DIANTARA RERUNTUHAN

1 dibaca

A

“Aku baik-baik saja.” Mayor Raka berkata.

“Kamu berdarah!” Seru Alesha.

Alesha melihat noda merah mulai menyebar di sisi seragam Raka. Wajah lelaki itu pucat. Namun matanya tetap tenang.

“Cuma luka, ” ujarnya datar.

“Cuma luka?” Alesha hampir berteriak. “Kamu tertimpa beton!”

Raka menatapnya. Ada sesuatu dalam tatapannya yang membuat Alesha terdiam. Tatapan itu terasa sangat familiar.

Terlalu familiar.

“Vey...” Raka berbisik. Alesha mengerutkan kening.

“Namaku Alesha.”

Raka tersenyum tipis.

“Dulu juga begitu.” Alesha terdiam.

Suara ledakan kembali terdengar dari luar.

DUARRR! Bangunan berguncang.

Kali ini jauh lebih keras. Raka langsung menarik Alesha merunduk.

“Turun!”

Bom lain jatuh di sekitar bangunan. Suara kaca pecah terdengar dari lantai atas. Alesha memandang ke arah lorong.

“Pasien-pasien kita?” Raka mengangkat radio.

“Hawk One to all units. Report.”

Hanya suara statis.

“Hawk One to Falcon Two. Report!”

Tidak ada jawaban.

Raka mencoba lagi.

“Atlas Three?” Hening. Wajahnya berubah. Mereka terisolasi. Alesha menatapnya.

“Kita sendirian?” Aleha cemas namun tak berani menunjukkannya. Raka tidak menjawab.

Raka memeriksa radio.

“Untuk sementara.”

“Dan pasien?”

“Timku pasti sedang mencari mereka.”

“Kau tidak tahu.”

Raka tidak menjawab. Karena Alesha tahu jawabannya. Mereka benar-benar terpisah. Sebagian bangunan telah runtuh. Jalur menuju pintu keluar tertutup beton.

Jendela-jendela pecah. Asap mulai masuk dari celah dinding. Alesha segera membuka tas medisnya.

“Duduk.” Raka mengangkat alis.

“Apa?” Raka menatap bingung.

“Duduk!”

“Aku bisa… ”

“Raka Ardhana! Kamu pasien sekarang!” Ucap Alesha mutlak. Suaranya berubah. Tegas. Sangat tegas.

Raka akhirnya menurut.

“ Kami masih mengenali aku Vey.. “ Raka menahan senyum. Alesha tak menjawab. Dokter cantik itu membuka bagian seragam yang robek di sisi tubuhnya. Ia melihat luka dalam di bawah tulang rusuk. Wajahnya langsung pucat.

“Ini bukan cuma luka.”

“Tidak terlalu dalam.”

“Diam.” Alesha berusaha fokus.

Alesha membersihkan darah dengan tangan yang mulai gemetar. Raka memperhatikannya.

“Kamu masih sama.” Alesha berhenti.

“Apa?”

“Kalau panik, tanganmu gemetar.”

“Aku tidak panik.”

“Dulu juga kamu selalu bilang begitu.” Alesha menatapnya.

“Jangan bicara tentang dulu.”

Raka tersenyum samar.

“Kenapa?”

“Karena sekarang bukan waktunya.”

“Memang.”

Hening.

Kemudian Raka bertanya pelan.

“Kenapa kamu tidak pernah memberitahuku bahwa kamu ditugaskan ke Arkania?”

Tangan Alesha berhenti.

“Aku tidak tahu kamu di sini.”

“Aku mencari namamu di daftar tenaga medis sejak tiga bulan lalu.”

Alesha menatapnya.

“Kenapa?”

“Entahlah.”

Raka menunduk.

“Mungkin aku ingin tahu apakah kau masih hidup.”

Alesha menelan ludah. Satu kalimat sederhana. Namun menghantamnya lebih keras daripada ledakan tadi.

Mereka pernah saling mencintai. Bertahun-tahun lalu. Sebelum seragam. Sebelum perang. Sebelum dunia membuat mereka memilih jalan masing-masing.

Mereka berpisah tanpa benar-benar berhenti mencintai. Sebuah ledakan kembali mengguncang bangunan. Alesha kehilangan keseimbangan. Raka spontan meraih tangannya.

“Vey.. ” Raka menatap Alesha.

“Jangan panggil aku begitu.”

Raka terdiam. Alesha menunduk.

Namun sebelum ia sempat mengatakan apa-apa, suara retakan terdengar dari atas.

KREK. Raka mendongak.

“Pergi!!!!” Raka berteriak keras.

“Apa?” Alesha belum bisa mencerna apapun.

“Sekarang!” Titah Raka

Raka menarik Alesha.

Mereka berlari beberapa langkah sebelum bagian langit-langit runtuh tepat di belakang mereka.

BRAAAK!

Debu memenuhi ruangan.

Alesha terjatuh.

Raka kembali menubruknya, melindungi tubuh perempuan itu dengan tubuhnya sendiri.

Namun kali ini, suara erangan Raka terdengar jelas.

“Raka!”

Alesha segera memegang wajahnya.

Darah mengalir dari pelipis lelaki itu.

“Raka!”

Suara Alesha menggema.

“Aku... masih hidup.”

“Kau gila!”

Raka tersenyum lemah.

“Sudah kubilang.”

Alesha memeluk bahunya agar tetap sadar.

Dan tanpa sadar, kata yang sudah bertahun-tahun tidak pernah ia ucapkan keluar dari bibirnya.

“Ardhan.. .”

Raka membuka mata. Alesha membeku.

“Ardhan.... jangan tidur.”

Raka menatapnya. Tatapan lelaki itu melembut.

Itulah nama kecil yang hanya pernah digunakan Alesha ketika mereka masih bersama. Nama yang hanya ia izinkan keluar dari bibir perempuan itu.

“Panggil lagi,” bisiknya.

Alesha menahan air mata.

“Jangan bercanda.”

“Sekali saja.”

“Ardhan...”

Senyum kecil muncul di wajah Raka.

“Aku kira kau sudah lupa.”

“Aku tidak pernah lupa.”

Kalimat itu keluar begitu saja. Alesha langsung terdiam. Raka juga. Di tengah bangunan yang runtuh, di dalam perang dengan hujan bom yang terus menghantam Kharzov. Mereka kembali menjadi dua anak muda yang pernah saling mencintai.

Hanya saja sekarang mereka tidak lagi memiliki waktu sebanyak dulu. Suara pesawat tempur meraung di atas mereka.

Kemudian…. DUARRR!

Ledakan dahsyat mengguncang bangunan.

Alesha menjerit.

“RAKA!”

Tubuh Raka terhempas.

Sebuah batang besi menembus bagian bahunya dan menjepit tubuhnya ke lantai.

“RAKA!”

Alesha berlutut di sampingnya. Darah mengalir semakin deras. Raka berusaha membuka mata.

“Alesha...”

“Aku di sini.”

“Kalau aku tidak bisa keluar...”

“Jangan bicara seperti itu!”

“Dengarkan aku.”

“Tidak!”

“Alesha.”

Perempuan itu menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

Raka tersenyum tipis.

“Kalau aku tidak bisa keluar... kau harus tetap pergi.” Alesha menggeleng keras.

“Tidak.”

“Janji.”

“Aku tidak akan meninggalkanmu.”

“Aku serius.”

“Aku juga serius!”

Raka menatapnya lama.

Lalu, dengan sisa tenaga yang dimilikinya, ia menggenggam tangan Alesha.

“Dulu kau pergi.”

Alesha terdiam.

“Jangan lakukan itu untuk kedua kalinya.”

Air mata akhirnya jatuh dari mata Alesha.

Ia menggenggam tangan Raka semakin erat.

“Tidak kali ini.”

Raka menutup mata.

“Rakaa… !”

Alesha mengguncang bahunya.

“Raka!”

Tidak ada jawaban.

“Rak...”

Suara Alesha pecah.

“Bangun.”

Ia menempelkan dahinya pada tangan lelaki itu.

“Jangan tinggalkan aku lagi.”

Di luar, bom masih berjatuhan. Kharzov terus terbakar. Namun di dalam reruntuhan itu, Alesha hanya mendengar satu hal. Detak jantung Raka. Pelan. Sangat pelan.

Bahkan setelah bertahun-tahun, Alesha menyadari sesuatu yang selama ini ia coba kubur. Ia“a tidak pernah berhenti mencintai lelaki itu.

Dan malam ini perang mungkin akan memaksanya kehilangan Raka untuk kedua kalinya. Bedanya, kali ini Alesha tidak akan membiarkannya pergi begitu saja.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk