Sepatu kets mereka berderit di atas paving blok yang disapu bayangan daun mahoni. Seorang mahasiswi mengebut dengan sepeda lipat sambil menyumpah karena hampir menabrak tiang bendera, sementara sekelompok anak semester tiga berdebat sengit soal bab metodologi riset sambil berjalan cepat membawa papan jalan.
“Kalau Indonesia...” Almaz masih memegang fotokopian Roanoke di tangannya. “...Yang paling sering dibahas sih Atlantis Sunda. Katanya letaknya di antara Jawa dan Sumatera.”
Abde mendengus. “Benua Sunda sama Atlantis itu dua hal yang beda jauh, Maz. Yang satu teori geologis dataran yang tenggelam, satu lagi dongeng Plato. Jangan dicampur-campur kayak bikin es campur.”
“Ya makanya kita cari, buktinya ada apa nggak,” balas Almaz.
“Bukan mitologi.” Xavier menyedot sisa es kopi kotaknya, lalu menggeleng pelan. “Yang kita cari itu yang beneran ada, yang ada jejaknya. Yang kalau kita gali, kita nggak keliatan kayak orang bego yang nyari hantu penasaran.”
Suara bising mahasiswa berangsur-angsur melemah begitu mereka membelok ke area timur kampus. Deru motor di jalan raya tertelan barisan pohon cemara yang rimbun.
Mereka berhenti di depan bangunan tua berarsitektur art deco kolonial. Pilar-pilar semen setinggi empat meter menopang teras depan yang teduh, cat putih aslinya sudah mengelupas di beberapa sudut.
Abde merapikan kerah kemejanya, matanya menatap relief lambang di atas pintu utama.
“Gedung ini dibangun awal abad dua puluh,” kata Abde setengah berbisik, nadanya berubah mirip pemandu museum swadaya. “Dulu, waktu zaman transisi, koleksi arsip administratif kolonial sempat numpuk di sini sebelum sebagian besar diangkut ke Arsip Nasional. Strukturnya dirancang tahan gempa tropis.”
Almaz melangkah mendekati dinding luar, jemarinya meraba permukaan batu yang dingin, lalu mengamati kusen jendela kayu jati tua yang terkunci rapat dari dalam.
Xavier melangkah mendahului mereka berdua, tangan kanannya memegang gagang pintu besi tempa yang berat. Ia menoleh ke belakang, menatap dua temannya.
“Kalau lima menit lagi kalian masih debat soal arsitektur kolonial dan beban fondasi,” kata Xavier datar, “gue tinggal ke kantin.”
Ia mendorong pintu. Engsel tua itu berderit panjang, menyambut mereka dengan embusan udara dingin beraroma kertas tua dan disinfektan.
Di dalam, ruang katalog utama diselimuti keheningan yang hanya diisi dengung halus pendingin ruangan sentral dan bunyi ketukan keyboard dari meja petugas di sudut ruangan.
Abde melangkah maju ke salah satu komputer pencarian pencarian arsip kampus. Jari-jarinya bergerak cepat di atas papan ketik. Ia mengetik kata pencarian VOC Belanda Kompeni Hindia.
Layar monitor berkedip. Barisan teks bergulir cepat, menampilkan ratusan hasil arsip digital dari dokumen-dokumen abad ke-18 hingga catatan harian pejabat bumiputera era tanam paksa.
Xavier melipat tangan di dada, mendesah berat saat melihat tumpukan teks hijau di layar. “Serius? Sebanyak ini? Kalau dibaca lembar per lembar sampai kita wisuda juga nggak bakal selesai.”
“Makanya sejarah nggak selesai dibaca seumur hidup, Xav. Makanya otak lo jangan dipakai buat mikirin sejarah kopi mulu,” sahut Abde tanpa menoleh.
Di sebelah mereka, Almaz menatap papan pengumuman kecil berlapis kaca di dekat meja arsip. Di bawah kategori peminjaman umum, ia membaca satu sub-bagian yang dicetak tebal.
KOLEKSI KHUSUS ARSIP SEJARAH LOKAL - HANYA BACA DI TEMPAT. TIDAK UNTUK DIBAWA PULANG.
Almaz menepuk pundak Abde, menunjuk tulisan itu.
Seorang pria paruh baya berkacamata tebal, Pak Darma, mendongak dari balik tumpukan buku besar, ia menghela napas panjang sambil tersenyum geli.
“Kalian lagi.” Suara pak Darma terdengar pasrah. “Minggu lalu kalian nyari peta bunker Jepang di bukit belakang. Dua minggu lalu ngotot mau lihat denah ruang bawah tanah bekas loji di kota lama. Sekarang apa lagi?”
Almaz tersenyum tipis, menyandarkan pinggulnya di tepi meja. “Belum tahu, Pak. Makanya kami ke sini.”
Pak Darma tertawa kecil, melepas kacamata birunya, mengelusnya dengan ujung seragam. “Kalian ini mahasiswa sejarah atau detektif nyasar? Kenapa nggak fokus skripsi aja kayak mahasiswa normal?”
Abde mencondongkan badan ke depan. “Pak, kami butuh akses ke rak koleksi khusus arsip VOC akhir abad ke-18. Yang dokumen-dokumen kertas perbiji, bukan buku cetakan baru.”
Pak Darma tertegun, alisnya bertaut heran. “Arsip VOC? Jarang banget ada mahasiswa yang minta itu, jarang ada yang nyenggol dokumen lapuk di gudang belakang.”
Ia merogoh saku kemejanya, mengambil anak kunci tembaga berukuran besar yang tergantung di gantungan kulit, lalu meletakkannya di atas meja. “Ikut saya,” kata Pak Darma sambil berdiri. “Jangan pada merokok di dalam. Kalau ada dokumen yang robek, kepala kalian bertiga saya gantung di gerbang.
Bunyi gerincing anak kunci menggema pelan di koridor perpustakaan yang lengang. Semakin jauh mereka melangkah, semakin sedikit rak berisi buku-buku baru yang terlihat. Bau pendingin ruangan perlahan digantikan aroma kayu tua dan kertas yang telah menua puluhan tahun.
Seorang lelaki sepuh berambut memutih keluar dari lorong referensi. Jas rajut cokelat tua menggantung longgar di tubuhnya, dua buku bersampul lusuh dijepit di bawah lengan kirinya.
Pak Darma menghentikan langkah. “Siang, Pak Harun.”
Pak Harun mengangguk pelan. Pandangannya bergeser ke tiga mahasiswa yang berjalan di belakang Pak Darma. “Bawa mahasiswa penelitian?”
“Iya, Pak. Mau lihat koleksi VOC.”
Alis Pak Harun terangkat tipis. “Koleksi VOC?”
Pak Darma mengangguk.
“Hm.” Pak Harun menatap mereka beberapa detik lebih lama. “Sudah lama tidak ada yang meminta arsip itu,” gumamnya pelan. “Kebanyakan mahasiswa sekarang lebih suka baca hasil penelitian daripada sumbernya.”
Abde tersenyum canggung. “Kami lebih suka mulai dari sumbernya, Pak.”
Tatapan pak Harun berhenti pada Abde, lalu beralih ke Almaz yang masih membawa setumpuk fotokopian teori konspirasi di tangannya.
Sudut bibirnya bergerak membentuk senyum tipis. “Kalau begitu...” ucapnya lirih. “Semoga kalian menemukan apa yang memang sedang kalian cari.”
Pak Harun mengangguk ke Pak Darma, lalu melanjutkan langkahnya menuju ruang baca tanpa menoleh.
Beberapa saat setelah sosoknya menghilang di balik rak-rak buku, Xavier memecah keheningan. “Siapa tuh?”
Pak Darma kembali berjalan sambil mengeluarkan anak kunci dari sakunya. “Pak Harun. Dulu dosen sejarah kolonial di kampus ini. Sudah pensiun, tapi hampir tiap minggu masih datang baca arsip.”
“Rajin amat.”
“Bukan rajin.” Pak Darma tersenyum tipis. “Kalau sudah puluhan tahun hidup di antara arsip, kadang orang lebih betah ngobrol sama dokumen daripada sama manusia.”
Pak Darma memutar anak kunci di pintu ganda berjeruji besi di ujung koridor lantai dua. Lampu neon oranye menyala satu per satu di sepanjang langit-langit, udara pengap menerpa wajah mereka. Bau khas kertas berusia ratusan tahun, minyak pelindung kayu, dan debu pekat memenuhi rongga hidung.
Rak-rak besi tinggi berjejer rapat, dipenuhi tumpukan kotak arsip berwarna cokelat tua dan beberapa peti kayu tersegel tali rami.
Abde melangkah masuk dengan mata berbinar. Tangannya menyentuh sampul-sampul tebal bertekstur kulit sapi yang berdebu.
Almaz berjalan pelan di lorong paling ujung.
Di dekat pintu masuk, Xavier tiba-tiba bersin keras sekali, suaranya menggema di seluruh ruangan gudang. Ia mengusap hidungnya dengan punggung tangan, mengibaskan debu di udara.
“Sumpah...” Syara Xavier sengau, “kalau hantu pegawai VOC beneran ada di sini, dia pasti udah kena ISPA dari abad kemarin.”
Pak Darma terkekeh pelan dari balik lorong tengah, ia menarik keluar peti kayu berukuran sedang yang tertuliskan label pudar bernomor 1790-1800.
“Ini.” Ia meletakkan peti itu di atas meja kayu di tengah ruangan. “Peti ini baru dipindah dari gudang bawah tanah rektorat tiga tahun lalu. Belum pernah ada satu pun mahasiswa atau peneliti luar yang minta buka segelnya.”
Peti kayu dibuka, tumpukan dokumen tersusun rapi, lembaran log pelayaran kapal dagang, surat-surat administratif kolonial dengan cap lilin merah yang sudah pecah, daftar muatan rempah, serta beberapa bundel catatan tangan yang diikat benang wol tebal.
Abde menyambar bundel pertama yang bertuliskan laporan resmi VOC. Matanya memindai baris-baris aksara Latin tua bergaya copperplate.
Ia membolak-balik bundel demi bundel, debu beterbangan ke udara. “Daftar pajak.” Halaman berikurnya terbuka. “Surat jual beli.” Lalu berikutnnya. “Inventaris meja kantor.”
Xavier menghela napas panjang. “Ternyata VOC juga kerjaannya ngurus administrasi.”
Beberapa menit kemudian, tumpukan dokumen di atas meja mulai menggunung. Laporan kapal karam, daftar gaji serdadu, permintaan pengiriman mesiu. Tidak ada satu pun laporan yang bisa mereka jadikan bahan untuk penelitian.
Almaz mengambil buku catatan bersampul kulit domba berwarna cokelat gelap yang terselip di sudut paling bawah peti.
Buku itu jauh lebih tipis. Tidak ada lambang singa bermahkota. Tidak ada cap resmi perusahaan dagang. Hanya ada goresan tinta hitam pekat yang mulai memudar di bagian pinggir sampulnya.
Ia meniup debu tipis yang menutupi bagian bawah sampul. Jemarinya mengusap permukaannya, lalu menemukan nama H. van der Velde yang ditulis tangan.
Almaz mengerutkan dahi, menatap tulisan itu lekat-lekat. “Siapa Van der Velde?” tanyanya pelan.
“Nggak tahu. Coba lihat jurnal yang ada logo VOC-nya, itu jelas-jelas laporan logistik pelabuhan Batavia,” sahut Abde tanpa menoleh.
Almaz membuka sampul buku catatan perlahan. Tidak ada peta pelayaran yang rumit. Tidak ada koordinat garis lintang. Tidak ada simbol-simbol rahasia ala Freemason yang selama ini mereka cari di internet.
Jemarinya membuka halaman pertama dari buku catatan, matanya bergerak membaca tulisan dalam bahasa Belanda.
21 Februari 1794
Hari ini aku menginjakkan kaki di tanah surga.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!