Derit kursi kulit mahal di ruang rapat baru saja berhenti. Aku baru saja menyelesaikan rapat evaluasi portofolio kuartal kedua bersama jajaran direksi, sebuah presentasi panjang yang berjalan sangat mulus dan kembali menegaskan posisiku sebagai manajer senior yang tak tergantikan.
Sekarang adalah jam istirahat siang. Suasana lantai tiga puluh gedung firma finansial ini berangsur sepi karena sebagian besar staf memilih keluar untuk mencari makan. Aku memutuskan untuk tetap tinggal di kubikelku, melonggarkan sedikit dasi sutraku, dan bersandar pada sandaran kursi sembari menatap langit kota dari balik dinding kaca yang masif.
Keheningan yang tiba-tiba ini entah bagaimana justru menarik benang pikiranku mundur jauh ke belakang. Bayang-bayang kejayaan hari ini mendadak buram, tergantikan oleh rentetan memori dari dua belas tahun yang lalu. Tahun 2014. Tahun di mana duniaku masih sangat sederhana, berporos pada ambisi masa muda dan pesona seorang gadis bernama Lovelle Grace Higgins.
Saat itu, kami baru saja memulai hubungan sebagai sepasang kekasih di masa kuliah. Jika harus jujur tentang fisik, Lovelle di usia sembilan belas tahun adalah definisi dari keindahan yang mutlak. Dia memiliki rambut emas yang bergelombang jatuh dengan indah di bahunya, berkilau setiap kali terpapar sinar matahari senja di taman kampus. Sepasang matanya yang kehijauan selalu menatapku dengan binar jenaka yang penuh damba.
Masa-masa itu penuh dengan hal yang manis dan menyenangkan. Aku mengingat bagaimana dia akan berlari kecil ke arahku setelah kelas usai, mengaitkan jemarinya yang mungil di sela-sela jariku, lalu menyandarkan kepalanya di bahuku sambil menceritakan hal-hal acak dengan suara manjanya.
Kami sering menghabiskan waktu berjam-jam di kedai kopi dekat kampus, berbagi satu porsi wafel manis, di mana Lovelle dengan sengaja akan mengusap sisa krim di sudut bibirku menggunakan ibu jarinya sambil tertawa kecil. Berada di dekatnya membuat ego kemudaanku melambung tinggi. Lovelle tahu cara memperlakukanku seolah-olah aku adalah satu-satunya pria yang paling berarti di duniaku.
Namun, pusaran memori tahun 2014 itu tidak hanya berisi tentang Lovelle. Ada satu malam di ruang tengah rumah keluarga Miller yang mengubah seluruh peta hidupku untuk selamanya.
Malam itu, Joseph Arthur Miller—kakak laki-lakiku yang baru saja menyelesaikan sidang skripsinya dan resmi lulus kuliah di usia dua puluh hai tahun—berdiri di depan kedua orang tua kami dengan setelan kemeja rapi. Dengan nada suara yang mantap, dewasa, dan penuh percaya diri, Joseph meminta izin untuk segera menikahi kekasihnya.
Aku yang saat itu sedang duduk bersantai di sofa, hampir saja menyemburkan minuman yang sedang kureguk saat Joseph menyebutkan satu nama: Adora Lizbeth Sanders.
Aku syok bukan main. Pikiranku langsung terkunci pada sosok gadis yang setiap minggu duduk di barisan kursi depan ruang kelas semester empatku. Adora. Dia adalah teman sekelas satu angkatanku. Namun, kami berdua seperti hidup di dua planet yang berbeda.
Aku sama sekali tidak dekat dengannya. Di mataku saat itu, Adora adalah tipe mahasiswi yang sangat kaku, membosankan, dan terlalu berorientasi pada nilai.
Dia menghabiskan sebagian besar waktunya di perpustakaan atau laboratorium, selalu menjadi anak emas para dosen karena prestasinya yang akademisnya yang luar biasa.
Sementara aku? Aku adalah mahasiswa yang jauh lebih chill. Aku tidak peduli dengan IPK sempurna; aku lebih suka menghabiskan waktu dengan aktivitas kesenian, musik, dan petualangan outdoor di luar kampus—dunia yang mempertemukanku dengan Lovelle yang dinamis.
Sebab itulah, pengumuman Joseph malam itu terasa seperti hantaman godam di kepalaku. Memang, aku beberapa kali melihat Joseph menjemput Adora di depan fakultas, atau melihat mereka duduk bersama di kantin.
Tapi di mataku, interaksi mereka hanya kelihatan seperti kedekatan biasa antara seorang senior dan adik tingkat yang sering terlibat dalam proyek riset kampus. Tidak ada letupan asmara yang menggebu-gebu. Ditambah lagi, Adora bahkan belum lulus kuliah; dia baru menginjak tahun kedua sama sepertiku. Bagaimana bisa Joseph seberani itu melangkah ke pelaminan dengan gadis sekaku dia?
Aku ingat jelas, malam itu di dalam kamar, aku sempat tersenyum sinis dan mencemooh Adora dalam hati. Aku berpikir dengan sangat meremehkan: Untuk apa belajar mati-matian, berprestasi setengah gila, dan menjadi anak paling genius di angkatan, kalau pada akhirnya di usia dua puluh tahun dia memilih untuk langsung menikah dan mengabdi pada kakak laki-lakiku?
Saat itu, aku merasa Lovelle adalah pilihan jangka panjang yang jauh lebih baik—cantik, menyenangkan, dan tidak membosankan. Aku merasa telah memenangkan persaingan terselubung melawan Joseph karena memiliki wanita yang jauh lebih menarik secara fisik.
Aku mengembuskan napas berat, memutus jalinan kilas balik itu secara paksa. Jemariku kembali meraba saku kemeja, menyentuh jam saku antik peninggalan nenek yang berdetak konstan.
Sungguh sebuah ironi yang menggelikan. Dua belas tahun kemudian, di pertengahan tahun 2026 ini, cemoohan masa mudaku itu justru berbalik mencekik leherku sendiri. Sifat manja Lovelle kini mulai terasa sebagai bagian dari realitas hidupku yang rumit namun indah. Untuk saat ini.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!