Satu hari Sabtu, di kediaman Jessi.
Jakarta akhir pekan itu nampak agak mendung, namun tidak ada tanda-tanda hujan akan turun. Walau demikian, Jessi merasa gerah.
Di Bandung dulu, saat mendung cuaca akan lebih sejuk dan syahdu rasanya. Namun kini di Jakarta, bahkan kipas kamarnya terus menyala dan rasa gerah masih terasa. Keringat sebiji jagung muncul terus,
Saat Jessi sedang menonton TV di ruang tengah, sambil disembur angin dari kipas angin. Dirinya melihat orangtuanya seperti sudah siap-siap,
“Loh Ayah, Ibu kalian mau ke mana? Jessi kenapa gak diajak?”
“Ayah tetiba ada panggilan di kantor cabang Bandung, tenang kok besok juga pulang.” Tukas Ayah tersenyum tak enak hati
“Ibu harus ngurus rumah kita sebelumnya di Bandung, ada yang mau beli katanya. Maaf ya kami harus ninggalin kamu, kamu mau nitip apa?” Jelas Ibu lebih lanjut yang juga tak enak hati
“Gak usah, Jessi juga gak pengen apa-apa. Cepet pulang aja deh kalo urusannya udah selesai.” Jawaban Jessi membuat kedua orangtuanya pun tak enak hati, lalu memeluk sang anak
“Kalo misal kamu mau ajak temen-temen kamu di Batavia ke rumah gak papa kok, Ibu ada kue bolu di kulkas, makan aja yaa.” Senyum Jessi sedikit luntur mendengar ucapan sang ibu
Orangtuanya benar-benar tak tahu apa yang terjadi di sekolah, dimana Jessi tak sudi menyebut makhluk-makhluk setengah iblis itu teman. Bahkan menyebutkan manusia pun tak etis,
Mungkin di benak orangtuanya Jessi, mereka berpikir sang anak sedang mengalami hal paling luar biasa. Dimana memiliki teman baru, relasi baru, dan pengalaman baru. Walau setengah benar, namun itu membuat Jessi sakit hati.
Dirinya seperti harus menyelamatkan diri sendiri di Batavia, bertahan dan mencoba melawan agar bisa terus ada di tempat yang tidak pernah menginginkannya. Berat dan menyakitkan, tiada yang pernah berharap hal ini akan terjadi, seperti Jessi pula.
Akhirnya orangtua Jessi pun berangkat dengan motor, menuju ke stasiun Gambir untuk menaiki kereta menuju Bandung.
Namun saat orangtuanya sudah berangkat dan hendak menutup pagar, ia melihat sebuah sedan hitam parkir di dekat rumahnya. Jessi langsung melenguh malas, sebab hal yang sama terjadi.
Entah siapa dan apa tujuannya, beberapa orang misterius dan tidak dikenal memfoto foto depan rumah Jessi. Hal ini Jessi ketahui dari keluhan sang Ibu, dimana beliau merasa resah dan sudah coba mengusir, namun selalu saja ada.
Oleh karena itu, Jessi mengambil balok kayu yang ada di dekat pagar. Jika cara halus seperti teguran dari ibunya tak mempan, maka semoga balok kayu ini bisa membuat orang-orang tersebut berpikir kembali.
Baru Jessi berjalan mendatangi mobil dengan nyalak emosi membara, pintu mobil tersebut langsung terbuka. Keluar seseorang yang tak Jessi kira akan hadir,
“J-Jessi, jangan ancurin mobil aku!” Orang tersebut adalah Freya yang keluar dari mobil, ia panik karena tahu Jessi akan menghancurkan mobilnya
“Freya? Kenapa kamu di sini? Gimana caranya kamu tahu rumah ku?” Tanya Jessi dengan bingung karena Freya datang entah dari mana
“Di akun haters kamu ada alamat kamu yang di-doxing, aku kira boongan ternyata beneran. Maaf, harusnya aku langsung dateng aja.” Freya agak membungkuk karena tak enak hati
“Oh, gak papa lah. Aku cuma sebel banyak orang aneh foto-fotoin rumah aku, ayo masuk, Fre.”
Freya justru menggelengkan kepalanya dengan sopan “gak usah, aku cuma mau nanya soal sesuatu. Kamu beneran ngomong gini?”
Freya memutar sebuah audio dari akun ‘Jessi The Guttersnipe’. Dimana audio itu dikatakan diambil diam-diam, dan berisi provokasi.
Suara seperti Jessi berbicara. Mengatakan jika ia sangat bersyukur dan senang Kathrin masuk rumah sakit, bahkan bersumpah serapah agar Kathrin mati. Jessi tentu kaget dan panik,
“Aku gak pernah ngomong gitu, Freya! Kamu percaya kan sama aku? Kan?” Jessi mencoba membuat Freya berpihak padanya
“Aku selalu percaya kamu, Jess. Makanya aku dateng ke sini buat pastiin, karena aku yakin banget ini suara Artificial Intelligence dan bukan suara asli kamu.” Rahang Jessi mengeras, ia kesal karena diframing seperti ini tanpa bukti
“Aku harus bales si Zee itu, pasti dia nih pelakunya! Siapa lagi yang benci aku selain dia!”
“Kamu gak bakal kuat, Jess, lawan Zee. Dia terlalu kuat dan berkuasa, yang ada kamu bakal diinjek dia! Sementara tenang dulu, aku bakal coba report dibantu sodaraku yang ahli IT buat ilangin akun haters kamu.” Walau ditenangkan demikian, Jessi masih kesal karena fitnahnya makin menjadi
Kini jelas lah kenapa banyak orang-orang tak dikenal memfoto rumahnya, mereka pasti menggunakan alamat yang Freya juga gunakan. Entah tujuannya apa, namun Jessi tahu itu semua niatan jahat.
Hari Senin,
Sekolah masuk seperti biasanya, seperti halnya Jessi yang masuk kembali ke sekolah.
Ada sebuah perasaan-perasaan tak enak setiap kali Jessi hendak berangkat sekolah, karena ia tahu sesuatu akan terjadi. Entah murid-murid lain yang akan mengganggunya, atau geng Preppies yang bakal mengganggunya.
Tapi itu kemarin. Selepas mengenal Freya, Jessi jadi sedikit bersemangat untuk berangkat ke sekolah. Setidaknya ia tak sendiri.
Skip menuju istirahat,
Freya menyusul ke kelas Jessi, mengajak sahabat barunya itu untuk makan bersama di kantin. Jelas Jessi tolak, sebab uang sakunya hanya cukup untuk membeli sebotol air mineral kemasan kecil. Freya pun memaksa dan akhirnya Jessi manut,
“Kirain anak-anak orang kaya tuh pada bekel sendiri, karena keknya gizi mereka diatur.” Tukas Jessi saat ia dan Freya sudah di kantin dan menikmati mie bakso yang Freya traktir
“Gak juga sih, kalo emang orangnya doyan jajan ya jajan aja. Di SMA kamu gitu juga kah?”
“Ya jajan sih, pada murah juga dan lebih pilih milih ngemil. Kalo bekel aku pribadi sukanya karena—“
Sebuah bola basket entah dari mana datangnya, menghantam meja Jessi dan Freya yang letaknya dekat lapangan basket. Membuat mangkok dan minuman keduanya seketika tumpah dan pecah,
Seorang murid datang dengan senyum lebar, berjalan congkak diikuti beberapa murid lain. Dengan santai ia mengambil bola basket,
“Lu yang bener dong mainnya, bakso kami jadi tumpah!” Bentak Jessi mengeluarkan emosinya
“Oh ternyata lu si miskin, kirain siapa. Saran gue jangan makan di kantin, bikin kumuh tahu gak?” Sindir Zee membuat geng Preppies nya pula tertawa
“Apa lu kata!?” Jessi mencoba maju namun seketika ditahan Freya kuat-kuat
Seorang murid bernama Christy maju menghalangi Zee “lu kalo ada masalah sama Zee, sini ama gue!” Tukas Christy datar namun terasa mengintimidasi
“Gak usah, Chris, gak usah. Biaya rumah sakit tuh mahal, belum beli obat, pasti si tukang kebun ini gak mampu. Hal itu cuma buang-buang waktu aja.” Sindir Zee tersenyum menyeringai
“Gue gak takut, gue tantang lu tinju, Zee! Gue kalahin lu di permainan lu sendiri!!” Tantangan Jessi justru membuat Zee tertawa
“Deal, dengan syarat lu kalahin dulu Christy sekali aja, baru kita bakal tinju. Gimana, miskin?”
“Deal! Besok, pulang sekolah. Gue harap lu bisa tahan malu kalah dari gue.” Zee tertawa puas mendengar banyolan
“Boleh, gue ngasih tahu aja, siapin liang kubur lu juga!”
Zee dan para Preppies pun pergi, tertawa karena Jessi dengan nekat menantang Christy untuk tinju. Sementara itu Freya makin panik akan barusan,
“Kamu gila, Jess!? Kamu gak bakal bisa kalahin Christy, that’s impossible!” Geram Freya tak percaya
“Ya apa sih palingan, dia cuma petinju bocah SMA doang! Aku dari Bandung juga udah biasa berantem, jadi tenang aja.”
“Dia juara tinju antar SMA se-Jakarta, Jessi!”
Jessi tak peduli, ia tak mau tahu apa latar belakang musuhnya. Harga dirinya lebih berharga daripada sekedar dihajar anak orang kaya manja. Dengan kemampuan seadanya, Jessi yakin akan memenangkan pertandingan.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!