Soal Kehidupan

1 dibaca

A

Dualisme


Di kota dengan selimut candramawa,

Harta melimpah menari dalam cahaya,

Sementara si miskin hanya dapat berharap,

Dalam gelap, merintih di malam yang penuh luka.


Selaksa mimpi terurai di pelataran emas,

Kehidupan mewah bagai dongeng yang nyata,

Sedangkan tangan kosong terulur ke arah langit,

Menggapai harapan yang tak pernah tergapai.


Karsa di hati si kaya, masa depan bersinar,

Sementara si miskin berjuang dengan sisa jiwa,

Dalam perbedaan tak terperi, nasib memisah,

Namun di setiap langkah, kita manusia, sama.



Cermin dan Citra


Di dunia ini penuh kepalsuan,

Rupawan menutupi wajah asli,

Sikap candala terbenam dalam ilusi.


Pencitraan yang bestari dijunjung tinggi,

Namun hati sering kali tersembunyi,

Di balik topeng, kebenaran tertutup rapat.


Gema dunia, cermin yang kelam,

Cinta kini sering hanya mainan,

Sementara jiwa tersimpan dalam penjara bayang-bayang.




Di Balik Cita


Dalam gelap malam, gundah melanda hati,

Takut melangkah, mata penuh canda,

Berdiri di ambang, langkah gamang,

Dunia menilai, menantang nyali.


Mimpi yang ingin kupahat di langit,

Terhempas ragu, terburai dalam hati,

Tak lengkara, tak terkesan,

Namun suara dunia, mengikat harapan.


Namun di balik bayang, ada sinar,

Berani melawan, meski penuh darah,

Langkah gamang akan jadi terang,

Hidup bukan sekadar penilaian orang.




Pergeseran Zaman


Dalam kehidupan kota, lelaki tua itu merasa masygul,

Nilai-nilai lama mulai luntur,

Hati menyaksikan lara.


Di jalanan yang ramai nan riuh rendah,

Kebenaran membuat tubuh tuanya lunglai,

Menyisakan jejak dalam bentuk luka.


Di tengah hiruk pikuk zaman,

Jiwa tua lelaki itu tanpa selimut,

Tersisa harapan di sela doanya.




Menuju Fajar Baru


Dalam gundah yang tak bertepi,

Aku mencari jalan, tiada henti,

Untuk mengubah nasib ini.


Sembilu menggores hati,

Namun tekad takkan pudar, pasti,

Kehidupan baru menanti di sini.


Di setiap langkah esa ku tempuh,

Mengukir harapan dari reruntuh,

Menuju fajar bersinar penuh.



Memeluk Keunikan


Dalam arsa yang terang dan samar,
Setiap insan berkilau unik, bersinar.
Daksa di mata, perbedaan tak jadi halangan,
Dalam pelukan sosial, kita semua satu peradaban.


Kita adalah bintang dengan cahaya tersendiri,
Setiap jengkal jiwa, tiap senyum tak terganti.
Di bawah langit luas, kita saling memahami,
Menjunjung keunikan dalam harmoni dan saling menghargai.



Alur


Dalam asmaraloka kita bertemu,

Di atas panggung penuh warna dan rasa,

Keberagaman jadi cerita yang tak bertepi.


Anindita dalam diri, cermin murni,

Namun suara-suara mengaburkan jalan,

Identitas berlari dalam labirin.


Jiwa bergejolak mencari arti amerta,

Bersama kita merangkai makna,

Di tengah tanya dan sorak-sorai.


Masyarakat berbisik penuh rahasia,

Berharap kita menari sesuai irama,

Karena setiap langkah kita, kisah yang istimewa.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk