Puluhan pasang mata menatap tanganku yang menari di papan tulis. Sesekali beralih ke layar putih yang menggantung di depan kelas, tempat di mana slide show kutayangkan saat memberikan penjelasan tambahan.
Sebenarnya, wajah-wajah yang kelihatan serius itu terbagi dalam dua kelompok. Satu memang memperhatikan penjelasanku, satu kelompok lainnya tenggelam dalam pesona dosen mereka, yaitu aku.
Memang kedengarannya GR, tapi cukup logis. Tidak percaya? Lihat ini!
“Kamu, soal nomor tiga!” Aku menunjuk salah satu dari para kaum Adam yang langsung cengengesan tidak jelas.
“Jangan bertiga, Bu. Berdua saja. Saya orangnya setia, kok.”
Apa kubilang!
Suara tawa tertahan terdengar dari barisan para mahasiswa. Aku melangkah mendekati kursi paling depan, di mana lelaki muda tukang gombal tadi duduk dengan senyuman menyebalkan.
Kuletakkan ujung spidol pada permukaan meja dan mengetuknya pelan. Kedua mataku tajam seolah menguliti lelaki itu dengan segenap kekurangajarannya.
“Saya tidak peduli kamu setia atau ba jing an. Kerjakan soal nomor tiga, tutup mulutmu, atau tinggalkan kelas saya! Pilih mana?”
“Pilih Ibu.”
Tahan, Laura! Jangan norak!
Aku menghela napas, menahan greget di dada. Lagi-lagi ada mahasiswa over PD yang mengira bisa membuatku luluh dengan gombalan recehnya. Sesuatu yang membuatku tersanjung sebagai dosen muda paling menawan, tapi sekaligus amat kubenci karena sikap jutekku ternyata hanya mereka anggap angin lalu.
Aku tidak bergeser dari posisi saat ini. Ujung spidol yang kugunakan untuk mengetuk meja lelaki muda di depanku menimbulkan suara yang sangat jelas di telinga, karena mendadak kelas menjadi hening.
Tak ada lagi suara tawa tertahan. Kurasa pesanku sampai, bahwa aku tidak pernah ragu memberikan nilai E untuk mereka yang memang layak mendapatkannya, seperti lelaki yang saat ini sudah mulai tampak gelisah.
Dia mengalah dan meraih spidol yang kuulurkan padanya. Sambil cengengesan pada teman-temannya, dia melangkah menuju papan tulis seperti orang yang punya stok percaya diri berlimpah. Sebuah buku catatan tak luput dia bawa serta.
“Nomor tiga halaman 257!”
Tangannya berhenti, tak jadi menggoreskan tinta pertamanya pada bagian papan tulis yang masih kosong.
“Bukan yang ini, Bu?” tanyanya sambil menunjukkan soal nomor tiga beserta jawabannya dari halaman buku yang berbeda.
“Bukan. Materinya sama, hanya soalnya yang berbeda. Kenapa? Yang punya buku itu belum ngerjakan?”
Barulah seisi kelas kembali tertawa, karena aku tahu pasti siapa pemilik buku yang dia pegang. Seorang mahasiswi cantik dengan bulu mata yang lentik, paling cerdas di antara yang lain.
Ada untungnya jeli mengingat tulisan para mahasiswa dengan kemampuan di atas rata-rata. Aku akan dengan mudah mendeteksi jika ada yang memanfaatkan mereka. Termasuk gadis miskin yang tinggal gratis di indekos milikku itu.
“Bu, Bu Laura.” Seorang mahasiswa semester enam berlari ke arahku. Aku ingat dia, salah satu penggemar selain lelaki berambut cepak yang tadi tak berkutik menghadapiku.
“Tugas terakhir saya belum selesai, mohon bimbingannya.” Dia tersenyum manis, lebih tepatnya dimanis-maniskan. Padahal orang yang diajaknya berbicara sekarang sudah manis bak madu.
“Bimbingan apa lagi? Bukannya kamu sudah punya modul? Kamu juga bisa cari referensi di internet, tidak harus dari saya.” Kutolak permintaannya, mahasiswa kurang kerjaan sepertinya memang terkadang meresahkan.
“Tapi beda kalau tatap muka, Bu. Berasa lebih mantep aja, lebih cepat nyerap ilmunya “ Lagi-lagi dia tersenyum. Kali ini dengan mengatupkan dua tangan di dada. “Please,” sambungnya.
“Jangan banyak alasan, Wawan. Kita ketemu di kelas dua kali dalam sepekan, lima hari di luar kelas. Apa itu belum cukup?”
“Belum, Bu.” Girang sekali wajahnya. Bodo amat.
“Berarti kamu memang butuh referensi dari luar, bukan cuma ngandelin pertemuan di kelas dan jadwal belajar regulermu yang banyakan ngebanyolnya dari pada belajarnya.”
Skak mat. Dia melongo.
Aku memutar tubuh lalu berjalan menuruni tangga. Masih terdengar suara mahasiswa lain yang saling bersahutan dan tertawa. “Kasian deh lu, Wan. Modusnya gagal mulu.”
“Gagal maning, gagal maning, ha ha ha.”
Ya, itulah faktanya. Jadi dosen lajang ternyata banyak godaan. Apalagi umurku baru 28 tahun, sebulan lagi 29. Jarak yang masih wajar, kata mahasiswa-mahasiswa ganjen itu.
“Makan, Bu Laura? Bereng, yuk!”
Yang ini Pak Taufan. Dosen dari jurusan biologi. Padahal letak ruang kerja kami berjauhan, bisa-bisanya dia muncul di koridor jurusan matematika.
“Dari mana, Pak?” tanyaku berbasa-basi. Eneg rasanya melihatnya muncul dengan rambut klimis berminyak dan gestur yang—kata mahasiswi doyan bergosip—me sum.
“Oh, itu, tadi nemuin Pak Gery.”
“Bukannya Pak Gery masih di luar kota? Lagi ikut workshop sampai dua hari ke depan.”
Dia gelagapan sendiri. “Oh, itu, maksudnya mau nemuin dia, ternyata orangnya nggak ada.”
Lihat, kan? Bukan mahasiswanya saja yang ganjen, dosennya juga. Pak Taufan ini lelaki beristri dengan dua anak. Memang sih, mereka sedang dalam proses perceraian karena istrinya ketahuan selingkuh, tapi maaf saja, aku tidak berselera jadi orang ketiga. Tentu saja informasi tambahan yang akurat sudah kumiliki, berkat aksi Hasan yang suka memata-matai orang yang mendekatiku.
“Mau makan apa, Bu Laura?” tanyanya sambil terus menyejajari langkahku.
“Seafood.”
“Wah, kebetulan banget. Ayo, bareng!”
“Yakin? Nggak takut badannya gatal-gatal?”
Langkahnya tiba-tiba berhenti, raut wajahnya berubah.
“Tau dari mana saya gatal-gatal kalau makan seafood?” tanyanya tampak bingung.
Aku hanya tertawa, saatnya melakukan serangan mematikan. Kuhentikan langkah tepat di depannya.
“Ada deh. Saya tau banyak, Pak. Termasuk tentang istri Anda yang selingkuh karena tidak tahan jadi korban KDRT.”
Aku tak peduli dengan ekspresi terkejutnya, apalagi menunggunya membuat pembelaan. Ada perut yang minta segera diisi. “Saya duluan, ya, Pak.”
Yes! Satu nyamuk mati. Aku yakin setelah ini dia tak akan berani lagi mengirim sinyal. Sumpah, aku benci dijadikan bahan guyonan, apalagi disertai gombalan tak tahu tempat. Tahu, kan, rasanya jadi single sendiri di antara orang-orang yang sudah menikah? Sebelum berangkat kerja harus menyiapkan mental lebih dahulu, agar semua candaan seputar ‘kapan nikah’ tidak membuat baper berkepanjangan.
Mereka tidak tahu kalau aku menjomblo bukan karena tidak laku, tapi karena pilihan. Lebih tepatnya pilihan Hasan, adikku.
Aku melangkah menuju ruang dosen. Terlalu ribet jika harus membawa diktat yang super tebal hanya untuk makan.
Di dalam rupanya sudah ramai. Para pemilik meja hampir seluruhnya sudah duduk manis di kursi masing-masing, beberapa duduk di sofa tamu, letaknya di tengah-tengah ruangan, sambil ngobrol santai.
“Makan, yuk!” kataku pada Bu Neta yang tengah menikmati teh hangat tepat di samping mejaku.
Wanita itu tak bersuara, hanya memiringkan kepalanya ke kiri seolah berkata “lihat di sana!”
Gangguan baru. Seorang mahasiswa semester delapan berkemeja motif kotak dengan sebuah kacamata bertengger di atas hidungnya, menyodorkan proposal skripsi.
“Permisi, Bu. Boleh saya konsultasi sekarang?”
Aku heran dengan anak ini. Sudah sejak awal semester dia menjalani konsultasi, belum juga selesai bab dua. Entah dia memang bo doh atau sengaja membuat pekerjaannya selalu salah agar punya alasan menemuiku. Kan, jadi GR.
“Kamu mau menunggu? Saya lapar, habis makan baru bisa membimbing kamu yang entah kenapa gak kelar-kelar,” jawabku sambil menyindir.
Lelaki berlesung pipi dan beralis tebal itu tersenyum jenaka. Dibilang jelek sih tidak juga, tapi mengakuinya ganteng juga aku ogah. Melihat kelakuannya dengan para mahasiswi yang kebablasan, tampangnya tak memberikan nilai plus sama sekali.
“Suka salah fokus, Bu.”
Bagaimana bisa fokus kalau matanya jelalatan?
“Alesan. Ya udah, saya makan dulu.” Kusampirkan tali tas di pundak kanan.
“Barengan aja, Bu. Tiba-tiba saja ikutan lapar.”
Aku tahu mengapa seisi ruangan langsung tertawa. Memang modus saja anak ini.
“Gak usah. Saya gak suka diganggu saat makan.”
“Saya traktir, Bu.”
“Kamu pikir saya sekere itu?”
Alih-alih mendengar suaranya lagi, kini giliran Bapak Ketua Prodi yang berbicara sambil meledek, “Ganti strategi, Sony! Gak bakalan berhasil. Bu Laura nggak suka looser macam you. Kelarin skripsi you baru lamar.” Dia tertawa diikuti oleh rekan yang lainnya. Aseeem.
“Jangan manas-manasin deh, Pak. Saya gak suka PHP-in orang.”
“Nah, pas sudah itu. Jangan PHP, terima saja langsung,” sambungnya yang membuat si mahasiswa mesem-mesem dan tawa dalam ruangan makin ramai.
Bu Neta cekikikan sambil melirik ke arah pintu, di mana lelaki penggoda lainnya muncul dengan tatapan sinis.
Pak Roy, lelaki berperut buncit dan seorang pemilik showroom mobil terkenal di kota ini terang-terangan menunjukkan ketertarikan padaku. Dia bilang masih sanggup menghidupi empat istri sekaligus.
“Poligami kan sunnah, Bu Laura. Dosa loh orang yang menolak sunnah.”
Sunnah apaan? Sholat saja sering bolong. Yang wajib saja keteteran, malah mengejar sunnah. Salah praktek pula. Hadeeeeh.
Apalagi matanya itu loh, jelalatan seperti tidak pernah melihat perempuan berwajah bening. Padahal ketiga istrinya selalu tampil seksi dan glamor.
“Kalau Bu Laura nggak mau jadi yang keempat, yang lain bisa saya ceraikan biar saya jadi milik Bu Laura seorang.”
Preeet!
Pria lebih muda, tampan, dan kaya saja aku buang jauh-jauh, apalagi tua bangka sepertinya.
“Jangan terlalu pemilih, Bu. Nanti jadi jomblo seumur hidup.”
Haish. Dia sangat menjengkelkan. Si play boy karatan itu membuatku mengorek luka lama. Baiklah, akan kuceritakan sambil jalan nyari makan.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!