The Girl

1 dibaca

A

“Panggilan kepada Jessica Chandra dari kelas 11-4 dimohon menghadap BK sekarang juga!”

Jessi segera mengedarkan pandangannya ke sekitar, melihat teman sekelasnya terdiam dengan tatapan terkejut. Dibalik wajah itu jelas ada api ketakutan, melihat apa yang terjadi barusan.

Sikap menertawakan kini berubah, menjadi kebencian murni yang tiada tara. Jessi tidak lagi ditertawakan positifnya, namun Jessi benar-benar dibenci negatifnya.

Maka dengan langkah santai Jessi berjalan keluar kelas. Teman sekelasnya seketika membantu Kathrin atau memanggil PMR, sebelum sesuatu yang lebih buruk terjadi.

Di lorong kelas menuju ke BK, semua murid menatap Jessi dengan sinis. Kabar mengenai Jessi menghajar Kathrin menyebar seperti sporadis, seluruh sekolah seketika tahu kejadian itu.

Jessi tidak mengacuhkannya, ia hanya berjalan dengan tatapan datar. Percuma saja ia lakukan sesuatu, tak ada yang akan menolongnya saat ini kecuali diri sendiri.

Di Bimbingan Konseling, Jessi diceramahi panjang lebar oleh hampir 5 guru. Semua menyayangkan yang Jessi lakukan, dan hal seperti ini mengancam reputasi sekolah.

Di hati, Jessi hanya tertawa walau wajahnya menunduk ke lantai. Tawanya muncul karena tidak ada yang membahas Kathrin yang duluan memukulnya, atau Kathrin yang menendang bekalnya. Dari 5 guru itu tak ada yang membahasnya.

Tapi ada keanehan yang terjadi, walau Jessi diceramahi panjang lebar namun dirinya tak dapat sebuah hukuman. Jessi sudah mengira akan dikeluarkan dari sekolah, namun ia hanya ditegur untuk tidak mengulanginya.

Selepas keluar ruangan BK, Jessi tentu bingung. Batavia ini sungguh aneh, atau ini hanya keberuntungan Jessi saja karena ia dimasukkan ke sekolah ini? Walau begitu, tetap saja Jessi tak dapat jawabannya.

Saat berjalan kembali ke kelas, Jessi melihat seorang gadis duduk sendirian di bangku taman. Ditemani oleh buku dan bekal, ia seperti tidak terganggu oleh sekitarnya.

Jessi pun mengira itu hanya murid lain. Walau sendirian, bercermin dari kasus Kathrin membuatnya skeptis pada murid lain. Mulai saat ini Jessi tak akan langsung ramah pada orang lain, atau kejadian Kathrin akan terulang


Kurang lebih 3 hari berlalu, semenjak kejadian pemukulan Kathrin pada Jessi. Sekolah memang sudah kembali pada kondisi normalnya, dan kasus Jessi sudah tidak dibicarakan kembali.

Namun teror dan ancaman makin nyata Jessi terima. Salah satunya adalah hari ini, dimana ada sampah dan bangkai tikus entah dari mana asalnya. Dengan sengaja ditaruh di kursi Jessi,

Mau tak mau Jessi ambil dan bersihkan, walau masih agak bau selepas disemprot parfum namun Jessi tahan. Pilihannya antara duduk di kursi atau di lantai, sungguh 2 pilihan paling tidak baik.

Pula selama 3 hari, Jessi terus memperhatikan si gadis yang duduk sendirian di bangku taman. Sejauh ini ia seperti dirinya, selalu sendirian dan menikmati kesendiriannya.

Walau merasakan resiko, Jessi akan coba dekati. Ia memiliki modal kuat karena saling merasakan kesendirian di Batavia, setidaknya dari pandangan Jessi pribadi.

Selepas bel istirahat berbunyi, Jessi dengan membawa bekalnya berjalan ke taman sekolah. Misinya adalah berkenalan dengan si gadis, dengan harapan akan disambut hangat sekali saja diantara ribuan hujatan.

“H-hai? Ganggu gak?” Jessi menyapa agak kikuk

Si gadis menoleh “kamu pasti Jessica Chandra ya? Salam kenal, aku Freya.” Jessi tentu kaget karena namanya dikenal

“Oh, lu pasti tahu gue karena anak namanya Kathrin itu gue hajar ya?” Freya justru menggelengkan kepalanya

“Enggak, kamu dari awal juga udah diframing jelek dan dibenci. Nih, aku gak tau siapa adminnya tapi yang jelas kami semua di Batavia udah tahu siapa kamu.” Freya memberi hp nya

Sungguh Jessi seperti disambar petir di siang bolong. Akun sosmed tersebut entah bagaimana caranya memframing Jessi,

Dari namanya saja sudah jelas sangat merendahkan Jessi, dengan nama akun ‘Jessi the Guttersnipe’ akun tersebut mencoba menyebarkan keburukan dan fitnah soal Jessi.

Tersebut lah; menyebarkan isu Jessi adalah anak bermasalah dan preman, sehingga wajar ia berkelahi dengan murid teladan seperti Kathrin. Mendoxing identitas Jessi dan keluarganya, sampai membuat pernyataan provokatif.

“Ini siapa sih adminnya!? Perasaan gue gak pernah bikin salah atau jahatin orang, malah gue yang dijahatin terus!” Berang Jessi tak percaya apa yang dilihatnya

“Gak ada yang bener bener baik dan jujur di Batavia ini, semuanya penuh tipuan dan kebohongan demi popularitas dan kekuasaan. Yahh salah satunya aku korban kebiadaban Batavia, semua murid percaya aku cewek gak bener dan simpenan om-om. Padahal sekolah ini milik orangtua ku— ehh maaf aku jadi curhat sama pamer gini, semoga kamu gak tersinggung ya.”

Sungguh Jessi terkejut karena untuk pertama kalinya ia mendengar murid Batavia berkata maaf padanya, padahal Freya sendiri tak melakukan kesalahan apapun.

“Kenapa kamu minta maaf? Kamu kan gak salah apa-apa ke aku?” Tutur Jessi kebingungan

“Aku gak mau orang-orang jadi tambah benci aku karena ucapan ku, udah cukup aku difitnah dan dibenci orang lain.” Tukas Freya menunduk, seperti mengeluarkan unek-uneknya selama ini

Jessi justru mengulurkan tangannya pada Freya “kalo kamu gak keberatan, ayo kita temenan! Yahh aku bukan anak orang kaya sih, cuma kita punya 1 kesamaan, dibenci tanpa tahu kenapa.”

“Beneran kamu mau jadi temen ku? Aku ini dibenci 1 sekolah loh, aku gak mau nambah masalah kamu lagi.” Freya nampak ragu-ragu menerima tawaran pertemanan Jessi

“Aku juga udah dibenci kok, tapi setidaknya kita bisa saling membantu.” Pernyataan Jessi langsung saja membuat Freya yakin dan menjawab jabatan tangan

Keduanya pun lantas saling mengobrol, memperkenalkan diri lebih jauh soal masing-masing. Cukup senang Jessi dan Freya menemukan ada yang bernasib sama di tengah badai

Namun diantara Jessi dan Freya, ada seorang murid yang mengambil foto dengan hp nya dari blind spot.

“Berita bagus, si preman pasar Jessica itu mulai panjat sosial ke Freya. Bakal jadi berita besar nih!” Gumam si murid terkekeh lalu menghilang diantara murid-murid lainnya


Jessi dan Freya saling berbincang di taman sampai waktu istirahat selesai, keduanya pun tak merasakan waktu berlalu begitu saja. Walau baru bertemu, chemistry antara mereka berdua seperti sudah terbentuk lama.

Karena kelas yang berbeda, Jessi dan Freya pun memutuskan untuk berpisah untuk bertemu kembali nanti. Keduanya berjalan bersama melewati lorong kelas, sebab kebetulan searah.

Namun saat melintas lorong, keduanya berpapasan dengan sekelompok murid yang berjalan menutupi lorong dan membuat murid lain menyingkir. Kehadiran mereka seperti seorang bangsawan, tak ada yang berani menegur ataupun memarahi mereka.

Ciri khas mereka amat kontras. Rompi rajut biru muda dengan hiasan berlian berwarna biru tua, disertai logo Batavia di dada kiri membuat mereka nampak gagah dan berwibawa.

“Jessica ya? Ketemu lagi kita.” Sapa salah satu murid yang bergerombol dengan nada congkak

“Gak usah ganggu, Zee, bisa gak sih?” Ketus Freya tak ramah

Jessi langsung teringat di hari pertamanya, dimana ia hampir ditabrak mobil yang disopiri seorang murid congkak. Dimana ia pun dihina saat itu, dan kini orang tersebut berdiri di depannya.

“Diem lu, Freya! Zee gak nanya lu!” Murid lain yang memeluk lengan Zee langsung nyolot tak senang

“Lyn pacarku benar, Freya. Gue gak sapa lu, kok bisa lu geer gitu?” Ejek Zee tertawa kecil mengoreksi kekasihnya

“Btw soal Kathrin, gue udah tau kok soal lu ngalahin dia. Hebat juga lu bisa kalahin dia, belajar di penampungan tunawisma lu ya?” Sambung Zee dengan wajah seperti puas

“Lu mau balas dendam soal Kathrin ke gue?” Langsung saja Jessi to the point

Zee justru menggelengkan kepalanya membuat Jessi bingung “dia emang bajingan, dari lama pengen gue hajar cuma gue gak ada alesan aja. Berkat lu, masalah gue selesai tanpa gue turun tangan.”

“Tapi jangan harap gue jadi ada simpati ke lu, karena sampai hari dimana lu dikeluarin dari Batavia, gue dan semua Preppies bakal terus coba bikin lu keluar.”

Zee dengan langkah congkak bersama teman-temannya berjalan pergi. Lyn sempat menghina Freya dengan tatapan sinis, namun ada satu murid yang dingin sejak awal dan selalu menatap tak ramah pada Jessi atau Freya. Jika dari nametag nya, ia bernama Christy.

Freya langsung melenguh lega selepas Zee dan gengnya pergi, seperti sesuatu yang berat telah berlalu.

“Mereka siapa sih? Kek orang-orang penting aja!” Protes Jessi masih kesal

“Mereka namanya geng Preppies, isinya anak-anak orang kaya yang hobi tinju. Terutama si Zee, dia salah satu donatur utama Batavia. Ngeselin banget dia tuh, apalagi pacarnya tuh yang pick me banget!” Freya kesal sendiri jika mengingat bertemu Zee

Jessi pun jadi sadar dan tahu, ternyata mereka yang membenci dan mencoba mengeluarkan nya adalah sekelompok anak orang kaya manja yang tak suka diusik kenyamanannya. Jessi pun ingin sekali mengubah air mata penyiksaan nya jadi air mata api, membalas apa yang dirasakannya di waktu yang tepat.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk