Sepeninggal Cecilia, Ahmad yang sedari tadi menyimak langsung menyeletuk santai, “Cecilia itu pacarmu, ya?”
Wajah Gibran sedikit memerah, dan ia membantah dengan suara lantang. “Bukan! Dia itu cuma temanku!”
“Heeeh ... Seriusan cuma teman?” goda Ahmad dengan raut wajah jahil.
Sementara itu, di lorong sekolah, Cecilia mencoba berjalan senormal mungkin menuju kantin. Ia terus menyemangati dirinya sendiri di sepanjang jalan.
Tidak apa-apa! Aku pasti bisa pergi sendirian ke kantin.
Namun, sesampainya di area kantin, langkah kakinya tersendat. Pemandangan di hadapannya tak ubahnya medan perang. Puluhan siswa-siswi berdesakan, mengantre, dan saling berteriak memesan makanan. Cecilia memejamkan mata dan menghela napas panjang untuk menenangkan dadanya yang mulai bergemuruh.
Aku pasti bisa. Ini sama sekali gak sama dengan saat aku harus berjalan sendirian waktu SD dulu.
Mengumpulkan segenap keberaniannya, gadis itu melangkah maju menembus hiruk-pikuk lautan manusia di kantin tersebut.
Kembali ke dalam kelas, pertarungan sengit antara Gibran dan Ahmad masih berlanjut. Nasib sungguh tidak berpihak pada Gibran. Jumlah kartunya kini membengkak tak masuk akal menjadi 47 kartu, sementara Ahmad hanya menyisakan satu lembar terakhir di tangannya.
“Aku gak akan membiarkanmu menang begitu saja!” seru Gibran di tengah keputusasaannya.
Dengan gerakan dramatis, Gibran membanting kartu andalannya ke atas meja: kartu +10.
“Hahaha! Dengan ini kau pasti—“
“Sayang sekali...” Ahmad tersenyum penuh kemenangan. “Aku juga punya kartu +10.”
Ahmad menjatuhkan kartu +10 terakhirnya, mengakhiri permainan laknat tersebut dengan kemenangannya yang absolut. Gibran hanya bisa menganga tak percaya melihat tumpukan kartu di hadapannya.
“Nah, karena kau kalah telak ... Ayo kita main Truth or Dare!” tantang Ahmad dengan mata berbinar licik.
“Ya, ya, ya, terserah kau saja. Tolong dipercepat,” sahut Gibran lemas, seluruh energinya sudah terkuras habis.
“Kalau begitu, aku pilih Truth!” Ahmad mendekatkan wajahnya melintasi meja, tersenyum layaknya iblis. “Kau harus jujur ... Siapa nama cewek yang kau sukai saat ini?”
Mata Gibran terbelalak ngeri. “Ha-hah?! Gak mau! Ganti pertanyaan!”
“Maaf sekali, Tuan Gibran. Pertanyaannya gak bisa diganti!”
“Bagaimana bisa aturan mainnya gitu?!” protes Gibran panik.
“Karena aku yang menang. Lagian kau ‘kan tinggal jawab saja.” Ahmad mencibir, lalu menyipitkan matanya menggoda. “Oh, jangan-jangan ... Kau sebenarnya suka sama Ceci—“
“Oke, oke! Ganti Dare saja!” potong Gibran cepat, wajahnya kini terasa panas.
“Oh, pilih Dare, ya...?” Ahmad mengelus dagunya, seolah sedang menimbang-nimbang hukuman terberat. “Coba saja Cecilia ada di sini, pasti seru...” Ia menjentikkan jarinya saat sebuah ide gila terlintas. “Ah! Dare-nya adalah ... Coba kau nyatakan perasaan dan tembak Victorya sekarang juga!”
“Victorya?” Gibran menoleh ke arah barisan depan kelas. “Maksudmu Victorya Mandoka yang duduk paling depan itu, ya?”
“Tepat sekali—“
“Gampang kalau cuma ini,” sela Gibran enteng. Ia merapikan kerah seragamnya dan berdiri.
“Asalkan bukan menyatakan perasaan pada orang yang benar-benar kusukai, dare konyol seperti ini mudah saja kulakukan.”
Tanpa keraguan sedikit pun, Gibran berjalan menghampiri meja gadis berambut hitam panjang lurus tersebut. Sesampainya di sana, ia berdiri tegap di hadapan gadis itu.
“Victorya,” panggil Gibran dengan suara lantang.
Victorya mendongak. Wajah cantiknya memancarkan sedikit keterkejutan, tetapi ia segera membalas dengan senyum manis. “Oh, hai, Gibran! Tumben sekali, ada apa tiba-tiba mengajakku mengobrol—“
“Aku sebenarnya menyukaimu dari dulu. Maukah kamu menjadi pacarku?” tembak Gibran super cepat, tanpa basa-basi sedikit pun.
Tch, mudah sekali. Untung saja Cecilia gak ada di sini, kalau gak bisa gawat...
Namun, reaksi Victorya benar-benar di luar dugaan Gibran. Victorya menatap mata Gibran lekat-lekat, wajahnya bersemu merah merona.
“Ya ... Aku mau berpacaran denganmu.”
“Eh?” Napas Gibran seolah tercekat di tenggorokan.
Dari kejauhan, Ahmad yang mengamati adegan itu ikut ternganga lebar. “EHHH?!”
Kepanikan seketika menyergap Gibran. Skenarionya benar-benar berantakan. “Tunggu, Vic-Victorya, sebenarnya aku cuma—“
Sebelum Gibran sempat menjelaskan kebenarannya, Victorya tiba-tiba beranjak dari kursinya dan menghambur memeluk pemuda itu dengan erat. Aroma wangi yang lembut langsung menguar di udara.
“Aku ... Aku juga menyukaimu dari dulu,” bisik Victorya pelan, tepat di telinga Gibran.
Tubuh Gibran kaku membeku layaknya patung es. “Da-Dari dulu? Sejak kapan—“
Tepat pada detik mematikan itu, Cecilia—yang baru saja kembali dari perjuangan panjangnya membeli tempe goreng—melangkah masuk melewati ambang pintu kelas.
“Gibran! Aku kembali—“
Suara panggilan ceria itu mendadak mati. Kantong plastik berisi tempe goreng di tangannya merosot nyaris terjatuh. Cecilia berdiri mematung, matanya terbelalak menatap pemandangan paling menyakitkan tepat di hadapannya: Gibran, pemuda yang menjadi pusat dunianya, tengah dipeluk begitu erat oleh seorang gadis asing yang sama sekali tak dikenalnya.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!