Bagian 2

2 dibaca

A

“Alina sayang..”

Aku mengangkat kepala. Arka berdiri di depan pintu rumah dengan kaus hitam favoritnya dan celana training. Lengannya terlipat di dada, sementara senyum tipis menghiasi wajahnya.

“Kok bengong?”

Aku tersadar. “Oh... kamu udah pulang, Mas?”

Arka mengernyit, “Iya, tadi kan aku udah ngabarin kamu. Lupa ya?”

Aku memaksakan senyum. “Tadi agak sibuk, aku belum baca chat dari kamu.”

Arka mendekat dan mengambil tasku.

“Nyampe rumah harusnya langsung masuk, bukan bengong di depan pagar.”

“Iya nih, saking capeknya jadi error begini.”

Arka mengusap kepalaku sambil tersenyum. “Masuk yuk. Aku udah masak.”

Aku menatapnya. “Beneran?”

“Lho, memangnya kenapa? Aku protes, ya, kalau istriku meragukan kemampuan memasakku.”

Aku terkekeh pelan.

Kami masuk ke rumah yang sudah enam tahun menjadi tempat pulang. Rumah yang didesain Arka saat kami masih pacaran yang kemudian selesai dibangun tepat sebulan sebelum hari pernikahan kami. Rumah dimana setiap sudutnya memiliki cerita.

Samar aku mencium dari ruang tamu aroma sedap dari arah dapur, aku menebak, sepertinya aroma dari kaldu ayam.

Aku terus melangkah di belakang suamiku. Foto pernikahan kami terpajang di ruang keluarga. Foto bulan madu di Banda Neira, saat kami diving di Raja Ampat, ketika merayakan anniversary pernikahan pertama hingga ke-enam.

Lalu... Mataku berhenti pada sebuah bingkai kecil di atas rak. Foto hasil USG. Tanganku mengepal. Arka menyadari arah pandanganku dan cepat-cepat ia berjalan mendekat dan memindahkan bingkai itu ke samping.

“Maaf, maaf.. Aku lupa terus deh buat nyimpan ini di laci.”

Aku menggeleng sambil mengusahakan seulas senyuman, “Nggak apa-apa, Mas. Gak perlu pake minta maaf segala.”

Arka Mahendra Atmaja.

Laki-laki berusia 36 tahun itu lebih tua dua tahun dariku. Cinta kami bukanlah cinta pada pandangan pertama. Dia adalah kakak laki-laki sahabat serta partner bisnisku Dina. Pertemuan kami biasa saja. Tidak romantis.


Pertemuan pertama kami di kantor Ever After, tahun pertama aku dan Dina merintis.

”Mbak Alina?”

Aku mendongak dari laptop. Seorang pria berperawakan sedang namun tegap berdiri di depan meja resepsionis kantor.

”Kakaknya Dina ya, Mas?”

Pria itu tersenyum. “Iya. Kenalin, aku Arka.”

”Mau jemput Dina? Silakan duduk dulu ya, Mas. Dina masih meeting di luar sama klien.”

Waktu itu, anggota Ever After hanya aku dan Dina, berkantor di ruko sederhana. Kami berbagi tugas. Jika Dina yang keluar meeting dengan klien, maka aku tetap di kantor.

”Iya, aku tunggu di sini aja ya.”

Arka duduk tanpa banyak bicara. Lima belas menit kemudian, tiba-tiba istrik padam.

Aku mengembuskan napas panjang. “Maaf ya Mas, kita gak punya genset. Agak panas nih.”

Arka melihat sekeliling. “Gak masalah. Kamu belum makan siang ya?”

Aku menggeleng. “Lupa.”

”Lupa atau sengaja?”

Aku tertawa kecil. “Sama saja.”

Arka berdiri dan keluar dari kantorku. Aku tak sempat bertanya dia mau ke mana. Aku masih sibuk melanjutkan pekerjaan yang harus aku selesaikan. Sepuluh menit kemudian ia kembali, membawa dua bungkus nasi padang.

”Dina bilang kalau partner kerjanya lupa makan, berarti harus dipaksa.”

Aku mengangkat alis. “Masa sih?”

”Aku takut dimarahi adikku. Jadi makan dulu aja yuk!”

Aku tertawa geli.

Arka tersenyum kecil sambil membuka bungkusan nasi padangnya, dia menepuk-nepuk kursi di sampingnya, “Ayo makan.”


Meja makan sudah tersedia lauk sederhana, sup ayam, telur dadar, tumis buncis lengkap dengan sambal kecombrang kesukaanku. Suamiku tahu persis, sup ayam adalah comfort food-ku. Aroma sup ayam inilah yang aku cium dari ruang tamu tadi.

“Kamu yang masak semua ini, Mas?”

Arka mengangguk bangga. “Yuk, cobain. Terus kasih nilai untuk masakanku malam ini.”

Aku duduk dan Arka mengambilkan nasi untukku seperti yang selalu ia lakukan.

“Jangan kebanyakan.” Cegahku saat Arka akan menyendokkan lagi nasi ke piringku.

“Tumben makannya dikit? Biasanya suka nambah kalau ada sambal kecombrang dan sup ayam.”

Aku menatap piring. “Lagi gak selera aja. Maklum, banyak kerjaan.”

“Kalau terlalu capek, libur dulu.”

Aku tersenyum. “Wedding organizer libur saat musim nikahan? Bisa bangkrut kali.”

Arka tertawa. “Nah, ini baru Alina yang aku kenal. Selalu penuh semangat.”

Aku terdiam, ada ganjalan di hatiku. Semua perhatian dan kenyamanan yang diberikan suamiku ini membuat hatiku disisipi perasaan bersalah yang aneh. Bagaimana kalau Arka tahu bahwa hari ini aku diingatkan kembali dengan masa lalu yang selama ini berusaha kulupakan?

“Al?”

“Hmm?”

“Kamu benaran baik-baik aja, kan?”

Aku mengangguk cepat. “I’m fine.”

Arka tidak bertanya lagi. Ia mengambilkan sup untukku. Lalu menyuapkan perlahan ke mulutku. Aku membuka mulut dan mulai mengunyah makananku.

Arka tersenyum hangat. Senyum yang amat aku sukai. Tangannya membelai pelan kepalaku. Mengusap-usapnya dengan sayang.

Aku menatap Arka lekat. Lelaki ini menujukkan pada ku bahwa cinta itu sesederhana seseorang yang hafal bagaimana kebiasaan remehku, seperti aku yang tak suka daun bawang terlalu banyak di dalam sup dan buburku. Sehingga dengan senang hati dia akan memindahkan daun bawang dari mangkukku ke mangkuknya, tapi tetap menyisihkan sedikit sesuai seleraku. Dan masih banyak lagi kebiasaanku yang sudah dia hapal. Mungkin ini yang membuatku merasa bersalah padanya saat hatiku berdebar saat membaca nama itu.

“Kanapa melamun lagi, sih?”

Aku tersadar. “Hah?”

“Dari tadi loh!”

Aku tertawa kecil. “Ups, maaf..”

Arka mengulurkan tangan dan menyentuh dahiku.

“Nggak demam.”

Aku menepis pelan tangannya. “Aku sehat ya!”

“Syukurlah.” Arka terkekeh pelan.

Kami kembali makan sambil aku mendengarkan lelucon Arka tentang kejadian di kantornya hari ini. Aku cukup terhibur meski ganjalan di hatiku tetap ada.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk