“Pasti aku bermimpi,” sanggahnya pada diri sendiri. “Aku harus bangun!”
Lantas Mei menutup mata, menghitung satu sampai tiga dan kembali membuka mata. Masih di tempat yang sama. Dia mengepalkan tangan di depan dada, meremas baju dengan gelisah.
Satu-satunya cara keluar dari tempat itu hanyalah dengan melewati jalan setapak yang kali ini tersusun dari tumpukan buku. Jika beruntung, dia mungkin akan menemukan cermin lagi untuk pulang.
Seandainya Pak Dharma tahu dia menjadikan buku sebagai pengganti ubin, sudah pasti akan dihukum membersihkan perpustakaan.
Satu per satu, Mei menapaki kumpulan buku persegi selebar setengah meter. Ingatannya beberapa hari yang lalu diperas. Dia sempat mengunjungi gedung perpustakaan untuk meminjam buku, lalu buku tersebut tak sengaja jatuh ke genangan air hujan.
Apa jangan-jangan buku itu balas dendam padaku? Pikiran Mei mulai kacau dan irasional.
Tepat setelah jauh melewati belokan dan menemukan kupu-kupu bercahaya, mendadak lantai yang dipijak berputar 360°. Mei sontak terkejut bukan kepalang hingga terduduk lemas.
Namun, lagi-lagi tubuhnya dengan ajaib tidak jatuh. Sesaat dia melongok ke bawah dan berjengit ngeri, membayangkan seandainya jatuh ke dalam gelap yang tak berdasar.
Lekas Mei kembali bangkit dan ingin cepat-cepat keluar dari tempat mengerikan itu. Setengah berlari, dia terus maju hingga menaiki balok yang membentuk undakan tangga. Awalnya naik, lalu menurun dan semakin menurun. Bisikan gaib kembali memasuki gendang telinganya.
He could not see which way to go
If you did not twinkle so
Mei mengerang kala betisnya tergores sulur tanaman berduri yang tahu-tahu muncul di sekitarnya. Perih hingga ruam kemerahan bercampur di satu titik. Sulur-sulur tanaman kemudian menjauh dengan sendirinya. Cahaya kehijauan muncul dari balik belukar seukuran tiga kali lipat dari lengannya.
Gadis itu bergidik dan bergegas melanjutkan perjalanan. Sepintas, dari jauh ekor matanya menangkap sesosok berbulu putih dan bertelinga panjang.
Makhluk setengah dari badan Mei itu berdiri di samping jalan. Matanya yang sebesar bola bisbol menutup seolah tertidur pulas. Tangannya yang pendek tampak membawa sesuatu seperti tongkat dari ranting pohon.
Susah payah Mei menelan ludah. Pelan tungkainya melangkah gemetaran. Dia bisa merasakan kesemutan menyebar di sekujur tubuh. Napasnya pendek tak beraturan. Jantungnya bertalu-talu seiring tiap jengkal yang dilalui. Dia sedikit menutup mata lantaran takut kala melewati objek seperti manekin kelinci itu.
Tepat setelah berlalu, tiba-tiba mata besar makhluk tidur itu terbuka. Tersenyum lebar hingga menampilkan gigi-giginya yang tajam. Tangannya yang membawa ranting bergerak ke atas sembari meneriakkan sebuah kata.
Mei tak begitu mendengar dengan jelas apa yang diucapkan. Dirinya sudah lari tunggang-langgang terlebih dahulu. Bagaimana kalau tidak menemukan jalan keluar lalu mati dimakan sosok menyeramkan itu?
Ditepisnya bayangan buruk yang ada di kepala. Dari arah berlawanan, dia dikejutkan dengan anak lelaki seusianya yang berjalan menuju sebuah pintu bewarna biru pucat.
—Bersambung














Aduh, aku baru nemu ini lagi. Berharap ada versi suaranya, biar bisa dengerin sambil bobo hehe