Man On The List

1 dibaca

A

Itu kejadian enam bulan lalu. Hari ini kami bertemu untuk ketiga kalinya.


Pak Faris menerima kalung bunga yang disodorkan padanya dan mengalungkannya di leherku.


Kan, tidak salah jika aku gugup. Berdiri sedekat ini membuat pesonanya terpancar lebih kuat.

 Ibuuu, bagaimana aku meredam detak jantung yang tiba-tiba bertalu-talu?


Akhirnya aku hanya bisa tersenyum sekilas padanya lalu memandang penonton yang kompak mengangkat ponsel.

Satu orang lagi mendekati Pak Faris. Dia membawa sebuah piagam dalam pigura kaca. Aku harus memegang erat benda itu saat dia menyerahkannya, takut terjatuh karena gugup.


“Selamat, Bu Dosen,” katanya sambil tersenyum.


“Laura, Pak.”


Dia tertawa renyah membuat suara dari penonton semakin riuh.


“Huaaa, aku juga mauuu.”


Entah perempuan---tak tahu malu---mana yang berteriak begitu. Aku saja yang berdiri di depan Pak Faris merasa ingin segera kabur dari sini, grogi berat.


Aku lega ketika prosesi pemberian penghargaan selesai. Apalagi ketika Pak Faris hanya menangkupkan kedua tangannya di dada sebagai ganti salam. Mungkin dia tengsin jika uluran tangannya ditolak di depan ribuan pasang mata, seperti yang terjadi ketika aku pamit dari kantornya tempo hari.

Aku ingat sekali apa yang terjadi di pertemuan terakhir kami sebelumnya.


“Sepertinya sudah waktunya saya pergi dari sini. Saya pamit, Pak. Assalamualaikum.” Kuucapkan kalimat itu sambil menyatukan kedua tangan di depan dada.


Aku berdiri dari kursi setelah dia menjawab salam. Namun, belum juga meninggalkan tempat, dia sudah berkomentar.


“Tidak sopan.”


“Maksud Bapak?” Aduh, apa aku melakukan kesalahan lagi?


“Kamu datang baik-baik, tapi perginya ngeloyor begitu saja. Tanpa berjabat tangan.”


Ini yang kubenci ketika berurusan dengan lelaki. Dijabat takut dosa, tak dijabat dikira sombong.


Melihatku hanya diam, dia berdiri dan mengulurkan tangan kanannya. Alisnya naik sebelah, seolah berkata, “Begini caranya bersikap sopan.”


Dengan perasaan tak nyaman, kusatukan lagi kedua tangan di depan dada. Dia bereaksi dengan mengangkat tangan lalu membolak-baliknya di depan wajah.


Aku ingin tertawa ketika dia mencium tangannya sendiri. “Tidak kotor dan tidak bau.”


“Maaf, Pak. Bukan maksud saya bersikap tak sopan. Saya hanya menjalankan apa yang saya yakini, bahwa menyentuh lawan jenis yang bukan mahram itu dilarang. Sekali lagi saya minta maaf.”


Dia hanya melongo. Aku tak ingin berlama-lama bersamanya.


“Saya permisi, ya, Pak. Assalamualaikum.”


Kutinggalkan ruangannya tanpa menutup pintu, membuat suara dari dalam sana bisa terdengar samar.


“Riko, cari tau apa itu mahram!”



“Itu dimakan, Bu. Bukan diaduk doang.” Bu Neta membuatku tersadar dari lamunan.


Ya ampun, puding di piringku sudah tak karuan penampakannya.


“Lagi mikirin siapa? Pak Faris?” todongnya tanpa ragu.


“Enggak, kok.” Kurapikan posisi duduk dengan menegakkan punggung.


“Iya juga nggak papa, kok. Nggak ada yang marah,” katanya sambil menutup mulut dengan tangan, terkikik sendiri.


Dia menyenggol bahuku lalu memakai dagunya sebagai penunjuk arah. Aku mengikuti ke mana dia memandang, sebuah meja dengan petinggi kampus di sekelilingnya. Tentu saja si pemilik ada di antaranya.


“Ganteng, nggak?” Pertanyaan Bu Neta membuat keningku mengernyit, lalu tersenyum.


“Iya.” Jujur sekali kamu, Laura!


“Pak Rektor, maksudnya.”


“Eh?” Aku menoleh ke arah Bu Neta yang tertawa jahil.


“Tuh, kan ketahuan. Orang ngomongin pak Rektor, dia ngomongin Pak Faris.”


Kucubit pelan pahanya. “Ih, apaan, sih?” Malu sekali tertangkap basah sedang memikirkan anak orang.


Rekan kerjaku itu masih tertawa, dia sampai menutup mulut dengan tangan agar suaranya tak mengganggu.


“Sudah dong, Bu Net. Ketahuan orang ntar.” Kulirik kanan kiri. Syukurlah, mereka semua sibuk mengobrol, beberapa asyik dengan ponselnya, beberapa sibuk berfoto.


Bu Neta ini sudah menikah dan punya anak dua orang. Suaminya seorang pengacara. Dia kerap mengantar sang istri ke kampus jika di antara mobil mereka berdua ada yang mogok.


“Duren seperti dia banyak yang ngincer loh, Bu.”


“Lalu?” Kumasukkan sesendok kecil puding ke dalam mulut. Makanan yang tak lagi berbentuk itu tak boleh dibuang, mubazir.


“Ya Bu Laura harus gercep.”


“Gercep apaan?”


“Gerak cepat, Bu. Jangan sampai keduluan yang lain.”


Aku tak dapat menahan tawa. Ini orang ngomongin apa, sih?


“Ya biarin aja, kali.”


“Yakin? Limited edition gitu dibiarin lepas?”


Aku termenung sejenak. Dari dua kali pertemuan sebelumnya, aku bisa sedikit menarik kesimpulan, Pak Faris bukan tipeku. Kurasa, itu saja sudah cukup membuatku menarik diri.


Eh, sebentar. Memangnya dia mau sama aku?


“Ya--kin.” Hatiku sedikit oleng ketika Pak Faris tiba-tiba melihat ke meja kami sambil tersenyum. Duh, godaan apa ini, Tuhan?


“Wah, dia ngeliat ke sini, tuh. Feeling-nya kuat juga, ya.”


Aku hanya bisa menunduk. Jangan sampai si ceriwis di samping tahu pipiku sedang bersemu.


“Eh, Bu. Dia mau pergi.”


Refleks kuangkat kepala.

Pak Faris tengah berpamitan dengan semua orang di meja itu. Mereka saling bersalaman, tampak akrab. Kurasa dia orang yang ramah dan tidak sombong.


“Yaaa, ada Bu Dina,” kata Bu Neta.


Aku juga melihatnya. Bu Dina, janda beranak satu, dosen dari jurusan fisika, berjalan mendekati posisi Pak Faris dan yang lainnya.


Wanita itu tampak modis seperti biasa. Sebuah tas tangan mungil dan blazer cokelat muda melengkapi pesonanya. Selain aku, dia adalah orang yang kerap jadi incaran buaya di tempat ini. Bedanya, aku cuek sedangkan dia ramah. Kalau kata jiwa nyinyirku, sih, dia itu rada ganjen.


“Tuh, kan. Apa kubilang. Pak Faris banyak yang ngincer. Bu Laura jangan mau kalah, ntar lepas lagi. Eee, makin banyak yang mendekat.”


Aku diam saja mendengar ocehan Bu Neta. Dia sudah mirip komentator sepak bola yang mengomentari semua kejadian di lapangan. Aku membuang muka, entah mengapa tak suka melihat pemandangan di depan kami.


Kalau boleh jujur, sebenarnya aku sudah mulai kehilangan simpati. Aku tidak suka lelaki yang terlalu ramah pada wanita. Pria idaman bagiku adalah yang menyembunyikan kelembutan dan kehangatannya di rumah, untuk keluarganya, terutama istri tentunya. Sedangkan di luar, bersikap sewajarnya dan dengan porsi yang pas.


Teringat kembali pengakuan wanita di meja resepsionis PT Ravion. Pak Faris sering didatangi wanita dari lugu hingga suhu. Duh, sepertinya aku perlu mencoretnya dari daftar subyek mata-mata Hasan.


“Wah, enggak disalamin, Bu.”


Kembali kualihkan pandangan ke depan sana. Benar saja, para wanita yang mengantri berjabat tangan dengan Pak Faris berdiri kikuk dan tersenyum salah tingkah, bahkan Bu Dina tak bisa menyembunyikan rasa kecewanya.


Aku tidak salah lihat, kan? Pak Faris menyatukan kedua tangan di dada dan tersenyum sambil sedikit menundukkan kepala.

Dia terus berjalan dengan santai menuju pintu, itu artinya dia akan melewati mejaku.


Bu Neta menarik tanganku agar berdiri, seperti yang dilakukan kolega kami di meja yang dilewati Pak Faris. Tak ingin tampak seperti anak kecil yang ditarik-tarik ibunya, aku pun menegakkan punggung dan berdiri di depan kursi.


Pak Faris berjalan semakin dekat, membalas kolega yang menyapa. Saat tiba di meja kami, dia melirikku?


Itu hanya lirikan sekilas dengan senyuman tipis, tapi kenapa jantungku berdebar?


Sepertinya aku terlalu cepat mencoretnya dari daftar.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk