Setelah makan, aku mencuci piring. Arka berdiri di sampingku sambil mengelap piring yang sudah bersih.
“Ada kabar baik.”
Arka menoleh. “Apa tuh?”
“Kantor dapat klien besar.”
“Wah.”
“Dua miliar.”
Arka bersiul pelan. “Istriku hebat.”
Aku terkekeh. “Dina yang dapat.”
“Tapi ide-ide fantastis itu selalu datang dari kamu. Dina pun mengakui hal itu.”
Aku mengangkat bahu. “Doakan lancar ya, Mas.”
“Pasti dong.”
Aku mencuci piring terakhir.
“Besok meeting pertama.”
Arka mengangguk. “Malamnya kita rayakan dengan makan malam di luar yuk!”
Aku menatap Arka. “Makan malam?”
“Iya. Biar aku yang siapin reservasinya.”
“Oke. Yuk!”
“Udah lama ya kita gak pergi kencan.”
“Iya juga ya, terakhir kencan kayaknya tiga bulan yang lalu ya, Mas?”
“Jadi ingat waktu kita pacaran dulu ya.”
“Yang kamu sering telat jemput aku?”
Arka terkekeh pelan. “Kamu tuh dulu suka banget ngomel-ngomel sepanjang perjalanan menuju restoran.”
Aku tertawa. “Soalnya kamu kebiasaan sih, tapi gak kapok-kapok meskipun aku udah bawelin.”
Arka melanjutkan. “Jadi besok pulang kerja aku jemput ya. Kamu ke kantor naik taksi online aja.”
Aku mengangguk pelan, “Oke.”
Arka tersenyum puas.
“Makan malam di mana kita?” Tanyaku penasaran.
“Rahasia dong!”
Aku menepuk pantat Arka gemas. Arka tertawa.
Selesai mencuci piring, aku mandi dan masuk ke kamar. Setelah memakai setelan piyama tidur, aku membuka laci lemari untuk menyimpan jam tanganku yang tadinya tergeletak di atasnya. Tiba-tiba mataku tertuju ke sebuah kotak kecil berwarna putih yang tersembunyi di sudut laci hampir ditutupi aneka printilan milikku. Aku hampir lupa kapan menyimpannya di sini.
Aku meraih kotak itu. Kubuka pelan, sebuah gelang perak yang sangat aku hapal. Gelang itu.. Aku tidak ingat kenapa benda itu masih kusimpan. Mungkin karena lupa atau karena aku tidak pernah benar-benar ingin membuangnya.
Aku duduk di tepi tempat tidur, tanganku menggenggam gelang itu erat. Kenangan dua belas tahun lalu datang begitu saja.
Seorang pria berdiri di depan ruko yang sudah tutup bersamaku. Kami berteduh dari hujan yang turun dengan syahdu sore itu. Pria itu lalu menatapku sambil menyodorkan kotak hijau yang sama.
”Aku nggak punya uang buat beli yang mahal.”
Aku tertawa. “Aku juga nggak minta yang mahal.”
”Nanti kalau aku udah sukses, aku belikan cincin.”
”Lagian ngapain sih repot-repot beliin aku hadiah segala.”
Pria itu tersenyum “Supaya saat aku sedang jauh, kamu tetap ingat aku.”.
Aku membuka kotak tersebut, sebuah gelang perak mutiara yang sangat cantik. Aku menyerahkan gelang itu kepadanya dan menjulurkan tangan. Ia memakaikan gelang itu di pergelangan tanganku.
”Janji ya.”
”Janji apa?” Tanyaku.
”Kalau suatu hari nanti kita akan menikah...”
Aku memejamkan mata. Aku tidak boleh mengingatnya.
“Al?”
Suara Arka dari luar kamar membuatku buru-buru memasukkan kembali gelang itu ke dalam kotaknya dan menyimpannya kembali ke laci.
Suara pintu kamar terbuka. Arka masuk sambil membawa dua gelas susu jahe hangat.
“Kesukaanmu kalau lagi kecapean.”
Aku tersenyum. “Kamu kok ngerti banget sih kalau aku butuh susu jahe hangat?”
“Ya dong, suamimu ini udah hapal.”
Ia menyerahkan satu gelas padaku.
“Lagipula, kamu selalu susah tidur kalau lagi banyak pikiran. Susu jahe ini bisa bantu kamu rileks.”
Tanganku sedikit gemetar saat menerima gelas itu. Perlahan aku mulai meneguknya. Rasa hangat dan nyaman memenuhi kerongkonganku.
Arka duduk di sampingku. “Al.”
“Hm?”
“Kamu yakin nggak ada yang ingin kamu ceritakan? Soalnya gelagat kamu agak aneh sejak pulang tadi.”
Aku menatap wajahnya. Arka adalah rumahku, tempatku pulang dan merasa nyaman. Selalu menjadi pelindungku, bisa diandalkan setiap saat. Laki-laki yang tetap tegar walaupun aku tahu hatinya juga hancur saat kami kehilangan calon bayi yang sudah kami tunggu-tunggu saat usia kehamilan 4 bulan. Laki-laki ini membuatku merasa bahwa mungkin aku masih bisa merasakan kebahagiaan.
Aku ingin jujur. Aku ingin bilang bahwa hari ini aku melihat nama seseorang yang pernah menjadi seluruh duniaku. Namun kata-kata itu tidak pernah keluar. Aku hanya tersenyum.
“Cuma capek aja kok, Mas. Besok juga udah hilang capeknya.”
Arka mengecup bibirku, lembut dan hangat. Aku bisa merasakan tubuhku menghangat, hasratku mulai bergejolak. Aku membalas kecupannya.
Ciuman yang awalnya pelan, mulai memanas. Arka membuka bajuku, agak tak sabaran. Begitu tali bra-ku terlepas, Arka langsung menuju buah dadaku, dia menghisap, menjilati dengan rakus. Aku melenguh, menikmati setiap kecupannya.
Arka mulai melucuti bawahanku hingga dalamanku. Perlahan dia merunduk dan langsung menjilati liang kenikmatanku dengan lidahnya, membuat aku melayang.
“Ini obat biar kamu gak capek lagi.” Katanya.
Aku tertawa, “yang ada malah bikin tambah capek.”
“Tapi nikmat kan?” Arka mengerling nakal padaku.
Lalu dia mulai menggendong tubuhku, membawaku ke kasur. Arka mulai menanggalkan pakaiannya, menampakkan tubuhnya yang atletis karena kebiasaannya sering ke gym. Aku menelusuri jemariku, mengagumi otot-otot dada dan perutnya.
Aku memberinya blow job dengan teknik andalanku. Arka memejamkan matanya, menikmati setiap jilatan dan kuluman yang kuberikan. Lenguhan nikmatnya membuat aku semakin bergelora.
Arka tampak tak tahan, dia langsung mendorongku agar berbaring, dan langsung menyetubuhiku.
“Maaf sayang, aku tak tahan lagi.” Ujarnya.
Aku tak menjawab, larut dalam kenikmatan goyangan Arka yang memaju mundurkan kejantanannya dengan cepat. Gerakannya yang bersemangat membuatku mencapai puncak kenikmatan diikuti desahan panjangku.
“Kamu cantik banget, Alina. Aku tak tahan lagi..”
Tak lama, Arka juga mencapai puncak kenikmatannya.
Arka berbaring di sampingku. Nafas kami terengah-engah, masih menyesap kenikmatan yang baru saja kami rasakan. Arka menoleh dan mengecup puncak kepalaku.
“Tidur yuk.” Ajaknya.
Aku mematikan lampu kamar lalu mulai memejamkan mata. Namun kantuk tak kunjung datang. Sepertinya Arka sudah larut dalam mimpinya. Pikiranku kembali pada map putih itu, pada nama Nathaniel Ren Pratama.
Aku pikir aku sudah melupakannya. Aku pikir aku sudah menyimpan semua kenangan itu di tempat yang tidak akan pernah kubuka lagi. Ternyata aku salah.
Ponselku yang tergeletak di atas nakas sampingku tiba-tiba bergetar. Satu pesan masuk dari Dina.
“Al, aku hampir lupa!”
Aku membuka pesan itu.
“Besok jadwal meeting dimajukan jadi pukul 8 pagi ya! Soalnya kata calon pengantin wanita, calon suaminya juga mau ikut. Jadi kita menyesuaikan dengan jadwal mereka.”
Aku menatap layar ponsel tanpa berkedip. Lalu perlahan, jemariku seperti kehilangan tenaga. Besok, aku akan bertemu Nathaniel Ren Pratama untuk pertama kalinya setelah dua belas tahun berlalu.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!