Aroma minyak kelapa panas bercampur wangi tembakau lintingan mengepul dari gerobak gorengan di ujung gerbang Fakultas Ilmu Budaya. Suara deru knalpot racing beradu dengan gelak tawa mahasiswa yang berlarian menaiki tangga. Di bawah pohon angsana, seorang gadis tingkat akhir membagikan pamflet teater kampus, di sudut selasar, dua orang mahasiswa tingkat awal sibuk menyetem gitar akustik.
Di ujung anak tangga paling atas, Almaz duduk bersila. Jari-jarinya membalik lembaran kertas HVS penuh coretan stabilo kuning terang. Ia menatap lurus sampul tumpukan kertas. judul
THE LOST COLONY OF ROANOKE terpantul di pupil matanya. Dahinya berkerut dalam membaca judul,
Di sekelilingnya, arus mahasiswa bergeser ke kiri dan ke kanan, mengabaikannya yang duduk terpaku bagai batu karang di tengah sungai.
Seorang mahasiswa berjas almamater lewat sambil menepuk pundaknya sekilas. “Mas... kelas mulai.”
“Iya.” Almaz masih menatap tumpukan kertas di pangkuannya.
Mahasiswa itu berlalu meninggalkan Almaz.
Dari arah bawah, dua mahasiswa berlari tergesa nyaris menyenggol bahunya. Seorang di antaranya meminta maaf tanpa berhenti. Almaz tidak mengangkat kepala. Ujung jempolnya tetap menyusuri baris demi baris tulisan yang sudah dipenuhi garis stabilo dan catatan kecil di pinggir kertas.
Seorang mahasiswi berhenti beberapa anak tangga di bawahnya, mengangkat ponsel lalu memotret poster acara fakultas yang terpajang di papan pengumuman. Tanpa sengaja kamera ponselnya ikut menangkap sosok Almaz yang masih duduk mematung.
“Itu anak yang kemarin nyari bunker Jepang, kan?” bisiknya pada temannya.
“Yang katanya mau nemuin arsip Belanda?”
“Iya.”
“Gigih ya.”
Keduanya terkikik pelan sebelum berlalu.
Lima menit kemudian, Almaz masih berada di posisi yang sama, jempolnya menggaris pinggiran kertas yang mulai kusut.
BUK.
Sebuah tas ransel tebal dijatuhkan tepat di sebelah paha Almaz. Tas ransel menganga, beberapa buku tebal berjudul Sejarah Hindia Belanda, Arsip VOC, dan Metodologi Penelitian Sejarah menyembul keluar.
Almaz melirik sekilas. “Lo pinjem perpustakaan apa pindahan rumah?”
“Minimal buku gue ada ISBN.” Abde mengembuskan napas panjang. Keringat di pelipisnya belum mengering setelah berlari dari parkiran.
Abse melirik jam tangan, lalu kembali menatap Almaz. “Lo sadar nggak sekarang hari apa?”
Almaz mengangguk asal. “Selasa.”
“Tau jam berapa?”
“Masih pagi.”
Abde memejamkan mata sesaat. “Lo emang layak telat lulus.” Ia menyambar tumpukan kertas di pangkuan Almaz. “Lo baca beginian lagi?”
Almaz meraih kertas itu dari tangan Abde, merapikan lagi tanpa emosi. “Ini riset.”
“Ini forum internet, Maz.”
“Forum juga sumber.”
“Bukan sumber sejarah.”
“Siapa bilang gue lagi nyari sejarah?” Almaz menggeser duduknya sedikit.
Abde mengeluarkan sebatang rokok dari saku. kemejanya.
“Semua sejarah besar pasti ada yang disembunyiin,” lanjut Almaz.
“Semua sejarah besar juga punya referensi akademik yang jelas.” Jari telinjuk Abde mengarah ke udara kosong. “Bukan dari postingan akun anonim avatar alien.”
“Sejarah itu ditulis sama pemenang,” balas Almaz.
Abde mendengus keras, menatap Almaz dengan tatapan jengkel yang sudah dihafal di luar kepala. “Makanya lo nggak lulus-lulus.”
Keheningan hanya bertahan beberapa detik. Abde menyodok pelan lutut Almaz menggunakan ujung sepatunya. Almaz membalas dengan menyenggol tas Abde sampai hampir roboh.
“Tukang forum.”
“Tukang footnote.”
Keduanya tertawa kecil.
Sebuah klakson mobil berbunyi pendek, tajam, dan familier. Keduanya menoleh bersamaan ke arah parkiran.
Sebuah SUV hitam berdebu berhenti tepat di sebelah pos satpam. Pintu kemudi terbuka, Xavier keluar dari mobil dengan kemeja flanel digulung sampai siku. Ia menjingjing kantong plastik berisi tiga gelas kertas kopi lokal yang masih mengepulkan uap tipis. Ia melangkah mendekati Almaz dan Abde.
Xavier bahkan belum sempat menutup pintu mobil ketika satpam kampus sudah melambaikan tangan.
“Datang telat lagi, Mas Xavier?” Satpam kampus melambaikan tangan.
Xavier berhenti sejenak, menoleh ke arah satpam. “Bukan telat, Pak.” Ia mengangkat kantong plastik berisi tiga gelas kopi. “Saya lagi nyelametin dua orang yang kalau debat tanpa kopi bisa perang saudara.”
Satpam hanya tertawa kecil.
Langkah Xavier terhenti di depan mereka, ia mengulurkan satu gelas hitam pekat tanpa gula ke Almaz, dan satu gelas dengan susu kental manis ke Abde.
Xavier duduk di anak tangga di antara mereka, meregangkan bahunya. “Mulai lagi?”
“Sluuurp.” Abde menyeruput kopinya. “Ahhh.” Ia menoleh ke arah Xavier. “Masih lah.”
Xavier mengangguk pelan, menatap tumpukan kertas di pangkuan Almaz. “Bagus. Berarti dunia masih normal.”
Xavier menyandarkan kedua siku di lututnya. Pandangannya menyapu pelataran kampus yang mulai lengang ditinggal mahasiswa masuk kelas. “Kita doang ya...”
“Apanya?” tanya Almaz.
“Orang lain kuliah buat cari kerja...” Ia melirik Almaz. “...kalian kuliah buat nyari masalah.”
Almaz memutar gelas kopinya di antara telapak tangan. “Lo percaya Atlantis, Xav?”
Xavier menyesap kopinya pelan, menoleh sekilas. “Gue cuma percaya deadline.”
Mereka bertiga duduk sejajar. Almaz meniup permukaan kopinya. Abde sibuk memutar tutup gelas yang mulai longgar. Xavier menyandarkan kedua telapak tangannya ke anak tangga paling belakang, menikmati angin pagi yang mulai membawa aroma hujan.
Abde melirik Almaz, sudut matanya menyipit geli. “Ngomong-ngomong... lo masih nyalahin satpam Candi yang waktu itu nggak?”
Almaz mendengus, meneguk kopinya. “Dia bohong. Jelas-jelas dia ngusir kita jam empat sore. Katanya jam lima ada ritual pembersihan area.”
“Terus?” tanya Xavier.
“Jam lima dia pulang naik angkot,” jawab Almaz. “Jam enam kita balik loncat pagar. Kosong.”
Abde tertawa terbahak-bahak hingga batuk kecil. “Emang nggak ada apa-apa, bego! Tempat itu cuma kandang kambing mangkurat!”
Xavier ikut tertawa mengingat kejadian itu. “Yang paling parah tetep rawa Bekasi.”
Abde menepuk dahinya. “Jangan diingetin.”
“Empat jam naik motor,” lanjut Xavier. “Tiga kali nyasar.
“Dua lintah. Satu ular...” Almaz mengangkat satu jari. “...dan satu koordinat harta karun.”
Xavier mengangguk. “Yang ternyata kandang bebek.”
Ucapan Abde membuka kembali deretan kenangan yang sama-sama mereka sesali.
Perjalanan dua belas jam menuju lereng gunung demi mencari bunker Jepang yang ternyata hanya gorong-gorong peninggalan kolonial.
Rumah tua di Bogor yang konon menyimpan dokumen rahasia Belanda, tetapi membuat mereka digiring ke pos ronda karena dikira maling.
Sampai forum bawah tanah yang menjual koordinat harta VOC seharga dua juta rupiah, lalu menghilang begitu uang ditransfer.
Semuanya berakhir sama. Pulang membawa cerita. Bukan jawaban.
Abde meremas gelas kertas kopinya yang sudah kosong. “Tiga tahun, men. Hasilnya nol besar.”
Xavier mengisap udara pelan lewat sela giginya, lalu meletakkan gelas kopinya di antara kedua kakinya. Ia menatap lurus ke arah hamparan rumput hijau pelataran.
“Kesimpulan gue...” ucap Xavier menggantung.
Almaz dan Abde berhenti bergerak. Mereka menoleh ke arah Xavier.
Xavier menggelengkan kepala perlahan, bibirnya tersenyum tipis.
“Apaan anjir kesimpulan lo? geleng-geleng doang,” sungut Almaz.
“Gue heran sama kalian,” bisik Xavier. “Lo berdua hafal teori Roswell. Hafal detail konstruksi Atlantis. Hafal struktur Freemason sampai Illuminati tingkat sembilan...”
Xavier memutar gelas kopinya perlahan. Ia mengangkat tangan, telunjuknya menunjuk lurus ke arah bangunan tua berkubah tembaga di ujung timur kampus.
Ketiganya menoleh ke arah yang sama. Gedung perpustakaan tua berdiri tenang di balik deretan pohon mahoni. Bangunannya sudah mereka lewati hampir setiap hari sejak menjadi mahasiswa.
“...tapi pernah nggak lo berdua kepikiran, kalau negara kita sendiri mungkin nyimpen misteri yang jauh lebih besar dari semua itu?”
Sunyi seketika merayap di antara mereka bertiga.
Di dekat mereka, seorang dosen senior lewat sambil membawa tumpukan jurnal, tersenyum ramah dan menyapa, “Pagi, anak-anak.”
Ketiganya mengangguk kaku. Kalimat Xavier menggantung di udara.
Almaz menatap lurus ke arah jendela-jendela besar perpustakaan tua itu. “Kalau memang ada... seharusnya jejaknya masih ada.”
Abde menelan ludah, suaranya ikut merendah. “...dan nggak mungkin dibiarin terbuka gitu saja di internet.”
Xavier berdiri perlahan. Ia merapikan lipatan kemejanya, lalu melirik jam tangan digital di pergelangan tangannya.
“Sebelum jam kuliah pengantar sosiologi dimulai?” Xavier tersenyum kecil, menatap kedua sahabatnya bergantian. “Gue traktir makan siang di warung bu Haji kalau kalian bisa nemuin satu saja misteri lokal yang beneran nyata di negeri ini.”
Xavier berdiri, lalu berbalik.
Almaz dan Abde saling bertukar pandang beberapa detik. Tanpa aba-aba, tubuh mereka bergerak bersamaan.
Langkah kaki ketiganya menuruni undakan tangga, menyusuri jalan setapak di bawah naungan pohon mahoni tua yang langsung mengarah ke pintu samping gedung perpustakaan kampus.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!