Simfoni Hidup
Bumantara yang luas membentang,
Dalam pelukan langit biru nan terang,
Melukis cerita di angkasa, tiada lekang.
Baskara muncul dari ufuk timur,
Sinar mentari hangatkan jiwa nan sumur,
Menghidupkan hari dalam warna yang makmur.
Bentala hijau penuh pesona,
Kicau burung menyapa di tiap zona,
Menggoda hati untuk selalu bersyukur pada yang Maha Esa.
Dalam Pelukan-Nya
Segara membentang luas, biru tak bertepi,
Ombak bergelombang, membisikkan cerita,
Laut, rumah bagi hati yang mencari.
Ancala menjulang, kokoh di cakrawala,
Puncak-puncak dingin, tertutup kabut tipis,
Gunung-gunung, saksi bisu perjalanan kita.
Dirgantara terbuka, luas tanpa batas,
Awan-awan berarak, menyulam langit cerah,
Angkasa, ruang bebas bagi jiwa yang lepas.
Kisah Malam
Anila berembus di waktu senja,
Menyapu daun gugur dalam harmoni,
Membisikkan cerita pada langit yang tinggi.
Rinai jatuh perlahan-lahan,
Membasahi tanah, menyatu dalam tenang,
Menyentuh hati yang tengah merindu pulang.
Dihiasi cahaya candra, langit temaram,
Anila dan rinai dalam kisah malam,
Mengiringi tidur alam dengan tenang damai.
Tiga Waktu
Di balik cakrawala megah,
Bumi membentang dalam kidung alam,
Jenggala hijau memeluk damai.
Ketika pagi berbisik lembut,
Suara burung mengisi ruang,
Dedaunan menanti matahari.
Saat senja merona langit,
Swastamita mengucap selamat malam,
Alam pun rebah dalam tenang.
Pada Sebuah Pantai
Di tepi pantai, nyiur melambai,
Semburat jingga memeluk sang fajar,
Ufuk timur tersenyum dalam damai.
Senja datang, langit mulai redup,
Semburat merah lambat menghiasi,
Ufuk barat berbisik lirih, penuh harap.
Nyiur bertutur di tengah malam,
Saat gemintang hiasi angkasa,
Ufuk langit tak terbatas, membentang dalam gelap.
Tangis Alam
Hutan tua merintih di malam sunyi,
Rantingnya memelas, tertekan beban,
Air mata sungai mengalir penuh pilu,
Sementara tanah meratap, hatinya hancur.
Gurun pasir menjerit dalam kesepian,
Oasisnya mengering, kehausan menderita,
Angin kering mengeluh di setiap sudut,
Memanggil hujan yang tak pernah datang.
Gunung-gunung tertunduk lesu, penuh luka,
Lerengnya terkoyak oleh tangan-tangan kasar,
Lava yang pernah bersahabat kini marah,
Meninggalkan jejak kehampaan dan kesedihan.
Jaga Bersama
Mari kita jaga bumi, taman surga,
Seperti peluk lembut dari ibu pertiwi,
Sungai yang berbisik, “Janganlah kau lupa,”
Kanvas hijau yang butuh sentuhan kasih.
Hutan adalah hati yang berdetak lembut,
Menjadi melodi bagi burung dan angin,
Jangan biarkan api membakar cita,
Jaga pohon, menyala hutanku!
Gunung tinggi, tiang langit yang teguh,
Menyimpan rahasia di dalam pelukannya,
Kita adalah penjaga, bukanlah penggugat,
Jadi pelita demi alam, hingga akhir zaman.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!