Gina memasuki rumah Jamie kekasihnya dengan senyum lelah di wajahnya. Tas belanja di tangannya berayun ringan saat ia melangkah masuk ke dapur. Ia merasa senang berhasil mendapatkan semua yang Jamie inginkan untuk makan malam. Namun, suasana berubah drastis saat Jamie melihat isi tas belanja itu.
“Ini apa?!” bentak Jamie, wajahnya memerah. “Kenapa kamu beli kerupuk kotak-kotak kecil ini? Aku minta kerupuk putih bulat, Gina!”
Gina tertegun, berusaha mencari kata-kata yang tepat. “Maaf, sayang. Kerupuk yang biasa enggak ada di warung. Jadi aku pikir ini bisa jadi pengganti.”
“Pengganti?” Jamie mendekat, matanya berkilat marah. “Kamu ini bodoh atau apa? Itu kerupuk buat snack, bukan buat teman makan! Kamu bisa bedain enggak? Mana kerupuk yang cocok buat teman makan, mana kerupuk yang buat camilan?!”
Jamie terus membombardir Gina dengan kata-kata. “Kalo gini, kamu tuh bisa aja pergi ke pesta pake baju tidur, enggak tau mana baju pesta! Tolol!”
Gina merasakan air mata mulai menggenang di matanya. “Sayang, aku udah keliling nyari kerupuk yang kamu mau, tapi enggak ada. Aku udah beli pindang ikan kesukaan kamu juga, sama tumis kacang panjang buat makan malam kita bersama.”
Jamie tertawa sinis, menatap Gina dengan penuh penghinaan. “Oh, kamu pikir kamu udah jadi paling hebat karena beli lauk? Kamu itu cuma bikin masalah, bikin emosi! Kalau enggak bisa beli kerupuk yang benar, enggak usah ke sini pake bawa makanan segala!”
Gina tidak bisa menahan tetes air matanya yang mulai menganak sungai. “Jamie, aku tuh udah berusaha. Aku bener-bener nyari kerupuk putih itu biar kamu bisa makan. Aku cuma pengin bikin kamu bahagia, tapi kayaknya aku enggak pernah cukup bagimu.”
Jamie hanya tertawa, kali ini lebih keras. Dengan ekspresi menikmati penderitaan Gina, Jamie mengibaskan tangannya. “Oh, kamu tuh ambekan. Besok juga kamu balik lagi, minta maaf. Kamu kan selalu begitu, Gina.”
Gina menatap Jamie untuk terakhir kalinya, merasakan sakit hati yang dalam. Entah apa yang membuatnya bertahan dengan perlakuan buruk kekasihnya,
Gina tersadarkan bahwa ini bukanlah perkara kerupuk. Ia mengusap air matanya, menguatkan diri. “Enggak, Jamie. Aku enggak bakalan kembali. Aku udah capek mencoba membuatmu bahagia. Aku pergi, ya.”
Gina berbalik memunggungi Jamie. Air matanya masih mengalir dan hidungnya mulai mampet oleh ingus, sambil terisak Gina melangkah lebih cepat.
Jamie masih tertawa di belakangnya, tidak menyadari bahwa kali ini, Gina benar-benar pergi untuk selamanya dengan meninggalkan makan malam terakhir untuk Jamie.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!