Bargaining Position

0 dibaca

A

Aku tengah berada di ruang ber-AC, tapi tetap terasa gerah. Pak Dekan mondar-mandir dengan gusar.


“Bagaiman sekarang? Bu Laura sudah menyinggung perasaan Pak Faris. Bisa-bisanya pemilik kampus dianggap salesman.”

Aku baru tahu kalau ternyata kepemilikan PTS ini---sejak seminggu yang lalu---sudah dialihkan ke Pak Faris Rahardian, putra tunggal Pak Rahardian Sanjaya. Kurasa aku perlu menghabiskan waktu lebih lama untuk mengobrol dengan rekan dosen yang lainnya agar tak terlalu kudet, bukannya sibuk mengontrol kafe dari ponsel.


“Saya siap dengan konsekuensinya, Pak. Jika harus mutasi ke luar Jakarta, saya lebih baik mengajukan surat pengunduran diri.” Setenang mungkin kujawab kegundahan Pak Dekan.


Daripada tak bisa mengawasi kafe dan menemani Hasan yang sudah kelas dua belas, lebih baik melepas profesi ini. Penghasilan dari kafe masih cukup untuk kami, apalagi masih ada indekos yang tak pernah sepi penghuni. Aku juga aktif membuat konten pembelajaran matematika, sains, dan bahasa Inggris dan mengunggahnya di internet.


Ada untungnya berstatus dosen kontrak, tak perlu ribet jika ingin mundur. Memang sejak awal aku tak berniat ikut tes ini itu. Aku tidak suka terikat dengan aturan yang ribet. Jika bukan di lembaga formal, tentu bisa mengajar di lembaga nonformal.


“Tidak bisa begitu, Bu Laura. Kontrak Anda belum selesai. Kampus ini juga masih butuh keahlian Bu Laura. Kita harus berusaha dulu agar Pak Faris membiarkan Anda terus mengajar di sini.”


Kenapa kedengarannya seperti aku harus melakukan sesuatu yang tak kusukai?


“Maksud Bapak?”


“Minta maaf, kek.”


“Kan sudah tadi, Pak.”


Setelah insiden dalam lift usai, aku langsung meminta maaf pada Pak Faris saat itu juga. Sayangnya, dia sudah tersinggung dan meninggalkan lokasi begitu saja. Bahkan rapat yang mestinya dia pimpin harus ditunda hingga dia punya waktu luang lagi.


“Bukan minta maaf begitu, Bu. Tadi kan beliau gak terima.”


“Jadi?”


“Aduh, Ibu ini gimana, sih? Usaha dong. Datang ke kantornya, minta maaf secara pribadi.”


Oh, no! Kedengarannya seperti aku harus menjadi pengemis. Jika aku dipecat secara tak hormat, peduli amat.


“Maaf, Pak. Apa harus seperti itu? Ini murni ketidaksengajaan saya. Saya lebih baik dipecat jika harus mengemis maaf.”


Kalau dipikir-pikir, aku memang sedikit kurang ajar. Sedikit saja, tapi.


Pak Dekan berang. Kedua alisnya merapat ke tengah.

“Anda keras kepala sekali. Namanya orang salah, ya harus minta maaf. Bukannya malah menghilang begitu saja.”




Gedung di depanku menjulang tinggi. Delapan huruf besar-besar menempel pada dindingnya membentuk kata PT Ravion. Tempat di mana keluarga Rahardian menghasilkan kekayaan yang membuat orang sepertiku tampak seperti tikus kecil. Tak berguna, dikejar kucing, dibenci penghuni rumah, lalu ketika mati, orang menutup hidung karena baunya.


Gara-gara Pak Dekan yang ngotot, aku harus masuk ke gedung itu, menemui pimpinan yang mungkin siap menerkamku.


“Tegakkan kepalamu, Laura!” Bisikku pada diri sendiri, memberi kekuatan menghadapi bos gedung yang kupikir penjual produk bermodal tampang. Duh, jika mengingat momen kemarin, sepertinya menceburkan diri ke dalam got masih lebih baik.


“Jadi, Bu Dosen. Apa aku masih tampak seperti salesman?” Sungguh pertanyaan itu membuat nyaliku ciut, rasa dingin menjalar di sekujur tubuh. Orang itu menunjukkan kesombonganku yang tolol sementara dia mengangkat derajatnya.


Dosen melawan direktur. Seperti cicak melawan buaya, tentu saja si cicak kalah telak.



“Ada yang bisa kami bantu, Mbak?” Seorang wanita berwajah mulus tersenyum ramah padaku.


“Saya ingin bertemu Pak Faris Rahardian.”


“Sudah ada janji sebelumnya?”


“Tidak.”


“Kalau begitu, silakan tunggu sebentar. Saya akan menghubungi asistennya untuk memastikan apa beliau ada waktu untuk tamu tak diundang. Eh, maksud saya tamu tanpa janji temu. Maaf.” Wanita itu menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


Percuma. Aku sudah mendengarnya.


Hah, belum ketemu bosnya saja mood-ku sudah rusak begini.


Dia melakukan panggilan telepon sementara aku mengedarkan pandangan ke sekeliling.


“Pak Direktur baru saja selesai rapat. Untuk tiga puluh menit ke depan beliau kosong. Anda bisa menemuinya jika beliau berkenan. Saya butuh nama dan tujuan Anda.”


Wanita itu menunggu jawabanku. Ribet sekali ketemu pimpinan perusahaan. Di kafeku, siapa saja bisa masuk ruang manager, cukup mengetuk pintu. Bahkan keluarga Ayah tak perlu mengetuk, masuk saja tanpa permisi, masih untung jika tak langsung main labrak.


“Laura. Saya datang untuk ... bersilaturahmi.”


Aku tahu itu terdengar konyol, buktinya orang di depanku sampai tersenyum sinis dan memindai tubuhku. Ada yang salah?


“Anda yakin?” Aku mengangguk.


“Kalau Anda berniat menggoda bos kami, silakan mundur.”


Sialan. Dilihat dari mananya aku ini tampak seperti penggoda?


“Maksud Anda?” tanyaku tersinggung.


Bertahun-tahun kubangun citra tak tersentuh lelaki buaya dan tak kan kujual murah harga diriku, orang ini malah merendahkan sedemikian rupa.


“Jangan tersinggung. Selama tiga tahun ini bos kami sering kedatangan tamu wanita, dari yang lugu sampai suhu. Belum ada yang penampilannya seperti Anda.”


Wah, kedengarannya Pak Direktur ini termasuk spesies buaya darat. Aku harus berhati-hati.


“Itu karena yang datang bukan saya. Jadi, bagaimana? Saya bisa ketemu apa tidak? Anda sudah membuang waktu saya yang berharga.” Sombong sedikit, bolehlah.


Wanita itu kembali melakukan panggilan telepon.


“Nama Anda tidak dikenal bos kami. Apa ada identitas spesifik?”


“Bilang saja dosen di dalam lift,” kataku asal.


Bodo amat, setelah meminta maaf, aku akan mundur dari kampus. Tak perlu lagi berurusan dengan orang sepertinya. Itu pun jika aku diterima.


“Baiklah. Anda ditunggu di ruangan direktur. Silakan gunakan lift di sana.” Dia menunjuk ke arah kanan, di mana seorang berbaju keamanan duduk sambil memainkan ponsel.


“Itu lift khusus, langsung ke lantai di mana ruang direktur berada.”




Desain interior gedung ini sangat menarik. Dinding dicat dengan warna-warna cerah dilengkapi kalimat-kalimat motivasi pada beberap titik memberi kesan energik, fresh dan visioner. Seperti nama perusahaan mereka, Ravion, yang ternyata diambil dari kata Rahardian Vision.


Aku berjalan mendekati ruang direktur. Lelaki berseragam keamanan dengan handy talky di pinggang mempresilakanku masuk, setelah dia lebih dulu meminta ijin pada orang di dalam ruangan paling prestisius di tempat ini.

Pintu dibuka dari dalam dan aku langsung disambut oleh lelaki yang kemarin memakaikan Pak Faris jas. Kurasa dia semacam asisten pribadi.


“Selamat datang, Bu Dosen.” Bahkan lelaki itu mengolok-olokku, sementara sang bos terkikik di kursi kebesarannya.


“Anda beruntung, mood-nya sedang bagus.” Orang itu berbisik sebelum mempersilakanku duduk di depan meja kerja direktur.


“Apa yang membawamu ke mari, Bu Do---.”


“Laura saja, Pak.” Kupotong kalimat Pak Faris. Caranya memanggilku sungguh tak nyaman didengar.


“Kalau begitu, panggil aku Faris, bukan salesman.”


Kini giliran asistennya yang terkikik. Sungguh sial, aku menjadi bahan tertawaan di sini.


Pak Dekan, inikah yang kau mau?


“Maafkan kelancangan saya, Pak. Saya benar-benar tidak tahu Anda siapa.”


Dia diam. Ujung kukunya mengetuk permukaan meja yang sepertinya berbahan kayu jati, suara yang ditimbulkan melengkapi suasana tak nyaman di sini.


“Begitu saja?”


“Maaf?” Aku menatapnya bingung lalu membelokkan pandangan ke sisi kirinya, ada rak dengan buku-buku berjejer di sana. Menatap wajahnya hanya menambah ketegangan. Plus dosa, kurasa. Dia terlalu ..., ah sudahlah.


“Kamu datang ke sini hanya untuk meminta maaf agar tidak dipecat, bukan?”


Tuh, kan. Ini yang kubenci. Mengemis maaf demi pekerjaan.


“Sebenarnya, saya hanya ingin meminta maaf. Masalah pekerjaan, tidak ada bedanya saya tetap dibiarkan bekerja atau dipecat. Tapi ....”

Kujeda kalimat, ekspresinya mulai berubah dan menatapku lebih lekat. Mungkin tak menyangka dengan apa yang didengar.


“Daripada menunggu dipecat, saya lebih baik mengundurkan diri.” Kuakhiri kalimat sambil tersenyum berharap dia tak tersinggung.


Diluar dugaan, dia malah terbahak sampai kedua bahunya terguncang.


“Sombong sekali,” katanya lalu kembali tertawa. “Kamu jual mahal begini karena tahu tidak akan dilepas begitu saja, kan? Aku sudah dengar prestasimu. Hahahaha, pandai sekali memanfaatkan bargaining position.”


Kuanggap itu pujian. Boleh, kan, aku ikut tertawa?


Yang elegan, Laura. Bukan nyablak!

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk