Mengajar adalah passion-ku, tapi aku tidak begitu sabar menunggu murid menyelesaikan tugas hingga molor. Karenanya kupilih profesi dosen. Mahasiswa lebih mandiri dibanding pelajar tingkat menengah. Tak perlu menguber mereka untuk mengerjakan tugas. Malas? Siap-siap dapat nilai buruk atau mengulang semester depan.
Hanya ada satu hal yang sedikit mengganggu. Usia mereka yang cenderung matang, apalagi jika tak langsung masuk kampus setelah lulus SMA, membuat mereka lebih berani mengekspresikan diri, termasuk masalah hati.
“Bu, nikah, yuk!”
Aku ingat ketika salah satu mahasiswa mengatakan itu di tengah-tengah kelas sedang berlangsung. Bukannya mengajukan pertanyaan terkait materi kuliah, dia malah mengajak nikah. Tentu saja seisi kelas jadi heboh.
Ada lagi satu momen yang kubenci semenjak menjadi dosen, dies natalis kampus. Itu karena kampus kami akan bersolek, termasuk penghuninya.
Para mahasiswa tukang goda seolah berlomba menunjukkan pesona mereka.
“Gimana, Bu? Ganteng, kan? Cocoklah jadi imamnya Bu Laura.” Heru, mahasiswa yang juga putra pemilik kafe di seberang kampus kami, memamerkan setelan formal di tubuhnya. Seolah berkata, “Menikah denganku, kau tidak akan hidup susah.”
Termasuk hari ini, dies natalis kampus kami. Aku berharap kejadian tahun lalu tak terulang, seorang mahasiswa melamarku usai menyanyikan lagu. Kurang ajar sekali.
“Kalian pasti tahu siapa dosen muda di kampus kita tercinta. Cantik, ramah, berprestasi. Sukses membawa tim kita menjuarai kompetisi matematika tingkat nasional. Sambutlah, Ibu Laura Hanifah Rasyid.”
Tepuk tangan membahana bahkan sebelum pembawa acara selesai menyebut namaku. Selanjutnya aku harus maju ke atas panggung untuk menerima penghargaan. Biasanya prosesi ini akan melibatkan pimpinan tingkat rektor.
“Penghargaan akan diberikan langsung oleh Bapak Faris Rahardian selaku pemilik kampus kita tercinta.”
Serta merta aku gugup, kenapa harus dia?
Lelaki tampan itu---duren kata orang-orang--- berdiri dari kursinya sambil tersenyum ke arah ribuan orang yang berjejer rapi di dalam aula. Tepuk tangan dua kali lipat lebih heboh dari yang tadi. Baiklah, sepertinya hanya aku yang gugup. Penonton? Bertepuk tangan sambil tertawa. Aseeem.
Kurasa mereka yang tertawa sedang mengingat berita konyol antara aku dan Pak Faris.
Terlintas kembali momen enam bulan lalu, ketika kami terkunci bersama di lift kampus. Sudah satu jam aku berduaan dengan lelaki yang saat itu aku tidak tahu siapa. Dia melonggarkan dasi dan membuka dua kancing atas kemejanya.
“Tutup matamu, Nona!”
Aku melongo ketika tiba-tiba dia bersuara. Saat itu aku tak sengaja menoleh ke arahnya, tepat ketika dia membuka kancing kedua.
Aku langsung memalingkan muka yang memanas. Kata-katanya barusan seolah menunjukkan bahwa aku jelalatan melihat lelaki ganteng. Namun, satu hal yang membuatku bertanya-tanya, bagaimana dia langsung tahu jika aku tiba-tiba meliriknya? Padahal, dari tadi kami saling diam dan acuh. Apa itu artinya justru dia yang memperhatikan aku?
Dia tak lagi berbicara. Lelaki itu sibuk dengan ponselnya, sesekali mondar-mandir, tampak kesal sekali.
“Ck, lift sialan. Kampus macam apa ini?” gerutunya dengan suara rendah yang masih dapat ditangkap oleh indra pendengaranku.
Barada dalam ruangan sempit dan tertutup membuatku kepanasan dan kehausan. Tidak mungkin kulepas hijab dan melonggarkan baju seperti dia. Satu-satunya penolong adalah jurnal ilmiah yang sudah kusut karena menjadi kipas darurat.
“Apa kau berniat menggodaku?”
Kutarik keluar tangan dari balik hijab. Ya, aku mengipasi dada dari balik dua lembar kain yang menutupi kepala hingga perut. Apa itu tampak seperti menggoda orang?
“Jaga bicaramu, Tuan!” Kubalas perkataannya yang menjengkelkan. Tatapanku tajam, menolak diintimidasi pria.
Dia tertawa mengejek. “Lancang sekali! Apa kau tidak tau siapa aku?”
Duh, sungguh pertanyaan yang kubenci. Memangnya siapa dia?
“Apa kau tidak tau siapa aku?” Kuulang kalimatnya. “Dengar, ya! Aku bukan ABG yang bisa kau intimidasi. Aku dosen di sini.”
Dia tertawa nyaring. Apa dia meremehkanku? Entah siapa orang ini. Aku hanya bisa menebak-nebak dari setelannya. Sepatu pantofel mengkilat, kemeja putih dan dasi. Tampak seperti salesman.
Tunggu, dia tak membawa apapun. Maksudku, biasanya salesman membawa tas atau map berisi brosur. Jangan lupakan barang-barang dagangannya. Dia berbeda. Salesman macam apa itu?
Tentu saja, dia terlalu tampan dan karismatik. Mungkin barangnya sudah habis diborong orang karena terpikat pada rupa. Hmmm, trik marketing yang bagus.
“Dosen, ya. Bagaimana kalau posisimu diturunkan, jadi cleaning service, mungkin?” Dia tertawa lagi. Ini siapa, sih?
“Memangnya siapa kamu?” tanyaku berang.
“Menurutmu, aku tampak seperti siapa?”
Ayolah, situasi ini tak memungkinkanku berpikir logis. Panas, pengap, lapar, haus, kebelet pipis, ditambah lagi orang asing menjengkelkan. Itu saja sudah cukup membuatku berubah menjadi singa.
“Salesman,” jawabku asal.
Ruangan yang tertutup, sempit, berdinding besi, membuat suara tawanya menggema. Aku sampai harus menutup telinga.
“Apa kau terlalu sibuk mengajar sampai tidak tau orang penting di tempat ini?” Dia masih tertawa sambil telunjuknya bergerak naik turun di depan wajahku.
“Pernah dengar nama Rahardian Sanjaya?”
Aku berpikir sejenak. Nama ini sepertinya tidak asing. Oh, aku ingat! Itu nama pemilik kampus kami. Aku pernah melihatnya sekali, hanya dari jauh, itupun saat aku berjalan tergesa karena urusan mendadak. Kutaksir usianya mendekati angka enam puluh. Wajahnya seperti ....
Belum juga pertanyaan lelaki itu kujawab, pintu lift tiba-tiba terbuka.
“Pak, Anda tidak apa-apa?”
Pak Dekan muncul begitu saja. Dia langsung menyambut lelaki itu, mengabaikan aku, dosen favoritnya. Seolah yang terjebak selama dua jam di dalam sini hanya satu orang. Dia bahkan menyodorkan botol air mineral yang sudah terbuka tutupnya. Aneh sekali.
Bukan hanya Pak Dekan, banyak lagi orang di luar sana, beberapa dosen, kepala jurusan, dan seseorang yang sigap mendekati lelaki tadi sambil menenteng sebuah tas kerja dan jas.
“Dari mana saja kamu?” tanya lelaki yang sepertinya bukan salesman.
Percaya, tidak? Keringat dingin mulai menyerangku. Tidak mungkin kan aku diabaikan demi seorang salesman? Jangan lupakan wajahnya---aku baru menyadarinya---mirip Pak Rahardian Sanjaya.
“Maaf, Pak. Tadi saya menerima telepon dari asisten Mr. Thomas. Saat saya menyusul, Anda sudah keburu masuk lift.”
Lelaki tadi berdecak tak suka. “Pakaikan jasku!” titahnya.
“Tapi, Pak. Anda berkeringat.”
“Pakaikan!” perintahnya tak peduli.
Aku? Keringat dingin lebih banyak. Ingin rasanya aku menghilang dari tempat ini. Apalagi ketika lelaki itu mendekat dengan jas yang sudah terpasang sambil menarik dasinya, langsung rapi.
“Jadi, Bu Dosen. Apa aku masih tampak seperti salesman?”
Mati aku.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!