan pria ini memang senang memanjakannya. Yah, sebenarnya aku tak benar-benar peduli sih. Hanya penasaran.

Aku menuang jus jeruk, kemudian mengelap bibir gelas untuk memastikan semuanya disajikan dengan sempurnya. Aku memang suka keteraturan, dan hal itu selalu menguntungkan dalam urusan pekerjaanku. Baik ketika aku masih menjadi desainer interior dulu, ataupun sekarang dalam menyajikan setiap sarapan untuk para klienku.

Tiba-tiba sepasang tangan memeluk tubuhku dari belakang. Tubuhku menegang. Lidahku kelu.

“Kok nggak bilang kalau hari ini nggak terbang?” Suara pria itu terdengar parau. Hidungnya menggelitik leherku dan tanpa malu-malu menghidu parfum yang tadi kusemprotkan ke belakang telinga.

Gelas yang kupegang terlepas. Suara dentingnya memekakkan. Cairan kuning berhamburan ke segala arah.

Pelukan di pinggangku merenggang, dan aku berbalik. Yang terjadi selanjutnya adalah dua pasang mata kami saling menatap dengan keterkejutan yang hampir serupa.

“Maaf,” ucapku setelah bisa menguasai diri.

“Maaf. Saya kira kamu....”

Kalimatnya terhenti, tapi matanya masih menatap lurus padaku.

“Biar saya rapikan.”

Aku bergegas menjauh, mencari lap, membereskan semua kekacauan yang terjadi pada lantai marmer apartemen itu. Untuk beberapa saat aku fokus merapikan segala hal yang berantakan. Aku melakukannya secepat yang kubisa. Namun, jantungku rasanya hampir berhenti saat berdiri dan dua mata teduh itu masih terus mengawasiku.

“Maafkan saya. Saya bener-bener nggak tahu kalau kamu bukan...” Sekali lagi kalimatnya terhenti.

“Nggak apa-apa, Pak. Eh, Kak. Saya dari Breakfast in Bed, hanya mengantarkan sarapan.”

“Oh, jadi sarapan-sarapan yang enak ini dari kamu?”

“Bukan. Kak Tasya yang pesan.”

Ada sedikit keragu yang terlintas dalam pikiranku saat menyebutkan nama itu. Aku tidak tahu siapa Tasya, dan tidak ingin menduga-duga hubungan mereka.

“Maksud saya, kamu yang buat.”

“Oh, iya.”

Kemudian hening. Sebuah jeda panjang yang canggung.

“Saya ganti jusnya ya, Kak.”

“Nggak usah. Saya yang salah. Nanti kamu rugi,” ucapnya. “Eh, gelas kamu. Saya ganti ya?”

“Nggak perlu, Kak. Sudah risiko bisnis kami karena menggunakan alat pecah belah,” jawabku. “Saya permisi dulu, Kak.”

Sebelum pria itu menyahut, aku segera meraih tas termal yang kubawa, dan bergegas keluar dari apartemen miliknya.

Jantungku memacu dengan cepat. Napasku terengah.

“Hei ... Hei, kamu.”

Suara itu terdengar dari ujung lorong. Aku memencet tombol lift dan dengan sengaja tidak menoleh ke sumber suara. Sialnya aku bisa mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat.

“Hei, Breakfast in Bed.” Tangannya menepuk pundakku. “Saya minta maaf karena kelancangan saya.”

“Nggak apa-apa, Kak.”

“Gimana kalau saya traktir makan sebagai permintaan maaf?”

Serius nih? Aku menatapnya dengan heran. Pria di hadapanku ini malah ngajakin aku makan setelah tadi sukses bikin aku hampir semaput gara-gara dipeluk secara mendadak?

“Nggak perlu. Saya paham itu cuma kesalahpahaman.”

“Saya tetep nggak enak. Gimana kalau makan malam?”

Aku tersenyum seramah yang kubisa.

“Nggak perlu,” ulangku.

Pria ini sepertinya tidak paham penolakan. Terlebih lagi, dia tidak paham bahwa salah peluk itu nggak bisa dibayar dengan makan malam. Itu seperti pelecehan yang kemudian berlanjut dengan kencan. Aku belum sedepresi itu meski belum punya pasangan di penghujung usia 20-an ini.

Beruntung, lift di hadapanku akhirnya tiba dengan sebuah denting keras. Aku melangkah ke dalam lift dan memencet tombol B1. Aku sengaja tidak mengucapkan kata-kata lain untuk menutup perjumpaan yang aneh itu.

Namun, pria berbadan tegap yang hanya menggunakan jubah tidur itu berkata, “Nanti saya hubungi, ya.”

Dan aku hanya bisa panik saat pintu lift menutup sebelum mampu menyahuti ucapannya.

Sial!

Apa-apaan sih ini? Kok aku kayak masuk ke acara aneh sejenis Punk’D yang dulu sering kutonton di MTV. Apa aku emang lagi dikerjain? Tapi siapa yang ngerjain aku dengan cara seaneh ini?

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk