Bagian 4

1 dibaca

A

Aku hampir tidak tidur semalaman, sibuk membolak-balikan tubuhku di kasur. Sambil sesekali mengecek Arka, khawatir dia akan terbangun. Setiap kali memejamkan mata, nama dan wajah itu kembali muncul di pikiranku.

Sudah dua belas tahun sejak terakhir kali aku mendengar namanya. Dua belas tahun sejak aku memutuskan untuk mengubur semua kenangan tentang lelaki itu dan menjalani hidup yang kupilih. Namun ternyata, beberapa kenangan tidak pernah benar-benar hilang. Mereka hanya menunggu waktu yang tepat untuk kembali.

“Al.”

Aku tersentak dari lamunanku. Arka berdiri di ambang pintu ruang kerjaku di rumah sambil menyandarkan bahunya pada kusen.

“Udah bangun dari tadi?”

Kopi yang sedang kuaduk sedikit tersentak, hampir saja buku agendaku basah.

“Iya.”

Arka melirik jam dinding. “Masih jam lima.”

“Aku ada meeting pagi.”

Arka mengangguk pelan, “Kopinya diminum, jangan cuma diaduk aja.”

Aku menunduk. Entah sudah berapa lama Arka memperhatikanku yang larut dalam pikiranku sendiri.

“Iya.” Jawabku singkat.

Arka menghampiriku. Tangannya mendarat di bahuku. Aku mengangkat wajah. Senyum Arka masih sama, hangat dan menenangkan.

“Aku cuma susah tidur aja semalam. Mungkin karena kepikiran ide-ide yang mau dijabarkan ke klien baru.”

“Klien yang dua miliar itu?”

Aku mengangguk.

Arka tersenyum. “Kamu pasti bisa.”

“Segitu yakinnya?”

“Aku udah lihat langsung gimana kamu menghadapi ibu-ibu yang ribut soal warna taplak meja.”

Aku tertawa. “Bisa aja kamu, Mas!”

“Nah! Kalau itu saja bisa kamu hadapi, klien dua miliar ini pasti mudah saja bagimu.”

Aku menghela napas. “Mungkin karena ini klien pertama dengan dana fantastis.”

Arka mengusap pelan kepalaku. “Nanti malam jangan lupa ya, aku jemput.”

“Hm?”

“Kita makan malam.”

Aku hampir lupa. “Kencan?”

“Iya. Kamu ke kantor pake taksi online aja, gak usah bawa mobil.”

Aku tersenyum. “Oke.”

“Jangan lembur.”

“Aku usahakan.”

Arka mengangguk puas.

“Aku mandi dulu ya, habis itu mau nge-gym dulu sebelum ke kantor.”

Ia mengecup keningku singkat sebelum ke kamar mandi.

Aku masih terpaku di kursiku. Kupijat keningku pelan sambil memejamkan mata. Jangan sampai semuanya berubah.


“Are you okay?”

Suara Dina membuatku mendongak, “Hah?”

“Kayak orang banyak pikiran.”

Aku mengernyit. “Masa sih?”

“Mau kopi?”

Aku menggeleng. “Kurang tidur aja.”

Dina menyipitkan mata. “Kamu gugup?”

“Gugup kenapa?”

“Klien baru dua miliar.”

Aku memutar bola mata. Dina terkekeh.

“Oke, bentar lagi calon mempelai wanita tiba. Calon suaminya agak telat sih katanya.” Kata Dina setelah membaca pesan di handphone-nya.

Aku menarik napas panjang. “Oke. Aku siap. Bahan-bahan buat dibahas di meeting udah oke?”

Dina mengangguk. “Udah disiapin Gino.”

Dina memeriksa bahan-bahan meeting sekali lagi di tablet-nya. Contoh undangan, katalog dekorasi, daftar vendor, semuanya rapi.

Aku mengarahkan jemariku ke katalog yang sedang dipelajari Dina. “Aku suka meja panjang ini. Bagian bawahnya bisa kita ajukan ide untuk dipasang rumbai-rumbai dari daun kelapa, lalu kita tambahkan janur tradisional warna baby blue di pintu masuk supaya unik, siapa tahu mereka ingin menyisipkan nuansa tradisional di tema internasional mereka.”

“Ide bagus!”

“Semoga mereka suka.”

“Aku sih optimis!”

Aku mengambil tablet dan membuka catatan meeting. Aku harus fokus. Ini hanya pekerjaan. Tidak lebih. Aku harus profesional.

Pintu ruanganku diketuk pelan dan dibuka. Gino, sekretaris kantorku masuk.

“Permisi, mbak Alina, Mbak Dina.”

“Iya?” Jawab Dina.

“Kliennya sudah datang.”

Jantungku berdetak sedikit lebih cepat.

“Tolong dibantu arahkan ke ruang meeting kita, Gino.” Jawab Dina.

Tiara mengangguk cepat, lalu kembali keluar.

“Kita pasti bisa!” Dina berbisik padaku.

Kami berjalan menuju ruang meeting sambil membawa perlengkapan yang diperlukan. Begitu masuk ke ruangan meeting, mataku langsung menjelajahi ruangan.

Seorang wanita berdiri di ruangan bersama Gino. Cantik, anggun dengan rambut hitam panjang tergerai rapi dan makeup tipis yang sangat elegan. Gaun maxi organza Brunello Cucinelli terlihat sangat apik di tubuh bak modelnya. Tangannya menjinjing tote bag ostrich tempete Delvaux berwarna taupe.

Saat melihat kami, ia tersenyum hangat.

“Halo.”

Aku mengulurkan tangan. “Halo, saya Alina.”

Wanita itu menjabat tanganku. Aku melihat sekilas cincin yang melingkar di jari manisnya, aku menebak itu adalah Cartier 1895 Solitaire.

“Celine.” Senyumnya tulus.

Dina turut memperkenalkan dirinya. Tiara meninggalkan kami bertiga dan menutup pintu ruangan meeting.

Aku menatap Celine, “Selamat datang, semoga kita bisa bekerjasama dengan baik.”

“Tentu. Terima kasih.”

“Silakan duduk.”

“Aku sudah melihat banyak hasil pekerjaan kalian.”

Aku tersenyum. “Semoga tidak mengecewakan.”

“Aku yakin kalian yang terbaik. Tidak semua WO bisa menggandeng Ellie Saab Bridal.”

“Iya, dua bulan yang lalu klien kami melakukan fitting di Paris, lalu penyesuaian akhir dilakukan di Singapura.”

Aku mulai merasa lebih santai. Celine ternyata jauh dari bayanganku tentang perempuan kaya yang sulit dihadapi.

“Kita mulai?”

“Tentu.”

Dina menekan remote kecil di tangannya. Layar dinding perlahan menyala, menampilkan sebuah ballroom yang dihiasi ribuan bunga putih dan cahaya lampu kristal yang lembut. Slide berikutnya berganti ke pesta kebun dengan meja panjang berlapis linen putih, lalu sebuah resepsi bergaya klasik di rumah tua bergaya kolonial.

Aku membuka pembicaraan. “Konsep pernikahan seperti apa yang Anda inginkan?”

“Aku sudah lihat beberapa portofolio Ever After.”

Aku membalas senyumnya. “Ada konsep yang paling Anda sukai?”

“Aku sebenarnya tidak punya konsep yang terlalu rumit.”

“Apa yang Anda bayangkan untuk hari pernikahan ini?”

Celine berpikir sejenak lalu menjawab, “Aku ingin tamu merasa nyaman. Bukan pesta yang membuat orang sibuk mengambil foto untuk media sosial.”

Aku dan Dina mengangguk mendengarkannya.

Celine melanjutkan, “Aku ingin mereka datang, menikmati makan malam yang enak, berbincang dengan keluarga, lalu pulang sambil merasa mereka menghadiri sesuatu yang hangat.”

“Jadi konsep intimate?”

Celine tertawa kecil. “Apakah seribu tamu bisa disebut intimate?”

Kami ikut tertawa.

“Tapi aku ingin semuanya terasa personal.” Lanjut Celine.

Aku mencatat poin-poin penting yang disampaikan Celine di tabletku.

“Bagaimana dengan dekorasi?”

Celine berpikir sebentar. “Aku suka bunga.”

“Bunga seperti apa?”

“Bunga lokal yang sedang musim.”

“Pilihan bagus. Mungkin kita bisa pertimbangkan melati Jawa, sedap malam, dan gardenia.”

Celine tersenyum senang

“Warna favorit Anda?”

“Ivory dan hijau tua. Untuk dekorasi mungkin bisa tambahkan sedikit sentuhan champagne.”

“Bagaimana dengan penggunaan crystal?”

“Secukupnya saja.”

“Kalau ditambahkan sentuhan gold?”

“Matte gold! Aku suka itu.”

Aku tersenyum. “Baik, kita sudah punya bayangan konsep untuk dekorasi. Bagaimana untuk tempatnya? Indoor atau outdoor?”

“Keduanya! Untuk after party akan kita lakukan indoor.”

“Secara keseluruhan, apakah kamu punya keinginan khusus untuk pesta pernikahan ini?”

Celine mengetuk-ngetuk jemarinya di meja sambil bepikir, “Aku hanya ingin semuanya terlihat seperti seharusnya.”

Aku berhenti mencatat di tabletku. “Maksud Anda?”

“Aku tidak ingin tamu masuk dan berpikir, ‘Wah, mereka menghabiskan miliaran rupiah untuk pesta ini.’”

“Lalu?”

“Aku ingin mereka masuk dan merasa, ‘sudah seharusnya pesta pernikahan mereka seperti ini’, aku tidak suka kemewahan yang mencolok. Aku suka sesuatu yang sederhana.”

“Sederhana menurut definisi orang kaya ternyata berbeda.” Celetuk Dina reflek.

Aku mencolek Dina.

“Maaf.”

Celine tertawa. “Tak apa. Aku tidak terlalu mahir memilih kata yang tepat. Tapi kalian paham kan maksudku?”

Aku mengangguk cepat. “Tentu saja, kami akan memaksimalkan kemampuan kami untuk mewujudkan pernikahan impian Anda.”

Dina melanjutkan slide berikutnya.

“Lalu...”

Belum sempat aku menyelesaikan kalimat, pintu ruangan meeting diketuk. Gino masuk, diikuti seorang pria.

“Permisi..”

“Sepertinya dia datang.” Celine berdiri

Aku ikut menoleh. Jantungku berhenti berdetak. Seorang pria berdiri di ambang pintu. Setelan kemeja putih dengan lengan tergulung rapi. Tubuh tinggi dan tegap, dengan kulit putih dan rambut hitam yang tertata sederhana.

Tatapannya menyapu ruangan. Lalu berhenti tepat padaku. Aku mengenal tatapan itu. Tatapan yang dulu selalu menatapku penuh cinta.

Dia belas tahun berlalu. Namun aku tetap mengenalinya, Nathaniel Ren Pratama.

Bisa kurasakan keterkejutan di matanya yang membesar. Seolah ia juga tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Celine tersenyum. “Nathan, kamu akhirnya tiba.”

Nathan tidak menjawab. Tatapannya masih tertuju padaku. Aku menggenggam tablet di pangkuanku begitu erat hingga jemariku memutih.

“Sayang?”

Suara Celine membuat Nathan tersadar. Ia mengalihkan pandangan, lalu berjalan mendekati kursi Celine sambil tersenyum.

Langkahnya yang tenang berbanding terbalik dengan detak jantungku yang terasa hendak keluar dari dada.

“Ini calon suamiku, Nathan.”

Aku menahan napas.

“Nathan, ini Alina dan Dina. Owner Ever After.”

Nathan menatapku untuk beberapa detik. Lalu ia mengulurkan tangan.

“Halo.”

Suara itu masih sama. Sedikit berat dan dalam.

Aku berdiri perlahan, tanganku terasa dingin. Aku tidak punya pilihan selain menyambut uluran tangannya. Kulit kami bersentuhan. Seketika kenangan dua belas tahun lalu menyerbu tanpa izin. Aku menarik tanganku secepat mungkin.

“Halo.”

Hanya itu yang mampu kukatakan.

Celine menatapku dan Nathan bergantian. “Apa kalian saling mengenal?”

Aku dan Nathan saling berpandangan. Hanya sepersekian detik.

Nathan mengalihkan pandangannya. “Tidak.”

Aku menunduk. “Tidak.”

Aku berbohong. Nathan juga berbohong. Dan untuk pertama kalinya dalam dua belas tahun... Kami melakukannya bersama.

“Halo.. Aku Dina.” Dina memecahkan keheningan, dia mengulurkan tangannya ke Nathan dan disambutnya sambil tersenyum

Celine duduk kembali diikuti Nathan.

“Untunglah Nathan bisa menyempatkan diri ikut meeting pertama ini. Tadinya dia sempat tidak bisa hadir karena ada urusan kantor.” Jelas Celine. Matanya berbinar tak lepas dari Nathan

Nathan hanya tersenyum dan menggenggam jemari Celine.

Meeting dilanjutkan. Aku mengajukan vendor-vendor potensial yang sesuai dengan pernikahan impian Celine. Sepanjang diskusi, Celine selalu antusias, sementara Nathan hanya mendengarkan saja. Beberapa kali aku menangkap tatapan Nathan mengarah padaku.

Meeting hampir selesai ketika Celine tiba-tiba berdiri. “Aku mau ke toilet sebentar.”

Dina ikut berdiri. “Saya antar.”

Ruangan mendadak menjadi sunyi. Hanya aku dan Nathan. Aku menunduk, berpura-pura sibuk dengan catatan di tabletku.

Suara kursi bergeser pelan. Nathan berdiri dan berjalan. Lalu berhenti tepat di depanku.

“Al.”

Tanganku membeku. Aku mengangkat kepala perlahan. Nathan tersenyum kecil. Senyum yang kurindukan.

“Kamu baik-baik saja.”

Aku menelan ludah. Dia tak bertanya, itu seperti pernyataan. Aku terdiam, yang mampu kulakukan hanya mengangguk pelan. Nathan mengembuskan napas panjang.

“Aku pikir...” Ia menghentikan kalimatnya.

“Apa?”

Nathan menatapku dalam. “Aku pikir aku tidak akan pernah bertemu kamu lagi.”

Dadaku terasa sesak. Sebelum sempat menjawab, suara langkah kaki terdengar mendekat. Celine dan Dina kembali.

Nathan mundur dan kembali ke kursinya. Senyumnya menghilang. Seolah dua belas tahun yang baru saja kembali itu tidak pernah ada.

“Yuk, lanjutkan.” Seru Celine.

Lima belas menit kemudian meeting selesai, dengan Nathan yang tetap diam saja sepanjang sisa meeting.

Dina mengantar pasangan itu keluar. Dina dan Celine diikuti Nathan. Aku tetap tinggal di ruangan meeting.

Tiba-tiba Nathan berhenti di depan pintu. Ia menoleh. Tatapan kami bertemu sekali lagi.

Bbirnya bergerak pelan, “Aku minta maaf.”

Aku membeku di tempat. Lalu Nathan berjalan keluar menyusul wanita yang akan menjadi istrinya. Meninggalkan aku dengan banyak pertanyaan yang selama dua belas tahun tidak pernah mendapatkan jawaban.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk