Mei segera turun menggunakan tangga lipat. Di meja makan telah tersedia setumpuk pancake bergambar bunga lily. Yanji, adik semata wayangnya, memang pintar melukis sampai-sampai bosan memakai kanvas dan beralih ke media pancake. Sudah begitu, pancake buatan Yanji lebih enak dari pada buatannya.
“Anak itu pasti keasikan main kriket,” ucapnya seraya memotong pancake dan melahapnya.
Mei menatap rumah yang sepi. Kedua orang tuanya pergi dinas ke luar kota selama dua minggu. Lantas dia bangkit, membawa piring kotor untuk dicuci. Setelah ini, dia harus menghadiri ekstrakulikuler seni musik yang diikutinya di sekolah.
Usai membersihkan diri, dia bergegas berangkat. Tangan kanannya menenteng tas khusus berisi biola. Tanpa sengaja di tengah jalan dia berpapasan dengan Heidar Zacky, kroni sekelas sekaligus satu ekskul dengannya.
Anak lelaki itu seorang pianis yang cukup tenar di klub musik. Mereka akrab karena tergabung dalam satu kelompok. Cukup banyak mereka mengobrol di perjalanan sore yang hangat. Hingga Mei teringat dengan kejadian aneh yang dialaminya.
“Zacky,” panggil Mei.
“Hm?” Zacky menyahut tanpa mengindahkan pandangannya dari layar ponsel.
“Aku tadi berjalan di atas kardus yang melayang.”
Langkah Zacky berhenti tepat di depan gadis mungil itu. Tangan kanannya menyentuh jidat Mei dengan tatapan menyelidik. “Kamu butuh obat?” tanyanya.
Mei mencebik. “Aku serius, tahu! Aku berada di tempat yang gelap, ada jalan setapak dari susunan kardus, lalu ada kupu-kupu bersinar, laba-laba raksasa—“
“Oke, terus kamu bertemu Sauron dari Lord of The Rings.”
“Enggak!” tukas Mei. “Aku bahkan sampai berjalan terbalik, kayak rel roller coaster dan mendengar bisikan. Pokoknya tempat itu aneh juga menakutkan!” Mei mencak-mencak. Tangannya terlipat di dada dengan wajah cemberut.
Zacky mendesah. Kemudian mengibas-ngibaskan tangannya seraya berlalu. “Ya, ya, terserah kamu saja, deh.”
“Zacky, aku enggak bohong!” Mei tetap bersikukuh dan menjajari langkah pemuda betubuh tinggi itu.
“Kalau begitu, kamu ingat di mana tempatnya?”
Mei terdiam. Benar juga. Dia tak tahu apa dan bagaimana dirinya bisa sampai di tempat tidak biasa tersebut. Mungkinkah karena dia kebanyakan menonton film-film fantasi hingga antara dunia nyata dan ilusi mulai abstrak dalam pikirannya? Namun, lengannya benar-benar terasa sakit saat dicubit di sana.
“Kamu enggak ingat, ‘kan? Jangan-jangan kamu mimpi,” curiga Zacky. “Makanya, berdoa dulu sebelum tidur.”
Sementara Mei tak lagi membantah. Barangkali yang dikatakan Zacky benar. Maka dia tak lagi mempermasalahkan soal ruang hampa, tempat aneh, atau apalah namanya itu.
Mereka akhirnya tiba di gedung ekstrakurikuler yang terletak di sebelah barat gedung utama sekolah. Murid kelas seni musik sudah banyak yang berdatangan. Beberapa memainkan musik sendiri, sebagian lagi berkolaborasi dengan rekan-rekan pilihan mereka.
Dua hari ke depan, sekolah mereka akan mengadakan festival sekolah tahunan. Masing-masing orang yang berpartisipasi akan sibuk mempersiapkan segalanya.
Sementara pertunjukan dari klub musik dan drama selalu menjadi hal yang paling ditunggu-tunggu di acara tersebut. Tentunya selain aksi bunga api di langit malam sebagai penutup festival sekolah.
“Bukan begitu nadanya, Sha!” omel Mei pada teman perempuannya.
“Santai saja, Mei,” tegur Zacky. “Kalau terburu-buru, Shasa jadi enggak fokus nanti.”
Mei mendengkus. Dia sudah dipercaya Miss Ambar untuk membantu Shasa memainkan biola dengan baik. Namun, Shasa selalu salah nada di bagian tengah. Sudah jauh hari Mei mengajarinya, tetapi teman sekelasnya itu terus saja mengulang kesalahan.
“Aku mau ke toilet dulu,” pungkas Mei, yang lantas meninggalkan teman-teman segrupnya.
Di antara yang lainnya, gadis yang lahir di bulan rasi gemini itu memang paling energik dalam latihan. Begitu giat berlatih sampai kadang dibuat lupa waktu. Semua dilakukannya demi kelancaran pertunjukan mereka nanti. Termasuk penampilan solo pertamanya sebagai violinis.
Baginya, tidak boleh ada yang kurang. Semaksimal mungkin dia berusaha meningkatkan kemampuannya dalam memainkan biola.
Mei berhenti di dekat pembatas balkon gedung. Alih-alih ke toilet, dia memandang sejenak ke area gedung perpustakaan yang terlihat dari sisi kanan sekolah. Tampak langit semu oranye yang melatari atap bangunan dua lantai tersebut.
Dia lantas beringsut mundur dan duduk di sebuah bangku, tepat di depan kelas ekstrakurikuler bahasa yang tak berpenghuni. Disandarkannya tubuh ke punggung bangku.
Detik itu juga tiba-tiba kakinya seperti menginjak sesuatu. Mei menatap ke bawah dan langsung terlonjak kaget. Tumpukan buku entah dari mana berada di bawah kaki. Dia ingin bergeser tetapi urung begitu menyadari hal ganjil terjadi.
Segala sesuatu di sekitarnya meremang. Ke mana bangku tempatnya duduk tadi? Lalu lantainya, tak ada lagi petak-petak ubin. Mei menutup mulutnya dengan telapak tangan. Ini tempat yang mirip dengan sebelumnya, sebuah ruang tanpa sekat yang gelap!
—Bersambung














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!