Firasat

1 dibaca

A

April, 2026.

Jika ada satu kata yang paling absolut untuk menggambarkan hidupku di pertengahan tahun ini, kata itu adalah sempurna.

Di usiaku yang baru saja menginjak tiga puluh dua tahun, aku merasa telah berhasil mendirikan benteng kejayaan di atas duniaku sendiri. Sebagai seorang Jonas Alexander Miller, aku bukan lagi bocah kuliahan amatir yang selalu tertinggal selangkah di belakang bayang-bayang kebesaran kakak laki-lakiku.

Hari-hari yang kulewati belakangan ini berjalan dengan begitu ramah, bahkan terkesan memanjakan. Karierku di salah satu perusahaan firma finansial ternama sebagai manajer senior tidak hanya memberiku reputasi, tetapi juga penghasilan bulanan yang jauh lebih dari sekadar lumayan.

Angka di rekeningku sudah lebih dari cukup untuk membiayai seluruh gaya hidup kelas atas yang dulu hanya bisa kupandangi dari jauh.

Jabatan mentereng, kemapanan finansial, dan rasa hormat yang tulus dari orang-orang di industri ini kini telah sepenuhnya berada di dalam cengkeraman jemariku.

Pagi ini, seperti ritual harian biasanya, aku duduk dengan santai di balik kemudi mobil Porche Panamera hitam mengkilat milikku. Sembari menyesap kopi hitam dari kopi spesialty asli Brazil tanpa gula yang masih mengepulkan uap hangat, aku menatap lurus pada pantulan diriku sendiri di kaca spion tengah.

Aku merapikan kerah kemeja yang melekat pas di tubuhku. Semuanya tampak tepat pada tempatnya. Tidak ada yang kurang, tidak ada yang cacat.

Hidupku saat ini dikelilingi oleh orang-orang spesial yang melengkapi seluruh definisi sukses dalam kamusku.

Ada Joseph Arthur Miller, kakak kandungku yang kini berusia tiga puluh empat tahun. Dia adalah pria yang sejak kecil selalu menjadi tolok ukur utama di keluarga besar kami—mapan, karismatik, dan memiliki keluarga kecil yang begitu harmonis bersama istrinya, Adora Lizbeth Sanders.

Adora adalah wanita berusia tiga puluh dua tahun yang selalu berhasil memikat siapa saja lewat kombinasi kehangatan, tutur kata yang elegan, dan ketenangan yang luar biasa.

Hubunganku dengan keluarga Joseph pun berjalan sangat amat baik. Kami berdua sering kali menghabiskan waktu akhir pekan bersama, berkumpul di halaman belakang rumah mereka, bertukar cerita hangat tentang perkembangan pekerjaan dan ambisi masa depan.

Namun, di atas semua pencapaian materi dan kedekatan keluarga itu, ada satu sosok yang menjadi poros utama dari seluruh duniaku saat ini, Lovelle Grace Higgins.

Lovelle, istri tercintaku yang berusia tiga puluh satu tahun. Dia adalah wanita yang selalu tahu bagaimana cara mencuri seluruh perhatianku lewat kecantikannya yang mencolok, selera fesyen yang tinggi, dan riasan wajah kurasi terbaik yang selalu membingkai paras ayunya dengan sempurna.

Lovelle adalah perwujudan wanita yang elok, hangat, dan sangat mencintaiku dengan cara yang meluap-luap.

Terkadang, aku harus mengakui bahwa dia memang memiliki sifat yang terlampau kekanak-kanakan.

Dia kerap kali mengeluh tentang hal-hal kecil yang tidak penting, atau merengek meminta perhatian ekstra di tengah-tengah jadwal kesibukanku yang padat.

Namun bagiku yang sekarang, semua perangai childish-nya itu justru menjadi bumbu manis yang sangat menggemaskan, itu karena dia mencintaiku.

Aku sangat menikmati peranku sebagai pria pelindung, seorang suami mapan yang memegang kendali penuh untuk memenuhi segala keinginan materinya dan menenangkannya setiap kali dia mulai panik karena masalah sepele.

Kehidupan rumah tangga kami terasa begitu utuh dan lengkap, apalagi saat ini Lovelle tengah mengandung anak pertama kami, dengan usia kandungan yang baru saja memasuki bulan pertama. Aku merasa benar-benar menjelma menjadi pria paling beruntung di muka bumi ini.

Sambil menunggu lampu merah berganti hijau, jemariku bergerak lambat meraba saku bagian dalam kemejaku, menyentuh permukaan dingin dari sebuah benda pusaka yang selalu kubawa ke mana pun.

Sebuah pocket watch antik bermaterial emas murni dengan ukiran rumit di sekeliling permukaannya.

Jam saku itu adalah pemberian langsung dari mendiang nenek kami, sebuah warisan yang ia selipkan ke tanganku beberapa bulan ebelum mengembuskan napas terakhir.

Warisan itu sempat memicu kecemburuan yang tak pernah dibahas di meja makan keluarga, karena Joseph hanya mendapatkan sebuah jam tangan biasa–mahal, memang, tapi tidak sebanding dengan nilai historis jam sakuku.

Nenek selalu berbisik bahwa jam saku ini memiliki detak yang berbeda.

Di masa kuliah dulu, aku menganggap petuah itu hanyalah dongeng romantis orang tua.

Aku hanya bangga karena  memenangkan sesuatu yang lebih berharga daripada apa yang didapatkan oleh kakak laki-lakiku yang selalu sempurna. Aku suka bunyi klik pelannya, suka bagaimana rantai emasnya menjuntai anggun di saku celanaku, seolah benda itu adalah jimat keberuntunganku.

Tapi entah mengapa, tepat di tengah-tengah rasa puas dan gelombang kebahagiaan yang sedang meluap-luap pagi ini, sebuah desir aneh melintas lewat di tengkukku bersamaan dengan detak jam saku yang tiba-tiba terasa bergetar di balik kain kemejaku.

Itu adalah sebuah firasat.

Dingin dan datang begitu saja tanpa diundang. Sensasi yang sangat tidak menyenangkan itu merambat di leher dan tengkuk saat aku menatap barisan jalanan kota yang sibuk dari balik kaca mobil yang berembun.

Rasanya seolah-olah aku sedang berdiri dengan bangga, namun sayup-sayup telingaku bisa mendengar suara retakan kecil di bawah pijakan kakiku.

Aku menggelengkan kepala dengan cepat, berusaha keras mengusir pikiran buruk yang tidak masuk akal itu.

Ini hanya perasaan lelah karena kurang tidur, pikirku dalam hati sambil membuang napas berat ke udara. Tidak ada satu pun alasan logis bagi hidupku untuk hancur berantakan. Semuanya aman. Semuanya berada di bawah kendaliku.

Pikiranku mulai berputar, mencoba merasionalkan dari mana asal-usul firasat buruk yang mengganggu ini.

Aku mulai menebak-nebak dalam diam sembari memandangi jalanan yang perlahan mulai bergerak maju.

Apakah ada pekerjaanku di kantor yang tidak beres? Rasanya tidak mungkin. Aku selalu memeriksa semua dokumen audit dan portofolio klien dengan ketelitian tingkat tinggi sebelum menyerahkannya ke jajaran direksi. Semua proyek besar berada di bawah pengawasanku dan sejauh ini performa timku adalah yang terbaik di kuartal ini.

Atau, apakah ada mitra kerja yang diam-diam berkhianat di belakangku? Industri finansial memang kejam, penuh dengan musuh dalam selimut yang siap menusuk dari belakang demi sebuah promosi jabatan.

Aku mengingat kembali wajah-wajah rekan manajer di firma, mencoba mencari tahu apakah ada senyuman palsu yang melewatkan niat busuk untuk menjatuhkanku. Namun, posisiku terlalu kokoh untuk digoyahkan oleh intrik politik sekecil itu.

Atau jangan-jangan... ini sama sekali bukan tentang pekerjaan? Aku mengernyitkan dahi.

Apakah aku melewatkan sesuatu yang penting untuk Lovelle? Apakah aku lupa membelikan hadiah yang dia inginkan? Wanita hamil sering kali sensitif, dan Lovelle bisa merajuk berhari-hari hanya karena aku lupa membawa pulang kue stroberi kesukaannya.

Aku mengingat-ingat kalender di ponselku, memastikan bahwa hari ini bukan hari jadi pernikahan kami atau hari penting lainnya yang terlupakan. Tidak, semuanya kosong.

Tidak ada janji makan malam atau hadiah yang terlewatkan. Yah, kurasa tebakan-tebakanku hanyalah bentuk paranoia sesaat dari otak yang terlalu lelah bekerja.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk