When the blazing sun is gone
When he nothing shines upon
Bisikan-bisikan kecil menggema seperti alunan musik yang berubah-ubah volumenya. Bergantian masuk ke telinga kanan dan kiri seorang gadis dengan rambut yang dikepang bergaya fish tail. Sepasang netranya mengedar ke sekeliling. Suram. Senyap. Tempat yang asing dan mencekam.
Lantas dia merasa pijakannya terlalu ringan. Ditundukkannya kepala, menatap apa gerangan yang ada di bawah kaki. Pekikan keras keluar dari bibir kecilnya begitu mendapati dirinya berdiri di atas sebuah kardus yang melayang.
Tubuhnya nyaris saja oleng. Dia melongok ke bawah dan ... kosong. Tidak ada apa pun. Hanya kegelapan yang tak terdeteksi dasarnya.
“Ini ... ruang hampa? Apa aku bermimpi?” gumamnya. Tangannya mencubit lengan kiri dan rasa sakit serta-merta menjalari kulit. “Ini bukan mimpi.”
Gadis itu menoleh ke segala penjuru. Benar-benar aneh. Tak ada lampu atau sejenisnya sama sekali. Satu-satunya penerang hanya larik-larik cahaya dari atas yang terselip di antara kegelapan.
Sejurus kemudian, dia menyadari di depannya tersusun kardus-kardus yang membentuk jalan setapak. Ragu-ragu kakinya melangkah, takut benda kubus melayang itu jatuh ke bawah.
Selangkah, dua langkah, dan seterusnya tak terjadi apa-apa, hanya kardus yang ditapaki sedikit bergoyang saat dipijak. Suara-suara misterius kembali muncul dan bergaung.
Then you show your little light
Twinkle, twinkle, all the night
Rasa takut mulai merayap tatkala tak menemukan di mana kengerian ini akan bermuara. Laba-laba raksasa yang bergelayut di sisi kanan—lengkap beserta jaringnya—terus-menerus berdesis seperti gesekan pasir yang tertiup angin. Sementara boneka perempuan bermulut jahitan dan gulungan benang tampak menggantung dari atas di samping kanan dan kiri.
Beruntung posisi semua penampakan janggal itu jauh darinya. Sejenak dia berhenti melangkah. Terlihat di matanya susunan kardus membentuk jalan yang meliuk-liuk.
“Aku harus bagaimana?” Dia bermonolog.
Tiba-tiba terdengar gemuruh di belakang. Kepalanya menengok dan seketika matanya terbeliak. Kardus-kardus itu berjatuhan secara berurutan. Sementara jantung seolah menggedor-gedor dari dalam, panik mencambuki pikirannya. Tanpa berpikir panjang, dia langsung berlari ke depan.
Ajaibnya dia tak terjatuh walau melintasi jalan dengan sudut kemiringan 360°.
Susunan dus tak lagi berjatuhan. Di ujung belokan, tampak sesuatu yang bergerak-gerak dan bercahaya. Semakin dekat semakin jelas objek tersebut. Kupu-kupu seukuran tangan orang dewasa hinggap di atas setiap kardus seakan menjadi penunjuk jalan.
Hewan bersayap itu terbang dan melebur menjadi debu ketika kaki sang gadis menginjak permukaan kardus. Jumlahnya terbatas dan muncul lagi setelah beberapa meter.
Then the traveller in the dark
Thanks you for your tiny spark
Lagi-lagi suara bisikan dari tempat tak terdeteksi. Mendadak jalan di depan gadis itu runtuh, hampir saja dirinya ikut terperosok jika tak berhenti. Dicengkeramnya dada kiri, sekedar memastikan jantungnya masih bekerja.
Muncul jalan baru dari sisi kanan. Pelan dia kembali melangkah, beberapa kali berkelok-kelok dan menemui hal serupa. Kardus yang telah dilewati jatuh, runtuh sebelum kakinya menapak, atau berubah haluan.
Hingga sampai di sepetak kayu berukuran dua kali tiga meter, dia mendapati sebuah cermin besar. Sebatang lilin raksasa yang sudah tinggal setengah terpancang di samping cermin. Lelehan akibat apinya membentuk gumpalan-gumpalan tak beraturan.
Gadis tersebut berkeliling mencari jalan yang barangkali tersembunyi. Hasilnya nihil. Dia mendekati cermin, menatap refleksi dirinya dalam remang. Ragu-ragu telapak tangannya bergerak menyentuh permukaan cermin.
Mendadak kaca yang keras nan padat itu bergelombang seperti terkena tetesan air. Dia mengambil napas dalam-dalam. Detik selanjutnya, tubuhnya masuk bagai terisap ke dalam cermin.
“Mei! Aku buatkan pancake di meja! Aku pergi dan pulang malam!”
Suara lantang menyentak sang gadis. Pandangannya mengedar dan mendapati dirinya di loteng rumah. Mei terbengong-bengong. Seingatnya tadi berada di kamar, lalu ... berjalan di atas kardus di tempat yang menyeramkan, dan sekarang ada di loteng?
—Bersambung














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!