Namaku Nayla. Umur aku lima.
Aku suka main boneka, gambar, dan lari-lari keliling rumah. Tapi aku sering lupa rapihin mainan, makanku juga masih berantakan, dan Bunda sering bilang: Nayla ceroboh.
Bunda selalu ingetin aku buat rapihin mainan dan makan yang rapih, tapi masih aja lupa.
Hari itu, aku main boneka di ruang tamu.
Boneka-bonekaku berantakan di mana-mana, soalnya ada banyak, kan.
Ada Barbie, Teddy Bear, dan Empie, boneka sapi kesayanganku.
Aku juga menggambar dengan krayon di buku gambar, tapi kok tiba-tiba aku pengen gambar di dinding, ya? Warna-warni di dinding putih kan bikin cantik menurutku, tapi ternyata Bunda enggak suka.
Waktu makan siang, aku makan nasi dan ikan goreng pake sayur bayam di meja makan. Tapi kayak biasa, makananku berantakan.
Nasinya jatoh-jatohan di meja dan lantai.
Bunda liat berantakan banget, terus wajahnya langsung berubah merah.
“Nayla! Kamu bikin Bunda capek!” teriak Bunda dengan suara keras.
Aku jadi takut. Bunda jarang marah seperti ini. Matanya berkilat serem banget, dan kayaknya aku udah bikin Bunda marah banget.
Aku rapih-rapih mainanku dengan cepat, tapi Bunda terus marah. “Dari bayi, kamu selalu nyusahin Bunda! Tau gitu, lo dulu gue matiin!”
Aku enggak ngerti maksud Bunda, tapi yang Bunda bilang itu bikin aku jadi sedih dan takut. Kenapa Bunda bilang begitu? Apa aku beneran bikin Bunda capek?
Bunda berjalan ke dapur dengan cepat.
Aku dengar suara berisik dari dapur, dan tiba-tiba Bunda kembali bawa piso di tangannya.
Mata dan muka Bunda kelihatan marah dan super serem.
Aku mundur, tapi Bunda terus mendekat.
“Nayla, kamu bikin Bunda capek!” katanya lagi dengan suara gemetar.
Aku bisa melihat piso itu berkilat di tangan Bunda, dan aku deg-degan. Aku lari ke sudut ruangan, berharap Bunda berhenti marah dan menjauh.
“Bunda, maafin Nayla!” kataku sambil menangis.
Aku enggak tau harus gimana supaya Bunda enggak marah. Tapi Bunda terus mendekat dengan piso di tangannya, dan aku semakin takut. Aku nangis keras-keras biar Bunda bisa dengar dan tau kalo aku enggak sengaja bikin berantakan.
Bunda nempelin piso ke leherku. Rasanya dingin di kulitku, tapi enggak enak kayak es.
Aku masih enggak ngerti kenapa Bunda marah banget.
Jangan-jangan Bunda benci aku? Aku cuma mau main seru-seruan aja. Aku enggak tau semua ini bikin Bunda marah.
Oh ternyata, kadang-kadang, orang dewasa juga bisa marah banget ya, dan aku harus lebih hati-hati supaya Bunda enggak marah lagi.
Aku janji mau jadi anak yang lebih baik, supaya Bunda bisa senyum lagi.
Tapi di dalam hati, aku tetap bingung dan sedih.
Mau tanya ke Bunda: Kenapa Bunda marah banget? Apa aku beneran bikin Bunda capek?
Moga-moga, suatu hari nanti Bunda bisa maafin aku, jadi aku sama Bunda bisa bahagia lagi.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!