Second Course

6 dibaca

A

“Selamat sore, Breakfast in Bed,” sapaku pada orang di seberang telepon.

“Sore, Mbak. Saya mau tanya pricelist sarapannya.” Perempuan di ujung telepon menjawab dengan ramah.

“Boleh, Kak.” Aku menyebutkan harga paket-paket Breakfast in Bed yang telah kuhafal di luar kepala.

“Aku ambil paket yang Single, American Breakfast, deh,” sahutnya.

“Ini dengan Kakak siapa, ya? Biar bisa kami catat.”

“Tasya,” jawabnya.

“Kira-kira untuk tanggal berapa ya, Kak Tasya?”

“Untuk besok, Mbak.”

Aku membuka monthly schedule dan mencari jadwal pesanan untuk besok. “Untuk besok kita full, Kak. Mohon maaf sekali.”

“Yah, nggak bisa diselipkan ya, Mbak? Saya cek di instagram Breakfast in Bed lokasinya dekat, kok. Bisa ya?” pintanya.

Aku berusaha memutar otak untuk mencari bahasa paling halus untuk menolak pesanan tersebut. Sejujurnya, mengatakan tidak pada pesanan yang datang masih terasa seperti menolak rezeki. Namun, apa daya, keterbatasan sumber daya manusia yang dimiliki Breakfast in Bed saat ini membuat kami kadang terpaksa menolak pesanan.

“Memang lokasi rumahnya di mana, Kak?” tanyaku.

“Apartemen GreenDaisy, tower dua.” Aku sepertinya memproses kata-katanya sedikit terlalu lama sehingga perempuan di seberang telepon itu beberapa kali memanggilku. “Halo, Mbak. Mbak?”

“Oh iya, Kak. Kalau di Apartment GreenDaisy bisa. Tapi pagi-pagi sekali nggak masalah ya, Kak?”

“Nggak masalah, Mbak. Jadi saya harus transfer berapa dan ke rekening mana ya?”

Aku menyebutkan nomer rekening dan total harga yang harus ditransfernya, kemudian mengulang data pesanan untuk memastikan semua sudah tercatat dengan benar. Aku juga memastikan beberapa detail penting tentang sang penerima untuk kucatat. Bicara soal makanan memang tidak serta-merta menjadi mudah. Beberapa orang memiliki selera, kecenderungan, bahkan alergi yang harus diperhatikan dalam penyajian makanan. Hal-hal tersebut penting untuk aku ketahui sebelum membuat makanan bagi para pelangganku.

“Untuk aksesnya bagaimana, Kak? Apa Kak Tasya sudah bilang pada penerima sarapan, atau pihak apartemen agar saya bisa masuk?” tanyaku memastikan.

“Nanti saya hubungi pihak apartemen untuk memberikan akses masuk. Yang mengantar bawa tanda pengenal, kan, ya?”

“Iya, Kak. Pengantar makanan membawa tanda pengenal dan memakai seragam berlogo Breakfast in Bed.”

Seragam berlogo itu adalah ide Gia. Karyawan kami satu-satunya itu kadang punya ide-ide cemerlang yang kerap aku dan Kayra lewati karena sibuk memikirkan hal-hal yang lebih jauh. Dengan menggunakan baju koki berlogo Breakfast in Bed, kini aku dan Gia menjadi lebih mudah untuk menjelaskan maksud kedatangan kami pada pihak-pihak terkait. Dengan begitu kesalahan yang menganggu seperti yang kualami beberapa bulan lalu tidak akan terjadi lagi.

“Nanti aku kabari kalau sudah transfer ya, Mbak,” tutupnya.

“Baik. Terima kasih atas kepercayaannya pada Breakfast in Bed. Selama Sore, Kak Tasya.”

Satu lagi last minute order yang akhirnya tak bisa aku tolak. Aku memijat pelipis untuk beberapa detik sebelum mengirimkan perbaharuan jadwal pesanan besok kepada Kayra. Tentu saja tak butuh waktu lama untuk Kayra menghubungiku.

“Pesenan nambah? Pembagian waktunya gimana? Udah lo pikirin belom?” Ibu hamil yang satu ini memang sering kali terlalu panikan.

“Pesanan yang baru itu lokasinya satu tower apartmen sama gue, jadi bisa gue drop sebelum nganter yang lainnya,” ucapku.

“Berarti besok ada tujuh pesanan, kan? Itu yang mana aja yang lo anter dan yang mana yang bagian Gia?”

“Gia sama supir nganter ke Frederica, lanjut ke Bu Surya dan Hanifa. Kebetulan kan Bu Surya dan Hanifa alamatnya juga deketan, tuh. Sisanya gue yang nganter.”

“Ya udah kalau gitu. Pastiin aja semuanya on time, ya.”

“Siap, Bosque.”

“Rese lo! Bikin gue pusing aja liat update-an order,” omelnya.

“Ya, makanya cepet cari tambahan karyawan!”

“Ini juga lagi diusahain! Gila ya susah banget nyari karyawan zaman sekarang, padahal kayaknya kita nggak ngasih syarat yang susah-susah, deh.”

Beberapa menit setelahnya aku masih berbincang dengan Kayra tentang ide-ide menu yang bisa dieksekusi, kenaikan harga bahan pangan, hingga kemungkinan untuk menaikan harga paket jika harga-harga bahan pokok terus melonjak. Berbisnis di bidang kuliner ternyata membutuhkan kemampuan matematika di atas rata-rata, terutama pada kondisi ekonomi yang sedang memburuk seperti sekarang. Sebelumnya aku tak pernah menyadari bahwa kenaikan harga dolar bisa mempunyai pengaruh sebesar itu pada harga cabai, bahkan garam.

“Ca, Ca ... udah dulu, ya,” ujar Kayra secara mendadak.

“Kenapa, Kay?”

“Biasa, perut gue nih.”

“Oh, ya udah. Lo istirahat makanya, jangan stress.”

“Iya! Bawel banget lu udah persis laki gue,” omel Kayra sebelum memutus sambungan telepon.

Perbincangan panjang itu harus berakhir karena Kayra mendapat interupsi dari kontraksi palsu yang dirasakannya. Kehamilannya yang sudah semakin dekat dengan HPL membuat keluhan yang dia rasakan menjadi lebih banyak. Sepertinya kami memang benar-benar membutuhkan karyawan tambahan sebelum Kayra melahirkan bayinya, aku tidak mungkin bisa menggerjakan semuanya hanya berdua dengan Gia setelah Kayra melahirkan. Kayra memang tidak membicarakan tentang cuti atau libur setelah melahirkan, tapi aku juga tidak mungkin memaksanya bekerja di masa recovery. Membayangkan Kayra tetap bekerja di minggu-minggu pertama setelah melahirkan saja sudah membuatku ikut kontraksi.

Aku meninggalkan ruang kerja dan melangkahkan kaki menuju sofa. TV layar datar yang terpasang di dinding menayangkan Food Network meski sejak tadi aku sama sekali tidak memperhatikannya. Bagi beberapa orang kebiasaanku menyalakan tv 24 jam adalah hal yang aneh. Bahkan kebiasaan itu pula yang membuat aku dan Mama sering kali berdebat. Tapi aku seolah memiliki autofobia, dan salah satu cara termudah untuk menghindari perasaan sendirian yang kadang membuatku cemas adalah dengan memastikan tv di apartemenku selalu menyala.

Aku tahu, dengan statusku yang belum menikah dan nggak punya pacar memiliki autofobia terdengar agak menyedihkan. Bahkan juga mungkin aneh karena meski takut akan kesendirian aku memilih untuk hidup mandiri di apartemen dibanding bersama Mama dan Papaku yang juga tinggal di Jakarta. Tapi, aku merasa tinggal bersama kedua orang tuaku saat aku sudah mampu menghidupi diriku sendiri adalah sebuah hal yang tak masuk akal. Sejak kuliah aku memilih untuk ngekost, dan setelah bisa menghasilkan uang sendiri aku rasa lebih tidak mungkin kalau aku harus terus merepotkan kedua orang tuaku.

Apartemen ini adalah rumah pertamaku. Setelah bekerja keras selama bertahun-tahun aku memberanikan diri untuk mencicil tempat tinggal. Apartemen dengan dua kamar yang aku miliki mungkin tak bisa dibilang mewah. Tapi paling tidak aku sudah bisa hidup mandiri dengan penghasilanku sendiri.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk