Tante Dewi

2 dibaca

A

Bunyi spatula dan wajan menjadi suara latar aktivitasku pagi ini. Tante Dewi sedang membuat nasi goreng andalannya di dapur.

Sambil menyelesaikan setrikaan, mata ini sesekali menatap layar televisi yang menayangkan berita penangkapan koruptor di negara tercinta.

“Kak, nitip.”

Kupicingkan mata ketika Hasan menyodorkan celana sekolahnya.

“Kamu nih. Kebiasaan, ya. Sengaja bener nungguin Kakak nyetrika baru nongol.”

Dia cengengesan. “Hemat listrik, Kak. Sekalian latihan nyetrikain celana suami.”

“Suami apaan? Nungguin kamu mata-matain orang gak ada habisnya,” protesku sambil membentangkan celananya di atas papan setrika.

“Kan aku udah bilang, tunggu kompetisi karatenya kelar baru bisa jadi detektif lagi.” Dia membuka tutup stoples di atas meja lalu mengambil camilan dan memasukkannya ke dalam mulut. Enak sekali dia membiarkan kakaknya menyetrika. Untung adik kesayangan.

“Sebulan lagi, kan? Lama bener.” Aku memanyunkan bibir.

Dia tergelak. “Sabar dikit, napa, Kak? Udah pengen banget, ya, nikah?”

Nah, ini. Orang lain akan mengira aku menikmati melajang. Padahal kenyataannya aku geregetan ingin menyandang status istri. Memangnya siapa yang tahan berlama-lama dijadikan bahan candaan, digoda berondong hingga tua bangka, bahkan dicap perawan tua karena terlalu pemilih?

Apa boleh buat, trauma dibohongi oleh lelaki masih membekas. Aku tak bisa begitu saja percaya pada omongan lawan jenis. Sialnya, dari sekian nama yang mencoba mendekati selama beberapa tahun ini, tak satu pun jujur seratus persen.

Mungkin terdengar berlebihan, tapi itulah faktanya. Dari aksi mata-mata Hasan, terungkap jika mereka tak sepenuhnya jujur. Ada saja yang disembunyikan. Entah itu status pernikahan hingga anak, pekerjaan, masa lalu yang belum sepenuhnya lepas, bahkan ada yang memakai nama dan alamat palsu.

Selain masalah kejujuran, tentu saja pertimbangan agama tak boleh ketinggalan. Tak cukup hanya seiman, aku butuh suami yang punya semangat belajar agama agar kelak bisa membimbingku lebih baik. Tak harus ustadz atau hafidz, cukup dia menyisihkan waktu untuk tak melulu mengejar dunia.

Pernah terbesit dalam benakku untuk belajar menerima walau ada sedikit keraguan. Bukankah setiap orang punya rahasia? Asal tidak fatal, apa salahnya?

“Enggak. Aku nggak setuju. Pokoknya Kakak nggak boleh salah pilih. Kalau nekat juga, aku gak bakal mau jadi wali nikah.” Begitu kata Hasan ketika kukatakan mulai jenuh dengan aksi spionase yang tidak ada habisnya. Dia tahu sekali menggunakan hubungan darah kami sebagai alasan.

Daripada nanti terbukti dia benar dan aku salah, lebih baik mengikuti permainannya. Aku tidak mau kehilangan satu-satunya saudara demi cinta yang ... mungkin akan kandas. Siapa yang tahu?

Kutatap adikku yang masih mengunyah keripik dari dalam stoples.

“Enggak gitu juga. Kamu belum ngerasain sih digodain terus.”

Dia cuma mendelik lalu mengangkat bahu. “Amit-amit kalau aku digodain cewek.”

Aku melongo. Adikku ini memang dingin. Dia terlalu posesif pada kakaknya hingga tak peduli ada gadis yang diam-diam menaruh hati padanya.

Celana Hasan telah selesai kusetrika ketika Tante Dewi muncul dari arah dapur. “Sarapan dulu, yuk!”

Wanita paruh baya itu tak ada hubungan darah dengan kami. Bahkan tak ada yang tahu siapa dia sebenarnya.

Hasan menemukannya tergeletak tak berdaya di teras rumah belajar sepulangnya dari salat subuh pada suatu hari yang gerimis. Tante Dewi hanya mengenakan daster yang sobek, sepertinya karena tersangkut sesuatu. Tidak ada kartu identitas dan tak sepeser pun uang yang dia punya. Kami memutuskan untuk merawatnya di rumah sebab dia menolak dibawa ke puskesmas.

Menurut pengakuannya, Tante Dewi kabur dari kejaran suami yang jahat dan hampir menghabisi nyawanya. Itu terjadi setelah lelaki itu membawa wanita lain ke rumah mereka dan menguras harta yang dikumpulkannya bersama sang suami. Celakanya lagi, semua aset telah dibalik nama menjadi milik suaminya. Ya, itu karena terlalu cinta dan percaya pada suami. Hasilnya, Tante Dewi kehilangan semua.

Tante Dewi memohon untuk tinggal dan bersembunyi sambil menyusun rencana untuk kembali ke rumahnya. Keberadaannya tak boleh diketahui. Bahkan dia selalu memakai masker saat keluar rumah.

“Cobain, San. Tante udah bisa masak loh.” Wanita paruh baya itu membanggakan kreasinya. Dia menyodorkan sepiring nasi goreng di depan Hasan yang sudah duduk manis di kursi makan.

Aku sebenarnya tak pernah memintanya memasak. Kalau hanya membuat sarapan, aku masih sanggup melakukannya sendiri. Kami selalu makan siang di luar dan makan malam di kafe. Hanya pada hari Sabtu dan Ahad, atau saat libur aku menyalurkan bakat memasak di rumah.

Semenjak ada Tante Dewi, kami mulai rutin makan malam di rumah. Kasihan jika wanita malang itu harus makan sendiri.

Ternyata Tante Dewi tipe orang yang sulit dilarang. Dia tetap saja beraktivitas di dapur. Membuat Hasan seringkali harus sarapan tambahan di sekolah atau kabur ke kafe sebelum jam makan malam. Maklum, masakan Tante Dewi bukan makanan yang---kata Hasan---layak dinantikan.

“Gimana?” tanyanya lagi, menunggu reaksi Hasan.

Adikku yang seringkali menyebalkan tapi perhatian itu memutar bola matanya, membuat gerakan memutar dengan mulut yang tertutup, seolah mencari sesuatu untuk dicela. Sungguh sikap tak terpuji yang dilarang agama.

Wajah Tante Dewi langsung murung ketika Hasan memberikan jempol terbalik. Wanita itu kembali girang ketika jempolnya berubah posisi.

Aku hanya tersenyum melihat interaksi keduanya. Walau menumpang gratis, kami tak pernah memperlakukan Tante Dewi sebagai pembantu. Kehadirannya di rumah ini seperti pengobat rindu akan sosok ibu. Walau begitu, aku mewanti-wanti mereka untuk tetap menjaga adab. Bagaimanapun juga Tante Dewi tidak ada hubungan nasab dengan kami.

“Kalian ngobrolin apa tadi di ruang tengah?” tanya Tante Dewi di sela-sela kunyahan nasinya.

“Cuma bahas calon suaminya Kak Ra.”

Aku menendang kaki Hasan dari bawah meja saat dia menjawab sambil terkekeh.

“Kamu udah punya calon, Ra?” tanya Tante Dewi penasaran.

Ih, gara-gara Hasan, dia pasti mengintrogasiku lagi setelah ini.

“Jangan dengerin dia, Tante. Ngasal aja tuh.” Aku memotong telur dadar lalu memasukkannya ke dalam mulut.

Tante Dewi bergeming. Dia menatapku intens membuat salah tingkah. Tuh, kan. Dia tidak akan berhenti jika aku tak buka suara.

“Nggak ada, Tante. Hasan aja tuh yang asal ngomong.”

“Bohong. Siapa tuh namanya pemilik foto kemarin?”

Aku melotot pada Hasan. Anak itu, benar-benar.

“Romi,” sambungnya lalu tertawa.

“Romi?”

Pertanyaan Tante Dewi membuatku menoleh ke arahnya. Itu ekspresi yang tak wajar.

“Tante kenal?” tanyaku.

Dia langsung gelagapan. Aneh.

“Eh, enggak.”

Aku memicingkan mata. Sepertinya Tante Dewi menyembunyikan sesuatu.

“Kamu udah kenal orangnya? Keluarganya gimana?”

Sungguh, ini pertanyaan yang aneh. Biasanya Tante Dewi akan bertanya asal, suku, pekerjaan, atau bahkan tampangnya seperti apa.

“Cuma tau nama. Tugas Hasan tuh nyari tau.”

“Tuh, kan. Dibilangin belum sempat juga. Ngebet banget, sih.” Hasan membela diri.

Aku malas menanggapi lagi. Pembicaraan ini akan panjang, bisa telat aku ke kampus nanti.

“Menikah itu bukan cuma tentang suami dan istri, tapi juga tentang keluarga besar. Sebisa mungkin pilih lelaki yang keluarganya bisa menerima kamu dengan baik. Gak enak loh, berada di antara suami dan keluarganya yang berbeda sikap sama kamu.”

“Tante kenal, kan?” Kutodong dia dengan pertanyaan. Tante Dewi bersikap seolah mengenal keluarga Romi. Apa yang dikatakannya barusan terdengar seperti peringatan bagiku.

“Bukan begitu, Ra. Tante cuma mengingatkan kamu. Kalau misalnya keluarganya baik dan dia tulus, ya Alhamdulillah.”

Sudahlah, aku tidak mau mengorek apa pun lagi. Tante Dewi tidak akan bicara kecuali jika dia ingin.

“Eh, Ra. Kalau misalnya kamu dilamar duda, gimana?” tanyanya tiba-tiba.

Aku berpikir sejenak, “Asal dia sudah move on dan memenuhi syarat, kenapa enggak?”

“Kalau dia punya anak, gimana?’”

Aku mencoba menelisik wajahnya, kelihatannya dia sedikit tegang menunggu jawabanku.

“Gimana, ya? Aku takut nggak bisa menyayangi anak sambung seperti anak sendiri.” Aku yakin ekspresinya menunjukkan bahwa dia kecewa mendengarnya.

“Kamu dikelilingi anak kecil, Ra. Kamu mendidik mereka dengan penuh kasih sayang. Bagaimana mungkin kamu enggak bisa menerima anak sambung?”

Aku pura-pura berpikir sambil mengamati bagaimana TanteDewi menunggu jawabanku. “Hmmm, bener juga. Ralat, deh. Asal anaknya masih kecil, masih bisa diarahkan, sepertinya nggak masalah.”

Aha! Tante Dewi tersenyum lega. Itu membuatku makin curiga.

Apa sebenarnya yang kamu sembunyikan, Tante?

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk