KRIIIIING!
Lengkingan keras dari alarm jam beker seketika menghancurkan dunia kelam itu. Angka digital di meja nakas menunjukkan pukul 05:55. Gadis itu membuka matanya perlahan, mengerjapkan kelopak matanya yang terasa berat sambil menatap langit-langit kamar.
“Mimpi...?” gumamnya dengan suara yang masih serak dan lembut.
Pukul 06:40. Gadis itu kini sudah berdiri di depan gerbang sekolah barunya.
“Jadi, ini sekolah baruku yah,” gumam gadis tersebut pelan. Matanya menyapu pemandangan di depannya. Terlihat arus siswa yang begitu padat berbondong-bondong melewati gerbang masuk.
“Terlalu banyak orang ... Sebaiknya kutunggu sampai agak sepi dulu.”
“Sedang apa kau di sini, Cecilia?” Ucap seorang pemuda dibelakangnya.
Sebuah suara tak terduga menyapanya dari arah belakang. Cecilia terkesiap dan segera menoleh.
“Oh, Gibran—“ Ucapan Cecilia terhenti. Matanya membelalak menatap kepala pemuda di hadapannya, tepatnya pada rambutnya yang kini dipangkas sangat pendek. Sedetik kemudian, tawa Cecilia meledak. “Pfft—Hahaha!”
Gibran mengernyitkan dahi, tampak tidak senang. “Apa yang kau tertawakan?”
“Rambutmu lucu sekali! Kenapa jadi seperti itu?” ledek Cecilia di sela tawanya yang belum reda.
“Mau bagaimana lagi, ‘kan? Peraturan sekolah di Indonesia memang melarang siswa laki-laki berambut panjang,” balas Gibran sambil menggaruk kepalanya yang kini nyaris plontos.
“Ta-tapi, tetap saja ... Kau benar-benar gak cocok dengan gaya seperti itu!”
Pemuda itu adalah Gibran Cakrawala. Teman dekat Cecilia sejak SMP. Bahkan, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Gibran adalah satu-satunya teman mengobrol yang ia miliki di masa-masa SMP.
Tahun 2022, saat mereka masih duduk di bangku kelas 7 SMP.
Seorang gadis dengan rambut dikuncir kuda dan kacamata bulat bertengger di hidungnya tampak duduk menyendiri di pojok kelas. Ia sedang asyik membalik halaman sebuah buku light novel ketika seorang pemuda tiba-tiba menghampiri mejanya.
“Hei,” sapa pemuda itu.
Cecilia mendongak dengan wajah bingung. “Eh?”
“Buku yang sedang kau baca itu ... Manga Sword Art Online, ya?” tanya pemuda itu sambil menunjuk sampul buku.
“Ah...”
Apakah dia baru saja mengajakku bicara? Gak ... Dia benar-benar sedang bertanya padaku, ‘kan? Bagaimana cara aku harus menjawabnya?
Karena Cecilia hanya melamun menatap kosong ke arahnya, pemuda itu melambaikan tangan di depan wajahnya. “Halo...?”
“Ah!” Cecilia itu tersentak dan kembali ke alam sadar. “I-Ini bukan manga, tapi light novel...”
Aku sudah menjawabnya dengan benar, ‘kan?
“Light novel? Maksudnya novelnya bisa mengeluarkan cahaya gitu?” tanya pemuda itu dengan wajah polos.
“Bukan gitu...” Cecilia membetulkan letak kacamatanya. “Light novel itu artinya novel ringan. Ini sejenis novel dari Jepang yang ditulis dengan bahasa yang lebih santai, biasanya memiliki ilustrasi gaya manga di dalamnya, dan ditujukan untuk pembaca remaja atau dewasa muda.”
“Ohh, begitu ya.” Tanpa aba-aba, pemuda itu menarik kursi kosong di sebelah meja Cecilia dan langsung duduk. “Kalau begitu, kau pasti suka anime, ya?”
“Iya ... Kau juga su-suka anime?” tanya Cecilia ragu-ragu.
“Entahlah, aku gak tahu apakah bisa disebut suka atau gak. Aku cuma menonton beberapa anime yang kebetulan viral di medsos, salah satunya Sword Art Online itu,” jelasnya santai. “Sebenarnya, aku lebih suka menonton Tokusatsu ketimbang anime.”
Mendengar itu, mata Cecilia sedikit berbinar. “Aku juga suka Tokusatsu.”
“Seriusan?!” Nada suara pemuda itu langsung meninggi karena antusias. “Kau lebih suka Ultraman atau Kamen Rider?”
“Kalau dari segi cerita, aku lebih suka Kamen Rider. Tapi kalau untuk urusan visual, aku lebih suka Ultraman,” jawab Cecilia lancar.
“Setuju banget!” sahut pemuda tersebut.
Pemuda itu tersenyum lebar. Bagi Cecilia, ternyata cukup menyenangkan bisa mengobrol dengan seseorang yang memiliki frekuensi dan hobi yang sama dengannya.
“Oh, iya. Gara-gara keasikan mengobrol, aku sampai lupa memperkenalkan diri,” ucap pemuda itu. Ia menegakkan punggungnya. “Namaku Gibran Cakrawala.”
“Cecilia Trisna.”
“Sesilia?”
“Pakai huruf ‘C’...”
“Oh, Cecilia! Salam kenal ya, Cecilia!”
Gibran mengulurkan tangannya sambil tersenyum hangat. Cecilia menatap tangan itu, tampak sedikit ragu untuk beberapa saat, tetapi pada akhirnya ia memberanikan diri untuk membalas jabatan tangan tersebut.
Itulah awal mula pertemuan Cecilia dengan Gibran. Pada awalnya, Cecilia selalu berpikir bahwa interaksi mereka tidak akan bertahan lama. Bagaimanapun juga, ia adalah tipe orang yang sangat kesulitan membangun kedekatan dengan orang lain, apalagi dengan orang baru. Namun, perkiraannya salah total. Gibran selalu datang menghampirinya setiap hari. Mereka mengobrol, menonton Kamen Rider bersama, dan puncaknya, ketika Gibran memindahkan tempat duduknya tepat di sebelah Cecilia. Sejak saat itu, setiap kali ada jam kosong atau waktu istirahat, Gibran selalu menghabiskan waktunya untuk mengobrol bersamanya.
Kembali ke masa kini, di depan gerbang SMK 4.
Cecilia dan Gibran masih asyik mengobrol, sama sekali tidak menyadari kehadiran seorang guru kedisiplinan yang sudah berdiri berkacak pinggang di dekat mereka.
“Kalian berdua sedang apa di situ?! Cepat masuk ke dalam, sebentar lagi upacara!” tegur guru tersebut dengan suara menggelegar.
Bahu keduanya melonjak kaget. “Ba-baik, Pak!” seru Cecilia dan Gibran berbarengan.
Mereka pun bergegas berjalan cepat memasuki area sekolah. Bahkan di tengah kepanikan itu, mereka masih sempat berdebat.
“Ini semua gara-gara kau, sih,” omel Cecilia dengan bibir mengerucut kesal.
“Hah? Enak saja! Bukankah sudah jelas ini gara-gara kau yang tidak mau masuk karena alasan masih banyak orang?!” balas Gibran tak mau kalah.
“Kau mengada-ngada dari mana, tuh?”
“Jelas-jelas kau sendiri yang bilang begitu tadi...” Gibran menghela napas panjang, lalu melirik Cecilia. “Ngomong-ngomong, Cecilia. Kenapa kau memilih SMK 4?”
“Bukankah sudah pernah kubilang? Itu karena aku telat mendaftar SMA, udah gitu lagi ada masalah jarak antara rumahku dengan sekolah yang kupilih. Jadi, mau gak mau aku harus mengambil jalur SMK.”
“Iya, tapi kenapa harus SMK 4? Mana kau juga mengambil jurusan TJKT pula—“
Langkah Cecilia terhenti. Ia menatap Gibran dengan tatapan setengah meremehkan. “Kau ini bodoh atau bagaimana, sih?”
“Hah?”
“Aku memilih SMK 4 karena ada kau di sini. Dan alasan aku memilih jurusan TJKT ... Karena aku ingin sekelas denganmu lagi. Yah, walaupun sebenarnya peluang kita untuk masuk ke kelas yang sama belum pasti juga, sih.”
Tepat saat Cecilia mengucapkan kalimat itu, langkah Gibran mendadak berhenti kaku seolah kakinya dipaku ke lantai.
“Gibran? Kenapa tiba-tiba berhenti—“
Cecilia menoleh dan langsung terdiam. Ia melihat wajah pemuda itu berubah menjadi merah padam.
“Gibran? Kau sedang sakit?” tanya Cecilia cemas.
“Gak...” jawab Gibran dengan suara sedikit tertahan.
“Benarkah? Tapi wajahmu merah sekali—“
Tanpa peringatan, Gibran tiba-tiba membalikkan badan dan berlari kencang meninggalkan Cecilia di lorong.
“Hei! Jangan tinggalkan aku!” teriak Cecilia sambil berusaha mengejar.
Di sisi lain, Gibran terus memacu langkahnya menyusuri lorong sekolah. Jantungnya berdetak tak karuan. Aku seharusnya tahu, kalau aku gak boleh menganggapnya lebih dari teman ... Tapi mendengar kalimat ‘karena ada kau’ dan ‘karena aku ingin sekelas denganmu lagi’ langsung dari mulutnya ... Itu membuatku susah menganggapnya sekadar teman!
Pukul 07:45.
Di dalam ruang kelas X TJKT 3, deretan kursi sudah mulai terisi. Di antara wajah-wajah asing yang memenuhi ruangan, satu-satunya orang yang Cecilia kenal hanyalah Gibran yang sedang duduk di kursinya. Dengan senyum penuh kemenangan, Cecilia berjalan menghampiri meja pemuda tersebut.
“Untung saja kita benar-benar sekelas ya, Botak—“
“Hei, setidaknya aku masih punya rambut, ya,” balas Gibran tak mau kalah.
“Iya sih, tapi pendek banget...” ejek Cecilia dengan senyum geli.
Pukul 09:30, bel istirahat akhirnya berbunyi, menggema hingga ke seluruh penjuru sekolah.
“Hebat juga, ya ... Sampai jam istirahat berbunyi begini, wali kelas kita sama sekali belum menampakkan batang hidungnya di kelas,” keluh Cecilia sambil merapikan alat tulis di mejanya.
“Yah ... Hebat banget memang,” sahut Gibran mengiyakan dengan nada sarkastis.
Cecilia dengan semangat mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. “Gibran! Mending kita nobar Kamen Rider Gavv—“
“Ah, maaf. Aku mau pergi beli makanan di kantin dulu—“ potong Gibran cepat.
“Kalau begitu aku juga ikut!” seru Cecilia tanpa ragu.
“Ba-baiklah...”
Keduanya bangkit dari bangku masing-masing dan mulai berjalan beriringan menuju pintu. Namun, tepat sebelum mereka melangkah keluar kelas, suara seorang pemuda memanggil dari arah belakang.
“Gibran!”
Gibran menoleh dan menaikkan sebelah alisnya. “Ada apa, Ahmad?”
Pemuda bernama Ahmad itu melambaikan tangannya dari mejanya. “Kau mau main UNO denganku, gak? Aku udah bosan menang banget menang mulu saat bermain dengan Taufik.”
“Maaf, aku baru saja mau pergi ke kantin—“
“Ayolah, sekali saja!” bujuk Ahmad bersikeras.
Gibran menghela napas panjang, mengalah pada paksaan teman barunya itu. “Baiklah, baiklah. Sekali saja, ya.” Ia lalu menoleh ke arah Cecilia “Kau mau ikut main juga, Cecilia?”
“Aku tidak tahu cara main UNO. Mending kalian berdua saja,” tolak Cecilia halus.
“Ya sudah, kalau begitu kau ikut lihat-lihat saja dulu,” ajak Gibran.
Mereka bertiga kemudian berkumpul di meja Ahmad. Ahmad langsung mengeluarkan sebuah kotak UNO dari dalam tasnya. Mata Gibran menyipit saat membaca teks mencolok di kotak tersebut: UNO Show ‘Em No Mercy.
“Kok rasanya beda dengan kartu UNO yang biasa kukenal...” gumam Gibran curiga.
“Tenang saja, cara mainnya masih persis seperti UNO Classic kok,” ucap Ahmad dengan senyum meyakinkan.
“UNO Classic? Maksudmu UNO biasa, ‘kan...”
Semoga saja yang dikatakan Ahmad itu benar, karena perasaanku mengatakan hal yang berbeda...
Dua puluh menit pun berlalu. Alih-alih kartu di tangan berkurang, tumpukan kartu Gibran malah membengkak menjadi 33 lembar, sedangkan Ahmad memegang 26 lembar. Permainan ini benar-benar terasa tak berujung.
“Hei ... Seriusan cara mainnya seperti ini? Kenapa lama sekali selesainya?” keluh Gibran, wajahnya mulai memancarkan rasa frustrasi.
“Iya. Kan seperti yang kukatakan sebelumnya, ‘sama seperti UNO Classic’,” jawab Ahmad dengan santai tanpa rasa bersalah.
“Pembohong!” seru Gibran jengkel.
“Aku gak berbohong, kok.”
“Kalau begitu ... Biarkan aku melihat rolebooknya!”
Gibran langsung merebut kertas panduan yang ada di dalam kotak. Matanya menyapu deretan teks tersebut dan langsung terpaku pada satu aturan spesifik: Jika batas kartu yang Anda miliki sudah lebih dari 25 lembar, maka Anda dinyatakan kalah dan dikeluarkan dari permainan.
Gibran mendelik kesal ke arah lawannya. “Hei, Ahmad ... Jelas-jelas di sini tertulis kalau batas kartu lebih dari 25 lembar itu sudah dihitung kalah—“
“Yang punya kartu ini ‘kan aku. Itu berarti, aku yang mengatur aturan mainnya dong,” potong Ahmad seenaknya.
Orang ini ... Sungguh menjengkelkan!
Di saat yang sama, Cecilia menarik ujung lengan baju Gibran dengan pelan. “Gibran ... Kapan kita akan ke kantin?”
“Aku ingin ke kantin secepatnya, tapi aku benar-benar tidak rela kalau harus kalah dari si Ahmad ini...” bisik Gibran dengan gigi gemeretak.
Cecilia terdiam sejenak. Ia memandangi wajah kesal Gibran silih berganti dengan keramaian di luar pintu kelas. Tangannya mengepal pelan.
“Kalau begitu, biar aku saja yang pergi membelikannya untukmu,” tawar Cecilia tiba-tiba.
Gibran menoleh dengan tatapan terkejut. “Eh? Kau yakin? Kau ‘kan—“ Gibran menahan ucapannya. Ia sangat tahu seberapa buruk kecemasan sosial Cecilia di tempat ramai.
“Aku ingin berubah,” sela Cecilia dengan tatapan mantap. “Aku gak ingin seperti ini terus-menerus. Kalau aku cuma berdiam diri dan selalu bergantung padamu, maka aku sama sekali gak ada bedanya dengan diriku saat masih SMP.”
Pemuda itu merogoh saku seragamnya, lalu menyodorkan selembar uang lima ribu dan dua ribu rupiah ke tangan Cecilia. “Tolong belikan tempe goreng lima, ya. Yang dua ribu lagi pakai saja untukmu.”
“Eh? Benaran tidak apa-apa aku ambil yang dua ribu ini?” tanya Cecilia ragu.
“Iya, tidak apa-apa, kok.”
Wajah Cecilia itu langsung berseri-seri. “Terima kasih, Gibran!”
Dengan langkah ringan dan tekad baru, Cecilia berbalik dan berjalan keluar kelas menuju kantin.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!