TANAH SURGA

0 dibaca

A

Uap air hangat bercampur bau garam laut dan cengkeh segar menyergap rongga dadaku begitu sepatu bot kulitku menjejakkan lantai dermaga Pelabuhan Batavia. Di sekelilingku, hiruk-pikuk pelabuhan bergemuruh tanpa jeda. Buruh pribumi bertelanjang dada mengangkat peti-peti kayu berat ke atas geladak sekoci, sementara para pedagang Arab bergamis putih dan saudagar Tionghoa berkerudung kain linen tawar-menawar dengan suara melengking dalam berbagai dialek yang asing di telingaku.

Burung-burung camar melengking tinggi di langit kelabu yang mulai disapu terik matahari tropis. Bau asap dapur dari perumahan bambu di tepi kanal berpadu dengan aroma lumpur rawa dan getah kayu basah.

Topi segitigaku terlepas dari kepala dan menggantung di tangan. Entah sejak kapan aku berhenti melangkah.

Di kapal, selama berbulan-bulan aku dijejali kisah tentang tanah jajahan. Negeri liar yang dipenuhi rawa mematikan, pemberontak, dan orang-orang yang hanya tunduk karena laras senapan.

Beberapa langkah di hadapanku, seorang anak kecil pribumi berlari mengejar bola kayu sambil tertawa lepas, dikejar oleh ibunya yang mengenakan kebaya pudar dan kain batik corak cokelat tua. Di sudut lain, seorang serdadu tua berkulit pucat tampak duduk tenang berbagi segelas air kelapa muda dengan seorang buruh pelabuhan lokal.

Tak satu pun menyerupai gambaran yang selama ini kutelan mentah-mentah.

Seorang perwira senior berompi tebal dan berwajah letih menghampiriku, mengisap cerutu basah di sudut bibirnya.

“Selamat datang di Batavia, Kolonel Hendrick,” kata perwira itu, menepuk pundakku pelan. “Jaga kesehatan paru-parumu. Demam di sini tidak pandang bulu, dan kuburan di belakang benteng selalu punya tempat kosong.”

Aku menatap lurus ke kerumunan orang-orang yang sibuk dengan kehidupan mereka, lalu menoleh ke arah perwira itu. “Apakah... apakah semua orang di sini hidup seperti ini?”

Perwira senior itu mendengus pendek, mengeluarkan kepulan asap tipis dari mulutnya. “Kau akan segera berhenti memperhatikan mereka, Kolonel.”

Di sudut geladak kapal yang mulai sepi, aku duduk di atas sebuah tong kayu kosong, membuka buku catatan bersampul kulit domba di atas lututku.

...Aku datang dengan kepala yang dipenuhi cerita tentang negeri liar dan penuh mara bahaya. Yang kutemukan justru manusia-manusia yang tersenyum kepada orang asing, dan anak-anak yang berlari tanpa beban di bawah terik matahari...

...Aku belum pernah mencium udara seperti ini. Bahkan hujan di negeri ini memiliki aroma. Campuran tanah basah, pala, dan rempah yang mengalir di setiap embusan angin...

Pandanganku terangkat sesaat, melihat seorang gadis kecil memberikan sepotong kue tradisional kepada seorang pengemis tua yang tertidur di bawah payung jerami. Hal sederhana. Tanpa pamrih. Namun pemandangan itu menancap dalam di benakku.

Aku kembali menunduk, melanjutkan tulisannya dengan tarikan napas panjang.

...Jika beginilah rupa tanah jajahan ... maka mungkin selama ini kami diajarkan melihat negeri yang salah...

Suara dengung konstan lampu neon tua di gudang arsip memotong lamunan Almaz.

Halaman diary itu berhenti bergerak.

Bau garam, cengkeh, dan kayu basah perlahan menghilang, berganti dengan aroma kertas tua, debu, dan pendingin ruangan yang terlalu dingin.

Almaz berkedip pelan, ia duduk bersila di lantai semen beralaskan tumpukan kotak koran, lembar demi lembar catatan kulit domba itu terbuka di pangkuannya.

Abde melirik dari balik tumpukan meja kayu, matanya menyipit melihat ekspresi datar di wajah Almaz. “Gimana?”

Jemari Almaz mengusap ujung halaman buku catatan itu pelan. “Aneh.”

Xavier memainkan tutup pulpen di jarinya, ikut menoleh. “Aneh gimana?”

Almaz mendongak, menatap kedua temannya bergantian. “Dia nggak kedengeran kayak penjajah.”

Abde mengangkat bahu. “Ya karena itu buku harian. Orang nulis diary kan buat dirinya sendiri, bukan buat propaganda.”

“Tetep aja,” gumam Almaz, “kalau dia bohong ke dunia, masih masuk akal. Ngapain bohong ke diri sendiri?”

Xavier menyandarkan punggung ke rak besi. “Atau sesimpel... dia emang belum berubah.”

Almaz menoleh.

“Maksud gue,” lanjut Xavier sambil memutar pulpen di sela jarinya, “orang nggak langsung jadi jahat di hari pertama kerja.”

Kalimat itu menggantung beberapa detik di antara mereka. Sunyi merayap di antara rak-rak arsip tinggi yang tenggelam dalam bayangan lampu oranye. Suara gesekan kayu berat terdengar dari lorong rak di sebelah kiri mereka.

“Nih...” suara Abde berbisik.

Tidak ada jawaban dari Almaz yang masih mematung.

“WOY.”

Almaz dan Xavier menoleh serempak. Abde membungkuk di depan peti kayu berukuran besar yang terkunci. Di sudut tutup peti, tercetak lambang VOC dengan cat hitam legam yang sudah retak dimakan usia.

Xavier menutup buku kecil di tangannya lebih dulu. Almaz menyelipkan diary itu di bawah lengannya. Keduanya menghampiri Abde yang membungkuk di depan peti.

Abde menoleh ke pak Darma. “Ini ada kuncinya pak?”

Pak Darma menoleh, lalu berjalan mendekat ke Abde. “Kayanya nggak ada.” Ia merogoh sakunya, mengeluarkan obeng tipis. “Congkel aja, kuncinya udah lapuk pasti.”

Ujung obeng pak Darma menusuk sela peti, ia mendorong masuk, lalu menyentak. Engsel besi tua itu bergesek nyaring. Debu mengepul tipis dari celah penutup peti.

Tutup peti terangkat penuh. Bundel pertama log bersampul kanvas kusam dengan punggung yang mulai mengelupas. Di bawahnya tergulung beberapa lembar peta yang diikat pita kain kecokelatan. Di sela-selanya terselip lembar-lembar manifest muatan dengan cap lilin merah yang retak menjadi serpihan kecil.

Abde berjongkok di depan peti seperti anak kecil yang baru diberi mainan baru.

“Pelan-pelan,” tegur Pak Darma, “dokumen itu umurnya lebih tua dari negara kita.”

“Iya, Pak.” Tangan Abde menyelusup ke tumpukan paling atas.

Xavier menggeleng pelan. “Kalau suatu hari dia nikah...”

Almaz melirik.

“...istrinya bakal kalah sama arsip.”

Abde mendengus tanpa mengangkat kepala. “Minimal arsip nggak ngambek.” Ia mengangkat salah satu buku log tebal itu, menimbangnya di tangan. “Ini bukan buku pribadi.”

Xavier mengulurkan tangan, mengambil satu buku kecil lain di atas tumpukan, lalu membuka halaman pertamanya. Matanya menatatap lurus judul halaman LOGBOEK DER EXPEDITIE.

Abde membalik-balik halaman dengan cepat. Barisan koordinat lintang bujur, daftar nama awak kapal, tonase meriam, hingga daftar komoditas yang dicatat secara administratif penuh ketelitian militer.

“Ini rapih banget.”

“Ya emang laporan resmi,” jawab Xavier.

“Bukan itu.” Abde menggeleng. “Semuanya dicatat.” Ia menunjuk salah satu halaman. “Jam keberangkatan, jumlah peluru, cadangan air.”

Ia berhenti membalik halaman. “Kalau ada sesuatu yang hilang dari jurnal ini...” Pandangan beralih menatap Almaz. “...berarti seseorang sengaja nggak nulisnya.”

Almaz menatap buku log di tangan Abde, lalu menurunkan pandangannya ke buku catatan kecil milik H. Van der Valde di tangannya.

Ketiganya saling berpandang dalam keheningan gudang arsip.

Sudut bibir Abde perlahan terangkat.

Ia membalik sekali lagi halaman buku.

“Kalau yang satu itu jurnal pribadi...” Abde menunjuk buku di tangan Almaz. “...Berarti ini jurnal ekspedisinya.” Ia mengangkat buku log resmi tinggi-tinggi dengan kedua tangan,

Almaz masih memegang buku catatan Van der Valde di dadanya. Jemarinya merayap di tekstur sampul kulit domba.

Pak Darma melirik jam dinding yang tergantung miring di atas pintu. “Kalau masih mau lanjut baca, sejam lagi perpustakaan tutup.”

Ketiganya masih berdiri mengelilingi meja kayu itu. Almaz memegang diary. Abde memegang jurnal ekspedisi. Xavier memandangi keduanya bergantian.


Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk