Orang-orang selalu bilang, pekerjaanku adalah pekerjaan paling membahagiakan di dunia. Aku membantu mereka mewujudkan pernikahan impian sehingga menjadi hari terbaik di hidup mereka. Mulai dari lamaran sederhana di halaman rumah hingga pesta mewah di hotel bintang lima, aku sudah melihat ratusan kisah cinta berakhir di pelaminan.
Lucunya, semakin banyak pernikahan yang kuurus, semakin aku sadar bahwa cinta tidak pernah sesederhana dekorasi indah dan janji suci untuk sehidup semati. Paling tidak, itu yang aku pahami dari pengalaman pernikahanku sendiri yang sudah berjalan enam tahun lamanya.
Pernikahan tidak hanya sekedar tinggal dan tidur bersama, pernikahan itu lebih kompleks. Tentang menerima sisi terbaik dan terburuk dari pasangan serta bagaimana kita akan saling memahami, memaklumi, dan memaafkan. Seiring berjalannya waktu, pernikahan tidak hanya tentang pasangan suami istri. Tapi perlahan berubah menjadi persahabatan dan partner yang saling memahami.
Itulah yang menjadi pondasi awal aku dan Dina Maheswari Atmaja, sahabat dan juga partner bisnisku, membangun Wedding Organizer yang kami namakan Ever After, dengan harapan siapa pun yang memakai jasa kami, akan memiliki pernikahan yang bahagia untuk selamanya.
Rasanya baru kemarin aku dan Dina resign untuk membangun WO ini. Awalnya hanya celetukan bercandaku saja, daripada bekerja siang malam tapi yang makin kaya hanya bos kami saja, mendingan kita kerja subuh ketemu subuh untuk perusahaan sendiri. Ternyata ide gilaku disambut antusias oleh Dina. Dan lahirlah Ever After hingga hari ini sudah empat tahun lamanya. Bukan hal yang mudah memang untuk sampai ke titik ini. Dan kalau kuhitung, baru dua tahun ini Ever After banyak dilirik klien yang cukup bergengsi.
“Bunda Alina!”
Suara riang itu membuatku menoleh. Seorang bocah laki-laki berlari menghampiriku dengan setelan jas mungil yang masih sedikit kebesaran.
“Mama Dina bilang aku ganteng!”
Aku berlutut dan membetulkan dasi kupu-kupunya yang miring.
“Ganteng sekali, Finno sayang. Tapi pembawa cincin pengantin tidak boleh lari-lari. Nanti jatuh.”
Bocah itu terkekeh sebelum kembali berlari. Aku tersenyum. Pemandangan seperti ini seharusnya membuatku bahagia. Tanganku tanpa sadar menyentuh perut sendiri. Kosong. Ada kehampaan yang menyesakkan dadaku.
Sudah dua tahun berlalu sejak aku kehilangan bayi kami. Dua tahun juga sejak aku dan Arka sepakat berhenti membicarakan program hamil. Bukan karena menyerah, hanya lelah berharap. Terutama aku.
“Al!”
Aku mendongak.
Dina melambaikan tangan sambil berjalan menghampiriku.
“Ngapain melamun? Pengantinnya sudah siap.”
Aku tersenyum tipis. “Iya, iya.. Aku datang.”
Acara pernikahan hari ini berjalan lancar. Tidak ada pengantin yang terlambat. Tidak ada keluarga yang bertengkar. Tidak ada dekorasi yang rusak.
Sempat ada sedikit masalah, anak yang jadi pembawa cincin mendadak demam tadi pagi. Untunglah ada Finno anaknya Dina yang terbiasa menjadi pengiring pengantin dan juga pembawa cincin cadangan.
Finno sudah terlatih oleh Dina, sehingga dia selalu siap setiap saat. Hari yang berjalan hampir sempurna.
Setelah tamu terakhir pulang, aku menjatuhkan tubuh di sofa kantor. Dina datang membawa dua cup es kopi susu favorit kami.
“Nih. Biar semangat lagi.”
Aku menerimanya dengan penuh senyum. “Makasih Din, kamu yang paling ngertiin aku.”
“Ya dong!”
Kami tertawa kecil. Dina meletakkan sebuah map putih di meja. Sahabatku yang bertubuh mungil nan gesit ini tampak bersemangat.
“Ada kabar baik.”
Aku mengangkat alis, “Apa tuh?”
“Kita dapat klien baru.”
“Oke, terus?”
“Bukan sekadar klien biasa.” Dina duduk di depanku sambil menahan senyum, “Klien VIP.”
Aku mulai tertarik dan terus mendengarkannya.
“Mereka minta paket super premium.” Lanjut Dina. “Venue hotel bintang lima dengan konsep internasional.”
Dina menarik nafas dalam sebelum melanjutkan kalimat berikutnya, “Budget mereka dua miliar.”
Aku hampir tersedak es kopi susuku, “Wow! Dua miliar?”
Dina mengangguk bangga sambil bertepuk tangan, “Dan mereka memilih kita! Ever After!”
Aku memandangi map itu. Proyek sebesar itu bisa membuat kondisi keuangan perusahaan jauh lebih aman. Bahkan kami bisa mempertimbangkan ekspansi Ever After agar bisa melayani klien di luar kota. Aku juga sudah membayangkan dengan dana segitu, berbagai ide kreatif untuk pernikahan yang ada di kepalaku, bisa dengan mudah diwujudkan. Sudah lama kami mengincar klien seperti ini.
“Kapan meeting?” Tanyaku tak sabar
“Besok. Nanti kuinfokan jam berapanya.”
“Nama klien?”
“Calon pengantin wanitanya Celine Aurelia Wijaya. Dari info yang kudapat, dia ini sosialita dengan kehidupan pribadi yang agak tertutup gitu. Udah bolak-balik aku cek media sosialnya, cuma ada Instagram yang terkunci private, lalu Facebook yang terakhir di update itu tahun 2012.”
Aku membuka map itu. Foto seorang wanita cantik terselip di halaman pertama. Rambut hitam panjang lurus hampir sepinggang, mata sipit, kulit putih bening dengan senyum anggun dan tatapan yang lembut.
Aku mengangguk pelan. “Cantik sekali.”
“Iya, kan? Orangnya juga katanya ramah. Kebetulan salah satu teman klub padelku pernah ketemu pas acara amal gitu.”
Aku membalik halaman berikutnya langsung fokus mencari referensi serta garis besar konsep pernikahan yang diinginkan calon klien, tak sabar untuk menyusun ide-ide fantastis untuk mereka. Sampai akhirnya mataku berhenti pada satu kolom. Nama calon pengantin pria. Kolom yang tadinya sempat aku lewatkan karena kebiasaanku yang mempelajari keinginan calon klien duluan sebelum menghapal nama-nama mereka.
Tanganku membeku. Suara di sekelilingku mendadak hilang. Aku berkedip beberapa kali. Mungkin aku salah baca. Namun barisan nama itu tetap sama. Tanganku melemas, cup kopi di tanganku terlepas. Isinya tumpah membasahi lantai dan serpihan es batu berhamburan ke mana-mana.
“Al!”
Suara Dina terdengar samar. Aku tidak bisa bergerak. Jantungku berdegup begitu keras hingga rasanya memenuhi seluruh ruangan.
Tidak mungkin. Sudah dua belas tahun berlalu. Dua belas tahun aku mencoba melupakan nama itu dan selama itu juga aku belajar menerima bahwa beberapa kisah cinta memang tidak ditakdirkan sampai ke pelaminan.
Namun nama itu... Nathaniel Ren Pratama. Lelaki yang selalu menggerutu setiap kali aku memanggil nama lengkapnya.
”Kepanjangan. Panggil Nathan saja.”
Aku selalu menggeleng. “Tidak. Aku suka nama Nathaniel. Terdengar lebih romantis.”
Nathan tertawa gemas, lalu mencubit pipiku pelan, “Kalau begitu, setelah kita menikah, kamu boleh memanggilku Nathaniel sepuasnya.”
“Al, kamu kenapa?” Dina mengguncang bahuku.
Kenangan itu datang begitu saja, tanpa izin. Aku menatap Dina, suaraku seperti tertahan di tenggorokan, “Aku...”
“Kenapa?” Dina tampak agak panik.
Aku menelan ludah. “Maaf, tanganku licin.”
Mataku kembali jatuh pada nama yang tercetak rapi di atas kertas putih itu. Dina cepat-cepat memanggil cleaning service untuk membantu membereskan kekacauan akibat es kopi susuku yang tumpah.
Aku tidak tahu mana yang lebih menyakitkan. Mengingat lelaki itu. Atau menyadari bahwa besok aku harus menjadi wedding organizer untuk pernikahannya dengan wanita lain.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!