Malam ini seharusnya menjadi malam yang istimewa. Aku dan Haykal sudah merencanakan untuk menonton film di bioskop. Selain itu, aku juga sangat menantikan untuk bertemu dengan Faras, anak Haykal dari pernikahan sebelumnya.
Faras akan diantar oleh mantan istri Haykal dan akan menginap di rumahnya malam ini. Aku merasa ini adalah kesempatan besar untuk lebih dekat dengan keluarga Haykal, terutama anak semata wayangnya.
Pukul tujuh malam, aku sudah berdiri di depan pintu rumah Haykal dengan hati yang berdebar-debar. Aku membawa tas kecil berisi camilan favorit anak-anak yang sudah kusiapkan dengan penuh cinta. Dengan senyuman lebar, aku mengetuk pintu.
Haykal membuka pintu dan menyambutku dengan senyuman, meskipun wajahnya terlihat sedikit tegang. “Sudah siap nonton?” tanyanya.
“Aku siap, Mas. Kamu sudah siap?” balasku sambil tersenyum.
“Sudah, tinggal tunggu Faras datang,” jawabnya sambil menghela napas panjang.
Kami duduk di ruang tamu, mengobrol ringan sambil menunggu kedatangan Faras. Aku berusaha mencairkan suasana dengan bercanda, tetapi Haykal tampak sedikit gelisah.
Tak lama kemudian, telepon Haykal berdering.
“Mamanya Faras. Aku jawab dulu, ya,” katanya sambil berjalan ke sudut ruangan.
Dari sudut mataku, aku melihat perubahan ekspresi Haykal saat berbicara di telepon. Wajahnya yang tadinya tegang berubah menjadi marah. Setelah menutup telepon, Haykal kembali duduk di sebelahku dengan wajah merah padam.
“Ada apa, Mas?” tanyaku dengan lembut.
“Faras enggak jadi datang,” jawab Haykal dengan nada kasar. “Dia diajak neneknya ke villa di Puncak. Kenapa sih semuanya harus jadi ribet gini?!”
Aku mencoba memahami perasaannya. “Mas, aku paham kalau Mas kecewa. Tapi kan itu keputusan mamanya Faras.”
“Bukan, ini semua gara-gara kamu!” teriak Haykal tiba-tiba. “Kamu selalu membawa sial! Sejak kamu masuk ke dalam hidupku, semuanya jadi berantakan!”
Aku terkejut dan terluka mendengar kata-kata itu. “Mas, kenapa bilang begitu? Aku enggak pernah bermaksud membuat masalah. Aku hanya ingin berkenalan dengan Faras dan mendukung Mas.”
“Tidak, kamu tidak mengerti apa-apa. Kamu hanya menambah beban!” maki Haykal, matanya berkilat penuh amarah.
Air mata mulai menggenang di mataku. “Mas, aku tidak tahu apa yang sedang melukai hatimu, tapi tolong jangan salahkan aku untuk sesuatu yang bukan salahku.”
Aku memandang Haykal dengan tatapan penuh luka. Hatiku hancur mendengar tuduhan kasar yang tidak berdasar. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya, tetapi aku tahu satu hal: cinta seharusnya tidak menyakiti seperti ini. Dengan hati yang berat, aku bangkit dari tempat dudukku.
“Mas, aku pikir lebih baik aku pulang. Mungkin kita bisa bicara lagi saat Mas sudah tenang,” kataku pelan.
Haykal tidak menjawab, hanya menatap ke arah lain.
Aku mengambil tasku dan berjalan keluar, meninggalkan rumah Haykal dengan perasaan campur aduk. Malam ini, yang seharusnya menjadi malam yang menyenangkan, berubah menjadi kenangan pahit yang tak akan mudah dilupakan.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!