Lampu neon oranye di langit-langit berdengung konstan, bayangan panjang dari rak-rak besi setinggi empat meter menutupi kotak kardus dan peti kayu berdebu. Aroma kertas tua, lem kanji abad lampau, dan kayu lapuk bercampur di udara.
Almaz, Abde dan Xvier duduk melingkar di atas lantai beralaskan selembar terpal plastik tipis yang ditemukan Abde di sudut gudang. Jurnal log ekspedisi bersampul kanvas kasar terbuka lebar di tengah lingkaran mereka.
Abde membungkuk, ujung hidungnya nyaris menyentuh baris-baris tulisan tangan bergaya copperplate yang meliuk-liuk rapi. Jemarinya gemetar bergerak mengikui baris demi baris.
Xavier menatap lurus wajah Abde. “Emang lo ngerti bahasa Belanda?”
“Nggak, makanya gue nyari tulisan yang ada bahasa Indonesia. Siapa tau ada yang udah pernah terjemahin.”
“Goblog.” Xavier mengeluarkan ponselnya dari saku. Ia menarik jurnal dari tangan Abde lalu memotretnya. “Pake ini bego. Jaman udah canggih.” Ia menyodorkan ponselnya ke hadapan Abde.
“Anjay terjemahin pake AI.” Abde membaca terjemahan log dari layar ponsel Xavier. “Log pelayaran. Minggu pertama keberangkatan dari pelabuhan di lepas pantai Batavia menuju arah timur. Jumlah awak tercatat seratus delapan puluh orang. Rincian muatannya rempah hasil panen, beras, bubuk mesiu, peti-peti tembaga, dan... logistik makanan untuk enam bulan.”
Abde membalik halaman perlahan, lalu memotret kembali. “Kecepatan angin dicatat setiap empat jam sekali. Posisi lintang diperbarui berdasarkan posisi matahari. Catatan harian kapten... cuaca buruk di Selat Sunda, kehilangan dua sekoci akibat hantaman ombak besar pada tanggal dua belas...”
Abde terus menggeser halaman demi halaman di bawah kamera ponsel. Terjemahan yang muncul hampir selalu sama. Angka, cuaca, jumlah barel, nama awak kapal dan jadwal jaga malam.
Xavier menguap lebar. “Gue rasa kalau hidup jadi kapten VOC isinya cuma ngitung beras sama ombak.”
“Justru itu gunanya buku log,” gumam Abde tanpa mengalihkan pandangan. “Buku beginian harusnya ngebosenin.”
“Kenapa?”
“Kalau tiba-tiba menarik...” Abde mengangkat wajahnya. “...berarti ada sesuatu yang nggak semestinya ditulis.”
Xavier duduk bersandar di tumpukan kotak arsip di belakangnya, membuang napas panjang lewat mulut. Ia melipat kedua tangan di dada. “Gue nggak ngerti apa menariknya dari daftar belanjaan dan laporan cuaca pelaut mati dua abad lalu. Sebelah alisnya terangkat menatap Abde.
Abde mendongak, menatap tajam mata Xavier. “Ini asli, Goblok,” nada suaranya tertahan. “Arsip kayak gini bukan cuma sekadar bacaan sejarah. Data navigasi kalau di-cross-check sama catatan VOC di Arsip Nasional, bisa jadi bahan disertasi S3. Lo nggak paham nilainya karena otak lo cuma buat mikirin sejarah kopi.”
Almaz mendekatkan wajahnya ke sisi samping jilid buku log tersebut. Jemarinya bergerak pelan, meraba pinggiran halaman demi halaman.
Xavier melirik ke arah Almaz, keningnya berkerut. “Lo malah ngapain, Maz? Ikutan pusing baca bahasa Belanda purba?”
“Diam,” jawab Almaz singkat, tanpa menoleh.
Almaz menggeser ibu jarinya lambat, menyusuri tepi luar lembaran kertas yang menguning.
Ibu jarinya berhenti di sepertiga bagian tengah buku. Dahinya mengerutkan, ia menunduk lebih dekat, menatap deretan nomor halaman yang tercetak di pojok kanan atas dengan tinta hitam pudar.
112... 113... 114...
118.
Almaz membalik kembali ke halaman sebelumnya perlahan, menghitung ulang angka-angka kecil di sudut kertas.
“De...” panggil Almaz.
Abde beralih ke jurnal lain, jari telunjuknya menunjuk lembaran kertas. “Hm? Bentar, ini ada catatan soal lain-“
“De, lihat sini sebentar.”
Abde mendengus pelan, mengalihkan pandangannya. “Apa lagi? Jangan bilang lo nemu teori konspirasi alien di buku log logistik.”
“Halamannya loncat.” Almaz menunjuk pojok kertas dengan kuku jarinya.
“Namanya juga arsip lama buatan tangan, Maz.” Abde melambaikan tangannya tanpa menoleh ke arah Almaz. “Catatan manual zaman VOC sering salah tulis nomor halaman. Tukang jilidnya mungkin salah urut waktu bikin bundel.”
Almaz masih menatap angka di sudut jurnal. Jarinya kembali meraba lipatan dekat jilid buku dengan tekanan yang sedikit lebih kuat.
Ujung sepatu Xavier menyenggol paha Abde.
Abde menoleh, mengikuti arah pandang Xavier ke Almaz. “Lo ngapain?”
“Udah gue bilang ada halaman yang hilang,” sahut Almaz tanpa menoleh.
Abde mendekatkan wajahnya ke samping Almaz, menghitung deretan halaman di sekitar angka yang ditunjuk Almaz.
112... 113... 114... 118.
Abde menelan ludah, suaranya mendadak tercekat di tenggorokan. “...robek?”
Almaz menggeleng pelan. Ia mengambil pensil dari dalam tasnya. “Kalau robek atau lapuk...” Ia menunjuk helaian serat yang tertinggal di dekat benang jilid, “...Seratnya bakal rapuh, berbulu dan nggak beraturan.”
Abde dan Xavier menatap area yang ditunjuk Almaz.
Almaz mengangkat buku itu sedikit lebih dekat ke bawah lampu neon, lalu membuka sela jahitan benang linen di punggung jilid dengan ujung kukunya. Bekas halaman yang hilang masih menyisakan potongan kertas di sela benang, tidak ada seratnya berjumbai seperti robekan yang dimakan usia. Garis potongnya rata, nyaris setegak jahitan di sampingnya.
Xavier mengembuskan napas pelan. “Berarti ada orang yang sengaja ngambil.”
Almaz kembali membalik halaman-halaman sebelumnya. Ujung pensilnya berhenti di halaman 89. Ia mencondongkan tubuhnya, mendekatkan matanya.
“Tinta,” bisik Almaz.
Abde ikut merapat, bahu mereka bersentuhan. “Kenapa sama tintanya?”
“Dua warna,” jawab Almaz pendek.
Ia memiringkan buku log itu sedikit ke arah lampu neon. Pantulan cahaya bergeser perlahan di atas permukaan halaman yang telah menguning dimakan usia. Hampir seluruh tulisan tenggelam dalam warna cokelat kusam, sampai sudut bukunya berubah sedikit lagi.
“Oh...”
Napas Abde tertahan.
Tiga baris di tengah halaman menangkap cahaya lebih dulu. Kilau tipis memanjang di atas guratan tintanya sebelum kembali menghilang ketika Almaz mengembalikan posisi buku.
Xavier ikut mencondongkan badan. “Ada yang nambahin?”
Abde menggeleng perlahan. “Atau... ada yang revisi.”
“Revisi?” tanya Xavier.
“Buku log resmi perusahaan dagang nggak boleh dicoret atau ditambah sembarangan.” Jemari Abde meraba pinggiran halaman. “Kalau ada kesalahan pencatatan, aturannya bukan ditimpa atau ditambah kalimat baru di tengah paragraf. Catatan yang salah harus dicoret garis horizontal tipis, terys dikasih paraf resmi kapten atau sekretaris kapal di margin samping. Tapi ini...”
Abde menunjuk tiga baris hitam pekat itu. “...ini ditulis ulang langsung di atas baris lama, atau ditambahin belakangan tanpa paraf pengesahan.”
Mereka bertiga saling berpandangan dalam diam.
Almaz mengangkat sedikit sudut halaman 89. Ia menatap simbol geometris lingkaran utuh yang dibelah oleh garis vertikal lurus, dengan tiga titik kecil tersusun rapi di pojok paling bawah halaman.
“Ini apa?” Dahi Almaz berkerut dalam.
Abde merebut buku log dari tangan Almaz. Ia memicingkan mata, mengamati simbol tersebut dari berbagai sudut. “Cap percetakan kertas atau tanda air pembuat kertas?”
Almaz menggeleng. “Kalau itu tanda air pabrik kertas, posisinya harusnya tersebar semua lembaran dan bisa dilihat kalau diterawang. Tapi tanda ini...” Ia menunjuk titik di pojok halaman, “...Ini digambar pakai tangan. Pakai pulen dan tinta yang sama dengan baris tambahan tadi.”
“Kalau cuma cap atau tanda, coba cari di halaman lain.” Xavier ikut mendekat.
Mereka membuka halaman-halaman sebelumnya. Halaman 88, Kosong. Halaman 87, Kosong. Halaman 90, Kosong.
Mereka membongkar tumpukan arsip VOC lain dari peti kayu yang sama. Membuka log pelayaran kapal lain, surat-surat administratif kolonial, hingga manifest muatan rempah tahun 1798.
Gudang arsip mulai dipenuhi oleh lembaran-lembaran kertas tua yang berserakan di atas terpal plastik. Mereka memeriksa satu per satu, mencari bentuk lingkaran bergaris vertikal dengan tiga titik tersebut. Tidak satu pun dokumen lain di dalam peti itu memiliki simbol serupa.
Xavier menyandarkan punggungnya ke rak besi, mengembuskan napas panjang sambil menggeleng. “Berarti... simbol itu bukan simbol standar VOC.”
Ketiganya kini duduk melingkar kembali, memusatkan pandangan ke satu halaman di jurnal ekspedisi yang menampilkan simbol kecil tersebut.
Abde memegang dagunya, mengerutkan kening. “Mungkin ini kode inventaris rahasia awak kapal tertentu?”
“Tapi kenapa cuma satu?” sanggah Xavier, “kalau itu kode inventaris atau tanda muatan, logikanya harusnya ada di setiap awal bab atau di lembar manifest utama. Kalau cuma nyempil satu biji di tengah halaman log pelayaran, itu bukan inventaris. Itu sandi.”
Almaz menunduk, mengambil buku catatan harian bersampul kulit domba milik Hendrick. Ia membuka halaman demi halaman , membandingkan gaya tulisan tangan, warna tinta, dan tekstur kertasnya dengan jurnal ekspedisi di hadapannya.
“Nggak ada disini...” Almaz menutup diary Hendrick perlahan, lalu mendongak menatap kedua temannya bergantian. “...Yang jelas ini bukan nggak sengaja. Tapi emang sengaja dibuat.”
Abde menghela napas panjang, merapikan lembaran-lembaran kertas yang berserakan di sekitarnya, memasukkannya kembali ke dalam buku log dengan hati-hati. “Kita butuh orang yang lebih ngerti.”
Xavier mengangguk, meraih tas ranselnya dari lantai. “Dosen.”
Almaz memasukkan jurnal ekspedisi ke dalam map plastik, lalu memasukkan diary Hendrick ke dalam tasnya.
“Lo nggak gabungin?” Abde menatap diary Handrick masuk ke dalam tas Almaz.
“Lo bilang sendiri, ini bukan dokumen resmi.” Almaz menutup risleting tasnya.
Mereka berdiri bersamaan. Suara sendi-sendi yang berderak memecah keheningan gudang. Abde melangkah ke dekat pintu, mematikan saklar lampu neon gantung. Ruangan itu tenggelam dalam remang-remang cahaya oranye redup dari koridor luar.
Pintu besi digeser menutup. Bunyi gerendel besi yang bergesekan bergema nyaring di sepanjang lorong perpustakaan tua yang sepi.
“Udah?” tanya pak Darma di balik meja pendaftaran.
“Udah, pak. Makasih ya.” Almaz tersenyum tipis ke arah pak Darma.
Mereka berjalan keluar menyusuri koridor menuju pintu keluar utama, melangkah dalam diam ke bawah terik matahari sore kampus.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!