Prolog - Hiperrealitas

4 dibaca

A

Seorang gadis berdiri di tepi atap gedung rumah sakit, membiarkan angin malam menerbangkan rambutnya secara acak. Jauh di bawah sana, hiruk-pikuk kota tak sedikit pun menyentuh telinganya. Baginya, dunia nyata di bawah sana sudah lama mati—hanya sebuah panggung sandiwara usang yang penuh kepalsuan dan salinan yang rusak. Saat ia berbicara, suaranya terdengar begitu tenang, datar, dan tanpa keraguan sedikit pun.

“Dunia di bawah sana cuma simulasi yang buruk. Orang-orang saling merebut, saling berpura-pura, dan dengan naif menyebut semua itu sebagai kenyataan. Aku pernah bertindak bodoh karena mencoba hidup di dalamnya, mengemis posisi aman di sisimu, cuma untuk menyadari bahwa kenyataan selalu mengkhianatiku.”

Gadis itu menatap kehampaan malam. “Tapi di dalam duniaku ... Di dalam setiap baris fiksi eksplisit yang kutulis tentangmu, segalanya menjadi mutlak. Setiap kali aku membayangkan tanganmu, suaramu, dan sepasang matamu di dalam ceritaku ... Itu semua terasa jauh lebih nyata daripada wujudmu yang berjalan di dunia nyata. Di sana, kau adalah milikku seutuhnya. Gak ada batas privasi yang memisahkan kita, tidak ada orang asing yang bisa merebut takhtaku.”

Ia menarik napas panjang, sorot matanya menajam. “Kini, kenyataan yang menjijikkan itu mencoba mengontaminasi duniaku. Dia ingin merusak satu-satunya jangkar eksistensi yang kupunya. Tentu saja, aku gak akan membiarkan dia menang. Satu-satunya cara untuk melindungi kebenaran ini ... Adalah dengan menghentikan fantasi ini selamanya.”

Dengan tangan gemetar, ia menggenggam erat sebuah liontin kecil yang menggantung di lehernya. Setetes air mata jatuh membasahi pipinya, tetapi nada suaranya tetap tenang, bahkan dipenuhi oleh kepuasan yang gila.

“Selamat tinggal, ***. Di dunia yang cacat ini, kau mungkin tidak pernah menjadi milikku. Tapi di dalam kepalaku, di dalam dunia yang kubangun dengan tanganku sendiri, kau adalah satu-satunya realitasku yang abadi. Aku pergi... untuk mengunci dunia kita agar tidak ada lagi yang bisa menyentuhnya.”

Ia memejamkan mata perlahan, membiarkan tubuhnya bersiap menghadapi apa pun yang menantinya di bawah sana. Angin malam menderu keras di telinganya, menyapu kesadarannya, lalu perlahan memudar menjadi sebuah dengung panjang yang memekakkan telinga—

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk