Egois dan Pecundang

3 dibaca

A

Tujuh tahun bukanlah waktu yang singkat untuk move on dari masa lalu. Selama itu pun telah banyak lelaki yang datang dan memintaku menjadi pendamping hidupnya. Namun, trauma adalah trauma, tidak mudah bagiku untuk menaruh rasa lagi pada lawan jenis, apalagi mengikat janji sehidup semati.

Rima, begitu wanita itu mengenalkan dirinya ketika datang pertama kali ke kafeku dan membuat pengakuan mengejutkan. Dengan air mata yang menganak sungai, dia memilin ujung kerudungnya sambil bercerita betapa dia hidup dalam derita karena keegoisan suaminya, lelaki yang akan menyebut namaku di depan penghulu esok pagi.

“Bukalah nuranimu, Mbak. Aku tau Bang Doni tidak mencintaiku lagi, tapi ada bayi yang kelak butuh figurnya sebagai ayah.”

Hatiku sudah remuk saat dia mengaku sebagai seorang istri, dan makin lebur menjadi debu saat tahu kalau lelaki yang tampak sempurna itu sebentar lagi akan menjadi ayah.

Sakit? Tentu. Bang Doni adalah lelaki yang kukenal sejak setahun terakhir. Butuh waktu selama itu untuk meluluhkan hatiku. Dia selalu tersenyum dan bersikap sopan. Aku suka caranya menyapa, tak pernah memaksa ketika kukatakan tak suka jika dia berdiri dengan jarak yang dekat denganku.

“Menikahlah denganku, Laura. Aku janji akan menjaga kamu dan Hasan.”

Aku tersipu ketika dia melamar dengan sebuah cincin berkotak merah muda.

Mungkin kebahagiaan terpancar jelas dari wajahku, hingga dia tersenyum girang dan mengeluarkan cincin dari kotaknya. “Mau aku pakaikan?”

Kutahan gerakannya dengan tangan yang terbuka. “Aku tidak akan menerima barang seindah itu dari lelaki yang bukan suamiku.”

Dia menggaruk kepalanya yang kuyakin tidak gatal, salah tingkah. Apalagi ketika mendengar celetukan dari para karyawan di sini.

“Ciyeee, kode itu, Bang. Halalin dulu baru dipakein.”

Aku tidak mungkin melupakannya, ketika dia duduk dengan gelisah, mungkin mengumpulkan nyali dan menyusun kalimat yang pas untuk melamarku. Di sana, di kursi yang sama yang diduduki oleh wanita yang mengaku istri sirinya.

Kupikir menerima lamaran Bang Doni adalah pilihan terbaik kala itu. Lelaki itu berjanji akan menjagaku dan Hasan yang umurnya baru sebelas tahun. Aku sangat berharap dia bisa menggantikan peran Ayah, menjadi pelindung sekaligus tempat berkeluh kesah.

Nyatanya, semua hanya fatamorgana. Aku harus membuat keputusan baru untuk menyelamatkan hatiku, tapi di saat yang sama mencoreng nama besar keluarga Wibawa.

*

Setelah wanita bernama Rima itu pergi, aku meminta Bang Doni datang ke ruang kerjaku.

“Laura, aku minta maaf. Tapi kita tidak bisa membatalkan pernikahan besok.” Akhirnya lelaki itu membuka suara setelah kuceritakan soal kedatangan istrinya.

“Maaf, tapi aku bukan perempuan yang bisa kau duakan sesukamu.”

Aku be nci laki-laki yang mau enaknya saja, apalagi ditambah label pem bo hong. Tak pernah kuduga jika lelaki yang tampak alim itu ternyata bu suk.

“Aku akan menceraikannya setelah dia melahirkan!”

Aku tertawa getir. Ada be nci yang coba kualirkan keluar dari sesaknya rongga paru-paru.

“Dan itu akan membuatku menjadi pencuri. Asal Abang tau, pantang bagiku merebut milik orang lain.” Kutatap matanya, ingin kutunjukkan bahwa dia telah salah memilih wanita yang akan dipermainkan.

“Kalau begitu tak perlu bercerai. Aku janji akan adil.”

Aku tak lagi tertawa, tapi suaraku naik satu oktaf.

“Adil seperti apa? Adil seperti apa yang kau maksudkan? Apakah saat aku kelak hamil kau juga akan menikahi perempuan lain? Itu adil, kan?”

Dia hendak bersuara ketika kutempelkan telunjuk di bibirku. Belum waktunya membela diri, Tuan Pecundang!

“Beritahu aku, Bang. Bagaimana kau bisa adil jika satu istrimu kau sembunyikan dan satu lainnya kau perkenalkan di depan umum, kau berikan fasilitas terbaik?”

Ada rasa iba ketika wanita malang itu mengaku hanya dinikahi secara siri karena dia mendesak Bang Doni setelah direnggut mahkotanya, lalu ditinggal saat hamil.

Dia tinggal di rumah kecil, di mana Bang Doni akan datang sesekali, hanya untuk memberinya uang belanja, sekadar menggugurkan tanggung jawab menafkahi. Sementara untukku dia siapkan rumah mewah tiga lantai lengkap dengan dua mobil.

“Bagaimana kau bisa adil saat istrimu yang kepayahan membawa darah dagingmu, kau biarkan kedinginan sementara kau tertidur dalam dekapan istri barumu? Bagaimana kau bisa adil, hah?!”

Muak, kulemparkan kotak cincin dan isinya yang dia berikan sore itu, mendarat di atas karpet, tepat di ujung sepatunya. Lelaki itu mundur selangkah.

“Aku minta maaf, Laura. Aku mengaku salah. Tapi kita tidak mungkin membatalkan pernikahan ini. Persiapan sudah seratus persen. Bagaimana denganmu? Keluargamu pasti akan marah dan memperlakukanmu dengan buruk.”

Aku memutar tubuh, berjalan menuju jendela yang terbuka. Kutatap rintik hujan yang membasahi bumi, suaranya seumpama simfoni, bagai musik latar yang mengiringi luruhnya rasa di hatiku.

“Abang tau apa yang lebih menyakitkan daripada perlakuan keluargaku?” Aku menjeda kalimat. Sebelas tahun sejak kematian Ibu, sembilan tahun sejak kematian Ayah, itulah kali pertama air mataku menetes karena kecewa. Aku bahkan sanggup bertahan hidup di bawah tekanan para tante dan sepupuku selama bertahun-tahun. “Kebohonganmu,” pungkasku.

Lelaki itu tak bersuara, seperti aku yang hanya menatap keluar jendela.

“Kembalilah pada istrimu. Jika ada yang paling berhak mendapatkan cintamu, maka itu adalah dia dan bayi dalam rahimnya.”

Kubiarkan kesiur angin menerpa wajahku dengan mata yang mengerjap. Tak ingin kupalingkan wajah ke arahnya, hingga satu hembusan napas yang berat terdengar di sana.

“Maafkan aku, Laura. Selamat tinggal.”

Suara sepatunya beradu dengan lantai keramik, meninggalkanku dengan hati yang remuk. Setelah setahun melihatnya bolak-balik ke kafe ini sebagai pelanggan setia, memberi perhatian yang tak biasa, aku luluh saat dia tampak sungguh-sungguh hendak membina mahligai rumah tangga.

Kuseka pipi, sebuah senyum getir terbit di bibirku. Aku mungkin terluka, tapi itu lebih baik daripada seumur hidup dihantui rasa bersalah karena memisahkan anak dengan ayahnya. Tapi, tentu saja akhir yang kupilih adalah awal dari fase baru kehidupanku.

Dari Laura yang tersisihkan, menjadi Laura yang benar-benar terbuang.

*

“Dasar anak tak tau diuntung! Egois, memikirkan diri sendiri. Apa kamu sadar keputusanmu itu bikin malu keluarga, hah?!”

Aku tahu, inilah yang harus kuhadapi. Membatalkan pernikahan tanpa berdiskusi dengan mereka. Resiko ini sudah kupikirkan matang-matang. Kemarahannya hari ini tak ubahnya dengan hari-hari sebelumnya. Lalu, apa yang kutakutkan?

Panas dan perih, itulah yang terasa di pipiku setelah menerima tamparan keras dari Tante Winda---kakak Ayah. Aku tak kan melawan, sebab ini memang keinginanku.

“Kalau bukan karena desakan Ibu, kami tidak akan menginjak rumah ini. Bisa-bisanya kamu membatalkan pernikahan tanpa berdiskusi. Mau ditaro di mana muka kami?”

Aku masih duduk membisu. Menjadi terdakwa bukanlah hal baru bagiku di keluarga ini. Pun menjadi bahan ejekan, sudah membuatku kebal.

Tante Winda benar. Nenek adalah alasan kehadiran mereka di rumah peninggalan orang tua kami. Sebagai keponakan dan sepupu yang tak dianggap, bukan hal aneh jika pernikahanku berlangsung sunyi tanpa kehadiran keluarga.

Aku hanyalah cucu yang dulunya tak pernah dianggap di keluarga besar Ayah karena lahir dari rahim seorang wanita yatim piatu, tak jelas asal-usulnya.

Ayah yang keras kepala, satu-satunya anak lelaki di keluarga itu, menolak menikahi gadis pilihan Kakek dan lebih memilih wanita sederhana, babu di rumah tetangga. Sungguh tindakan yang mencoreng muka keluarga Wibawa, tuan tanah yang disegani.

Belasan tahun mereka menutup pintu untuk Ayah dan kami. Hanya setelah Hasan lahir, bersamaan dengan kematian Ibulah mereka membujuk pulang. Ah, bukan. Mungkin lebih tepatnya membawakan mereka cucu lelaki satu-satunya, penerus darah Wibawa.

Kehadiran kami di rumah Kakek ternyata tak seindah angan-angan. Aku tetaplah si anak yang tersisihkan, terutama oleh saudara dan keponakan Ayah. Perhatian hanya diberikan untuk Hasan, itu pun hanya di depan Kakek dan Nenek.

Aku tahu apa yang mereka sembunyikan, berharap Hasan tak pernah lahir. Terbukti ketika Kakek meninggal dan menitipkan kebun kopi sekaligus durian, sumber harta terbesar mereka di tangan Ayah, katanya untuk sang cucu tersayang kelak.

Para tante dan sepupuku menunjukkan belangnya. Persekongkolan demi persekongkolan terjadi demi membuat Ayah dibenci kembali oleh Nenek. Sayang, cinta seorang ibu pada anak dan cucu lelaki satu-satunya tak semudah itu lagi tergerus.

Dua tahun setelahnya Ayah menyusul cinta sejatinya, meninggalkanku dan Hasan tersesat dalam keluarga yang penuh ke ben cian dan bermuka dua.

Berat rasanya hidup di tengah-tengah mereka. Jika saja sudah dewasa, tak sudi aku bertahan.

“Kamu masih terlalu muda untuk mengurus adikmu. Biarkan dia di sini, kamu boleh tinggal kalau mau.” Sebagai anak tertua, Tante Winda menjadi yang paling sering mengambil keputusan.

Tak mungkin bagiku membiarkan satu-satunya adik yang kumiliki berada dalam pengasuhan mereka. Kehadiran Nenek tak cukup untuk melindungi Hasan yang bahkan berbicara pun masih terbata. Namun, usiaku yang baru dua belas tahun kala itu adalah kendala terbesar untuk membawanya pergi. Aku mengalah, hingga lulus SMA terpaksa hidup di lingkungan yang tak kuinginkan.

Kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah kumanfaatkan sebaik mungkin. Kuhidupkan kembali kafe peninggalan Ayah, juga menata rumah yang tak berubah sejak ditinggalkan. Aku juga mulai mencari sekolah yang cocok untuk Hasan dan berhasil membujuk Nenek untuk mengijinkan adikku tinggal bersamaku di Jakarta, setelah membuktikan bahwa aku bisa berdiri di atas kaki sendiri.

Akhirnya aku datang membawa kabar rencana pernikahan. Nenek yang pernah melewatkan pernikahan anak lelaki kesayangannya tersenyum bahagia, setidaknya bisa menebusnya dengan mendampingiku di hari bersejarah.

Apa la cur, pernikahan yang hanya menunggu kehadiran penghulu, akhirnya kandas karena keputusan sepihak olehku.

Aku tahu aku egois, tapi itulah caraku melindungi hati. Daripada meneruskan pernikahan di atas air mata wanita lain, dihinakan keluarga bagiku lebih terhormat.

“Mulai hari ini, kamu bukan lagi bagian dari keluarga Wibawa!”

Begitulah, Tante Winda secara resmi mencoret namaku dari daftar anggota keluarga.

Fine. Aku sudah siap. Sudah cukup aku mengalah selama ini, sekarang biarkan aku menuruti ego demi menghindari luka yang lebih besar. Lagipula sejak awal aku memang orang asing di mata mereka.

Jadi, bertahanlah, Laura!

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk