Soup (Inggris) atau Potage (Perancis) merupakan sajian pembuka kedua dalam sebuah jamuan makan. Biasanya disajikan dalam dua pilihan, sup bening dan sup kental. Hal yang unik adalah sup bening harus selalu diletakan paling atas dalam pilihan menu sup.
“Mbak, bahan-bahan untuk dimasak besok sudah saya siapkan di kulkas rak bawah.” Suara Gia memecah lamunanku.
“Tolong ditambahkan bahan American Breakfast satu porsi, Gi. Ada tambahan pesanan.”
“Jadi besok ada tujuh pesanan dan sebelas porsi, Mbak?”
“Iya. Tapi pesanan tambahannya saya aja yang antar. Kamu tetep antar pesanan yang untuk Frederica, Bu Surya, dan Hanifa aja.”
“Baik, Mbak.”
“Makasih ya, Gi,” imbuhku sebelum ia berlalu.
Aku menelusuri Instagram dan masuk ke akun milik Breakfast in Bed. Di antara kontraksi palsunya yang sering datang, Kayra masih berkomitmen untuk memposting gambar-gambar promosi. Sebenarnya kami sudah menemukan jasa admin sosial media yang nantinya akan mengurus postingan Instagram setelah Kayra melahirkan, tapi sahabatku itu berkeras bahwa dirinya masih sanggup mengurus sendiri. Jadi saat nanti Kayra mulai kontraksi, aku yang akan bertugas menghubungi admin sosial media untuk mengalihkan pekerja Kayra pada tim admin bayaran itu. Kalau berdasarkan obrolan kami beberapa hari lalu, Kayra bilang kami kemungkinan hanya butuh menggunakan jasa admin selama sebulan, tapi aku sudah mengingatkannya untuk tidak memaksakan diri untuk cepat-cepat kembali mengurus sendiri sosial media kami.
Dari semua foto yang sering kuperhatikan di Instagran, foto-foto yang ditandai oleh para pelanggan Breakfast in Bed adalah favoritku. Dari story yang sering di-repost Kayra, hingga halaman tag yang kerap dipenuhi foto-foto yang dibuat oleh para pelanggan selalu mampu membuatku tersenyum. Bahagia rasanya melihat orang lain menyukai pelayanan Breakfast in Bed dan begitu bersemangat membagikan pengalaman sarapan istimewa mereka. Visiku yang bisa dikatakan aneh bin ajaib beberapa bulan lalu, kini menjadi gambaran utuh yang terus menggulirkan kebahagiaan bagi aku dan Kayra, dan tentunya juga menambah pundi-pundi cuan kami.
Aku meregangkan tubuh, menyebabkan beberapa sendi tulangku berbunyi. Tubuhku sepertinya membutuhkan sedikit perhatian ekstra.
“Gi, saya mau mandi. Kalau sudah selesai kamu boleh langsung pulang.”
“Iya, Mbak.”
Aku beranjak dari sofa dan mulai melangkah menuju kamar. Namun, kemudian mengingat sesuatu yang membuatku kembali berbalik.
“Besok kita pake apron yang merah bata, ya, Gi.”
“Oke, Mbak.”
“Makasih ya, Gi.”
Aku masuk ke dalam kamar dan langsung menyalakan musik. Lantunan suara merdu Jascha Richter menyanyikan That’s Why You Go Away memenuhi udara saat aku masuk ke dalam bathtub. Aku barangkali bukan manusia paling romantis sejagad raya, tapi aku selalu menyukai lagu-lagu cinta.
Setelah That’s Why You Go Away yang dilanjutkan dengan teramat manis oleh Paint My Love, 25 Minutes, dan sederet lagu cinta ala MLTR lainnya aku memutuskan bahwa waktu berendamku sudah usai. Daripada kulitku keriput di semua area akibat berendam terlalu lama di air yang juga sudah mulai dingin, aku akhirnya mengangkat tubuhku dari bathtub.
Aku membungkus tubuh telanjang dan basahku dengan handuk besar sebelum berjalan melintasi kamar untuk membuka jendela. Salah satu keuntungan tinggal di apartemen dengan pemandangan kota adalah aku bisa melihat matahari tenggelam dengan khidmat. Keindahan luar biasa yang tak pernah aku lewatkan setiap harinya. Untuk beberapa menit yang berharga itu aku hanya menikmati detik-detik ketika biru bercampur jingga dengan indahnya, lalu memudar dalam garis-garis keunguan sebelum akhirnya berubah menjadi gelap. Pemandangan terindah yang setiap hari tak hentinya membuatku takjub pada semesta.
Meski mengaku sebagai seorang morning person, aku hampir tak pernah menikmati keindahan matahari terbit akibat kesibukanku. Padahal menikmati keindahan untuk sejenak melepas beban dan penat di kepala adalah hal yang paling dibutuhkan oleh orang-orang Jakarta yang kerap bekerja keras mengalahi kuda setiap harinya. Maka aku selalu meluangkan waktu untuk menit-menit sakral itu di setiap penghujung hari. Dan jika aku beruntung, seperti saat ini, aku bisa menyaksikan pula bintang-bintang yang mulai terlihat berkelip malu-malu pada langit yang jernih tanpa awan.
Langit kian gelap. Keindahan senja yang baru saja kunikmati kini tergantikan dengan titik-titik lampu yang menyebar di penjuru kota. Dari jendela apartemenku di lantai delapan, aku bisa melihat gedung-gedung lain yang lampunya mulai menyala satu per satu, juga jalan raya yang dipenuhi dengan lingkar-lingkar merah dan oranye. Malam ini tentu tak berbeda dari malam lainnya, tetap akan menjadi penghujung hari yang sibuk bagi mereka yang sedang berusaha membelah jalan menuju pulang.
Aku menutup kembali jendela kamar demi menghalau angin malam yang mulai berembus. Kemudian melangkah mendekati lemari, meneliti deret warna-warni yang mengisinya, lalu memutuskan mengganti handuk basahku dengan piyama satin abu-abu. Bunyi ponselku terdengar tepat ketika aku baru selesai memasang kancing terakhir piyamaku.
Kudekati nakas, melirik sekilas ke layar yang membuat nyumku merekah.
“Halo, Ma!” sapaku setelah layar ponsel dipenuhi wajah Mama.
“Halo, anak Mama. Lagi apa?”
“Baru selesai mandi, nih. Mau ngelurusin kaki sebentar sebelum makan malam,” jawabku.
“Capek, ya? Hari ini banyak pesanan?”
“Full booked. Besok juga full nih pesanannya.”
“Syukur, lah.”
Mama terlihat bangga. Aku memang harus banyak bersyukur karena memiliki orang tua yang selalu mendukung penuh pilihan-pilihan hidupku. Mendengar cerita dari banyak temanku yang sejak kecil dicekoki berbagai pikiran orang tua mereka, dipaksa meneruskan bisnis keluarga, hingga diharapakn melanjutkan cita-cita orang tua yang tak tercapai, selalu membuatku heran. Mungkin karena aku anak satu-satunya sehingga Mama dan Papa lebih membebaskanku memilih apa yang kuinginkan. Atau mungkin aku memang beruntung lahir dari orang tua yang agak nyentrik.
“Hari Minggu kamu ke rumah, kan?” tanya Papa yang tiba-tiba melongok ke layar.
“Iya, dong. Belum ada perubahan rencana.”
“Mau dimasakin apa?” tanya Mama.
“Nanti kita makan siang sambil nonton aja, ya,” potong Papa sebelum aku sempat menjawab.
“Hih! Papa ini ganggu saja! Mama kan lagi ngobrol sama Blanca.” Aku tertawa melihat Mama mendorong Papa menjauh. “Papamu itu mau pamer karena baru ganti TV, sekarang TVnya bisa dipakai untuk buka YouTube dan nonton Netflix.”
“Oh, Papa beli SmartTV?”
“Iya. Cuma ya begitu, lah. Kadang TVnya lebih smart dari orangnya.”
“Ih, Mama jahat!”
Aku tegelak. Kedua orang tuaku memang seperti Tom and Jerry. Mama dan Papa sering kali saling menggoda, menjahili dan meledek satu sama lain. Mereka seolah tak rela membiarkan pasangannya hidup tenang, selalu ada keributan yang berujung pada tawa.
“Bener, Ca. Sekarang si Papa tuh jadi suka gangguin tetangga depan rumah buat bantuin dia cari-cari film atau entah apa yang mau ditonton. Untung aja Roby orangnya ramah.”
“Roby tuh yang tetangga baru Mama, kan? Bukannya masih muda? Kok, mau aja dia diribetin sama Papa?”
“Soalnya Papa kan berwibawa. Jadi sebagai bapak-bapak yang lebih muda, Roby harus mau menolong senior,” ujar Papa yang kembali muncul di belakang Mama.
“Bapak-bapak senior? Kakek-kakak maksudnya?” goda Mama.
“Enak aja, Papa ini belum kakek-kakek. Lagian kalau Papa dibilang kakek-kakek, berarti Mama nenek lampir.”
Aku terbahak, terlebih ketika sesaat kemudian terdengar Papa mengaduh yang menurut dugaanku disebabkan oleh cubitan tangan Mama yang mendarat di salah satu area tubuhnya. Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala menyaksikan Papa meminta ampun pada Mama yang tidak terima disebut nenek lampir.
“Ya sudah, kamu makan malam dulu sana. Sampai ketemu hari Minggu, ya,” ujar Mama setelah dendamnya pada Papa terbayar tuntas.
“Kalau kamu ada daftar film yang bisa kita tonton kirim ke WA Papa, ya, Ca,” imbuh Papa.
“Oke. Sampai ketemu hari Minggu.”
Papa melambai, sedangkan Mama mengirimkan cium jauh sebelum memutus telepon. Aku merebahkan tubuh ke kasur dan meletakkan ponsel di atas dadaku. Kebersamaan dan segala keanehan kedua orang tuaku selalu membuat hatiku menghangat. Suatu hari nanti, aku ingin punya sesuatu seperti yang mereka miliki saat ini.
Suatu hari nanti.
Bukan sekarang.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!