“Kak Ezra!” seru Mei.
Pemuda bernama lengkap Ezra Turquoise tersebut menoleh. Alis tebalnya bertautan. Kakak kelas Mei yang akrab dipanggil Ezra itu cukup terkenal di seantero sekolah. Dia anak klub jurnalistik yang punya wajah rupawan, sekaligus segera lepas jabatan dari ketua jurnalis investigasi.
“Kak Ezra juga ada di sini?” Terengah-engah Mei melontar tanya. Tubuhnya setengah membungkuk dengan kedua tangan bertumpu pada lutut. Ini pertama kali dia berani mengajak bicara seseorang yang disukainya sejak lama. Biasanya, jika bertemu, dia justru akan buru-buru menghindar.
Ezra terdiam barang sejenak. Mata abu-abu kebiruannya menyipit di balik kacamata. Bingkai tipis itu memberi kesan lebih dewasa ketimbang saat menggunakan lensa kontak. “Kamu baik-baik aja?” tanyanya dengan nada rendah.
“Aku melihat makhluk seram, Kak!”
Ezra mengerjap kaget. “Jadi, aku gak kelihatan ganteng di matamu?”
“Bukan begitu, Kak. Tadi ada ... uh.” Mei menggigit bibir, tampak bingung menjelaskan. “Enggak tahu deh apa, tapi seram banget! Telinganya panjang, matanya besar, mirip kelinci tapi giginya kayak ikan hiu!” ocehnya kemudian tanpa jeda.
Ezra melongo sesaat sebelum akhirnya tertawa terbahak-bahak. “Kamu lucu banget,” ujarnya selepas tawa. “Kamu Mei Jauza, murid kelas 11 IPS, ‘kan?”
“Eh, Kak Ezra tahu namaku?” Mata Mei membulat. Pertanyaan yang seharusnya ada di kepala soal mengapa Ezra muncul di dunia yang dipijakinya lenyap entah ke mana.
“Kelas seni musik jaraknya cuma terpisah satu ruangan sama kelas jurnalistik. Jadi aku sering melihatmu.”
Mei menunduk malu. Jemarinya menggaruk dahi yang tersembunyi di balik poni. Ada letupan kecil yang hangat di hati tatkala mengetahui kakak kelasnya ternyata selama ini memperhatikan dirinya, atau barangkali dia terlalu percaya diri dengan asumsinya sendiri.
Namun, bagaimanapun Ezra seorang jurnalis sekolah, dan pastinya bukan hal sulit bagi anak lelaki itu mengetahui nama orang-orang di sekitarnya.
“Gara-gara kamu nih, aku kaget sampai bukuku pada jatuh.” Ezra membungkuk dan dengan gerakan mundur, lelaki berambut cokelat terang itu praktis mengambil buku yang menjadi pengganti lantai. Tak tanggung-tanggung hingga tiga ubin. Aneh, buku berukuran jumbo itu seolah menyusut menjadi normal di tangannya.
Mei yang tak menduga langsung bereaksi panik. “Kak, kenapa buku-bukunya diambil?! Aku enggak bisa ke situ kalau jalannya Kak Ezra putus!”
Ezra hanya terdiam usai mengambil buku-buku yang diklaim miliknya. Detik berikutnya, seringai kecil terukir di wajah. “Siapa sangka kamu bisa menggombal juga, ya,” katanya.
“Aku serius, Kak!” tandas Mei yang tampak cemas. Dia bisa melihat ke dasar yang gelap pekat serasa dekat. “Bagaimana aku bisa lewat kalau jalan dari buku itu Kakak ambil semua? Terus kenapa Kak Ezra juga bisa ada di sini?”
Pemuda itu menghirup udara dingin dalam-dalam, kemudian melepas kacamatanya dan melangkah ke depan. Mendadak saja muncul ubin-ubin buku selebar layangan yang baru dari bawah tapak kakinya.
Tepat di depan Mei, tanpa aba-aba Ezra langsung menarik pergelangan tangan gadis itu seakan tengah menuntun seorang putri untuk diajak berdansa.
Mei menatap ke bawah, bukan pada tangannya yang digandeng, melainkan pada buku-buku transparan yang muncul di lantai.
“Nah, sudah.” Ezra melepas pegangannya. “Aku masuk dulu.”
“Tungg—“
Belum tuntas Mei bicara, Ezra telah membuka pintu. Namun, tak ada ruangan di balik sana. Begitu melangkah masuk, tubuh Ezra berubah menjadi serpihan kaca sebelum lenyap tak berbekas.
Kontan Mei tercengang. “Ba-barusan itu apa?” sebutnya dengan suara bergetar.
Kebingungan dan lelah membungkus rasa frustrasi. Hampir saja dia terisak beberapa saat, lantas dia tersadar untuk kembali ke tujuan awal, yakni menemukan jalan keluar.
Disekanya sisa air mata yang sedikit merebak di sudut sklera. Satu-satunya jalan yang tersisa sekarang hanya menuju pintu tertutup berwarna biru pucat di sampingnya.
In the dark blue sky you keep
And often through my curtains peep
Suara misterius menyentak Mei yang bergeming. Tergesa-gesa dia membuka kenop pintu biru pucat. Jangankan sebuah ruangan, tak ada pijakan lagi di balik pintu. Bayangan terjatuh ke jurang tak berdasar menyesaki isi kepalanya.
Selagi berpikir, kelebat kelinci bergigi tajam tadi menyusul di belakangnya. Tubuh Mei berbalik lantas spontan beringsut mundur hingga tersandung. Teriakannya jatuh menggema.
—Bersambung














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!